
Suasana yang tadinya terasa canggung dan membingungkan, perlahan mulai mencair dengan adanya obrolan-obrolan antara Ayun dan Nindi. Juga pembahasan tentang jalannya persidangan beberapa saat yang lalu, tentu saja Ezra yang paling heboh bertanya di sana sini.
Abbas sendiri memilih diam dan hanya memperhatikan mereka saja, sementara Keanu yang duduk di sampingnya tampak beberapa kali melirik ke arah sang mertua seakan ingin mengatakan sesuatu.
"Jangan terus melihat papa, Ken," ucap Abbas dengan suara tertahan membuat Keanu tersenyum tipis.
"Wanita itu adalah wanita yang fotonya ada di ruang kerja Papa, 'kan?" tanya Keanu dengan suara pelan, bahkan terdengar berbisik.
Abbas langsung memalingkan wajahnya ke arah Keanu saat mendengar ucapan menantunya itu, keningnya mengernyit dalam seakan bertanya kenapa laki-laki itu tahu tentang foto tersembunyi yang ada di dalam ruang kerjanya.
"Papa pernah menyuruhku untuk mengambil berkas di ruang kerja, saat itu aku tidak sengaja melihatnya," ucap Keanu, yang tahu maksud dari tatapan sang mertua.
Abbas kembali melihat lurus ke depan dengan menghela napas kasar. "Apa pihak rumah sakit sudah mendapatkan pendonornya?" Dia mencoba mengalihkan pembicaraan, tentu saja dia merasa malu karena ketahuan menyimpan foto wanita lain oleh menantunya sendiri.
"Belum, dan sepertinya akan sangat susah mendapatkan pendonor," jawab Keanu. Dia juga sudah melobi semua rumah sakit yang ada di kota itu agar lebih cepat mendapatkan pendonor.
"Bagaimana kalau mencarinya di black market?"
Keanu langsung menatap mertuanya dengan tajam dan tidak percaya. "Papa tidak salah?" Dia bertanya dengan serius.
"Papa hanya bercanda, Ken," ucap Abbas sambil menepuk bahu sang menantu, tetapi Keanu jelas tahu jika apa yang papa mertuanya itu katakan tadi bukanlah hanya sekedar becanda saja.
"Kita tunggu saja, kemungkinan Dokter pasti akan memeriksa anak-anak atau keluarganya terlebih dahulu. Itu adalah pilihan pertama jika tidak bisa mendapatkan pendonor," sambung Abbas kemudian membuat Keanu hanya bisa menatap dengan datar, tetapi dia yakin sekali jika mertuanya pasti akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan pendonor untuk wanita bernama Hanna itu.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat lain terlihat Evan sedang melempar beberapa barang yang ada di rumah Sherly dengan penuh kemarahan. Dia benar-benar merasa kesal dengan apa yang terjadi dipersidangan hari ini, bahkan saat mendengar hasil akhir yang dibacakan oleh hakim.
"Sia*lan!" umpat Evan dengan kekesalan luar biasa, membuat Sherly dan Sella hanya bisa mematung di depan pintu.
"Kenapa, kenapa mereka harus ikut campur dengan urusanku dan Ayun?" teriak Evan membuat suaranya menggema di tempat itu.
Dengan cepat Sherly dan Sella melangkah masuk ke dalam rumah dan mendekati laki-laki itu.
"Kau lihat sendiri 'kan, Evan?" ucap Sella dengan tajam. "Kau lihat di persidangan tadi? Suamiku dan keluarganya membantu Ayun sampai seperti itu, aku yakin pasti wanita itu hanya terima beres saja. Lalu setelahnya dia mendapat kemenangan, dan kau? Kau akan kehilangan semuanya."
Evan terkesiap saat mendengar ucapan Sella, dia lalu menatap wanita paruh baya itu dengan tajam dan dipenuhi dengan amarah.
"Sejak awal aku sudah bilang kalau mereka ingin menikahkan wanita itu dengan suamiku, tapi kalian tidak mau dengar. Sekarang rasakan kekalahan kalian yang hanya tinggal menghitung hari lagi," tukas Sella sambil melangkah masuk ke dalam kamar. Dia menutup pintunya dengan kuat, membuat tubuh Sherly terjingkat kaget.
Evan terdiam dengan tubuh kaku saat mendengar semua ucapan mertua. Apa benar Ayun akan menikah dengan Abbas? Jika tidak, kenapa mereka sampai mau membantu Ayun begitu saja?
Evan langsung menepis tangan Sherly dengan kasar membuat wanita itu terhenyak. "Berhenti bicara, Sherly. Apa kau tidak tahu kalau sekarang aku sedang sangat pusing, hah?" Dia lalu mendudukkan tubuhnya ke atas sofa.
Sherly berdecak kesal saat mendengarnya. Dia harus segera melakukan sesuatu sebelum semuanya jatuh ketangan Ayun. Lalu, nasibnya dan Suci bagaimana? Dia juga punya hak atas harta Evan.
"Sekarang bukan saatnya untuk pusing, Van. Kita harus memikirkan masa depan kita, dan kau juga harus memikirkan Suci," ucap Sherly dengan tidak terima.
Evan sendiri hanya diam. Dadanya terasa sesak saat memikirkan jika Ayun benar-benar menikah dengan Abbas. Tidak, wanita itu tidak bisa melakukan hal seperti itu. Bagaimana mungkin mantan istrinya menikah dengan mantan mertuanya sendiri?
__ADS_1
"Aku harus bicara dengan Ayun,"
"Apa?" pekik Sherly dengan kaget. "Untuk apa kau bicara dengannya?" Dia bertanya dengan nanar.
Evan mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celana tanpa memperdulikan ucapan Sherly. Namun, belum sempat dia menelepon Ayun. Sebuah pesan dari seseorang masuk ke dalam emailnya membuat dia segera membuka email itu.
Deg.
Mata Evan membelalak lebar saat baru menyadari bahwa dua hari lagi akan ada acara yang sangat penting, dan untung saja salah satu rekan bisnisnya mengirim sesuatu dan membuatnya ingat dengan acara lelang itu.
"Kenapa kau diam, Evan? Untuk apa kau-"
"Diamlah, ada sesuatu yang lebih penting dari itu," potong Evan dengan cepat. "Aku harus segera ke kantor untuk menyiapkan acara pelelangan lusa." Dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, dan bersiap untuk ke kantor."
Sherly langsung terdiam dengan tubuh tegang saat mendengar ucapan Evan. Jantungnya berdegup kencang, dengan keringat dingin yang mengalir di tubuhnya.
"Tenanglah, Sherly. Evan tidak akan tahu tentang semua yang sudah kau lakukan."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.