Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 36. Aku Melakukan Hal yang Benar.


__ADS_3

Dengan perlahan, Ayun mengusap layar ponselnya untuk mengangkat panggilan masuk dari Evan. Lalu menempelkan benda pipih itu tepat ke telinganya agar bisa mendengar suara laki-laki itu.


"Halo,"


"Halo, Ayun," ucap Evan dengan suara yang sangat bersemangat, membuat Ayun mengernyitkan kening tidak suka.


"Iya, ada apa?" tanya Ayun. Dia tidak ingin berlama-lama bicara dengan Evan, itu sebabnya dia langsung bertanya apa yang laki-laki itu inginkan.


Evan yang berada di sebrang telepon merasa sangat senang saat mendengar suara Ayun. Sudah sejak lama dia ingin bicara dengan wanita itu, dan sekaranglah saat yang tepat.


"Kau mendengarku?" tanya Ayun dengan gusar karena tidak mendengar suara Evan.


"I-iya, Ayun. Aku mendengarmu, sudah lama kita tidak mengobrol dan bertemu," balas Evan.


Ayun tersenyum tipis saat mendengar ucapan Evan. Memangnya sejak kapan mereka saling mengobrol? Bahkan pada saat masih menjadi sepasang suami istri saja laki-laki itu sama sekali tidak ada waktu untuknya, lalu dia akan disibukkan dengan segala pekerjaan rumah.


"Benar. Jadi, apa yang kau inginkan, Mas? Aku tidak punya banyak waktu," ucap Ayun dengan penuh penekanan. Semakin lama dia merasa tidak nyaman bicara dengan Evan.


Evan diam sejenak untuk memikirkan apa yang harus lebih dulu dia katakan. "Ayun, aku sedang berada di rumah sakit. Bisakah kau datang ke sini? Aku sedang sakit parah sekarang."


Ayun tercengang saat mendengar ucapan Evan, bisa-bisanya laki-laki itu menyuruhnya ke rumah sakit padahal mereka bukan lagi suami istri.


"Aku tahu kau sedang sakit, Mas. Aku juga tau kau sedang berada di rumah sakit. Jadi, kau hanya ingin mengatakan hal seperti ini?"


Evan merasa terkejut dengan tanggapan yang Ayun berikan. Tidak disangka Ayun akan menanggapi ucapannya dengan biasa saja, bahkan sama sekali tidak peduli. Padahal dulu wanita itu akan langsung berlari ke rumah sakit walau dia hanya terkilir saja.


"Jika tidak ada lagi yang ingin Mas katakan, maka aku akan-"


"Tunggu, Ayun. Tunggu sebentar!" ucap Evan dengan cepat, membuat Ayun tidak jadi mematikan panggilan itu. "Aku, aku ingin bicara hal serius denganmu, Ayun. Aku mohon bantulah aku."


Ayun mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dugaannya ternyata benar, jika Evan meneleponnya hanya untuk meminta bantuan.


"Aku kira kau menelpon karena merindukan Adel dan Ezra, Mas. Tapi ternyata hanya karena ada maunya," tukas Ayun.


Evan terdiam dan merasa tersindir dengan apa yang Ayun katakan. Namun, saat ini dia tidak dalam posisi bisa memikirkan semua itu karena ada sesuatu yang lebih penting.

__ADS_1


"Aku mohon tolong aku, Ayun. Aku sedang butuh uang sekarang, bisakah kau-"


"Maaf, aku tidak bisa membantumu, Mas," potong Ayun dengan cepat.


"A-apa? Kau tidak bisa membantuku?" pekik Evan dengan keras. "Kenapa kau tidak bisa membantuku, Ayun? Kau punya uang, kau juga sudah memiliki semua hartaku. Bagaimana mungkin kau tidak mau membantuku?" Dia berucap dengan emosi.


Ayun terdiam mendengar ucapan Evan. Laki-laki itu masih tetap sama, baik cara bicaranya juga egois dan keras kepalanya.


"Maaf Mas, apapun yang terjadi padamu aku tetap tidak bisa membantu," ucap Ayun dengan tajam dan teguh pendirian, tentu saja sesuai dengan apa yang Fathir katakan tadi.


"Ayun kau, kau sama sekali tidak kasihan padaku?" tanya Evan dengan sarkas. "Aku sedang sakit, dan aku butuh uang supaya tidak masuk penjara. Bagaimana mungkin kau tidak punya hati seperti ini?"


