Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 107. Keputusan Sulit.


__ADS_3

Fathir menyetujui apa yang Ayun ucapkan. Apalagi jaman sekarang banyak orang yang melihat sesuatu hanya dari katanya saja, bukan dari nyatanya.


"Aku akan koordinasi pada petugas kepolisian yang menangani kasus ini nanti," ucap Fathir kemudian membuat Ayun terkejut dengan tidak percaya.


"Kau akan membantunya?" tanya Ayun dengan penuh harap.


Fathir mengangguk. "Aku tidak membantu wanita itu, tapi aku membantu polisi untuk menangkap pelaku pelecehan terhadap seorang wanita."


Ayun menatap Fathir dengan penuh kekaguman. Walau laki-laki itu tampak membenci Sherly, tetapi Fathir tetap mau mengulurkan tangan dalam keadaan seperti ini.


Mereka lalu beranjak pergi dari rumah sakit untuk pulang ke rumah. Di mana saat ini kediaman Ayun sudah ramai dengan kedatangan para sanak keluarga dari kampung, juga pihak WO yang sedang mempersiapkan lokasi pesta.


***


Setelah persiapan yang cukup menguras tenaga dan waktu, akhirnya semua perlengkapan pesta sudah selesai. Mulai dari masing-masing keluarga, para tamu undangan, juga keperluan resepsi yang lainnya.


Ayun dan Nindi tersenyum puas melihat dekorasi yang sudah terpasang dengan indah di halaman rumah Ayun. Sesuai dengan permintaan Hasna, resepsi itu tampak tidak terlalu mewah. Namun, siapapun yang melihatnya akan tahu bahwa setiap ornamen yang digunakan sangat mahal dan berkelas.


Sederhana, tetapi tampak elegan dan sempurna. Itulah konsep yang Nindi dan Ayun inginkan dari pihak WO. Lalu hari ini, mereka berdecak kagum saat melihat keinginan mereka terpenuhi dengan sangat baik.


"Bagaimana dengan tante, apa dia baik-baik saja, Mbak?" tanya Nindi sambil melihat ke arah Ayun.


Ayun menganggukkan kepalanya. "Ibu sangat baik, hanya saja dia merasa malu karena terus diejek oleh keluarga." Dia tergelak saat mengingat wajah sang ibu.


Nindi ikut tertawa mendengar ucapan sang kakak. Sama seperti calon ibunya, sang papa juga diejek habis-habisan oleh keluarganya. Walau sebagian ada yang merasa tidak setuju, tetapi banyak juga dari mereka yang memberikan dukungan. Terutama paman Thomas yang terus menggoda sang papa.


"Ya sudah, kalau gitu aku dan Ken pamit dulu, Mbak. Aku ingin berziarah ke makam mama," ucap Nindi kemudian.


Ayun menganggukkan kepalanya sambil titip pesan untuk Abbas dan semua keluarga wanita itu, tidak lupa dia memperingati Nindi agar hati-hati dalam berkendara.


Nindi lalu berbalik dan berjalan ke arah sang suami yang sedang bicara dengan Fathir. Namun, tiba-tiba kepalanya terasa berputar hingga dia hampir jatuh jika tidak ditahan oleh Ezra.


"Tante baik-baik saja?" tanya Ezra dengan panik sambil memegangi tubuh Nindi.

__ADS_1


Mendengar suara Ezra, sontak Keanu langsung berlari ke arah mereka dengan diikuti oleh Fathir.


"Tante tidak apa-apa, Ez. Hanya pusing sedikit," jawab Nindi sambil menepuk lengan Ezra. Dia lalu berusaha kembali berdiri tegak sambil berpegangan pada lengan laki-laki itu.


"Ada apa, Sayang?" tanya Keanu dengan khawatir saat melihat wajah sang istri berubah pucat.


Nindi menggelengkan kepalanya. "Kayaknya aku kelelahan deh Mas, jadi kepalanya pusing." Dia beralih memeluk pinggang sang suami saat Keanu memeluknya dengan erat.


Keanu menghela napas kasar. Dia lalu mengucapkan terima kasih pada Ezra karena sudah menolong istrinya, lalu segera pergi dari tempat itu agar Nindi bisa segera istirahat.


"Pasti tante kelelahan karna mengurus pernikahan kakek dan nenek," gumam Ezra sambil terus melihat ke arah Keanu dan Nindi.


Fathir menganggukkan kepalanya. "Tantemu itu salah satu orang yang paling bersemangat, itu sebabnya dia jadi over padahal kondisi tubuhnya harus tetap dijaga."


Ezra menyetujui apa yang Fathir katakan. Dibandingkan dengan sang ibu, Nindi memang terlihat jauh lebih bersemangat. Kadang sampai bertengkar dengan Keanu hanya karena wanita itu tidak mau istirahat.


