Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 112. Serangan Bertubi-tubi.


__ADS_3

Ayun terkesiap dan terpaku di tempatnya berdiri saat mendengar ucapan Fathir. Tadi dia yang menantang laki-laki itu, dan sekarang dia juga yang tidak bisa berkata-kata.


"Sekarang masuk dan istirahatlah, karena setelah hari ini masih ada banyak acara yang akan kita selenggarakan," sambung Fathir kemudian.


Ayun menelan salivenya dengan kasar dan benar-benar tidak bisa mengeluarkan suaranya, sementara Fathir tersenyum manis sambil melambaikan tangan padanya.


"Tu-tunggu, Fathir. Aku-"


"Aku pulang yah, assalamu'alaikum," potong Fathir dengan cepat. Dia langsung melajukan mobilnya dan sama sekali tidak membiarkan Ayun bicara.


Ayun mengusap wajahnya dengan kasar sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Dia merutuki dirinya sendiri yang sudah asal bicara dan memancing Fathir sampai mengatakan hal seperti itu.


Namun, entah kenapa sama sekali tidak ada kegelisahan dan ketidaksukaan dihatinya. Ayun malah merasa gugup dan tegang dengan debaran jantung yang seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya.


"Sudahlah, pikirkan itu nanti," gumam Ayun sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Dia berjalan gontai menuju kamarnya karena sudah merasa sangat lelah dan ingin segera terlelap.


"Ayun!"


Ayun yang akan membuka pintu kamarnya menoleh ke arah belakang saat mendengar panggilan sang ibu. "Iya, Bu. Ibu belum tidur?" Dia bertanya dengan heran.


Hasna menggelengkan kepalanya. "Ibu habis membuatkan air jahe untuk adikmu. Tapi, apa yang kau lakukan di sini?" Dia menatap dengan heran.


Ayun menunjuk ke arah kamar. "Aku mau tidur, Bu. Rasanya lelah sekali." Dia berucap dengan tidak sadar.


Hasna menajamkan pandangannya. "Di dalam 'kan ada Nindi dan Keanu, Nak. Kau ingin tidur bertiga dengan mereka?" Dia tampak menahan senyum.


Mendengar ucapan sang ibu, seketika Ayun memukul keningnya karena baru ingat jika ada Nindi dan Keanu di kamarnya.


"Astaghfirullah. Aku lupa, Bu," ucap Ayun dengan frustasi membuat sang ibu langsung tergelak saat mendengarnya.


Hasna lalu menyuruh Ayun untuk segera ke kamar Adel dan istirahat, sepertinya wanita itu benar-benar kelelahan hingga lupa tentang Nindi dan Keanu.

__ADS_1


Ayun terus merutuki dirinya sendiri atas kebod*ohan yang dia lakukan. Untung saja dia belum masuk ke dalam kamar itu, jika tidak maka Nindi dan Keanu mungkin akan tersinggung.


"Tidak, semua ini karena Fathir. Karena ucapannya aku jadi tidak bisa fokus dan lupa akan segala-galanya. Awas saja laki-laki itu," gumam Ayun dengan gemas. Padahal dia yang tidak fokus, tetapi malah orang lain yang disalahkan.


***


Keesokan harinya, sesuai dengan saran Dokter. Keanu membawa istrinya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.


Sepanjang perjalanan, Nindi terus bertanya kenapa mereka datang ke rumah sakit. Dia bahkan berpikir jika penyakitnya kembali datang sampai membuat kedua matanya berkaca-kaca.


"Bukan seperti itu, Sayang," ucap Keanu. Dia jadi bingung harus mencari alasan apalagi untuk sang istri. "Kita ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan, Sayang. Bukan yang lain."


"Hah?" Nindi tercengang saat mendengar ucapan sang suami. "Ke-kenapa?" Dia bertanya dengan tidak mengerti.


Keanu kembali bingung untuk menjawab pertanyaan sang istri. Namun, dia merasa terselamatkan karena sudah sampai di tempat tujuan.


"Ayo, Sayang! Dokter sudah menunggu kita," ajak Keanu sambil membantu sang istri keluar dari mobil.


Walau merasa bingung dan tidak mengerti, Nindi tetap mengikuti ajakan sang suami. Mereka lalu masuk ke dalam rumah sakit dan segera menemui Dokter karena sudah membuat janji.


