
Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh para murid, yaitu hari pengumuman kelulusan mereka. Bukan hanya para murid saja yang menantikan pengumuman itu, tetapi para orang tua juga terlihat sangat antusias.
Sama halnya dengan Evan yang saat ini sudah berada di sekolah Adel. Dia mengetahui tentang hari pengumuman kelulusan itu dari grup yang ada disosial media, karena dulu dialah yang tergabung dalam grup tersebut.
Dulu Evan sering memberi komentar dalam grup itu, tetapi sekarang tidak lagi karena sudah ada Ayun yang juga tergabung di dalamnya. Dia merasa tidak pantas lagi untuk ikut campur, jadi biarlah Ayun yang mengurus semuanya.
Senyum merekah terbir dibibir Evan saat melihat kedatangan Ayun dan Adel, apalagi saat melihat pancaran kebahagiaan diwajah putrinya itu
"Adel," gumam Evan sambil menatap Adel penuh kerinduan. Dia lalu mengambil buket bunga yang sengaja dia siapkan untuk sang putri.
Dengan perlahan Evan berjalan mendekati Ayun dan Adel yang sedang berbincang dengan seseorang. Namun, langkahnya langsung terhenti saat melihat kedatangan Fathir.
"Ayun!"
Ayun yang sedang berbincang dengan orang tua dari teman Adel langsung menoleh ke belakang saat mendengar panggilan seseorang, dia lalu tersenyum ketika melihat Fathir dan Faiz.
"Apa kalian sudah sampai dari tadi?" tanya Fathir, sementara Faiz langsung menyalim tangan calon ibu sambungnya.
"Tidak, kami baru saja sampai," sahut Ayun. Dia lalu mengernyitkan kening heran saat melihat Fathir membawa dua buket bunga yang sangat indah.
Sadar akan tatapan Ayun, membuat Fathir tersenyum simpul. "Ini, ambillah." Dia lalu memberikan salah satu buket bunga itu pada Ayun.
Ayun terlihat bingung saat Fathir memberikan buket bunga itu untuknya. "Ini, untukku?"
Fathir mengangguk. "Iya, ambillah."
Dengan cepat Ayun mengambil buket bunga itu seraya tersenyum malu karena saat ini mereka menjadi pusat perhatian semua orang, sementara Faiz dan Adel sibuk berdehem untuk mengejak apa yang sedang orangtua mereka lakukan.
"Dan yang ini untuk putri kecilku yang nakal," ucap Fathir sambil menyodorkan buket bunga yang satu lagi untuk Adel.
Adel tersenyum bahagia menerima bukat bunga yang Fathir berikan. "Wah, terima kasih Om." Dia memeluk buket bunga itu dengan erat.
"Papa pilih kasih!" Tiba-tiba Faiz bersuara. Tentu saja dia merasa iri saat melihat Adel mendapat bunga dari papanya, sementara dia tidak diberi apapun.
Fathir langsung tersenyum geli melihat kemarahan Faiz, begitu juga dengan Ayun yang tampak menggelengkan kepala melihat perbuatan Fathir.
"Kau kan laki-laki, masa mintak bunga juga?" ucap Fathir.
__ADS_1
Cih, Faiz mendengus sebal. Bisa saja 'kan, papanya itu memberikan hal lain selain bunga? Emang dasar papanya sama sekali tidak berniat untuk memberikan hadiah padanya.
"Jangan nangis, Faiz. Aku mau kok, berbagi bunga denganmu," seru Adel sambil menyodorkan bunga yang ada ditangannya, juga menjulurkan lidah untuk mengejek laki-laki itu.
Dengan cepat Faiz merangkul Adel lalu mengeratkan tangannya tepat di leher gadis itu, membuat Adel memekik sakit.
"Ibu, tolong aku!" pekik Adel sambil memukul-mukul lengan Faiz yang ada di lehernya.
"Ampun gak, ampun gak?" tanya Faiz sambil tergelak saat melihat Adel kesakitan, sementara Ayun dan Fathir hanya menghela napas kasar saat melihat apa yang bocah-bocah itu lakukan. Namun, mereka senang melihat interaksi antara Adel dan Faiz.
Semua orang yang ada di tempat itu tampak berbisik-bisik saat melihat kedekatan Ayun dan Fathir. Jelas mereka semua mengenal siapa Fathir, karena laki-laki itu adalah donatur terbesar di sekolah swasta ini .
Begitu juga dengan Evan yang sejak tadi tidak memalingkan pandangannya dari mereka. Hatinya terasa berdenyut sakit melihat interaksi Fathir dengan Ayun dan juga Adel, dia seperti merasa tertampar dengan apa yang laki-laki itu lakukan.
Bagaimana tidak, tampak jelas jika Fathir memperlakukan Ayun dan Adel dengan baik. Sedangkan Evan, dia hanya bisa menyakiti Ayun dan Adel saja. Bahkan selama bersama dengan Ayun, dia tidak pernah memberi bunga atau pun hal lain untuk wanita itu.