"Ya sudah, kalau gitu om pamit pulang dulu," ucap Fathir kemudian. Dia juga ingin segera istirahat agar besok bisa cepat kembali lagi ke sini.


"Gak pamit sama ibu dulu?" tanya Ezra dengan nada penuh sindiran membuat Fathir tersenyum tipis.


Ezra langsung tergelak saat melihatnya. Semakin lama dia mengenal Fathir, ternyata laki-laki itu bukanlah orang yang dingin dan kaku seperti kelihatannya.


"Oh ya Om, apa benar semalam ibu bertemu dengan ayah?" tanya Ezra. Dia tidak sengaja mendengarnya saat sang ibu sedang bicara dengan neneknya.


Fathir mengangguk. "Benar, tapi hanya sebentar karena ayahmu ke kantor polisi."


Ezra langsung menatap Fathir dengan tatapan penuh tanda tanya saat mendengarnya. Apakah ayahnya terlibat dengan masalah lagi?


Fathir langsung mengatakan apa yang terjadi saat melihat tatapan Ezra, dia tahu jika laki-laki itu merasa penasaran dengan apa yang terjadi.


"Mungkin saat ini polisi sedang mencari bukti, jika tidak ada maka pelecehan itu tidak bisa diproses," ucap Fathir saat sudah selesai menceritakan semuanya.


Ezra terdiam mendengar cerita Fathir. Tiba-tiba dia teringat saat tidak sengaja bertemu dengan wanita itu ketika akan ke toilet bersama dengan Adel.

__ADS_1


"Aku dan Adel bertemu dengannya malam itu, berarti kejadiannya di hotel yang sama dengan kita," gumam Ezra.


Fathir menatap Ezra dengan tajam. "Ceritakan apa yang terjadi." Pintanya dengan cepat.


Ezra mengangguk lalu mulai menceritakan pertemuannya dengan Sherly saat itu. Dia mengatakan semuanya tanpa ada yang terlewat, termasuk kondisi wanita itu juga.


"Bagus," ucap Fathir saat sudah selesai mendengar cerita Ezra. "Ini bisa menjadi bukti untuk kasus itu, dan juga ada saksi yang melihatnya walau tidak bersama laki-laki itu." Dia segera mengambil ponselnya di dalam saku untuk menghubungi pemilik hotel itu.


Dengan cepat Ezra menahan tangan Fathir yang sudah memegang ponsel, membuat laki-laki itu langsung melihat ke arahnya dengan bingung.


"Aku tidak peduli dengan wanita itu, Om. Aku, aku tidak ingin ikut campur," ucap Ezra dengan tajam.


Fathir terdiam saat mendengarnya. Dia tahu jika Ezra sangat membenci wanita itu, karena memang Sherly layak untuk mendapatkan kebencian yang besar dari semua orang.


"Ibumu pasti akan sangat sedih saat mendengarnya," sahut Fathir sambil menepuk bahu Ezra, membuat Ezra terdiam sambil menatapnya nanar.


"Kita melakukan ini bukan untuknya, Ezra. Tapi untuk menangkap penjahat yang sudah melecehkan seorang wanita. Tidak peduli siapapun wanita itu, yang jelas kita tetap harus melakukannya," sambung Fathir kembali, mencoba untuk memberikan pengertian pada Ezra.


Ezra terdiam gamang. Apa yang Fathir katakan memang benar, hanya saja dia tidak sudi mengulurkan tangan untuk wanita itu, karena sudah pasti dia akan dipanggil ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.


"Kita juga punya keluarga, Ezra. Bagaimana jika hal itu terjadi pada keluarga kita, lalu seorang saksi tidak mau membantu?" tanya Fathir. "Penjahat itu pasti akan bebas dan kembali melakukan hal yang sama."


Sekilas Ezra memejamkan kedua matanya untuk menekan segala perasaan yang sedang dirasakan. Dia tidak ingin egois, tetapi apa yang wanita itu lakukan juga sangat kejam pada keluarganya.


"Kau sudah dewasa, kau sudah bisa memutuskan mana yang baik dan tidak. Apapun keputusanmu, om tetap bangga padamu." Fathir kembali menepuk bahu Ezra sambil tersenyum tulus, dia merasa sedikit bersalah karena sudah menekan laki-laki itu.


Dari balik tirai yang ada di belakang Ezra, Ayun terus mendengar apa yang Fathir katakan pada putranya itu. Sungguh dia merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan laki-laki hebat dan bijak seperti Fathir.


"Mungkin jika hari ini kau datang padaku dan melamarku, aku pasti akan langsung mengiyakannya, Fathir."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2