
Evan tersentak kaget saat mendengar ucapan Akmal. Matanya menatap dengan tajam dan berkilat penuh amarah. "Kau, apa yang kau katakan?"
Akmal tertawa sinis saat mendengar ucapan Evan. "Jangan pura-pura bod*oh, Evan. Kau pikir aku tidak mengetahuinya?" Dia mencibir dengan gelak tawa yang masih tampak di bibirnya.
Evan mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Bajing*an mana yang telah menyebarkan tentang pernikahan keduanya? Tidak, dia tidak bisa membiarkan semua ini terjadi.
"Hebat juga kau yah, aku benar-benar tidak percaya saat pertama kali mendengarnya. Tapi begitu aku melihat buktinya, dan wow. Kau jelas memilih wanita yang lebih muda dari istrimu, apa istrimu sudah tidak memuaskan?" tanya Akmal dengan menaikkan sebelah alisnya, dan tatapan yang seakan sedang mengejek.
Merasa sangat panas dan emosi, Evan langsung mencengkram kerah kemeja Akmal membuat laki-laki itu terkesiap. "Katakan, katakan siapa bajing*an yang telah mengatakan hal seperti itu padamu!" Dia mengguncang tubuh Akmal membuat laki-laki itu naik darah.
Dengan cepat Akmal mendorong tubuh Evan sampai cengkraman laki-laki itu terlepas, lalu dia melayangkan pukulan ke wajah laki-laki itu sampai hampir membuat tubuh Evan tersungkur ke lantai.
"Beraninya kau memukulku!" teriak Evan dengan amarah yang sudah meletup-letup.
"Aku bukan hanya berani memukulmu, tapi juga berani membunuhmu dan menghancurkanmu. Jadi sebelum aku melakukannya, lebih baik kau pergi dari tempat ini dan menyus*u lah pada istri keduamu itu."
Deg.
Dada Evan terasa kian terbakar saat mendengar cibiran Akmal, sementara Akmal sendiri menatapnya dengan tajam dan menusuk.
"Pergi dari tempatku sekarang juga!" Untuk kesekian kalinya, Akmal kembali mengusir laki-laki itu dengan penuh emosi.
Evan menatap dengan benci. Lihat saja nanti, jika semua masalahnya sudah selesai maka dia akan membalas laki-laki itu. Dia lalu berbalik dan segera pergi dari tempat itu dengan gurat kemarahan yang terlihat jelas djwajahnya.
Brak.
__ADS_1
Suara benturan jeras dari pintu mobil yang ditutup dengan keras menggema diparkiran, tentu saja yang melakukannya adalah Evan.
"Brengs*ek!" umpat Evan dengan kesal saat sudah berada di dalam mobil. "Siapa, siapa sebenarnya yang telah melakukan semua ini?" Dia memukul-mukul setir mobilnya dengan geram. Semua masalah datang bertubi-tubi menghantamnya, bahkan sekarang dia belum tahu di mana berkas itu berada.
"Terserahlah, persetan mereka tahu aku menikah lagi atau tidak. Aku juga tidak memerlukan manusia-manusia sampah seperti mereka," ucap Evan dengan menggertakkan giginya. Dia lalu mengambil ponsel yang ada di saku jasnya, lalu mengangkat panggilan masuk dari Agung.
Setelah terlibat pembicaraan yang cukup serius, dia segera mematikan panggilan itu dan bergegas menuju kantor polisi.
Sementara itu, di tempat lain tampak Sherly sedang mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia merasa cemas dan gelisah karena sampai saat ini Evan belum juga kembali, bahkan laki-laki itu tidak membalas pesannya.
"Bagaimana jika dia tahu kalau aku yang mengambilnya," gumam Sherly dengan takut. Bayangan kemarahan Evan menari-nari dalam kepalanya, tetapi secepat kilat dia menepisnya.
"Tidak, dia tidak akan mengetahuinya. Tidak ada bukti apapun kalau aku yang mengambil. Lagi pula di dalam ruangan itu juga tidak ada cctv."
Sherly mencoba untuk tetap tenang seakan dia tidak mengetahui apa-apa, tetapi tetap saja dadanya terus berdegup kencang saat ini.
Sherly tersentak kaget saat tiba-tiba mamanya memanggil, sontak dia menjatuhkan ponsel yang sejak tadi berada di tangannya.
Brak.
Benda pipih itu terjatuh ke lantai dengan sedikit kuat, membuat Sella menatap dengan heran.
"Mama apa-apaan sih? Ngagetin aja," ucap Sherly dengan nada kesal, dia segera mengambil ponselnya yang terjatuh tadi dan meringis saat melihat layarnya retak.
Sella sendiri menatap Sherly dengan tidak mengerti, jelas-jelas dia hanya memanggil tapi reaksi anaknya itu terlalu berlebihan.
__ADS_1
"Mama minta uang," ucap Sella yang baru ingat tujuan dia memanggil Sherly, membuat wanita itu langsung menatapnya dengan tajam.
"Uang?" tanya Sherly dengan tajam. "Bukannya semalam aku baru kasi Mama uang?" Dia menatap dengan nanar. Baru juga semalam dikasi uang, tetapi sekarang sudah minta lagi.
"Hari ini Mama ada urusan, yang semalam 'kan sudah habis untuk bayar arisan," jawab Sella dengan sebal.
Sherly berdecak kesal saat mendengarnya. "Kenapa Mama enggak minta uang sama papa aja sih, Mama kan bisa nuntut papa sama kayak Ayun nuntut Evan. Minimal dapat 100 juta atau 200 juta lah." Dia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dengan kasar.
"Kau pikir mama bisa melakukan itu?" bentak Sella. "Mama dan wanita itu berbeda. Dia kan istri Evan dari mulai dia susah, terus sekarang kau yang nikmati."
Sherly langsung membuang muka sebal saat mendengar ucapan sang mama. "Tapi Mama bisa minta kompensasi karna selama ini sudah merawat kak Nindi. Mama kan udah lebih 10 tahun bersama papa." Dia berucap dengan tajam, membuat Sella terdiam.
Benar juga. Sella tidak kepikiran sampai sana dan hanya berusaha untuk kembali pada Abbas saja. Jika sampai akhir laki-laki itu tidak mau kembali padanya, maka dia akan menuntut harta juga. Bukankah selama ini dia sudah menjadi istri dan ibu yang baik untuk Nindi?
"Mama akan bicarakan itu nanti dengan Agung, sekarang minta uang dulu," ucap Sella, dia mengulurkan tangannya ke hadapan Sherly untuk meminta apa yang dia inginkan.
Dengan kesal Sherly mengambil dompetnya, dan memberikan 3 lembar uang seratusan pada sang mama.
"Uangku sudah menipis, akhir-akhir ini kedai es krimku tidak terlalu ramai," ucap Sherly dengan ketus. Dia yang mau beli tas saja tidak jadi karena keuangan mulai menipis.
"Cih." Sella menerimanya dengan tidak ikhlas. "Makanya, cepat minta Evan untuk menikahimu secara sah. Dengan begitu kau akan berkuasa penuh untuk mengatur hartanya."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.