Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 76. Kenapa Baru Sekarang?


__ADS_3

Evan tercengang saat melihat keberadaan Adel yang berdiri tepat di hadapannya dengan jarak sedikit jauh.


"A-Adel?" gumam Evan sambil mengusap kedua matanya untuk memastikan jika saat ini dia sedang tidak berhalusinasi.


Sherly yang masih terduduk di lantai juga ikut menoleh ke arah yang saat ini dilihat oleh Evan, dia terperanjat saat melihat keberadaan Adel di tempat itu.


"Apa yang Adel lakukan di sini, apa dia sedang sakit?" gumam Sherly dengan bertanya-tanya.


Sementara itu, Adel yang akan melangkah pergi terpaksa menghentikan langkah kakinya saat mendengar panggilan dari Faiz.


"Apa sih?" tanya Adel dengan kesal. Terlihat Faiz sedang berjalan ke arahnya dengan tergesa-gesa.


"Kau mau ke mana?" Faiz bertanya dengan tajam. Baru saja mereka sampai di rumah sakit, tetapi Adel sudah akan pergi saja pikirnya.


Adel berdecak kesal saat mendengar pertanyaan laki-laki itu. Kenapa Faiz sibuk sekali sih? Suka-sukanya dong mau pergi ke mana.


"Kenapa kau diam, apa kau tidak mau menemani Tante?" tanya Faiz kembali.


Adel menghela napas kasar, sungguh semakin hari tingkah Faiz semakin menyebalkan saja menurutnya.


"Aku mau ke toilet. Puas?" jawab Adel dengan ketus. Sudah sejak tadi dia menahan sesak karena mau buang air kecil.


Faiz menggelengkan kepalanya saat mendengar jawaban gadis itu. "Astaga. Kenapa kau gak bilang dari tadi sih? Bikin heboh saja." Dia mencebikkan bibir sebal.


Adel langsung mencubit lengan Faiz dengan kuat membuat laki-laki itu memekik kesakitan, dan spontan mengusap lengannya yang terasa panas.


"Sakit tau!" pekik Faiz dengan kesal.


"Biarin, salahmu sendiri yang udah sibuk gak jelas," balas Adel tidak mau kalah membuat Faiz menghela napas frustasi.


Adel lalu berbalik dan hendak kembali melanjutkan langkahnya menuju toilet, tetapi lagi-lagi tangannya ditahan oleh Faiz membuat darah tingginya langsung naik sampai ke ubun-ubun.


"Apa-apaan sih kau ini, hah? Apa kau-"


"Di situ ada toilet, ngapain kau jauh-jauh ke sana?" potong Faiz dengan cepat. Dia menunjuk ke arah di mana toilet terdekat berada, dan hanya berjarak beberapa langkah saja dari ruangan pemeriksaan Ayun.


Adel tercengang saat melihat toilet itu. Bisa-bisanya dia tidak melihat jika ada toliet di tempat itu, dan malah berjalan ke tempat yang lebih jauh.


"Cih, bukannya mau bilang dari tadi. Dasar!" cibir Adel sambil melengos sebal.


Faiz ingin sekali menjambak bibir Adel yang malah marah padanya, padahal dia yang sudah sangat berbaik hati memberitahukan toilet pada gadis keras kepala itu.


Adel lalu berjalan ke arah toilet yang ditunjuk oleh Faiz dengan diikuti oleh laki-laki itu yang akan kembali ke ruangan Ayun.

__ADS_1


"Adel!"


Deg.


Langkah Adel kembali terhenti saat mendengar panggilan seseorang, membuat Faiz langsung menoleh ke arah samping kanan.


"Di-dia kan-" Faiz menatap Evan dengan tajam saat laki-laki itu berjalan ke arah mereka, dia lalu melirik ke arah Adel yang masih melihat lurus ke depan dan sama sekali tidak menoleh ke samping.


"Adel, anakku," ucap Evan sambil terus melanglahkan kakinya untuk menghampiri Adel.


Tidak pernah disangka-sangka jika Evan akan bertemu dengan Adel di tempat ini, dan betapa bahagianya dia karena bisa melihat wajah putrinya kembali.


Adel mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Tanpa melihat ke samping pun, dia tahu persis siapa yang saat ini memanggilnya. Apalagi dia mendengar derap langkah seseorang yang sedang mendekatinya.


"Ayo kita pergi, Faiz!" ajak Adel tanpa memperdulikan keberadaan sang ayah, padahal ayahnya sudah berdiri tepat di sampingnya.


Faiz terdiam saat mendengar ajakan Adel, dia lalu melirik ke arah Evan yang sedang menatap gadis itu dengan sendu.


"Apa kau tidak mendengar ucapanku?" tanya Adel dengan ketus. Dia berbalik dan menghadap ke arah Faiz yang sontak membuat laki-laki itu terkejut.


Dengan cepat Adel memegang pergelangan tangan Faiz, lalu menariknya untuk pergi dari tempat itu. Dia sama sekali tidak ingin bicara dengan ayahnya.