Semua orang lalu masuk ke dalam aula yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah, begitu juga dengan Fathir dan Ayun, sementara Evan memilih untuk tetap berada diluar dan melihat dari jendela saja.
Setelah semuanya berkumpul, pihak sekolah lalu mulai mengumumkan hasil ujian para murid. Mulai dari peringkat tertinggi, sampai hasil akhir dari semua siswa yang mengikuti ujian.
Satu persatu siswa yang berada diperingkat atas dipersilahkan untuk maju ke depan, karena akan mendapat penghargaan dari kepala sekolah. Begitu juga dengan Adel yang mendapat peringkat ketiga, sedangkan untuk Faiz jangan berharap lebih. Bisa lulus saja sudah syukur alhamdulillah.
"Adel sangat hebat, sama sepertimu," ucap Fathir.
Ayun yang sedang melihat Adel beralih menatap Fathir. "Semua orang hebat, Fathir. Sama sepertimu dan Faiz juga."
Fathir terkekeh. Benar, tentu saja dia dan Faiz hebat, karena sudah terbukti bisa menaklukkan hati Ayun dan semua keluarga wanita itu.
Faiz juga menatap Adel dengan bangga. Dia tahu jika gadis itu pintar, tetapi dia tidak menyangka jika Adel bisa mendapat peringkat ketiga dari semua siswa kelas IX yang ada disekolahnya.
"Loh, bukankah itu ayahnya Adel?" gumam Faiz saat tidak sengaja melihat Evan dibalik jendela. Dia lalu menajamkan pandangannya untuk memastikan bahwa sedang tidak salah lihat. "Benar, itu ayahnya." Dia merasa bingung kenapa ayahnya Adel ada di sana dan tidak masuk ke dalam aula.
Fathir yang mendengar gumaman Faiz ikut melihat ke arah jendela, dan benar saja jika dia juga melihat Evan ada di sana.
"Kenapa dia berdiri di sana dan tidak masuk?" Fathir terus menatap tajam. "Apa hubungannya dan Adel belum membaik?" Dia tahu bagaimana hubungan antara ayah dan anak itu.
Lalu tanpa sengaja Fathir bersitatap mata dengan Evan yang sepertinya terkejut karena sejak tadi terus diperhatikan, sampai akhirnya laki-laki itu sudah tidak terlihat lagi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, semua acara sudah selesai dilaksanakan. Semua siswa dinyatakan lulus oleh pihak sekolah, membuat para orang tua merasa sangat bersyukur.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku akan menghubungi Ezra agar dia bergabung bersama dengan kita," ajak Ayun.
Tentu saja Fathir langsung mengangguk setuju, begitu juga dengan Adel dan Faiz.
"Tapi tunggu sebentar, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Adel," ucap Fathir.
"Hem, siapa?" tanya Adel dengan heran.
Tanpa menjawab pertanyaan Adel, Fathir langsung berjalan ke arah samping aula di mana dia sempat melihat Evan membuat Ayun dan Adel menatap bingung, sementara Faiz sudah tahu siapa orang yang dimaksud oleh papanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Fathir begitu melihat Evan, membuat laki-laki itu tersentak kaget.
Evan yang semula duduk langsung beranjak berdiri melihat kedatangan Fathir, dia tidak menyangka jika laki-laki itu akan menghampirinya.
"Tidak, aku, aku hanya sedang-"
"Setidaknya temui putrimu dan ucapkan selamat padanya. Untuk itu 'kan, kau datang ke sini?"
Evan terdiam. Tentu saja dia datang untuk menemui Adel, hanya saja dia takut membuat putrinya itu semakin membencinya.
"Kau benar-benar pengecut sekali, Evan. Jika kau berani menyakiti mereka, seharusnya kau berani juga untuk meminta maaf," ucap Fathir dengan kesal. Ingin sekali dia menghantamkan kepala laki-laki itu kedinding agar bisa berpikir dengan benar.
"Bukan seperti itu, Fathir. Aku bukannya tidak mau minta maaf. Aku, aku hanya takut semakin menyakiti hati Adel, aku takut dia semakin membenciku," sahut Evan dengan lirih.
Fathir menghela napas kasar. "Kalau seperti itu, lebih baik kau tidak muncul selamanya di hadapannya. Atau bahkan kau menghilang saja dari dunia ini, jadi anakmu tidak akan menderita lagi." Dia berucap dengan sarkas.
"Asal kau tau, Evan. Kau sudah sangat banyak sekali menyakiti hati anak-anakmu. Dengan perselingkuhan, pengkhianatan, juga perpisahan. Lalu sekarang, kau menyakiti hati mereka dengan terus menghindar seperti ini. Apa kau pikir mereka tidak semakin menderita dengan apa yang kau lakukan?"
Evan menunduk dengan kedua mata menggantung mendung, membuat amarah Fathir semakin menjadi-jadi.
"Dekati mereka, lalu terima amarah dan kebencian yang mereka berikan. Persetan dengan perasaan takutmu itu, cukup tunjukkan ketulusan dan penyesalanmu. Karena suatu saat nanti, hati anak-anakmu pasti akan luluh dengan ketulusan yang kau berikan."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.