
Ucapan Dokter benar-benar mengguncang jiwa Ayun. Bagaimana mungkin semua kemalangan ini menimpanya secara berturut-berturut? Setelah dikhianati suaminya, sekarang dia harus mendapat kabar duka dari sang ibu yang harus segera dioperasi.
"Tapi kami tidak bisa melakukan transplantasi ginjal di rumah sakit ini, Buk. Anda harus membawa pasien ke rumah sakit yang ada di kota, karena di sini belum ada fasilitas yang memadai untuk melakukannya," ucap Dokter tersebut. Sungguh dia sangat menyesal harus mengatakan berita tidak baik seperti ini pada keluarga pasiennya.
Ayun hanya bisa menganggukkan kepalanya dan bersabar didinding. Napasnya terasa sesak seakan tercekat ditenggorokan, dan lidahnya bahkan terasa keluh hanya untuk mengucapkan kata-kata.
"Anda boleh menemui pasien, tapi diharapkan agar tidak ribut. Saya akan mengurus perpindahan pasien agar bisa langsung dipindahkan dan dirawat hari ini juga,"
"Baik, te-terima kasih, Dokter," ucap Yuni dan Ezra secara bersamaan.
Mendengar ucapan Dokter, Ayun segera masuk ke dalam ruangan walaupun harus menyeret kakinya yang gemetaran. Tentu saja membuat Ezra langsung sigap memegangi tubuh sang ibu dari belakang karena khawatir akan terjatuh.
"Ibu," ucap Ayun dengan lirih. Kedua matanya kembali berkaca-kaca, dan tidak butuh waktu lama untuk langsung mengeluarkan cairan kesedihannya.
Ayun segera menggenggam salah satu tangan sang ibu yang terbebas dari infus. Dia mengecup tangan yang sangat lemah dan pucat itu, tangan yang sudah merawat dan membesarkannya sampai menjadi seorang istri dan seorang ibu.
"Ibu, ini Ayun. Aku sudah datang untuk menemui ibu, maaf karna aku baru berkunjung sekarang." Lirih Ayun dengan suara yang bergetar. Sekuat tenaga dia menahan diri agar tidak terisak di hadapan sang ibu.
Hening. Tidak ada jawaban dari Hasna. Jangankan jawaban, bahkan Hasna tidak bergerak dari ranjang membuat anak serta cucu-cucunya kian merasa sedih.
"Mbak akan segera membawa ibu ke kota, Yuni. Mbak tidak ingin kondisi ibu semakin buruk," ucap Ayun membuat Yuni mendekat, dan berdiri di sampingnya.
"Aku mengerti, Mbak. Aku akan pulang dan menyiapkan barang-barang ibu, lagi pula mas Angga sudah duluan pulang untuk menyiapkannya," balas Yuni. Sejak tadi malam suaminya sudah pulang karena ingin mengurus barang-barang sang mertua, juga menjaga kedua buah hati mereka yang masih berumur 6 tahun dan 1 tahun.
__ADS_1
Ayun menganggukkan kepalanya. Kemudian dia mengeluarkan dompet yang ada di dalam tas dan menyerahkannya pada Yuni. "Urus semua administrasi ibu, Yun. Biar kita bisa segera pergi."
Yuni menatap sang kakak dengan sendu. "Apa mbak udah bilang sama mas Evan? Kenapa dia enggak ikut ke sini?" Dia baru ingat jika sang kakaknya punya suami, lalu kenapa sejak tadi dia tidak melihat suaminya?
"Dia sudah mati,"
"Apa?" Pekik Yuni dengan wajah kaget, begitu juga dengan Ezra dan Adel yang langsung menatap ibu mereka dengan tidak percaya.
"Dia sedang sibuk. Udah sana cepat urus, malah bertanya hal lain pulak," ucap Ayun dengan tajam membuat Yuni mencebikkan bibirnya dan bergegas keluar dari ruangan itu, sementara Ezra dan Adel hanya saling pandang dan tidak berani mengeluarkan suara mereka.
Ayun lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Kepalanya terus berdenyut sakit dengan apa yang terjadi saat ini. Besok sidang pertamanya dan Evan akan dilangsungkan, dan dia juga harus mengurus segala keperluan perawatan untuk sang ibu.
"Lebih baik aku hubungi Pak Bram, sepertinya besok aku enggak bisa datang," gumam Ayun sambil mengambil ponselnya dengan sangat hati-hati, lalu beranjak keluar untuk menelepon pengacaranya.
"Si*alan. Kenapa semuanya berjalan secepat ini?" gumam Evan dengan kesal, entah kenapa dia merasa emosi saat mendengar jika besok sudah langsung diadakan sidang pertama. "Dan apa itu tadi? Beraninya dia menuntutku tentang hak harta selama pernikahan?" Dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Selama ini aku yang sudah bekerja keras, berani sekali dia menuntut bagian padahal tidak melakukan apa-apa!" ucap Evan dengan kekesalan yang memuncak. "Lihat saja, aku tidak akan pernah memberikan selembar uang pun padamu, apalagi kau meminta hak asuh putra-putriku. Itu tidak akan pernah menjadi milikmu."
Evan sudah bertekad untuk menyewa pengacara terhebat yang ada di kota itu, dan dia akan mempertahankan harta serta hak asuh kedua anaknya agar tidak jatuh ke tangan Ayun.
"Evan!"
Evan yang akan masuk ke dalam mobil menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan seseorang, sontak dia berbaik dan terkejut saat melihat siapa yang sedang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Mama? Apa yang mama lakukan di sini?" tanya Evan dengan heran saat melihat mertuanya ada di tempat seperti ini.
Sella menghentikan langkahnya saat sudah berdiri tepat di hadapan Evan. "Apa lagi kalau enggak memenuhi undangan Abbas, ternyata dia benar-benar berniat untuk menceraikan mama."
"Apa?" Pekik Evan dengan tatapan tidak percaya, bagaimana mungkin Abbas bisa sampai menceraikan istrinya begitu saja?
"Huh, mereka benar-benar keterlaluan," ucap Sella dengan kedua tangan terkepal geram. Padahal dia sudah meminta maaf, tetapi suaminya tetap teguh pendirian untuk menceraikannya.
"Tapi kenapa papa ingin menceraikan Mama? Apa karena hubunganku dan Sherly?" tanya Evan dengan tajam, entah kenapa dia jadi merasa bersalah atas apa yang terjadi pada mertuanya.
"Memangnya apa lagi? Kau lihat sendiri bagaimana marahnya dia waktu itu," jawab Sella dengan ketus. "Seharusnya dia sudah memaafkan mama, tapi karna wanita itu. Dia jadi semakin semangat untuk bercerai." Dia benar-benar sangat geram sekali.
Evan mengernyitkan keningnya saat mendengar apa yang mertuanya katakan. "Wanita? Apa maksud Mama?" Dia bertanya dengan bingung.
"Kau gak tau apa yang mama maksud?" tanya Sella dengan tidak percaya, dan dijawab dengan gelengan kepala Evan. "Semua ini konspirasi, Evan. Suamiku berniat untuk menikahi Ayun, makanya dia mau menceraikanku."
"Apa?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.