Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 106. Menjelang Perceraian.


__ADS_3

Abbas kembali mengusir Sella agar pergi dari rumahnya. Dia lalu melihat ke arah Keanu seakan menyuruh laki-laki itu untuk membawa Sella pergi.


Keanu yang paham arti lirikan sang mertua segera memegang lengan kiri Sella dan bersiap menyeretnya pergi, sementara Nindi menatap dengan bingung.


"Sebenarnya ada apa ini?" Nindi kembali bertanya.


"Nindi!" Sella langsung bersimpuh di kaki Nindi, membuat semua orang terlonjak kaget.


"Apa yang kau lakukan? lepaskan-"


"Tidak, aku tidak akan melepaskannya!" potong Sella, dia lalu melihat Nindi dengan sendu dan tubuh yang gemetaran. "Nindi mama mohon tolong mama." Pintanya dengan terisak.


Nindi terdiam dengan perasaan bingung. Apakah Sella ingin kembali pada papanya atau bagaimana, kenapa sampai bersimpuh seperti ini?


"Ma, aku-" Nindi tidak dapat menyelesaikan ucapannya saat kepalanya terasa kembali pusing.


Dengan cepat Keanu menarik paksa Sella dan membawanya menjauh dari sang istri, sementara Abbas segera merangkul Nindi dan membawanya kembali masuk ke dalam rumah.


Sella memberontak dan mencoba untuk melepaskan cengkaraman tangan Keanu dilengannya, tetapi semua usaha itu sia-sia karena Keanu mencengkram lengannya dengan sangat kuat.


"Lepaskan aku!" teriak Sella sambil memukul-mukul bahu Keanu.


Keanu sama sekali tidak peduli dan terus menyeret wanita itu sampai keluar dari gerbang rumah sang mertua, tentu saja apa yang dia lakukan menjadi bahan tontonan untuk orang-orang yang ada di sekitar tempat itu.


"Pergi kau!" Keanu menghempaskan tubuh Sella dengan kasar, untungnya wanita itu tidak tersungkur ke atas tanah.


"Tidak, aku tidak akan pergi. Aku mohon tolong aku, aku mau bicara dengan-"


"Kalau sampai kau menyebut nama istriku, maka aku akan merobek mulutmu!"

__ADS_1


Glek.


Sella langsung menutup mulutnya dengan rapat dan tidak berani lagi bersuara. Tubuhnya bergetar menahan rasa sakit dan takut secara bersamaan.


Keanu lalu memanggil pembantu dan menyuruhnya untuk mengambil Suci, dan memberikannya pada Sella. Persetan dengan mereka semua, dia tidak mau jika kesehatan Nindi terganggu karena apa yang terjadi.


Sementara itu, Abbas membawa Nindi ke kamar tamu yang ada di lantai 1. Dia takut putrinya tidak tahan berjalan naik ke kamar mereka yang ada di lantai 2.


"Istirahatlah, Nak. Kenapa kau terus saja membuat suamimu khawatir?" tanya Abbas dengan lirih, dia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh putrinya.


Nindi tersenyum saat mendengar ucapan papanya. "Aku baik-baik saja, Pa." Lirihnya dengan wajah pucat.


Abbas menghela napas kasar, tangannya menggenggam salah satu tangan Nindi dengan erat. Tiba-tiba, bayangan wajah Ayun muncul saat dia menatap wajah putrinya itu. Dia tidak tahu bagaimana reaksi Nindi saat mengetahui jika Ayun adalah putri kandungnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Pa? Kenapa mama ke sini dan bersimpuh seperti itu?" tanya Nindi dengan lirih. Akhir-akhir ini dia memang jarang keluar, bahkan untuk bermain ponsel saja malas, dan terakhir keluar saat menjenguk Hasna ke rumah sakit.


"Kau tau bagaimana sifatnya, Sayang. Dia hanya ingin kembali, dan meminta papa untuk membantu mereka. Tapi papa tidak mau karena mulai sekarang mereka bukan bagian keluarga kita lagi. Sudah seharusnya mereka mandiri dan mengurus masalah sendiri," ucap Abbas.


Nindi menganggukkan kepalanya dengan lemah. "Tapi aku kasihan dengan Suci, Pa. Apa dia baik-baik saja?"


Abbas menatap Nindi dengan sendu. Andai tadi putrinya mengetahui masalah Sella, dia yakin Nindi pasti akan langsung memintanya untuk membantu Sherly.


"Kau tidak perlu memikirkannya, dia pasti baik-baik saja. Sekarang tidurlah, papa akan menjagamu." Lirih Abbas.


Nindi kembali menganggukkan kepala dan mulai memejamkan kedua matanya. Tubuhnya benar-benar terasa lemas sekali saat ini.


Abbas mengusap puncak kepala putrinya dengan sayang, dia merasa jika saat ini belum tepat untuk memberitahu Nindi tentang hubungannya dengan Ayun.


Biarlah Abbas menunggu sampai sidang perceraian Ayun selesai dan keadaan Nindi membaik, setelah itu dia sendiri yang akan mengatakannya pada mereka berdua.

__ADS_1


Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Evan sedang marah-marah dengan pengacaranya. Dia merasa murka karena Agung baru memberi kabar jika besok adalah sidang putusan perceraiannya dengan Ayun.


"Kenapa semua jadi secepat ini, hah?" tanya Evan dengan tajam.


Agung menggelengkan kepalanya. "Saya juga tidak tahu, Tuan. Saya mengetahui kabar ini tadi malam, dan segera menghubungi Anda. Tapi Anda tidak menjawabnya, lalu pagi tadi saya langsung datang ke pangadilan."


"Lalu, apa hasilnya?" Evan kembali bertanya dengan sarkas.


Agung lalu menjelaskan bahwa semua bukti yang terkumpul sudah jelas menunjukkan bahwa Evan bersalah, dan semua tuntutan Ayun juga sudah diperiksa dan disetujui oleh pihak pengadilan.


Brak.


Evan meninju meja yang ada di hadapannya saat mendengar penjelasan Agung. Tidak, mereka tidak boleh bercerai dalam keadaan seperti ini.


"Apa kita tidak bisa melakukan tuntutan?" Evan merasa tidak terima.


"Tidak bisa, Tuan. Sepertinya ada seseorang yang berkuasa dibalik mantan istri Anda, itu sebabnya semua berjalan cepat seperti ini."


Evan mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Jelas dia tahu siapa orang yang berada dibalik Ayun, dan membuat perceraian jadi seperti ini. Lalu, apa yang harus dia lakukan sekarang? Bagaimana dengan harta yang dituntut oleh Ayun?


"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku harus membayar kerugian dulu dengan aset itu."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2