
Semua orang terlonjak kaget saat mendengar ucapan Abbas, terutama Sella yang sampai berdiri dari duduknya.
"Aku memang sudah memaafkan semua kesalahan kalian, tapi semua itu menjadi pelajaran untukku. Dan juga aku tidak punya hak untuk marah lagi dengan kalian karena aku sudah memutuskan untuk berpisah."
Sella dan Sherly menatap Abbas dengan tidak percaya, bagaimana mungkin laki-laki itu dengan mudahnya memutuskan hubungan pernikahan begitu saja?
Seketika dada Sella terasa sesak seperti tidak terisi oleh oksigen. Wajahnya memerah penuh emosi, dan rahangnya juga mengeras dengan kedua tangannya terkepal erat. Sungguh dia tidak pernah merasakan kemarahan sampai seperti ini.
"Kenapa? Kenapa kau mudah saja memutuskan hubungan pernikahan kita hanya karna satu kesalahan, dan kesalahan itu tidak sampai membuat seseorang kehilangan nyawa," ucap Sella dengan tidak terima. Wanita mana pun pasti tidak akan terima jika diperlakukan seperti ini.
"Bahkan jika kau membunuh seseorang, aku masih akan tetap berdiri di sampingmu dan menemanimu," bantah Abbas. Walau dia seorang mantan Jenderal, tetapi dia tidak akan malu jika memang istrinya seorang pembunuh.
"Ternyata sampai saat ini kau sama sekali tidak mengerti dengan kesalahan yang telah kalian lakukan, ya. Jadi apa gunanya kalian datang padaku dan meminta maaf? Apa kalian takut kehilangan harta yang aku punya, makanya kalian cepat-cepat minta maaf?"
Deg
"Jangan mengalihkan pembicaraan kamu, Mas!" ucap Sella dengan tajam.
"Hanya karna mendukung anakku, kau terus saja mencari-cari alasan yang lain, kau bahkan sampai mengatakan jika aku gila harta, apa kau tidak berpikir jika semua itu sudah sangat keterlaluan?" tanya Sella dengan nada membentak.
Abbas menghela napas kasar. Entahlah, dia sendiri tidak tahu kenapa sangat marah pada mereka, tetapi perasaannya benar-benar tidak ingin bersama dengan Sella lagi. Bukan karena harta atau ada yang lain, tapi karena pemikiran wanita itu. Akan jadi apa keturunannya nanti jika dia tetap bersama dengan wanita seperti Sella? Walau dia tidak akan punya keturunan.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Mas? Aku tahu kesalahanku hanya sebagai alasan saja, aku yakin sejak awal kau memang mau menceraikan aku, tapi kau berusaha untuk mencari-cari alasan sampai kesalahan kecil seperti itu terus kau jadikan masalah," ucap Sella dengan getir, matanya juga menatap Abbas dengan nyalang. Tidak disangka raut wajah laki-laki itu bahkan tidak berubah sama sekali.
"Baiklah. Terserah kau saja mau beranggapan seperti apa, Sella. Yang pasti aku akan segera mengurus perceraian kita agar cepat selesai," ucap Abbas dengan santai tanpa beban sedikit pun.
"Aku tau sekarang," ucap Sella dengan sinis. Dia mulai mengerti dengan apa yang terjadi saat ini. "Sejak aku datang ke tempat ini, aku sudah merasa curiga. Apalagi saat melihat sejak tadi anakmu hanya diam mendengar keputusan yang kau ambil." Dia berucap dengan menatap Abbas dan Nindi secara bergantian.
"Jangan bawa-bawa Nindi dalam masalah ini, Sella!" ucap Abbas dengan tajam. Rahanganya mulai mengeras karena merasa kesal.
__ADS_1
Nindi yang sejak tadi diam bukan tidak mau membantah ucapan sang papa, atau bukannya mendukung apa yang papanya inginkan. Dia hanya tidak mau dianggap lancang karna ikut campur masalah orang tua, bukanlah semua itu sangat tidak pantas?
"Aku benar-benar salut dengan permainan kalian," seru Sella sambil bertepuk tangan dengan meriah membuat mereka semua menatap dengan heran.