"Adel, tunggu sebentar, Nak!" pinta Evan sambil menahan tangan kiri Adel yang menganggur, karena tangan kanan gadis itu mencengkram pergelangan tangan Faiz.


"Adel," gumam Evan dengan mata berkaca-kaca. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat karena ingin sekali memeluk Adel.


"Jangan memanggilku dan jangan menyentuhku, jangan muncul juga di hadapanku!" ucap Adel dengan sarkas, membuat hati Evan hancur berkeping-keping.


Dengan cepat Evan berpindah ke hadapan Adel membuat gadis itu langsung memalingkan wajah. "Maafkan ayah, Nak. Maafkan ayah." Lirihnya dengan menghiba.


Adel hanya diam dan enggan untuk menanggapi permintaan maaf yang ayahnya ucapkan. Hatinya sudah benar-benar terasa beku, dan dalam kebekuan itu ada luka yang masih sangat basah.


Faiz yang sejak tadi diam tampak menatap Adel dengan penuh simpati. Dia sendiri juga pernah berada diposisi gadis itu. Dia lalu melihat ke arah tangan Adel yang bergetar, dengan cepat dia memindahkan cengkraman tangan gadis itu hingga kini mereka saling berpegangan dengan erat.


"Adel," ucap Evan dengan lirih sambil menatap sendu. "Maafkan Ayah, Nak. Ayah sudah banyak melakukan kesalahan padamu dan kak Ezra. Sungguh ayah sangat menyesal, maafkan ayah." Pinta Evan dengan terisak dan tertunduk penuh penyesalan.


Seluruh tubuh Adel bergetar saat mendengarnya. Dadanya bergemuruh dengan hebat merasakan luapan amarah dan kebencian yang teramat dalam.


"Kenapa, kenapa ayah baru minta maaf sekarang? Ke mana ayah selama ini, kenapa ayah baru mengingatku? Kenapa selama ini ayah mengabaikanku dan tidak pernah berusaha untuk menemuiku?" Ingin sekali Adel mengatakan semua yang ada dalam hatinya, tetapi lidahnya terasa kaku dan tidak bisa untuk digerakkan.


"Adel, ayah-"


"Maaf, tuan. Bisa tolong hentikan ucapan Anda?" ucap Faiz tiba-tiba sambil menarik tangan Adel hingga tubuh gadis itu berada di belakang tubuhnya.

__ADS_1


Faiz sudah tidak bisa lagi menahan diri saat melihat tubuh Adel gemetaran, dia takut jika apa yang terjadi saat ini membuat hati gadis itu semakin terluka.


Evan menghentikan ucapannya lalu menatap ke arah Faiz dengan heran dan bertanya-tanya, siapa laki-laki yang ada di hadapannya saat ini? Kenapa bisa bersama dengan putrinya?


"Aku tau kalau Anda adalah ayahnya, tapi tolong jangan menekan Adel seperti ini. Apa Anda tidak melihat jika dia sedang tidak baik-baik saja?" ucap Faiz dengan tajam.


Evan terdiam sambil menatap Adel dengan sendu. Tentu saja dia melihat jika putrinya saat ini sangat membencinya, Adel bahkan sama sekali tidak ingin melihat ke arahnya.


"Aku tau, hanya saja-"


"Evan!"


Evan tidak dapat melanjutkan ucapannya saat dipanggil oleh seseorang, sontak dia berbalik dan melihat jika Dokter sudah keluar dari ruangan Suci.


"Se-sebentar yah, Sayang. Ayah harus melihat keadaan Suci dulu, nanti ayah-"


"Silahkan," potong Adel dengan cepat. "Urus saja putri Ayah itu, dia kan cuma punya ayah. Itu pun hasil dari merebut milik orang lain."


Evan tertegun saat mendengar ucapan Adel. "Tidak, Nak. Ayah tidak-"


"Tuan Evan!"


Evan tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya saat dipanggil oleh Dokter, dia terpaksa meninggalkan Adel karena sepertinya Dokter itu ingin membicarakan hal penting tentang Suci.


"Maafkan ayah, Nak. Ayah pasti akan menemuimu, ayah janji. Ayah harus melihat keadaannya dulu ya," ucap Evan sebelum beranjak pergi dari tempat itu.


Adel meringis pilu mendengar ucapan sang ayah. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun, ayahnya tetap mengutamakan anak itu ketimbang bicara atau membujuknya.


"Tidak, aku tidak akan pernah memaafkannya. Aku, aku tidak akan-" ucapan Adel terhenti saat tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh Faiz menuju toilet, membuat dia langsung menatap laki-laki itu dengan heran.


"Apa, apa yang kau lakukan?" tanya Adel dengan tergagap.


Faiz terus membawa Adel masuk ke dalam toilet wanita. Dia lalu menutup dan mengunci pintunya agar tidak ada yang bisa masuk.


"Menangislah, aku tau kalau sejak tadi kau menahan diri."





Tbc.

__ADS_1



__ADS_2