
Semua orang langsung terlihat sibuk memikirkan ucapan Fathir, karena apa yang laki-laki ucapkan memang benar. Kenapa selama ini mereka tidak pernah memikirkannya?
"Jangan memfitnah saya dengan mengungkit masalah itu, Tuan," ucap Rian dengan santai, mencoba untuk menekan emosi yang sebenarnya sudah sampai ke ubun-ubun. "Saya memang mantan asisten tuan Fathan, bahkan sampai sekarang saya masih berhubungan baik dengan beliau. Tapi, bukan berarti saya melakukan hal yang sama seperti apa yang beliau lakukan. Apa Anda berniat untuk menjatuhkan saya hanya karena saya mantan asisten pribadi kakak Anda?"
"Tentu saja," jawab Fathir dengan cepat. "Tapi, apa kau yakin kau sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua itu?" Dia bertanya seolah berkata jika dia sudah mengetahui semuanya.
Rian menganggukkan kepalanya. "Saya akui jika saya mengetahui semua perbuatan tuan Fathan, dan saya juga sudah mencoba untuk menghentikannya. Tapi apalah saya yang hanya seorang asisten, saya rasa Anda semua yang ada di sini paham bagaimana keadaan saya waktu itu."
Ah, semua orang jadi merasa bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Sampai akhirnya salah satu dewan direksi berdiri dari tampat duduknya.
"Baiklah, hentikan semua perdebatan ini," ucapnya dengan penuh penekanan, dia adalah tim netral yang akan mendukung siapapun yang layak untuk menjadi pimpinan. Tatapannya lalut tertuju pada Fathir. "Sebelumnya selamat datang kembali saya ucapkan pada Anda, Tuan Fathir. Saya senang Anda kembali ke perusahaan dan saya bersyukur akan hal itu. Tapi, ada sesuatu hal juga yang ingin saya sampaikan mengenai pengangkatan tuan Rian untuk menggantikan tuan Farhan." Dia menjeda ucapannya sambil menganggukkan kepala ke arah Farhan.
"Saya sama sekali tidak masalah jika Anda kembali ke perusahaan, karena memang perusahaan ini milik keluarga Anda. Namun, Anda juga tidak bisa semena-mena dalam menggunakan kekuasaan. Selama ini tuan Rian sudah membuktikan kemampuan dan kerja kerasnya, beliau mampu menyelesaikan masalah perusahaan, dan membuat perusahaan kembali bangkit setelah masa terpuruk waktu itu. Apa yang beliau lakukan adalah nyata dan layak untuk menjadi pemimpin. Jadi jika Anda kembali ke perusahaan dengan tujuan untuk menjadi pemimpin, maka saya akan menentangnya," sambung laki-laki itu.
Semua orang terdiam karena merasa setuju dengan ucapan laki-laki itu, walau merasa sayang sekali jika tidak menjadikan Fathir seorang pemimpin karena mereka juga sudah tahu bagaimana kemampuan Fathir.
Rian tersenyum penuh kemenangan mendengar ucapan laki-laki itu. Benar, mereka semua tidak bisa menolak fakta tentang keberhasilan yang telah dia lakukan. Selama ini dia sudah bekerja keras demi mendapat perhatian mereka, jadi mereka tidak boleh melupakan semua itu.
"Yang Anda katakan benar, Tuan Tomi," sahut dewan direksi yang lainnya. "Saya setuju dengan ucapan Anda barusan. Tapi jika Anda bicara tentang kerja keras dan kemampuan, maka tuan Fathir juga tidak kalah dari itu. Memang benar jika beliau membuat kesalahan, tapi semua itu punya alasan dan dia meninggalkan perusahaan juga karena takut semakin memperburuk keadaan. Jadi menurut saya, perbuatan tuan Fathir itu sudah tepat, dan saya mendukung jika beliau naik menjadi pengganti tuan Farhan. Bukankah seharusnya memang seperti itu?"
Akhirnya terjadilah perpecahan di antara mereka yang memang punya pendapat masing-masing tentang Rian dan Fathir. Apalagi para pendukung Rian yang ingin agar laki-laki itu tetap naik.
"Apa kata karyawan lain jika seandainya tuan Fathir langsung menggantikan tuan Farhan, sementara dia baru saja kembali ke perusahaan? Apakah menurut Anda semua itu adil bagi tuan Rian yang selama ini sudah mengabdikan diri pada perusahaan ini?" ucap pendukung Rian membuat senyum Rian semakin lebar.
Fathir tersenyum sinis saat mendengar betapa besar dukungan yang mereka berikan untuk Rian, tanpa tahu jika selama ini laki-laki itulah yang menjadi dalang kejahatan Fathan.
__ADS_1
Dengan cepat Fathir membuka tas kerjanya lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tas itu. "Anda pasti akan langsung berubah pikiran saat melihat ini." Dia langsung melempar lembaran kertas itu ke atas meja, tepat di hadapan semua orang.
