Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 92. Merasa Sakit.


__ADS_3

Mery dan Endri terpaku di tempat mereka berdiri saat ini ketika mendengar ucapan Ezra, sementara Ezra sendiri beralih menghampiri supir taksi itu.


"Mereka tidak jadi naik, Pak. Maaf yah," ucap Ezra pada supir taksi tersebut. "Ini untuk beli makanan." Dia lalu memberikan uang sebesar 50 ribu untuk laki-laki itu.


Supir taksi tersebut lalu melajukan mobilnya untuk pergi dari tempat itu, lalu Ezra juga berbalik dan kembali berjalan ke arah mobil dengan diikuti oleh kakek dan juga neneknya.


Mayra yang menunggu di dalam mobil tampak gelisah. Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya, tetapi yang paling penting saat ini adalah dia sudah membuat Ezra marah.


"Mampuslah aku," gumam Mayra sambil memukul-mukul kepalanya.


Kemudian Mayra terlonjak kaget saat Ezra kembali masuk ke dalam mobil, dan kedua matanya terbelalak ketika melihat kakek dan nenek laki-laki itu juga ikut bersama mereka.


"Terima kasih, Nak," ucap Mery dengan pelan sambil menepuk bahu Ezra walau merasa ragu.


Ezra hanya berdehem saja lalu mulai kembali melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara di dalam mobil itu.


Mayra yang biasanya tidak bisa diam pun kini tampak menutup rapat mulutnya, dia takut semakin membuat Ezra murka.


Tidak berselang lama, sampailah mereka di halaman rumah Mayra. Gadis itu segera pamit pada kakek dan neneknya Ezra, setelah itu dia berlalu keluar dari mobil dan menghampiri Ezra yang sudah keluar lebih dulu.


"Ma-makasih udah nganter aku, Ez. Kau tidak masuk dulu?" tawar Mayra dengan takut-takut.


Ezra terdiam sambil menatap Mayra dengan tajam. Kemudian dia menghela napas kasar sambil mengusap puncak kepala gadis itu membuat Mayra tersentak kaget.


"Maafkan aku, May," ucap Ezra dengan pelan, dia merasa bersalah karena telah membentak gadis itu.


Mayra menganggukkan kepalanya. "Iya, aku juga minta maaf. Tapi, jangan kayak gitu lagi yah, serem tau." Dia mencebikkan bibirnya.


"Cih, seharusnya aku yang ngomong kayak gitu samamu," hardik Ezra dengan tajam.


Mereka berdua lalu tertawa sambil saling ejek, membuat Mery dan Endri yang sejak tadi memperhatikan ikut tersenyum senang.


"Nenek bahagia melihat tawamu itu, Ezra," gumam Mery sambil meneteskan air mata.


Endri mengusap punggung tangan sang istri dengan lembut. "Ezra memang harus selalu tertawa seperti itu. Jika dia kesal dan marah, itu semua pasti disebabkan oleh kita."


Mery menganggukkan kepalanya karena setuju dengan apa yang suaminya katakan. Kemudian dia mengusap air matanya saat Ezra kembali masuk ke dalam mobil.


Mereka lalu melanjutkan perjalanan dengan kembali ditemani sepi, sampai tidak sadar jika sudah sampai di halaman rumah Mery dan Endri karena memang jaraknya lumayan dekat.


"Terima kasih, Nak. Apa kau tidak mau singgah dulu?" ucap Mery dengan lembut.

__ADS_1


Ezra menggelengkan kepalanya, tetapi dia tetap melihat lurus ke depan. "Aku akan pergi sekarang."


Mery menatap sendu, tampak jelas jika Ezra sangat membenci mereka. "Baiklah, Ezra. Hati-hati dijalan yah, titip salam untuk ibu dan Adel."


Ezra mengangguk saat mendengar ucapan sang nenek, kedua tangannya tampak mencengkram kemudi dengan erat.


"Tunggu sebentar, Nak. Apa kakek boleh bicara denganmu sebentar?" ucap Endri dengan penuh harap.


Ezra terdiam sambil menghela napas kasar. Rasa-rasanya dia sudah memperlakukan mereka dengan baik, sementara mereka menusuk ibunya seperti itu.


"Maaf, Nak. Maafkan kami," sambung Endri dengan lirih. "Selama ini kami sudah sangat menyakitimu, menyakiti hati ibumu, dan juga hati Adel. Apa yang kami lakukan memang tidak pantas untuk mendapat maaf, tapi hanya ucapan maaf inilah yang bisa kami lakukan."


Ezra memejamkan kedua matanya mendengar kata demi kata dari sang kakek. Dia yang baru saja mulai berdamai dengan masa lalu dan mencoba untuk membuka lembaran baru, kini kembali teringat dengan luka yang terjadi.


"Ibu selalu mengajarkan pada kami untuk tidak menyimpan dendam dan juga kebencian. Kami sudah memaafkan kalian, tapi tidak untuk melupakannya," sahut Ezra dengan penuh penekanan.


