
Tanpa Ayun sadari, air mata Nindi keluar dari sudut matanya. Nindi bisa mendengar semua yang Ayun katakan, tetapi dia tidak sanggup untuk membuka kedua matanya, apalagi menggerakkan tubuh.
Abbas dan Keanu menatap Ayun dan Nindi dari luar ruangan dengan tersenyum. Mereka merasa senang karena Ayun bersedia membantu Nindi, dan sekarang mereka hanya bisa berharap agar hasil pemeriksaannya cocok.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Evan sedang berada di kantor polisi untuk bertemu dengan Sherly. Dia sudah memutuskan untuk membebaskan wanita itu karena merasa kasihan dengan Suci, tetapi dia harus membuat perjanjian dulu sebelum wanita itu bebas.
"Evan!" panggil Sherly dengan senyum lebar dan bergegas menghampiri Evan.
Evan menatap Sherly dengan tajam. Wanita itu kini tampak lebih kurus dengan lingkar hitam di bawah mata, juga penampilan yang terlihat semrawut karena tidak terurus.
"Kau, kau datang untuk membebaskanku, kan?" tanya Sherly dengan sendu. Sudah hampir dua minggu dia berada di dalam penjara dan merasa sangat tersiksa, sekarang dia sudah tidak sanggup lagi untuk berada di tempat itu.
Evan menghela napas kasar sambil menganggukkan kepalanya. "Aku akan membebaskanmu." Dia berucap pelan, membuat senyum Sherly mengembang dengan sempurna. "Tapi, bukan berarti aku sudah memaafkan apa yang telah kau lakukan."
Sherly langsung mengangguk paham. "Aku, aku akan melakukan apapun agar bebas dari sini, Evan. Aku akan menuruti semua ucapanmu." Dia menggenggam kedua tangan Evan yang ada di atas meja.
Evan terdiam saat mendengar ucapan Sherly, dia lalu menarik tangannya yang berada dalam genggaman tangan wanita itu, membuat Sherly menatap dengan nanar.
"Kau harus mengganti semua kerugian yang telah aku alami, Sherly. Aku tidak mau tau bagaimana caranya!" ucap Evan dengan tajam dan penuh penegasan.
Sherly menganggukkan kepalanya dan akan berusaha untuk mengambalikan kerugian Evan. Lagi pula, dia masih punya kedai dan beberapa tanah yang masih kosong pemberian Abbas. Semua itu bisa dia jual sebagai tambahan untuk kerugian yang terjadi.
Belum lagi perhiasan dan harta benda yang lainnya, setidaknya dia bisa mengumpulkan uang sekitar 600 juta jika menjual semuanya.
"Berikan uangnya dulu padaku, setelah itu aku baru akan mencabut laporannya," sambung Evan sambil beranjak dari kursi, dia lalu berjalan pergi dari tempat itu karena masih merasa kesal dengan Sherly.
Sherly hanya diam sambil menatap punggung Evan yang mulai menjauh pergi. Dia merasa senang dan sudah tidak sabar untuk bebas dari tempat terkutuk ini.
Evan yang sudah berada di luar kantor polisi mengusap wajahnya dengan kasar. Jujur saja dia masih ingin memberi pelajaran pada Sherly, tetapi merasa tidak tega dengan keadaan putrinya.
"Sepertinya aku harus menjual rumah dan juga mobil Sherly, aku yakin wanita itu tidak akan sanggup mengumpulkan uang sebanyak itu," gumam Evan dengan frustasi.
Evan lalu melajukan mobilnya ke suatu tempat yang sangat ingin dia kunjungi, dan berharap bisa bertemu dengan kedua anaknya serta Ayun juga.
Beberapa saat kemudian, Evan sudah sampai di depan rumah yang disewa oleh Ayun. Dia memperhatikan rumah itu dari dalam mobil, karena saat ini pintu rumah itu sedang tertutup.
"Apa tidak ada orang?" Evan merasa penasaran dan bertanya-tanya.
__ADS_1
Tidak berselang lama, keluarlah Adel dari rumah itu dengan menggunakan pakaian santai sambil menggenggam ponselnya. Dia mengunci pintu rumah itu sebelum berlalu pergi, agar tidak ada yang bisa menerobos masuk.
"Adel."
Adel terlonjak kaget saat mendengar panggilan seseorang, dia lalu berbalik dan terkejut saat melihat ayahnya sudah berdiri di tempat itu.
"A-ayah?" ucap Adel dengan heran, dia merasa bingung kenapa ayahnya bisa berada di sini.
Evan tersenyum saat berhadapan dengan Adel, entah kenapa dia merasa jika putrinya itu sudah semakin besar saat ini. "Bagaimana kabarmu, Nak?" Dia bertanya dengan lirih.
Adel terdiam dengan kedua tangan bersedekap dada. Kemarahan dan rasa sakit masih menyelimuti hatinya saat ini, dan dia masih belum menerima semua perbuatan sang ayah.
"Aku mau pergi, jadi tolong beri jalan," ucap Adel dengan tajam, membuat Evan terkesiap dan menatap putrinya itu dengan getir.
