Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 97. Kita Akan Berjalan Bersama.


__ADS_3

Fathir terdiam dengan tubuh tegang saat mendengar ucapan Ayun. Dia yang sudah berbalik dan hendak kembali ke rumah, kini tampak memutar tubuhnya lalu menatap wanita itu dengan tajam.


"Kau, kau bilang apa?" tanya Fathir dengan lirih. Terlihat jelas tatapan tidak percaya yang terpancar dari kedua matanya.


Ayun sendiri menundukkan kepalanya dengan wajah merah padam menahan malu. Entah kenapa mulutnya bisa bergerak sendiri dan mengucapkan kata-kata seperti itu pada Fathir, padahal dia sama sekali tidak merencanakannya.


Melihat tidak ada jawaban dari Ayun, Fathir kembali mendekati wanita itu sampai berdiri tepat di hadapan Ayun dengan jarak yang sangat dekat.


Ayun terkesiap. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat Fathir mendekat, dia harus mengendalikan diri atau laki-laki itu akan mendengar debaran jantungnya.


"Apa, apa kau bisa mengulangi ucapanmu?" tanya Fathir kembali dengan bibir gemetar.


Bukannya tadi Fathir tidak mendengar ucapan Ayun, hanya saja dia merasa tidak percaya dengan apa yang wanita itu katakan. Mungkinkah dia hanya sedang berhalusinasi, sehingga mendengar suara Ayun padahal wanita itu tidak mengatakan apa-apa?


"Ayun, aku mohon jawablah pertanyaanku. Benarkah tadi kau mengatakan sesuatu padaku, atau aku yang berhalusinasi?" ucap Fathir kemudian.


Bagaimana tidak, selama ini Ayun tidak pernah menunjukkan ketertarikan padanya. Lalu sekarang, dia malah mendengar jika wanita itu berharap jika bisa bersamanya.


"Tidak, Fathir. Kau sedang tidak berhalusinasi," sahut Ayun sambil menggelengkan kepalanya. "Tapi aku mohon jangan memintaku untuk mengatakannya lagi, aku merasa sangat malu." Kepalanya semakin menunduk.


Wajah Fathir yang semula dipenuhi dengan ketegangan dan kebingungan, seketika berubah menjadi senyum lebar saat mendengar ucapan Ayun. Walau wanita itu tidak mengulangnya, yang pasti dia tahu jika tadi tidak salah dengar.


"Aku, aku tidak tahu harus berkata apa. Semua ini benar-benar membuatku bahagia dan terkejut disaat bersamaan," ucap Fathir dengan jujur. Dia bahkan sampai tidak tahu harus bereaksi seperti apa untuk mengungkapkan apa yang sedang dia rasakan saat ini.


Ayun hanya diam sambil tetap menunduk. Jangankan Fathir, dia sendiri saja juga tidak tahu harus bersikap bagaimana. Dia terlalu malu untuk menatap laki-laki itu, dia bahkan sangat malu dengan ratusan bunga yang ada di tempat itu.


"Baiklah. Aku, aku pasti akan selalu bersamamu, Ayun. Aku tidak akan memaksa dan memintamu untuk segera mengambil keputusan, cukup jalani apa yang terjadi saat ini saja. Buka hatimu dan terimalah semua cinta yang aku beri, semoga cinta itu dapat memberikan jawaban dalam hatimu," ucap Fathir kemudian.


Ah, hati Ayun berdesir hebat saat mendengar ucapan Fathir. Sekarang dia tidak bisa lagi menyangkal rasa suka yang ada dalam hatinya untuk laki-laki itu, hanya saja masih ada ketakutan yang terasa membelit hidupnya.


Mereka berdua lalu kembali ke rumah nenek Asma dengan hati berbunga-bunga. Mungkin bunga yang ada dalam hati mereka jauh lebih banyak dari bunga yang ada di hamparan luas itu tadi.


"Kami pergi dulu, Nek. Insyallah kami akan berkunjung lagi," ucap Ayun sambil memeluk tubuh nenek Asma dengan erat.


Nenek Asma mengangguk dan membalas pelukan Ayun. "Iya, Nak. Hati-hati dijalan, dan jagalah Fathir untuk nenek."


Ayun tersipu malu mendengar bisikan nenek itu, dia lalu mengangguk dan melerai pelukannya.


Fathir lalu bergantian menyalim tangan nenek Asma, tidak lupa mengingatkan wanita itu untuk banyak istirahat dan jangan terlalu lelah.

__ADS_1


Setelah selesai, Ayun dan Fathir masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi dari tempat itu. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, tidak terasa sudah satu jam lebih juga mereka berada di tempat itu.


Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Abbas dan Hasna sedang mencicipi berbagai macam makanan untuk disajikam pada acara pernikahan nanti.


Mulai dari dessert, kue, sampai makanan berat yang terdiri dari berbagai macam lauk.


Awalnya, Nindi sendiri yang akan memilih semua makanan itu. Namun, tiba-tiba dia berubah pikiran dan meminta papa serta tante Hasna untuk memilih.


"Masyaallah, semua makanannya sangat enak," ucap Hasna setelah selesai mencicipi semua makanan yang ada di hadapannya.


"Benarkah?" tanya Abbas dengan tidak percaya, dan dijawab dengan anggukan kepala Hasna. "Yaudah, kalau gitu kita ambil aja semua makanan ini kalau rasanya enak."