Mery dan Endri mengangguk paham saat mendengarnya. Tentu saja mereka tidak bisa memaksa Ezra untuk melupakan kejadian menyakitkan itu, mereka bahkan sudah merasa senang saat Ezra mau bicara.


"Terimalah, ini pemberian ibu." Ezra lalu memberikan sebuah amplop coklat kepada Endri yang berisi uang sebesar 10 juta.


Uang itu sebenarnya akan digunakan untuk urusan penting, tetapi tidak apa-apa dipakai dulu karena nanti dia akan menggantinya.


"Tidak apa-apa, Nak. Kami tidak ingin-"


Endri menatap uang itu dengan sedih, sementara Mery sudah terisak di sampingnya. "Hiduplah dengan bahagia, Nak. Kakek dan nenek selalu mendo'akan kalian, terima kasih ya." Dia menerima uang itu dengan harapan bahwa keluarga Ayun selalu diselimuti dengan kebahagiaan.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun sudah sampai dilokasi proyek. Para pekerja menyambut kedatangannya dengan ramah, apalagi dia datang tidak dengan tangan kosong.


Ayun juga menyapa semua pekerja dengan ramah. Dia mengecek satu per satu bangunan yang sudah dibuat, sekaligus berbincang dengan kepala proyek yang bertanggung jawab tentang pembangunan itu.


***


Malam harinya, semua orang tampak sedang berkumpul di ruang keluarga setelah selesai menikmati hidangan makan malam.


Suara gelak tawa terdengar jaring karena Firda dan Anggi sedang bermain bersama Adel, mereka berlarian ke sana kemari hingga membuat Ezra geram.


"Kalian tidur sana, udah jam berapa ini?" seru Ezra sambil meletakkan kedua tangan dipinggang.


Firda dan Anggi sama sekali tidak menggubris ucapan kakak mereka, begitu juga dengan Adel yang malah asyik bermain monopoli.


Dengan geram Ezra menarik telinga anak-anak itu satu per satu, hingga membuat mereka memekik kesakitan.

__ADS_1


"Apa-apaan sih Kak? Sakit tahu!" seru Adel dengan ketus, begitu juga dengan Firda dan Anggi yang bahkan menggigit kaki Ezra.


"Kalian pulaknya, kalau dibilangi yang tua itu dengarkan!" ucap Ezra dengan marah, kedua matanya bahkan melotot tajam.


"Ibu!" Firda dan Anggi langsung berteriak memanggil sang ibu saat dimarahi oleh Ezra, begitu juga dengan Adel yang mengikuti tingkah kedua bocah itu.


Ezra menutup kedua telinganya yang berdenyut sakit, sementara para orang tua juga tampak menghela napas kasar mendengar keributan yang terjadi.


"Sebenarnya ada apa, ini? Kenapa kok ribut sekali seperti di pasar?" ucap Ayun sambil berjalan menghampiri mereka.


Dengan kompak, ketiga bocah kematian itu langsung menunjuk ke arah Ezra yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang ibu.


"Dasar kalian tukang fitnah. Bukan aku, Bu. Mereka ini yang kerjanya buat ribut aja," bantah Ezra dengan ketus.


Ayun menghela napas kasar. "Yaudah-yaudah, kalian main lagi yah sayang. Biar ibu yang marahi kak Ezra." Dia lalu mengajak Ezra untuk bergabung dengan yang lainnya.


"Duduklah, Nak. Ada yang mau nenek katakan pada semuanya," ucap Hasna saat melihat kedatangan Ezra.


Ezra mengangguk dan duduk di samping sang nenek, tampak semua orang menatap neneknya itu dengan serius.


"Ada hal penting yang ingin ibu katakan pada kalian semua, dan ibu juga ingin meminta pendapat kalian dalam hal ini," ucap Hasna dengan pelan, dia sudah memikirkan semuanya dengan baik.


"Kalian tahu kalau tadi malam ibu bertemu dan berbincang dengan tuan Abbas, lalu setelah itu, setelah itu beliau melamar ibu."


Semua orang membulatkan mata mereka dengan terkejut saat mendengar ucapan Hasna, kecuali Ayun yang memang sudah tahu.


"Ibu ingin meminta pendapat dari kalian, jika-"


"Kenapa berkata seperti itu, Bu?" potong Yuni dengan cepat, dia beranjak dari sofa dan berpindah duduk ke samping sang ibu. "Kami anak-anak Ibu, kami akan selalu mendukung semua keputusan yang membuat Ibu bahagia."


Hasna merasa terharu saat mendengar ucapan Yuni, hingga kedua matanya tampak berkaca-kaca menahan tangis.


"Yuni benar, Bu. Kami akan selalu mendukung apapun pilihan Ibu. Jadi, bolehkah kami tahu bagaimana perasaan Ibu pada papa?" tanya Ayun kemudian.


Hasna terdiam dengan kepala menunduk, dia mencoba untuk meyakinkan diri tentang pilihan yang telah diambil.


"Insyaallah, ibu siap menikah dengan tuan Abbas."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2