Nindi tercengang saat mendengar ucapan Dokter, sementara Keanu langsung memeluk tubuh istrinya itu dengan erat.


"Selamat, Sayang. Sebantar lagi kau akan menjadi seorang ibu, dan aku menjadi seorang ayah," seru Keanu dengan sangat bahagia. Dia bahkan sampai mengusap sudut matanya yang basah karena air mata.


Nindi tetap diam dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang Dokter dan suaminya katakan. "A-aku hamil?" Dia bertanya dengan lirih.


"Benar, Nyonya. Usia kandungan Anda baru memasuki 6 minggu, itu sebabnya kehamilan Anda masih sangat muda sekali. Saya harap Anda bisa menjaganya dengan baik, begitu juga dengan Anda, Tuan." Dokter itu beralih melihat ke arah Keanu. "Anda harus menjadi suami dan calon ayah yang siaga. Jaga istri Anda agar tidak terlalu lelah dan banyak beraktivitas."


Keanu mengangguk paham dengan apa yang Dokter itu katakan, sementara Nindi terisak pilu membuat sang suami langsung memeluknya dengan erat.


"A-aku hamil, Mas. A-aku sedang hamil," ucap Nindi dengan terbata-bata.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Saat ini kau sedang hamil, dan ada buah hati kita di dalam sini," balas Keanu sambil mengusap perut Nindi yang masih rata.


Tangis kebahagiaan pecah di ruangan itu dari calon orang tua yang bahkan tidak pernah bermimpi untuk memiliki anak. Bukan karena mereka tidak mau, tetapi karena kondisi kesehatan Nindi yang sangat mengkhawatirkan.


Sudah hampir 12 tahun mereka menikah dan membina rumah tangga. Rasa rindu akan suara tangisan dan tawa seorang anak hanya bisa dipendam dalam dada. Namun, kini Allah memberikan kepercayaan dengan menitipkan sebuah janin ke rahim Nindi. Sungguh tidak ada kebahagiaan lain yang lebih dari pada semua ini.


Disisi lain, terlihat Ayun dan Fathir baru saja sampai di rumah sakit. Ini adalah pertemuan kedua Fathir dengan Dokter dan tetap di temani oleh Ayun.


Namun, Ayun tampak tidak seperti biasanya. Dia lebih banyak diam dan melamun hingga membuat Fathir merasa lucu.


"Kenapa menatapku terus? Dosa tahu," ucap Ayun sambil memalingkan wajahnya yang bersemu merah.


Fathir tergelak saat mendengarnya. "Itu sebabnya aku ingin segera menghalalkanmu agar tidak terus berbuat dosa."


Ayun mencebikkan bibirnya. Laki-laki itu terus saja membahas tentang hal yang sama, membuatnya merasa kesal dan malu di saat bersamaan.


Mereka lalu masuk ke dalam ruangan Dokter dan langsung memulai sesi pertemuannya. Di mana kali ini Dokter meminta agar Fathir menceritakan tentang masa kecilnya bersama dengan sang kakak, dan dia boleh berhenti cerita jika tidak menginginkannya.


Fathir mengangguk patuh. Dia lalu menceritakan tentang masa kecilnya bersama dengan Fathan, sementara Dokter menjadi pendengar yang baik sambil terus memperhatikan suara serta gerak tubuhnya.


Tidak ada yang berubah, Fathir tetap bersikap seperti biasa dan dengan lancar menceritakan semunya. Lalu, Dokter kembali memintanya untuk bercerita tentang masa sekolahnya bersama dengan Fathan.


Fathir kembali bercerita panjang lebar tentang kenangan-kenangan yang dia ingat. Sampai akhirnya tubuhnya mulai tegang, dengan napas yang juga mulai memburu.


Ayun langsung menggenggam tangan Fathir saat melihat apa yang terjadi, membuat Fathir langsung menghentikan ceritanya.


"Terima kasih, Tuan. Cerita masa kecil dan sekolah Anda sangat mengesankan sekali, saya iri dengan persaudaraan yang ada di antara kalian. Memang darah itu lebih kental dari pada air, tapi darah juga bisa menghilang jika bercampur dengan air tersebut. Itu sebabnya kita juga boleh merasa tidak suka dan melampiaskan kekesalan, walaupun pada saudara sendiri. Karena setelahnya, kekesalan itu akan hilang dan kembali menimbulkan rasa sayang."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2