
Ayun dan yang lainnya sudah masuk ke dalam ruang sidang dan duduk di sudut ruangan. Terlihat ada beberapa orang juga yang berada di tempat itu, sepertinya para mahasiswa magang yang ingin melihat jalannya persidangan.
Setelah kepergian Ayun, Evan dan pengacaranya juga masuk ke dalam ruangan itu. Dia terus melirik ke arah Ayun dan kedua anaknya, ingin sekali dia bicara dengan mereka saat ini juga.
"Apa saya sudah terlambat?"
Semua orang langsung melihat ke arah pintu saat mendengar suara baritone seseorang, termasuk Ayun dan kedua anaknya.
"Tuan Abbas?" Ayun beranjak bangun dari kursinya dengan senyum lebar saat melihat kedatangan Abbas, terlihat lak-laki itu datang seorang diri dan segera menghampiri mereka.
Ezra dan Adel juga tersenyum canggung saat melihat kedatangan Abbas. Sejak mereka tahu jika laki-laki itu adalah kakek mereka, entah kenapa ada rasa canggung yang terjadi. Padahal sebelumnya mereka bersikap biasa saja.
"Bagaimana kabarmu hari ini, Ayun? Semua baik-baik saja 'kan?" tanya Abbas dengan senyum lebar.
Ayun mengangukkan kepalanya. "Alhamdulillah semuanya baik-baik saja, Tuan." Dia menjawab sambil melihat ke arah belakang, seakan mencari seseorang.
Abbas yang mengerti arah pandang Ayun menatap dengan sendu. "Maaf, Ayun. Hari ini Nindi dan Keanu tidak bisa datang, tapi mereka titip salam padamu dan akan mendo'akan agar persidangan ini berjalan lancar." Lirihnya.
Tadi malam Nindi terpaksa dibawa ke rumah sakit karena tidak sadarkan diri dan keadaannya semakin drop. Itu sebabnya hari ini Abbas datang sedikit lebih lama dari biasanya karena harus mengurus sesuatu, dia juga menemui Hasna karena berada di rumah sakit yang sama dengan Nindi.
Ayun menganggukkan kepalanya dengan malu. "Tidak apa-apa, Tuan. Saya sudah merasa senang dengan do'a baik yang mereka berikan."
__ADS_1
Abbas menatap Ayun dengan lembut. Hatinya terasa hangat melihat senyum yang terbit diwajah putrinya itu. Dia lalu beralih pada Ezra dan juga Adel.
Evan yang sejak tadi memperhatikan mereka mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dia tahu jika semua ini adalah ulah mertuanya, itu sebabnya dia dan Ayun bisa cerai secepat ini. Sebenarnya kenapa Abbas sangat peduli dengan Ayun? Apa laki-laki itu benar-benar ingin menikahi Ayun?
"Tidak, itu tidak mungkin terjadi," gumam Evan tidak terima. Dia lalu kembali melihat lurus ke depan tanpa mendengarkan ucapan pengacaranya.
Tidak berselang lama, datanglah hakim beserta jajarannya membuat semua orang langsung diam dan suasana berubah hening. Mereka lalu duduk di tempat masing-masing, dan mempersilahkan pihak tergugat dan penggugat untuk duduk di tempat yang telah disediakan.
Hakim lalu membuka sidang hari ini dengan kata sambutannya, kemudian mengetuk palu sebagai tanda dimulainya sidang putusan atas perceraian antara Ayun dan juga Evan.
Hakim lalu membacakan hasil dari persidangan yang diadakan minggu lalu, juga mengumumkan bahwa sidang hari ini adalah sidang putusan akhri atas gugatan yang dilayangkan ke pengadilan.
Semua bukti-bukti yang terkait dengan gugatan itu ditunjukkan pada semua orang, sekaligus penjelasan tentang tuntutan harta dan juga hak asuh anak karena perceraian itu sudah disetujui secara hukum.
Ayun langsung mengucap syukur dengan berlinang air mata. Rasa haru dan bahagia menyeruak dalam hatinya kala mendengar keputusan hakim tentang hak asuh kedua anaknya.
Ezra dan Adel juga langsung memeluk ibu mereka dengan tangis bahagia. Kini mereka bisa hidup dengan tenang tanpa takut ada masalah yang akan terjadi.
Evan sendiri mengepalkan kedua tangannya dengan wajah merah padam. Tanpa sadar air mata jatuh membasahi wajah kala mendengar hak asuh kedua anaknya jatuh ke tangan Ayun.
"Kami juga sudah memutuskan tentang pembagian harta selama pernikahan. Di mana sebelum menikah, tidak ada perjanjian antara pihak penggugat dan tergugat mengenai harta individu. Semua kekayaan adalah milik kedua belah pihak, tanpa terkecuali," ucap Hakim sambil membuka lembaran-lembaran keputusan yang telah ditetapkan.
__ADS_1
"Selama menjalani pernikahan, pihak penggugat terbukti tidak pernah menikmati harta yang telah diperoleh. Dan sebaliknya, pihak tergugat malah memberikan sejumlah harta kepada istri siri yang termasuk mobil dan juga rumah. Untuk itu, pihak pengadilan memutuskan untuk memberikan 70% aset kekayaan selama pernikahan kepada pihak penggugat, yaitu saudari Ayundya Nadira."
Ayun semakin terisak dengan rasa syukur yang teramat dalam saat mendengar putusan hakim. Dia benar-benar tidak menyangka jika bisa mendapatkan semua haknya yang sejak dulu tidak pernah dia nikmati.
Lain hal dengan Ayun, Evan langsung keberatan dan tidak terima dengan hasil keputusan hakim. Dia yang bekerja, kenapa malah Ayun yang mendapatkan hartanya?
"Saya tidak bisa menerima keputusan itu, yang mulia. Selama ini saya yang bekerja keras, kenapa malah Ayun yang mendapat 70%?" protes Evan dengan kemarahan.
Suasana sidang berubah menjadi panas, membuat pihak pengadilan mencoba untuk kembali menenangkan.
"Anda benar, saudara Evan. Selama ini memang Anda yang bekerja, tetapi saudari Ayun yang mengelola semua keuangan dalam rumah tangga. Dapat dilihat dalam 10 tahun terakhir, di mana Anda membelikan mobil, rumah dan juga barang mewah lainnya terhadap istri siri Anda. Jelas dikatakan bahwa apa yang Anda lakukan tidak sebanding, dan tidak melalui persetujuan istri sah. Itu sebabnya Anda hanya mendapatkan 30% kekayaan saat ini."
Evan menatap dengan tidak percaya. Tidak, semua ini tidak mungkin. Semua itu adalah hasil kerja kerasnya, kenapa dia tidak dapat apa-apa?
"Saya tetap tidak akan menerimanya."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.