"Pikiranmu benar-benar busuk, Mas. Kau berencana untuk menikah dengan wanita bernama Ayun itu kan?"
Deg.
Semua orang terlonjak kaget saat mendengar ucapan Sella, terutama Abbas yang saat ini menatapnya dengan sangat tajam.
"Pantas selama ini kalian memperlakukannya dengan sangat baik, ternyata kalian mau menjadikakannya Nyonya di rumah kalian, kan?" ucap Sella menuduh.
"Apa yang Mama katakan? Kami sekali tidak-"
"Diam kau, Nindi!" bentak Sella dengan kuat, membuat darah Abbas semakin mendidih. "Kenapa kau baru bersuara sekarang, hah? Pantas kau lebih memilih wanita itu dari pada adikmu sendiri, ternyata kau sudah punya rencana yah. Siapa sangka wanita pendiam dan lemah lembut sepertimu ternyata sangat licik."
"Tutup mulutmu itu, jika sekali lagi kau bicara yang tidak-tidak tentang putriku, maka jangan salahkan aku jika-"
"Apa, apa? Kau mau menampar aku, hah? Tampar saja kalau kau berani!" tantang Sella dengan wajah sinis dan kilat kemarahan yang terlihat jelas.
Tanpa mereka semua sadari, Keanu yang baru sampai di tempat itu menatap Sella dengan gurat kemarahan yang laur biasa. Urat-urat yang ada disekitar leher dan tangan tampak mencuat besar. Dengan cepat dia masuk ke dalam ruangan itu sambil menggulung bajunya sampai ke lengan.
"Kenapa? Apa kau tidak-"
Plak.
Sebuah tamparan yang sangat keras melayang ke wajah Sella sampai membuat tubuhnya terhuyung ke belakang, pertanda bahwa tamparan itu sangat keras.
Semua orang yang ada di tempat itu tersentak kaget saat melihat apa yang Keanu lakukan, bagitu juga dengan Ayun yang berniat untuk memanggil Nindi karena kepala koki yang dipanggil Abbas tadi sudah datang.
__ADS_1
"Beraninya kau berkata kasar pada istriku? Sekarang katakan, apa lagi yang kau mau, Apa kau mau aku membunuhmu?"
Deg.
Tubuh Sella langsung bergetar saat mendengar suara Keanu. Jika semarah apapun, Abbas tidak akan pernah memukul. Namun, lain hal dengan Keanu. Laki-laki itu tidak pandang bulu siapa lawannya, mau laki-laki atau pun perempuan.
"Sekarang kau mau pergi sendiri dari sini, atau kulempar kau dari lantai 3 ini?" tanya Keanu dengan tajam dan penuh ancaman.
Sella mengangkat kepalanya dan menatap mereka semua dengan nyalang. Tanpa mengatakan apa-apa, dia langsung keluar dari tempat itu dengan diikuti oleh Sherly yang sama sekali tidak mengerluarkan suaranya.
Namun, langkah Sella terhenti saat berada tepat di hadapan Ayun. Dia menatap wanita itu dengan tajam, bahkan tangannya ingin sekali mencakar wajah Ayun saat ini juga.
"Kau lihat saja, aku tidak akan pernah membiarkan kau merusak rumah tanggaku. Kau ingat itu baik-baik!" ucap Sella dengan tajam. Dia lalu melanjutkan langkahnya untuk pergi dari tempat itu dengan wajah merah dan bengkak, bahkan sudut bibirnya juga berdarah.
Ayun yang tidak mengerti dengan ucapan Sella hanya bisa menatap dengan kening berkerut saja, kemudian beralih melihat ke arah Nindi.
"Minum dulu, Sayang," ucap Keanu yang saat ini sedang memeluk tubuh sang istri di atas sofa. Dia lalu membantu Nindi untuk meminum air yang baru diberi oleh sang mertua.
Nindi memejamkan kedua matanya sambil menahan sakit didaerah kepala dan juga perutnya, sampai akhirnya tubuh Nindi lemas dan tidak sadarkan diri.
"Nindi!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1