Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 28. Ucapan Terima Kasih.


__ADS_3

Adel memekik dengan antusias saat menyuruh ibu dan juga tantenya untuk membuka mata, sementara yang lainnya sudah bersiap di hadapan Ayun dan Nindi. Ada yang memegang tumpeng yang sudah Yuni siapkan, ada yang memegang buket bunga besar, bahkan ada juga yang hanya bernapas dan menjadi penonton di tempat itu. Tentu saja orangnya adalah Fathir, yang ikut melihat tetapi sama sekali tidak berniat untuk ikut memeriahkan suasana.


"Selamat untuk kesembuhannya!"


Begitu Ayun dan Nindi membuka mata, semua orang langsung berteriak dengan suara nyaring, membuat kedua wanita itu terkesiap.


Taburan kelopak mawar berwarna merah nan harum menenangkan, tampak bertebaran dari lantai dua rumah itu. Di mana sudah ada pembantu yang sengaja melemparnya demi memeriahkan acara, membuat taburan bunga itu jatuh ke tubuh mereka semua.


Kedua mata Nindi dan Ayun berkaca-kaca dengan apa yang semua orang lakukan, apalagi saat melihat hiasan yang tergantung dan terpasang di teras rumah itu.


"Terima kasih, terima kasih banyak," ucap Nindi dengan lirih. Dia merasa sangat senang sekali sudah disambut seperti ini oleh mereka semua.


Ayun sendiri terdiam di tempatnya dengan tatapan tercengang. Dia merasa terkejut dan tidak menyangka. Namun, bukan terkejut karena kejutan yang semua orang berikan, melainkan karena rumah yang saat ini berdiri kokoh di depan matanya.


"Selamat datang di rumah barumu, Ayun. Ayo, kita masuk!" ajak Abbas.


Ayun yang masih diam menatap rumah itu telonjak kaget saat Adel memeluk lengannya, dan menariknya untuk masuk ke dalam rumah.


"Tu-tunggu dulu, Adel," ucap Ayun sambil menahan tangan Adel, membuat gadis itu melihatnya dengan bingung.


"Ada apa, Bu?" tanya Adel dengan senyum lebar. Senyuman itu bahkan tidak luntur sejak mendengar kepulangan ibunya beberapa waktu yang lalu.


"Ada apa, Nak? Ayo, kita masuk!" ajak Hasna juga yang berdiri tepat di samping Abbas.


Semua orang beralih menatap Ayun dengan bingung dan bertanya-tanya, apalagi saat melihat raut wajah wanita itu yang tampak seperti orang linglung.


"Ini, ini rumah yang Papa belikan?" tanya Ayun pada sang papa, yang dijawab dengan anggukan kepala Abbas.


"Iya, Sayang. Bagaimana, apa kau menyukainya?" tukas Abbas dengan tersenyum cerah.

__ADS_1


Ayun terdiam mendengar pertanyaan sang papa. Bukan karena dia merasa tidak suka, tetapi karena rumah itu tampak sangat mahal dan mewah untuknya.


"Rumah ini terlalu besar dan mewah untukku, Pa. Kenapa Papa membelinya?" Lirih Ayun, merasa sangat tidak enak hati sekali.


Abbas menggelengkan kepalanya sambil menepuk bahu Ayun. "Sudah papa bilang bukan, bahwa semua ini hadiah yang memang pantas untukmu. Jadi, jangan menolaknya dengan alasan mewah atau apapun itu." Dia menatap dengan tajam.


"Tapi Pa, ini terlalu-"


"Kakek benar, Bu," potong Ezra yang sejak tadi memegang tumpeng. Dia meletakkan makanan itu ke atas meja, karena lama-lama tangannya terasa pegal juga. "Semua ini adalah milik Ibu. Lalu aku dan Adel sudah menyiapkan kamar yang sangat nyaman juga untuk Ibu. Jadi, ayo kita masuk!" Dia beranjak ke samping kanan sang ibu, dan ikut memeluk tangan ibunya seperti apa yang Adel lakukan.


Air mata Ayun kembali menetes saat menatap kedua anaknya. Dia lalu mengucapkan banyak terima kasih pada sang papa, dan mendo'akan agar papanya selalu sehat dan panjang umur.