Ayun terpaksa menjauhkan ponsel yang berada di tangannya dari telinga, karena suara Evan terdengar menggelegar.


"Sekarang kau berkata aku tidak kasihan dan tidak punya hati, Mas. Lalu, saat kau mengusirku dan kedua anak kita. Apa saat itu kau punya belas kasihan sedikit saja? Kau bahkan sama sekali tidak punya hati karena tega mengusir anak kandungmu sendiri," balas Ayun.


Evan mengatupkan mulutnya dengan rapat. Dia merasa tertampar mendengar ucapan Ayun, dia bahkan sama sekali tidak bisa membalas ucapan wanita itu.


"Sudahlah, hentikan semua ini. Aku tidak ingin lagi membahasnya," ucap Ayun kemudian.


"Tidak, Ayun. Aku mohon-"


"Apa kau gila?" pekik Evan dengan tidak terima. "Sampai kapan pun aku tidak akan menyerahkannya." Dia merasa benar-benar murka. Tidak disangka jika Ayun akan mengatakan hal seperti itu.


"Oh ya?" ucap Ayun sambil menghela napas kasar. "Semua itu terserah padamu, Mas. Yang jelas aku tidak bisa membantu, jadi jangan berharap banyak dariku. Lalu, aku dengar kalau ibu dan ayahmu mau menjual rumah. Aku harap kau tidak membebani mereka seperti itu, assalamu'alaikum."


"Apa? Tunggu, Ayun-"


Tut.


Ayun langsung mematikan panggilan itu dengan cepat tanpa memperdulikan Evan. Dia lalu terduduk di sofa sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang.


"Ya Allah, maafkan aku," gumam Ayun dengan sendu. Ada perasaan kasihan dan tidak tega dalam hatinya saat mengetahui kondisi Evan, tetapi dia memang harus bersikap seperti ini.


Prok, prok, prok.

__ADS_1


Ayun terlonjak kaget saat mendengar suara tepuk tangan seseorang, sontak dia langsung menoleh ke arah pintu di mana Ezra sudah berdiri di tempat itu.


"E-Ezra? Kau, kau sudah pulang, Nak?" tanya Ayun dengan tergagap. Dia segera beranjak bangun dari sofa.


"Iya, Bu." Ezra segera menyalim tangan ibunya, lalu mendaratkan kecupan singkat di kening sang ibu. "Aku bangga jadi anak Ibu. Aku bangga jadi anak dari seorang ibu yang kuat dan tegas. Apa yang Ibu lakukan itu sudah benar, aku sangat senang mendengarnya."


Ayun mengusap bahu sang putra, tidak disangka jika Ezra mendengar apa yang dia katakan bersama Evan beberapa saat yang lalu.


"Aku akan selalu mendukung apapun yang Ibu lakukan, jadi Ibu harus tetap semangat."


Ayun menganggukkan kepalanya dengan senyum simpul. "Insyaallah, Nak. Terima kasih karena kau selalu membantu dan menjadi penguat untuk Ibu."


Ezra ikut menganggukkan kepala. Dia merasa sangat senang saat mendengar ucapan sang ibu tadi, dan dia bersyukur karena ibunya tidak terpengaruh oleh sang ayah.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Evan sedang merasa sangat kesal sekali. Padahal semua yang Ayun miliki adalah hartanya, tetapi kenapa wanita itu tidak mau menolongnya?


"Lalu, apa itu tadi? Kenapa dia bisa berkata kalau ibu dan ayah menjual rumah?" gumam Evan dengan bingung.


Tidak mau semakin kalut, Evan segera menelepon ayahnya untuk menanyakan perihal masalah yang Ayun katakan tadi. Beberapa kali dia menelepon, sampai akhirnya panggilan itu dijawab.


"Halo, Yah," ucap Evan dengan cepat.


"Ada apa, Evan? Kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit," tukas Endri yang memang sedang dalam perjalanan.


"Apa benar Ayah dan ibu akan menjual rumah kita?" tanya Evan dengan tajam.


Endri terdiam saat mendengar pertanyaan Evan, tidak tahu siapa yang memberitahu laki-laki itu hingga Evan tahu tentang rumah yang akan dia jual.


"Benar, kami memang akan menjual rumah itu untuk menebus kasusmu. Juga untuk membayar hutang."




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2