Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 123. Kekuatan Doa dan Maaf.


__ADS_3

Fathan bertanya dengan tajam dan tidak percaya. Benarkah wanita itu akan menikah dengan Fathir?


Melihat reaksi Fathan, senyum yang ada diwajah Alma seketika menghilang. Perasaannya kini diliputi oleh ketakutan dan penyesalan. Dia takut jika laki-laki itu akan kembali melakukan hal yang buruk, dan juga menyesal karena sudah memperkenalkan Ayun.


"Benar, aku akan menikah dengan Fathir, Kak," jawab Ayun dengan ramah disertai senyuman manis yang tampak indah diwajahnya.


Tanpa mengatakan apa-apa, Alma langsung menarik Ayun untuk keluar dari tempat itu hingga membuat Ayun terlonjak kaget, begitu juga dengan Fathan yang terkejut karena apa yang mamanya lakukan.


"A-ada apa, Tante?" tanya Ayun dengan bingung. Tentu saja dia merasa heran karena tiba-tiba Alma menariknya secara paksa untuk keluar dari ruangan itu.


Dokter dan perawat yang melihat mereka keluar juga tampak sedikit kaget dengan tatapan bingung, apalagi saat ini wajah Alma terlihat sangat pucat seperti orang ketakutan.


"Ada apa Tante, apa yang terjadi?" tanya Ayun kembali sambil memegang kedua bahu Alma membuat wanita itu terkesiap.


"Ti-tidak, Ayun. Seharusnya kau tidak bertemu dengannya, seharusnya dia tidak tahu tentang keberadaanmu, seharusnya dia tidak tahu kalau Fathir akan menikah denganmu," ucap Alma dengan menggebu-gebu, wajahnya berubah pias dengan kepanikan yang membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat.


Ayun tertegun saat mendengar apa yang Alma ucapkan, apalagi melihat ketakutan yang luar biasa besar diwajah calon mertuanya itu.


"Tenanglah, Tante. Semua akan baik-baik saja, tidak akan ada hal buruk yang terjadi," sahut Ayun dengan pelan.


Alma menggelengkan kepalanya untuk membantah ucapan Ayun. Perasaannya berubah menjadi gelisah dan kacau, masih teringat dengan jelas bagaimana tatapan Fathan saat mengetahui jika Ayun adalah calon istri Fathir.


"Ki-kita harus segera menelepon Fathir dan papanya, kita harus memberitahu mereka tentang semua ini," ucap Alma kemudian.


Dengan tangan gemetaran, Alma berusaha mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja. Dia harus segera mengambil ponsel agar bisa menghubungi anak dan juga suaminya.


Ayun menatap dengan sendu. Hatinya terasa sakit melihat apa yang Alma lakukan. Lihatlah, ternyata selama ini bukan hanya Fathir saja yang hidup dalam penderitaan. Bahkan kedua orangtua laki-laki itu jauh lebih menderita dari pada anak-anak mereka.


Lalu, apa jadinya jika masalah ini terus berlarut-larut? Bukankah itu artinya penderitaan mereka tidak akan pernah berakhir?


Ayun lalu mendekati Alma dan langsung memeluk tubuh wanita itu dengan erat membuat Alma terkesiap. "Tenanglah, Tante. Insyaallah tidak akan terjadi hal buruk, percayalah padaku." Dia berucap dengan lembut.


Alma langsung terisak sambil mengungkapkan rasa takut yang dia rasakan. Dia takut jika Fathan kembali melakukan kejahatan untuk menyakiti Fathir dan juga Ayun. Jika itu terjadi, maka dia tidak akan bisa hidup lagi.


"Astaghfirullahal'adzim, istighfar Tante," ucap Ayun sambil merenggangkan pelukannya. Dia lalu mengusap air mata yang ada diwajah wanita itu. "Tante tidak boleh berkata seperti itu, karena setiap ucapan adalah doa. Kita harus-"


"Mama!"

__ADS_1


Ayun tidak dapat melanjutkan ucapannya saat mendengar suara panggilan seseorang, sontak dia menoleh ke arah ruangan Fathan, begitu juga dengan Alma dan semua orang yang ada di tempat itu.


"Ya ampun, tuan Fathan!" pekik Dokter dengan wajah panik saat melihat Fathan sudah berdiri di pintu sambil berpegangan pada dinding. Tidak ada lagi jarum infus yang terpasang ditangan laki-laki itu, juga alat bantu pernapasan yang seharusnya selalu dipakai.


Dokter dan perawat itu segera menghampiri Fathan yang sedang melihat ke arah mamanya dan Ayun, sementara kedua wanita itu terpaku di tempat mereka dengan tatapan tercengang.


"Mama!"


Alma terkesiap saat kembali mendengar panggilan Fathan. "Be-berhenti di sana, jangan mendekat!" Dia menunjuk tepat ke arah Fathan yang akan berjalan ke arahnya, dan berdiri tepat di hadapan Ayun seakan melindungi wanita itu.


Kedua mata Fathan kembali berkaca-kaca dengan tatapan nanar. Ketakutan dan kegelisahan diwajah sang mama seakan menghunjam dadanya.


"Tuan, Anda tidak boleh seperti ini. Anda harus-"


"Lepaskan aku!" Fathan menghempaskan tangan Dokter yang sedang memegangi lengannya, tidak peduli jika saat ini darah segar mengalir deras dari tangannya.


"Mama." Fathan kembali memanggil mamanya dengan pilu, membuat Alma semakin dirundung katakutan. Namun, lain hal dengan Ayun. Dia seperti merasa jika Fathan sama sekali tidak berniat untuk menyakitinya.


