
Nindi terkesiap saat mendengar apa yang laki-laki itu ucapkan, setelah itu dia memperhatikan wajah laki-laki yang ada di hadapannya karena merasa sangat tidak asing sekali.
"Bukannya kau yang berada di rumah Ayun tadi?" tanya Abbas membuat Nindi dan Ezra langsung melihat ke arahnya. Dia ingat jika tadi melihat laki-laki itu di rumah Ayun.
Ezra menganggukkan kepalanya. "Benar, Tuan. Saya putra pertamanya, nama saya Ezra. " lirihnya dengan mengulas senyum tipis.
Nindi dan yang lainnya saling tatap karena tidak menyangka jika anaknya Ayun akan mengejar mereka seperti ini, apalagi laki-laki itu sampai mempertaruhkan nyawa dengan berlari ke depan mobil Keanu yang sedang melaju lumayan kencang.
"Ayo, ikut denganku!" ajak Abbas sambil berbalik dan berjalan ke arah mobil, membuat Ezra terkesiap dan menatap dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa diam saja? Ayo, pasti ada sesuatu yang ingin kau katakan bukan?" tanya Nindi dengan tersenyum hangat. Walau dia merasa heran, tetapi dia yakin jika putranya Ayun ini pasti ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan mereka.
Akhirnya Ezra ikut masuk ke dalam mobil bersama dengan Nindi dan keluarganya yang lain. Dia yang awalnya merasa tegang kini duduk dengan nyaman di tempatnya, karena kehadirannya disambut dengan baik walau dengan cara yang tidak biasa.
"Kita ke restoran dulu, Ken," ucap Abbas sambil melihat ke arah Keanu yang duduk di sampingnya, mengemudikan mobil.
"Iya, Pa," jawab Keanu tanpa memalingkan wajahnya ke arah sang mertua. Dia tetap fokus ke jalananan, tetapi sesekali memperhatikan istrinya yang sedang berbincang dengan laki-laki bernama Ezra itu.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di depan sebuah restoran yang merupakan milik keluarga Nindi. Mereka segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam tempat tersebut, tidak lupa sambil mengajak Ezra juga.
Abbas sengaja mengajak ke restoran karena tahu jika Ezra ingin mengatakan sesuatu. Bukannya dia tidak mau membawa laki-laki itu ke rumahnya, tetapi dia takut jika Ezra merasa tidak nyaman.
Beberapa karyawan langsung menyapa mereka saat baru masuk ke dalam restoran. Dengan ramah, Nindi membalas semua sapaan para karyawan papanya, sementara Abbas hanya tersenyum tipis saja untuk menanggapi mereka.
__ADS_1
"Selamat datang, Tuan," sambut Reno. Dia adalah manager yang sudah bekerja selama 5 tahun di restoran itu.
"Bagaimana hari ini, Reno? Lancar?" tanya Abbas sambil menepuk bahu Reno, membuat laki-laki itu tersenyum cerah.
"Alhamdulillah lancar, Tuan. Apa Anda dan keluarga ingin makan siang?" jawab Reno, sekalian bertanya apakah dia harus menyajikan makan siang atau tidak karena sekarang sudah pukul 2 siang.
Abbas lalu berbalik dan melihat ke arah Ezra yang sejak tadi memperhatikan restoran ini. "Apa kau sudah makan, Ezra?" Dia bertanya dengan suara tegas membuat Ezra terkesiap.
"Su-sudah, Tuan," jawab Ezra dengan gugup, padahal dia sama sekali belum makan akibat keributan yang terjadi di rumahnya.
Abbas tersenyum tipis lalu beralih melihat ke arah Nindi. "Pesan makanan yang dia sukai, dan tunggu papa di ruangan biasa. Ada sesuatu yang mau papa bicarakan dulu dengan Reno." Dia memberitahu Nindi agar duluan ke ruangannya karena dia ingin mengurus pekerjaan.
"Baik, Pa," balas Nindi sambil menganggukkan kepalanya. Dia lalu mengajak Ezra untuk ke ruangan VIP nomor 1 yang khusus disediakan untuk mereka jika datang ke restoran tersebut.
Setelah sampai di ruangan, Nindi segera bertanya makanan apa yang ingin Ezra makan sesuai dengan apa yang papanya katakan tadi.
"Panggil tante aja ya, tante ini kan temannya ibumu," ucap Nindi dengan lembut. Dia lalu menoleh ke arah pelayan yang ada di sampingnya.
Nindi segera memesan makanan dan minuman kesukaan papa dan juga suaminya, tidak lupa memesankan makanan dan minuman untuk Ezra juga.
"Tante tidak tahu apa yang kau sukai, semoga makanan itu cocok dilidahmu," ucap Nindi kemudian. Dia lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang, karena ingin pamer jika dia sedang bersama dengan anak dari orang tersebut.
Ezra tercengang saat melihat semua yang Nindi ucapkan, apalagi perlakukan wanita itu benar-benar terasa seperti ibunya sendiri.
__ADS_1
"Mereka ini sadarkan, kalau aku adalah anak dari orang yang sudah membuat mereka marah?" Ezra bertanya-tanya dalam hati.
Dia juga terkejut dengan sikap dan perlakukan Abbas padanya. Walau laki-laki paruh baya itu berwajah seram dan kaku, tetapi sikapnya benar-benar sangat hangat. Padahal sesaat yang lalu Abbas tampak sangat marah pada ayahnya, tapi sekarang malah memperlakukannya dengan baik.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Abbas masuk ke dalam ruangan itu bersamaan dengan pelayan yang membawa makanan dan minuman.
Mereka lalu menikmati makanan dan minuman yang sudah tersaji. Begitu juga dengan Ezra yang tampak memakan makanannya dengan canggung, tetapi saat merasakan makanan itu sangat enak, maka dia tidak ragu-ragu lagi untuk menghabiskannya.
Setelah acara makan-makannya selesai, beberapa pelayan tampak membereskan dan membersihkan meja agar tidak menganggu kenyamanan atasan mereka.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan dengan kami?" tanya Abbas dengan suara rendah, sangat jauh berbeda ketika sedang bicara dengan ayahnya laki-laki itu.
Ezra menarik napas panjang sebelum mengatakan maksud dan tujuannya menemui mereka, setelah itu dia menghembuskannya secara perlahan sambil beranjak bangun dari kursi.
"Saya mohon bantuan pada Tuan dan Nyonya," ucap Ezra sambil membungkukkan tubuhnya, membuat Abbas dan yang lainnya tersentak kaget. "Saya sangat kasihan dengan ibu, saya mohon bantulah dia." Suaranya bergetar dan berat, pertanda dia sedang menahan kesedihan yang mendalam.
Nindi langsung beranjak bangun dan menghampiri Ezra. "Kenapa kau menunduk seperti ini? Ayo kita duduk, dan bicarakan semuanya dengan baik-baik!" Dia memegang tangan Ezra, dan mengajaknya untuk kembali duduk.
Ezra kembali menegakkan tubuhnya, lalu menatap Nindi dengan sendu. "Tante, aku mohon bantulah ibu. Ibu ingin bercerai dari ayah."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.