Deg.
Jantung Rian terasa seperti ditusuk oleh sebuah tombak yang sangat besar saat melihat kertas yang diberi oleh Fathir. Bagaimana tidak, dikertas itu terlihat jelas sebuah laporan tentang aliran dana yang masuk ke dalam rekeningnya, dan dana itu berasal dari penggelapan yang Fathan lakukan beberapa tahun yang lalu. Namun, mereka merekayasanya seolah-olah itu perbuatan Fathir.
Bukan hanya itu saja, bahkan di kertas juga tertulis transaksi keluar yang Rian kirim untuk orang-orang yang telah melancarkan aksinya, dan nama-nama mereka bahkan tertulis dengan jelas di sana.
"Ba-bagaimana dia bisa mendapatkan semua itu?" Tubuh Rian bergetar saat melihatnya.
Fathir dan Keanu tersenyum puas melihat wajah pucat Rian. Laki-laki itu pasti tidak menyangka jika mereka bisa mendapatkan laporan transaksi akun banknya, apalagi transaksi itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu.
"Kau belum tahu siapa aku, Rian. Mungkin Fathir tidak bisa melakukan semua ini, tapi tidak denganku." Keanu tersenyum sinis. Dia merasa menyesal karena terlambat menyelidiki tentang semua ini, bahkan sampai harus menghabiskan waktu selama beberapa tahun.
"Tidak, semua itu tidak benar. Saya tidak pernah berurusan dengan mereka," bantah Rian. Dia harus cepat-cepat memutar otak untuk agar bisa lepas dari masalah ini.
"Tanpa saya jelaskan pun, Anda sudah tahu apa yang ada dikertas itu bukan?" ucap Fathir dengan tajam. "Bukankah transaksi itu sudah menjelaskan jika bajing*an ini juga berkaitan dengan perbuatan Fathan?" Ucapnya kembali.
Semua orang tampak menatap Rian dengan geram. Mereka bukan orang bod*oh yang tidak bisa membedakan mana laporan transaksi palsu dan mana yang asli, tetapi pada kenyataannya selama ini mereka memang sudah dibod*ohi oleh laki-laki itu.
"Tidak. Itu, itu hanya-"
"Hanya apa, Rian? Apa kau ingin mengatakan jika kakakkulah yang melakukan transaksi itu?" Potong Fathir dengan cepat. "Dan perlu kalian semua ketahui bahwa rekening itu bukan rekening yang terdaftar di perusahaan, melainkan rekening khusus yang memang disediakan olehnya untuk melakukan kejahatan."
"Tidak! Semua itu tidak benar," bantah Rian kembali. "Saya sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejahatan itu." Dia ingin sekali merobek kertas-kertas itu saat ini juga.
__ADS_1
"Lalu transaksi ini apa, Rian?" tanya Farhan dengan sarkas.
Rian terdiam. Si*al, otaknya benar-benar tidak bisa untuk berpikir saat seperti ini, sampai akhirnya Fathir kembali memberikan beberapa kertas pada mereka.
"Jika itu masih kurang, maka lihat ini," seru Fathir sambil kembali memberikan sesuatu untuk semua orang. Kali ini dia menunjukkan sebuah transaksi yang dilakukan Rian dengan Nico, tertulis jelas nominal uang dengan jumlah besar di sana, dan berasal dari rekening yang sama. "Bagaimana, apa kali ini kau juga akan membantah transaksimu dan Nico?"
Kedua mata Rian memerah dengan emosi yang membara. Dia benar-benar merasa terguncang dengan apa yang Fathir lakukan. "Kau, dari mana kau mendapat transaksi itu?" Dia bertanya dengan tajam dan penuh kebencian.
Sudah tidak ada lagi keramahan dan kesopanan yang selama ini selalu Rian tunjukkan pada orang-orang, karena sekarang dia benar-benar sangat murka.
"Kenapa, apa kau sudah mengakuinya?" tanya Fathir dengan nada ejekan. "Aku tidak menyangka jika kau seorang pecandu, Rian. Bahkan kakakku yang bajing*an saja bersih dari obat-obatan terlarang."
Semua orang benar-benar merasa kecewa saat mengetahui tentang kebenaran itu, bahkan orang-orang yang mendukung Rian pun merasa menyesal karena percaya dengan ucapan laki-laki itu.
"Tidak. Saya mohon percayalah dengan saya, saya tidak pernah melakukan semua itu. Selama ini saya mengabdikan diri untuk perusahaan dan tidak pernah-"
"Cukup!" Potong Farhan dengan wajah merah padam, membuat ucapan Rian terhenti. "Keluar dari ruangan ini sekarang juga atau aku akan menyeretmu secara paksa."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1