Bruk.


"Fathan!"


Semua orang berseru kuat secara bersamaan saat melihat tubuh Fathan terjatuh ke atas lantai, bahkan tangan Alma sudah terulur ke depan seakan ingin menangkap tubuh putranya.


"Maaf, maafkan aku," ucap Fathan dengan bergetar. Kepalanya tertunduk di hadapan sang mama dan juga Ayun. "Maafkan aku, Ma. Maafkan aku karna sudah membuat Mama menderita seperti ini, maafkan aku." Dia benar-benar merasa sangat menyesal.


Seketika suasana berubah hening karena apa yang Fathan lakukan. Dokter dan perawat yang ada di sampingnya tidak berani untuk melakukan sesuatu, begitu juga dengan sang mama yang terdiam sambil menatapnya tajam.


"Tante." Ayun menggenggam tangan Alma membuat wanita itu tersentak dan langsung menoleh ke arahnya. "Apa kita akan membiarkan kak Fathan seperti itu terus?" Dia bertanya dengan pelan.


Alma menghela napas berat sambil berusaha keras untuk menenangkan perasaannya. Dia menatap Ayun yang juga sedang menatapnya dengan penuh harap, seolah mengatakan jika semua pasti akan baik-baik saja.


"Apa, apa yang mau kau lakukan, Fathan?" tanya Alma dengan ragu-ragu .


Fathan langsung mendongakkan kepalanya dan menatap sang mama dengan sendu. "Aku, aku hanya ingin bicara dengan mama. Aku juga ingin bicara dengan wanita itu."


Alma terdiam, dia masih merasa ragu dan bimbang. Perasaan takut juga masih menyelimuti hatinya.

__ADS_1


"Tantu saja, Kak," sahut Ayun dengan senyum tulus sambil menghampiri Fathan membuat Alma terpaku di tempat. "Tapi Kakak harus kembali ke ruangan dulu, setelah itu baru kita bisa bicara."


Fathan menatap Ayun dengan dalam, seolah sedang menilai wanita yang ada di hadapannya saat ini.


"Apa Fathir benar-benar akan menikah denganmu? Apa dia mencintaimu?" tanya Fathan.


Ayun tertegun mendengar pertanyaan yang Fathan berikan, sementara Fathan sendiri terus menatapnya dengan tajam. "Insyaallah kami akan menikah, Kak. Dan soal dia mencintaiku atau tidak, bukankah pernikahan ini sudah menjadi jawabannya?"


Fathan terdiam, mencoba untuk mencari kejujuran dari sorot mata Ayun. Sesaat kemudian, dia menggenggam sebelah tangan wanita itu membuat Ayun terbelalak, begitu juga dengan Alma yang melihat dengan panik.


"Terima kasih, terima kasih telah memberikan cinta untuk Fathir. Terima kasih karena telah memberikan kebahagiaan yang telah aku hancurkan. Aku, aku merasa sangat bahagia. Aku selalu meminta pada Tuhan agar Dia kembali memberikan kebahagiaan untuk adikku, dan melimpahkan semua kesusahan Fathir padaku sebagai penebusan dosa. Dan sekarang Tuhan menjawab semua do'a-do'aku," ucap Fathan dengan pelan, tetapi sangat syarat akan makna.


Fathan bukannya merasa marah saat mendengar Fathir akan menikah, hanya saja dia merasa tidak percaya jika adiknya itu sudah benar-benar terbebas dari masa pahit yang dia berikan.


Tentu saja perasaan bersalah dan penyesalan terus menghantuinya, apalagi saat mendengar kabar bahwa adiknya sangat menderita. Siapapun juga pasti akan sangat menderita dengan apa yang dia lakukan, sampai akhirnya dia nekat untuk bunuh diri karena menganggap bahwa tidak pantas lagi untuk hidup setelah aoa yang terjadi.


Namun, Tuhan tetap saja tidak mencabut nyawanya. Mungkin Tuhan ingin menunjukkan jika sekarang adiknya sudah baik-baik saja, hingga membuatnya merasa sedikit lega.


Ayun tertegun mendengar perkataan Fathan yang terasa sangat tulus, begitu juga dengan Alma yang kembali terisak melihat putra sulungnya itu.


Setelah apa yang terjadi, Fathan kembali dibawa ke ruangannya oleh Dokter dan langsung diperiksa secara menyeluruh. Sementara Ayun dan Alma sudah berada di luar ruangan itu.


"Ya Allah." Lirih Alma sambil mengusap wajahnya. Hari ini dia benar-benar merasa seperti terombang-ambing oleh perasaan, hingga rasanya hampir gila.


Ayun sendiri merasa benar-benar bahagia. Apa yang Fathan lakukan seperti memberi harapan akan kesembuhan Fathir, karena memang semua masalah berawal dari laki-laki itu.


Pada saat yang sama, terlihat Evan sedang berlari masuk ke dalam rumah sakit setelah mendapat panggilan dari Dokter. Begitu juga dengan Sherly yang saat itu sedang membeli makan siang.


"A-ada apa, Dokter? Apa yang terjadi pada putriku?" tanya Evan dengan napas tersengal-sengal setelah berlarian untuk menemui Dokter itu.


Sherly juga bertanya dengan panik dan khawatir. Dia bahkan sudah terisak di hadapan Dokter dengan perasaan takut.


"Saya ingin memberitahu jika beberapa saat yang lalu Suci tersadar dari komanya."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2