"Apa kau tidak mau bicara dengan ayah? Ayah sangat merindukanmu, Nak." Lirih Evan dengan tatapan sayu.
Bohong namanya jika Adel tidak merindukan sang ayah. Namun, kerinduan itu terasa hilang karena kehadiran keluarga-keluarganya.
"Tidak. Aku tidak ingin bicara apapun dengan ayah, permisi," ucap Adel dengan cepat dan berlalu pergi dari tempat itu.
"Lepaskan tanganku," ucap Adel dengan tidak terima. Dia mengibas-ngibaskan tangannya yang berada dalam genggaman tangan sang ayah.
"Dengarkan dulu ucapan ayah, Nak. Ayah cuma ingin ngobrol seben-"
"Aku tidak mau!" bentak Adel sambil menghempaskan tangan ayahnya dengan kasar. "Ayah bisa bicara dengan wanita itu ataupun anak ayah, 'kan. Kenapa datang ke sini dan menggangguku?" Dia berucap dengan kesal.
Evan menghela napas kasar dengan tatapan sendu. "Maaf, Nak. Maafkan ayah, ayah tidak bermaksud untuk menyakitimu." Dia berucap dengan lirih. Entah dengan cara apalagi dia memperbaiki hubungannya dengan kedua anaknya, hidupnya terasa hambar dan tidak bersemangat karena terus teringat dengan mereka.
Adel sama sekali tidak peduli dan berlalu memanggil taksi. Dia masuk ke dalam taksi itu lalu menuju rumah sakit, di mana semua orang berada.
Evan yang merasa penasaran dengan kepergian Adel memutuskan untuk mengikuti putrinya itu. Lagi pula saat ini dia sedang merasa jenuh dan bosan, mungkin jika mengikuti Adel maka dia akan kembali semangat.
Adel yang sudah berada di dalam taksi tampak menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa sedih dan kesal secara bersamaan, kenapa ayahnya harus kembali mengganggu saat dia sudah mulai lupa dengan apa yang terjadi?
"Aku benci ayah, aku sangat membencinya," gumam Adel dengan terisak. Namun, dengan cepat dia mengusap air mata itu karena sudah berjanji pada sang kakak agar tidak menangis lagi.
Beberapa saat kemudian, taksi yang dinaiki Adel sudah sampai ke tempat tujuan. Dia segera membayar biaya taksinya dan berlalu keluar dari mobil itu.
__ADS_1
Evan yang masih terus mengukuti Adel mengernyitkan kening heran kenapa putrinya datang ke rumah sakit. Sesaat kemudian, dia baru ingat kalau ibunya Ayun sedang sakit.
Evan lalu berpikir haruskah dia menjenguk ibunya Ayun? Dia juga ingin sekali bertemu dengan Ayun, karena ingin meminta bantuan pada wanita itu.
"Baiklah, aku akan datang menjenguk ibu," gumam Evan. Dia lalu kembali melajukan mobilnya untuk membeli buah tangan untuk Hasna.
Saat ini, semua orang sedang berkumpul di dalam ruangan Hasna dan saling bercerita dengan dipenuhi kebahagiaan. Begitu juga dengan Abbas yang sudah tidak merasa canggung lagi, bahkan saling berbagi cerita dengan Hasna dan juga Ayun.
"Assalamu'alaikum," ucap Adel sambil masuk ke dalam ruangan sang nenek.
Semua orang menjawab salam Adel dan menyuruhnya untuk masuk. Dia lalu menyalim satu persatu dari mereka semua yang lebih tua, dan berlalu duduk di samping Abbas.
"Kau udah makan, Sayang?" tanya Abbas dengan lembut, sambil mengusap puncak kepala Adel.
Adel menganggukkan kepalanya dengan cemberut. "Udah, Kek. Tapi, aku pengen makan es krim di mall." Dia berucap dengan manja, kebetulan dia sudah lumayan lama tidak pergi ke mall.
"Em ... bagaimana kalau setelah ini kita ke sana?" ajak Abbas, membuat senyuman Adel mengembang sempurna. "Tapi, kita lihat tante Nindi dulu."
Adel langsung menganggukkan kepalanya, dan kebetulan Abbas juga ingin membelikan sesuatu untuk Ayun dan kedua cucunya.
Pada saat yang sama, Evan sudah kembali ke rumah sakit dengan membawa buah-buahan di tangannya. Dia segera bertanya di mana kamar Hasna, dan berlalu pergi menuju lantai 3 di mana wanita paruh baya itu berada.
Sesaat kemudian, sampai juga Evan ke tempat tujuan. Dia bisa mendengar gelak tawa Adel yang berada di dalam ruangan itu, beserta Ayun juga. Dia lalu merapikan pakaiannya dan bersiap untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Namun, belum sempat Evan membuka pintu ruangan itu. Tiba-tiba seseorang membuka pintu tersebut dari dalam.
"Memangnya Papa gak capek? Kalau capek, biar aku aja yang ngantar Adel," ucap Ayun sambil berjalan keluar untuk mengantar Abbas dan juga Adel.
Evan mengernyitkan kening saat mendengar panggilan Ayun terjadap Abbas. "Pa-papa?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1