
Ayun jadi merasa penasaran dan takut disaat yang bersamaan. Namun, kapan lagi jika bukan sekarang dia melakukannya? Dia juga ingin melihat bagaimana tanggapan Evan, dan membandingkan antara kehidupannya dan kehidupan wanita itu.
Sesampainya di rumah, Ayun segera masuk ke dalam kamarnya untuk mencari sesuatu. Dia membongkar semua isi lemari untuk mengambilnya, sampai akhirnya dia mendapatkan sebuah kotak berwarna hitam.
Ayun segera membuka kotak itu dan tersenyum saat melihat apa yang ada di dalam isinya.
"Kalau aku beli pakai uang ini, nanti gak ada simpanan lagi?"
Ayun mulai dilanda kebingungan kembali. Namun, kali ini tekadnya sudah bulat. Jika selama ini laki-laki itu mencari masalah, maka biarkan kali ini dia yang membuat masalah. Toh uang itu adalah uang tabungannya sendiri, yang sedikit demi sedikit dia kumpullan dari sisa jatah bulanan.
Ayun membawa uang sebesar 11 juta sesuai dengan harga ponsel yang dikatakan oleh karyawan tadi, dia lalu beranjak keluar dari kamar untuk mencari Ezra.
"Hah, Ibu mau ke mana?" tanya Ezra dengan tidak percaya saat mendengar ucapan sang ibu. Dia yang sedang tiduran, langsung beranjak duduk saat mendengar apa yang ingin ibunya beli.
"Ibu mau beli ponsel. Ayo, temani ibu!" ucap Ayun kembali dengan yakin, walau tangannya yang sedang memegang uang tampak gemetaran.
Walau merasa bingung, Ezra tetap mengiyakan keinginan ibunya dan beranjak keluar dari kamar. Kebetulan Adel sedang bersama dengan neneknya, jadi mereka bisa pergi berdua saja.
Ayun mengajak Ezra ke tempat di mana dia dan Sherly bertemu. Tanpa bertanya ini dan itu, Ayun langsung mengatakan ponsel seperti apa yang dia inginkan.
"Tunggu, Ibu tidak salah?" pekik Ezra sambil membulatkan matanya. "Apa Ibu sakit?" Dia segera memeriksa suhu tubuh sang ibu dengan menggunakan punggung tangannya untuk memastikan jika ibunya baik-baik saja.
"Ibu baik-baik saja, Ezra. Ibu mau beli ponsel yang belakangnya ada gambar apelnya," ucap Ayun dengan tersenyum lebar, padahal debaran jantungnya sudah seperti orang yang berlari keliling lapangan.
"Tenang, Ayun. Toh ponsel itu kan bisa di jual lagi, jadi besok aku akan menjualnya." Ayun meyakinkan dalam hati jika semuanya akan baik-baik saja.
Ezra hanya bisa menatap sang ibu dengan tatapan tercengang, sebenarnya apa yang terjadi pada ibunya? Kenapa ibunya ingin membeli ponsel yang harganya hampir sama dengan sepeda motor? Dia benar-benar tidak habis pikir.
__ADS_1
Karyawan toko itu segera menunjukkan ponsel yang sudah dibeli oleh Ayun. Dia mengajarkan bagaimana cara menggunakannya, sekaligus mendaftarkan segala akun media sosial yang sedang tenar saat ini.
Tidak lupa sesuatu yang sangat dibanggakan dari ponsel bermerk apel digigit itu, yaitu kecerahan kameranya yang membuat siapa saja tercengang.
"Ya Allah, ini ibu, Nak?" pekik Ayun dengan tidak percaya saat melihat hasil foto yang diambil dari ponsel itu, sangat cantik dan glowing sekali.
Ezra hanya tersenyum tipis saja untuk menanggapi ucapan sang ibu. Sumpah demi apapu juga, dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini.
Setelah semua urusan selesai, Ayun dan Ezra beranjak keluar dari toko itu dengan menentang tas tangan bergambar apel digigit.
"Tunggu sebentar, Bu."
Langkah Ayun terhenti saat mendengar ucapan Ezra. Dia berbalik, dan menatap putranya dengan penuh tanda tanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ibu? Cepat katakan yang sejujurnya padaku, atau aku akan mencaritahu sendiri," ucap Ezra dipenuhi dengan ancaman, membuat Ayun langsung tersenyum.
"Kenapa Ibu tidak bilang? Ayo, kita bisa beli lebih dari 3 kalau cuma ponsel seperti itu aja," ucap Ezra dengan dipenuhi emosi. Beraninya wanita itu menghabiskan uang ayahnya, sementara selama ini ibunya selalu berhemat!
"Sudahlah, ayo! Ibu ingin menunjukkannya pada ayahmu," ajak Ayun sambil menggandeng lengan Ezra.
Sebelum itu, Ezra harus mengatakan apa yang sudah dia lakukan pada keluarga Abbas. Ibunya pasti akan marah jika mengetahuinya, tetapi beliau akan semakin murka jika dia tidak mengatakan apa-apa.
"Sebentar, Bu. Ada sesuatu yang ingin aku katakan." Lirih Ezra, dia berharap jika ibunya tidak akan marah dengan apa yang dia katakan.
"Ada apa, Nak? Apa kau mau beli ponsel yang sama kayak ibu?"
"Enggak!" bantah Ezra dengan cepat. Tanpa menunggu lama, dia segera menceritakan tentang pertemuannya dengan Abbas dan keluarga laki-laki paruh baya itu, tidak lupa dia menceritakan semua yang terjadi dari awal bertemu sampai bubar jalan.
__ADS_1
"Ezra, apa yang kau lakukan?" tanya Ayun dengan tajam. Wajahnya berubah panik dan kesal saat mendengar apa yang sudah putranya lakukan.
"Mereka orang-orang baik, Bu. Kakek Abbas bersedia untuk membantu Ibu." Lirih Ezra dengan tertunduk.
"Ibu tau, tapi tidak seharusnya- tunggu, kau bilang apa? Kakek Abbas?" tanya Ayun dengan tidak percaya, dia ingin pingsan saja rasanya saat ini.
"Kakek Abbas yang menyuruhku. Dia akan memberikan pengacara untuk Ibu, supaya Ibu bisa cepat berpisah dengan ayah," ucap Ezra dengan pelan. Walau dia merasa bersalah, tetapi tidak ada sedikit pun rasa penyesalan.
"Kau- Hah." Ayun hanya bisa menghela napas kasar saat mengetahui semuanya. Apa lagi yang bisa dia lakukan jika sudah seperti ini?
"Ya sudah. Nanti ibu akan menghubungi Nindi, biar ibu bicara dengannya," ucap Ayun kemudian. Mau marah pun percuma rasanya, jadi yang bisa dia lakukan adalah menerima dan melihat apa yang akan terjadi.
"Ibu tidak marah?" tanya Ezra dengan lirih. "Aku cuma mau supaya Ibu cepat bebas dari Ayah, dan tidak menderita lagi."
Hati Ayun langsung terharu saat mendengar ucapan Ezra. Dia tahu jika putraya itu hanya ingin yang terbaik untuknya, itu sebabnya sampai meminta bantuan pada orang lain.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Ibu akan bicara pada mereka dan menanyakan tentang pengacara itu, mungkin mereka sudah menemukannya tapi tidak bisa menghubungi ibu," ucap Ayun dengan lirih membuat Ezra tersenyum senang.
"Aku akan membuktikan padamu jika aku bisa berdiri diatas kedua kakiku sendiri, Mas. Lihat saja."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1