Semua orang lalu masuk ke dalam rumah yang juga dihias dengan secantik mungkin. Tampak dua orang pembantu yang merupakan suami istri pelempar bunga tadi menyambut kedatangan Ayun dan Nindi juga, mereka lalu menyajikan makanan dan minuman yang telah disiapkan.


Mereka semua lalu duduk di atas karpet yang terbentang di ruang keluarga, agar bisa kumpul semua dan saling mengobrol dengan nyaman.


"Tuan, saya akan kembali ke kantor," ucap Fathir pada Keanu saat mereka sudah duduk bersama di tempat itu.


"Ada banyak pekerjaan yang harus saya lakukan, Tuan. Saya juga harus bertemu dengan Robin," tukas Fathir lagi. Masih ada banyak sekali pekerjaan yang harus dia selesaikan, dan tidak ada waktu untuk semua ini.


Keanu mendessah berat sambil melirik Fathir dengan tajam, tetapi laki-laki itu sama sekali tidak peduli dan tetap beranjak bangun dari tempat itu.


Fathir lalu berpamitan pada semua orang karena harus kembali ke perusahaan, tidak lupa dia mengucapkan selamat untuk kesembuhan Nindi dan Ayun.


"Terima kasih atas bantuanmu selama ini, Fathir. Kau orang yang paling disusahkan sama suamiku saat aku sakit," ucap Nindi, membuat bibir suaminya maju beberapa senti ke depan.


"Cih, susah apa pulak," gumam Keanu tidak terima, membuat Nindi dan yang lainnya tergelak.


"Tidak masalah Nindi, aku sudah biasa," balas Fathir. Dia memang menggunakan bahasa santai jika bicara dengan Nindi atas permintaan wanita itu.

__ADS_1


Nindi menganggukkan kepalanya dengan senyum hangat. Lalu Fathir berbalik dan melangkah pergi dari tempat itu.


"Tu-tunggu sebentar, Tuan Fathir."


Langkah Fathir yang sudah hampir mencapai pintu terhenti saat mendengar panggilan seseorang, dia kembali berbalik dan mengernyitkan kening melihat Ayun berjalan ke arahnya


"Saya juga ingin mengucapkan banyak terima kasih pada Anda, Tuan. Terima kasih sudah mengurus kantor saya, dan terima kasih sudah mengurus masalah rumah sakit juga," ucap Ayun sambil menundukkan kepalanya, merasa benar-benar sangat berterima kasih atas bantuan yang laki-laki itu berikan.


Fathir diam sejenak saat mendapat ucapan terima kasih dari Ayun. Memang benar sih jika dia yang mengerjakan semuanya sesuai dengan perintah Keanu dan juga Abbas.


"Saya hanya melakukan perintah dari tuan Keanu dan tuan Abbas, jadi Anda tidak perlu berterima kasih," balas Fathir.


Ayun yang tadinya menunduk kini menatap laki-laki itu. "Benar, Tuan. Tapi walau bagaimana pun, Andalah yang sudah mengerjakannya. Jadi, saya berterima kasih pada Anda juga." Dia berucap dengan senyum hangat.


Fathir menganganggukkan kepalanya sebagai pertanda jika menerima ucapan terima kasih dari Ayun. "Baiklah. Kalau gitu, bisakah saya meminta bantuan pada Anda?"


Ayun mengernyitkan kening. "Silahkan saja, Tuan. Saya pasti akan membantu jika bisa." Walau merasa bingung, tentu saja dia tetap bersedia membantu.


"Sebenarnya saya ingin minta bantuan pada putri Anda, tapi saya merasa tidak tahu bagaimana mengatakannya," ujar Fathir. Dia lalu mengatakan jika Adel satu sekolah dengan putranya, dan dia ingin agar Adel memperhatikan apa-apa saja yang putranya lakukan di sekolah. Setelah itu baru melaporkan padanya.


Ayun mengangguk paham. "Tapi, apa tidak apa-apa jika Adel melakukan itu Tuan? Bukankah akan membuat putra Anda merasa tidak nyaman?" Dia bertanya pelan.


"Tidak." Fathir menggelengkan kepalanya. "Dia memang harus diawasi agar saya tahu apa yang dia lakukan, jika tidak maka dia akan selalu membuat keributan di sekolah."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2