Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 10. Mencari Keberadaan Ayun.


__ADS_3

Setelah mendapat laporan dari David dan Suny, pihak kepolisian segera menyelidiki kasus yang melibatkan Evan. Apalagi mereka masih ingat betul dengan kasus yang terjadi beberapa waktu yang lalu, tentu saja berkaitan dengan laporan pencemaran nama baik kali ini.


Sementara itu, Ezra dan yang lainnya segera pergi dari kantor Evan setelah mendapatkan tanda tngan laki-laki itu. Tidak lupa Bram menjelaskan semua batasan-batasan yang harus dilakukan, karena saat ini Ayun adalah pemilik terbesar dari usaha property tersebut.


Brak.


"Si*alan!" Evan mengumpat kesal sambil melempar berkas-berkas yang Bram berikan padanya, setelah semua orang pergi dari tempat itu.


Evan lalu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sakit. Lihat saja, semua yang menjadi miliknya pasti akan kembali lagi bagaimana pun caranya.


"Tidak ada gunanya kau mengamuk seperti ini, Evan. Kita harus segera mencari cara supaya-"


"Diam!"


Sherly tersentak kaget dan tidak bisa melanjutkan ucapannya saat mendengar bentakan Evan, sementara Evan sendiri menatap tajam penuh kemarahan ke arah wanita itu.


"Tutup mulutmu! Aku tidak ingin mendengar sepatah kata pun darimu, karena semua ini adalah kesalahanmu!" ucap Evan dengan tajam dan menusuk, membuat Sherly langsung bungkam.


Evan lalu beranjak dari meja kerjanya dan berjalan ke arah pintu. "Sekarang keluar dari ruanganku!" Dia mengusir Sherly dengan sarkas.


Sherly mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Tanpa mengatakan apa-apa, dia bergegas keluar dari ruangan itu sebelum membuat kemarahan Evan bertambah parah. Dia membanting pintu ruangan tersebut sampai membuat suara dentuman yang cukup keras.


Evan mengusap wajahnya dengan kasar saat melihat apa yang Sherly lakukan, tetapi akan lebih baik jika wanita itu pergi dari hadapannya dari pada semakin menambah beban pikiran.


"Aku benar-benar tidak habis pikir kalau semua akan jadi seperti ini. Lalu apa itu tadi, kenapa Ayun bisa menjadi anak kandung papa Abbas?" gumam Evan dengan heran dan tidak mengerti.

__ADS_1


Saat ini, satu-satunya cara untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi adalah dengan bertemu dengan Ayun secara langsung, sekaligus membicarakan masalah aset yang harus dia pinjam untuk perputaran modal.


"Aku harus menemui Ayun sekarang juga. Ezra dan yang lainnya pasti tidak akan langsung pulang ke rumah, jadi aku bisa leluasa berbicara dengannya." Evan segera beranjak pergi dari tempat itu menuju rumah Ayun. Jika tidak sekarang, maka dia tidak akan punya kesempatan lagi untuk membicarakannya dengan wanita itu.


Beberapa saat kemudian, Evan sudah sampai di depan rumah yang di tempati oleh Ayun. Selama perjalanan, beberapa kali dia menghubungi nomor ponsel wanita itu, tetapi tidak ada satu pun panggilannya yang dijawab.


"Semoga dia ada di rumah," gumam Evan sambil keluar dari mobil dan berjalan mendekati rumah Ayun.


Evan segera mengetuk pintu rumah itu dengan harapan bahwa Ayun ada di rumah, tetapi apa yang dia harapkan sepertinya tidak terjadi karena yang membuka pintu adalah Angga.


"Kau?" Angga memekik kaget dengan tatapan heran saat melihat keberadaan Evan, dan bertanya-tanya apa yang laki-laki itu lakukan di tempat ini.


"Apa Ayun ada di rumah?" tanya Evan dengan wajah datar. Matanya melihat ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Ayun, tetapi dengan cepat Angga menutup pintu rumah tersebut.


"Mbak Ayun sedang tidak ada di rumah," jawab Angga dengan jujur.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Evan kembali. Dia tidak sengaja melihat ada beberapa koper dan tas yang terletak di ruang tamu, dan keadaan rumah yang sedikit berantakan. Mungkinkah mereka akan pindah rumah?


Angga tersenyum sinis saat mendengar pertanyaan Evan. "Maaf. Kau tidak berhak bertanya apapun tentang apa yang aku lakukan." Dia menjawab dengan sarkas.


Evan menatap Angga dengan nyalang, berani sekali laki-laki itu berkata seperti ini padanya? Padahal selama ini Angga selalu memperlakukannya dengan penuh hormat.


"Sudahlah, aku tidak ada waktu untuk semua ini. Maaf, aku sedang sibuk. Jadi, silahkan pergi dari tempat ini," usir Angga dengan pelan, tetapi tatapan tajamnya terasa menusuk jantung Evan.


Angga lalu berbalik dan bersiap untuk kembali masuk ke dalam rumah. Masih banyak barang-barang yang harus dia bereskan, sesuai dengan perintah Abbas pagi tadi.

__ADS_1


"Aku ingin bertemu dengan Ayun, Angga. Tolong katakan di mana dia sekarang."


Angga yang sudah memegang pegangan pintu mengurungkan niat untuk membukanya saat mendengar ucapan Evan, dia lalu menghela napas kasar sambil berbalik dan menatap laki-laki itu.


"Untuk apa lagi kau mencari mbak Ayun, mantan kakak ipar?" tanya Angga dengan sarkas. Sebenarnya dia orang yang lembut dan ramah, sama persis seperti Ayun walau mereka saudara ipar. Namun, hatinya merasa kesal dan geram dengan apa yang sudah Evan lakukan pada kakak iparnya itu, hingga membuat sifatnya berubah sinis.


"Kau tidak perlu tahu, cukup katakan di mana Ayun padaku," tukas Evan.


Angga kembali tersenyum sinis. Sudah sampai seperti ini pun, sifat Evan tetap tidak berubah juga. "Kalau begitu maaf, aku tidak tahu di mana mbak Ayun berada. Jadi cepat pergi dari sini sebelum aku memanggil petugas keamanan kompleks untuk mengusirmu." Dia berkata dengan ketus.


Evan terpaksa pergi dari tempat itu karena tidak berhasil mengetahui di mana Ayun berada, sepertinya dia harus menghubungi Adel untuk bertanya di mana keberadaan wanita itu.


Angga menatap kepergian Evan dengan nyalang, lalu kembali masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sesuai dengan perintah Abbas, sore nanti mereka akan pindah dari rumah itu ke rumah yang sudah disediakan oleh Abas dan juga Keanu. Awalnya Angga merasa kaget dan tidak berani untuk mengiyakan, tetapi saat mengetahui jika Hasna dan Yuni sudah setuju, maka dia pun bergegas menyiapkan semuanya.


Abbas dan Keanu memang sudah menyiapkan rumah untuk ditinggali oleh Ayun dan keluarga wanita itu, yang hanya berjarak beberapa meter saja dari rumahnya. Mereka bahkan sudah menyiapkan pekerjaan untuk Angga, agar laki-laki itu tidak kembali ke kampung dan menetap di tempat itu.


"Semoga nona Nindi segera sadar dan semuanya baik-baik saja. Tapi, untuk apa lagi Evan mencari mbak Ayun? Aku harus segera menghubungi tuan Abbas."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2