Hasna terlonjak kaget saat mendengarnya. "Makanan ini terlalu banyak, Mas. Bagaimana mungkin kita menyajikannya semua?" Dia menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana apanya?" tanya Abbas. "Walau pesta pernikahan kita sederhana saja, tapi tamu yang datang ada banyak. Mereka bisa memilih makanan mana yang mau dimakan."


Hasna tidak bisa lagi membantah ucapan Abbas saat melihat laki-laki itu memelototinya, dia jadi merasa menyesal karena sudah mengatakan semua makanan itu enak.


Setelah selesai, mereka beranjak pergi dari tempat itu untuk pulang ke rumah. Sebagai calon pengantin, mereka tidak diperbolehkan untuk terlalu sering bepergian keluar rumah. Kata orang, calon pengantin itu darahnya manis.


"Kakek!" teriak Adel saat melihat kedatangan kakek dan juga neneknya. Dia yang sedang duduk diayunan beralih mendekati mereka.


"Cucuku," seru Abbas sambil merangkul tubuh Adel. "Apa kau sudah makan, hem?" Dia bertanya sambil mengusap puncak kepala gadis kecil itu.


Hasna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, begitu juga dengan Abbas.


"Iya, Sayang. Bagaimana, apa kau setuju?" tanya Abbas dengan serius.


Adel langsung menganggukkan kepalanya. "Tentu saja aku setuju, Kek. Aku sangat menyukai kakek, aku juga sangat menyayangi nenek. Jadi aku bahagia jika kalian menikah dan hidup bersama." Dia memeluk lengan sang kakek dengan erat.


Hasna beralih mengecup pipi Adel dengan gemas saat mendengar ucapan cucunya itu. "Do'akan saja supaya semuanya berjalan lancar, Nak. Dan do'akan juga semoga setelah ini ibumu juga menikah." Dia berucap dengan lirih.


Adel kembali menganggukkan kepalanya. Mungkin jika ibunya dan om Fathir nanti menikah, maka wajahnya akan berseri-seri seperti wajah sang nenek saat ini, dan itu membuat hatinya bahagia.


"Kita do'akan yang terbaik untuknya. Semoga hidup Ayun dilimpahkan dengan kebahagiaan, dan diberikan rezeki serta jodoh yang baik."


Hasna dan Adel langsung mengaminkan ucapan kakek Abbas. Ucapan adalah sebuah do'a, jadi mereka berharap segala ucapan yang baik akan dikabulkan oleh Allah.


Beberapa saat kemudian, Ayun dan Fathir juga sudah sampai di halaman rumah Ayun. Mereka bergegas untuk keluar dari mobil sambil membawa makanan untuk para anak-anak di rumah itu.

__ADS_1


"Loh, papa ada di sini?" ucap Ayun saat melihat mobil papanya.


Ayun lalu mengajak Fathir untuk masuk ke dalam rumah sekaligus melepas lelah, walau sepanjang perjalanan tadi mereka hanya berdiam diri karena merasa sama-sama canggung.


"Assalamu'alaikum," ucap Ayun saat memasuki rumah. Dia tersenyum saat mendengar jawaban salam dari keluarganya.


"Ayun, kau baru pulang, Nak?" tanya Hasna.


Ayun menganggukkan kepalanya sambil menyalim tangan sang ibu, tidak lupa menyalim tangan papanya juga.


"Iya, Bu. Tadi kami pergi ke tempat lain sebentar," jawab Ayun seraya duduk di sofa.


"Om Fathir!" Adel yang melihat keberadaan Fathir langsung menghampiri laki-laki itu, membuat yang lainnya menggelengkan kepala.


"Jangan lari-lari, Adel. Kau bisa jatuh nanti," seru Fathir saat melihat Adel berlari ke arahnya.


Adel hanya cengengesan saja saat mendapat teguran dari Fathir, dia malah sibuk memperhatikan bungkusan yang dibawa oleh laki-laki itu.


Fathir yang tahu ke mana perhatian Adel langsung memberikan bungkusan itu. "Tadi om beli KFC untukmu, ambillah."


Adel langsung bersorak senang saat menerima ayam goreng kesukaannya. "Terima kasih, Om. Aku akan memakannya bersama Firda dan Anggi." Dia lalu mengajak Fathir untuk bergabung dengan yang lainnya di ruang keluarga.


Hati Ayun terasa hangat saat melihat interaksi antara Adel dan Fathir. Bukan hanya Adel saja, bahkan semua keluarganya juga dekat dengan laki-laki itu.


"Tenang dan bersabarlah, Ayun. Ikuti saja apa kata hatimu dan alur yang sudah Allah berikan." Ayun mengusap dadanya yang kembali bergejolak.


Setelah menghabiskan waktu selama setengah jam di rumah Ayun, Fathir beranjak pamit karena masih harus kembali ke perusahaan. Dia melangkah keluar dari rumah bersama dengan Abbas yang juga akan pulang.


"Bagaimana, Fathir? Apa semuanya berjalan lancar?" tanya Abbas sambil menepuk bahu Fathir.


Fathir menganggukkan kepalanya. "Semua berjalan lancar, Tuan. Saya sudah menyusun semua tamu undangan, saya akan mengirimnya ke email Anda agar bisa diperiksa."


Abbas tersenyum senang sambil terus menepuk bahu Fathir. "Lalu, bagaimana dengan Ayun?" Dia kembali bertanya.


Fathir tersenyum tipis dengan mata berbinar-binar membuat Abbas tercengang. "Sedang dalam proses, Tuan."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2