
Beberapa saat kemudian, Sherly dan yang lainnya sudah sampai di tempat tujuan. Dia segera keluar dari mobil yang merupakan hadiah pernikahannya dengan Evan, lalu berjalan cepat untuk masuk ke dalam kantor laki-laki itu.
Beberapa orang karyawan yang ada di tempat itu saling pandang saat melihat kedatangan Sherly. Awalnya mereka mengora jika wanita itu adalah teman atau partner bisnis bos mereka. Namun, salah satu dari mereka tidak sengaja melihat wanita itu dan juga Evan sedang berciuman di dalam ruangan pribadi laki-laki itu karena pintunya tidak tertutup rapat.
Sejak itulah Sherly sering datang ke kantor, dan mereka sama sekali tidak berani untuk mengadukannya pada Ayun walau wanita itu sudah sangat baik pada mereka.
"Sayang!" Sherly mendorong pintu ruangan Evan membuat laki-laki itu mendongakkan kepalanya dari laptop. "Apa pekerjaanmu banyak?" Dia bertanya sambil berjalan mendekati sang suami dan memeluknya dari belakang.
"Ada apa? Kalau kau datang mau minta uang, maka jawabannya tidak ada," ucap Evan dengan sedikit ketus. Kepalanya berdenyut sakit karena tagihan kartu kreditnya yang membangkak.
"Enggak kok, aku datang karena mau ngantarkan makan siang. Nih." Sherly menunjukkan makanan yang ada di tangannya membuat Evan mengenyitkan kening. Tidak biasanya wanita itu mengantar makanan seperti ini.
"Kok diam saja sih? Ayo dong sini, biar aku siapin makanannya," ucap Sherly membuat Evan mengangguk dan segera beranjak dari tempat itu dan menghampirinya yang sedang duduk di atas sofa.
Tidak berselang lama, masuklah Suci dan juga Sella ke dalam ruangan itu membuat Evan semakin merasa aneh, tetapi dia mengesampingkan perasaan yang tidak berdasar seperti itu.
"Mama gak makan sekalian?" tawar Evan sambil memasukkan suapan demi suapan makanan itu ke dalam mulutnya. Terasa sekali jika makanan yang Sherly bawa adalah makanan beli, jauh berbeda dengan makanan yang biasa dimasak oleh Ayun.
"Huk, uhuk uhuk uhuk." Evan terbatuk-batuk karena tersedak dengan makanan yang ada di dalam mulutnya membuat Sherly langsung memgambilkannya air.
"Makanya, kalau makan itu hati-hati, Sayang," ucap Sherly sambil menggelengkan kepalanya.
Wajah Evan merah padam akibat tersedak makanan beberapa waktu lalu, dia segera meminum air yang Sherly beri dengan tengorokan yang terasa sakit seperti terbakar.
"Bisa-bisanya aku mikirin wanita itu, cih. Aku pasti cuma rindu dengan masakannya karena lidahku sudah terbiasa, bukan berarti aku merindukan dia juga."
Evan menepis perasaan yang tiba-tiba datang yang hampir membuatnya bertemu dengan malaikat maut, dia yakin jika semua itu tidak ada artinya sama sekali.
Setelah selesai makan, Sherly segera membereskan bekas makan Evan yang ada di atas meja lalu membungnya ke tong sampah. Kemudian dia melirik ke arah sang mama seakan memberi kode jika dia akan segera melancarkan aksinya.
"Apa sekarang kau sedang sibuk, Van?" tanya Sella membuat Evan yang sedang memperhatikan Suci bermain ponsel mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak terlalu, Ma. Ada apa?" tanya Evan sambil menatap sang mertua dengan penuh tanda tanya.
"I-itu, tadi Suci minta belikan coklat tapi belum sempat dibelikan. Ya 'kan, Suci?" tanya Sella sambil memegang tangan Suci membuat gadis kecil itu menatap dengan heran.
"Suci mau beli coklat?" tanya Evan kembali membuat Suci terdiam. Gadis kecil itu lalu menganggukkan kepalanya saat melihat sang mama juga mengangguk.
"Yaudah, ayo kita pergi!" ajak Evan kemudian membuat Suci bersorak senang. Dengan cepat Evan menggendong putri kecil itu dan membawanya keluar dari ruangan.
Sella juga ikut bersama dengan Evan supaya bisa memantau kapan kira-kira laki-laki itu kembali ke kantor, sementara Sherly sendiri langsung mencari apa yang waktu itu Nia inginkan. Dia membuka lemari, laci, bahkan sampai tumpukan berkas juga tetapi tetap tidak menemukannya.
"Sebenarnya di mana dia menyimpan formulir itu?" ucap Sherly dengan kesal, sudah lelah dia mencari di mana-mana tetapi tidak ketemu juga.
"Dimana sebenarnya?"
Duak
"Eh-" Sherly membulatkan matanya saat melihat ada lemari kecil yang terletak dibagian bawah meja. Dia yang sudah merasa kesal tidak sengaja menendang meja itu, dam tidak sengaja membuat nya terbuka.
Sekitar 10 menit kemudian, Evan dan yang lainnya sudah kembali ke tempat itu. Sherly bergegas pamit karena tidak mau mengganggu pekerjaan laki-laki itu hari ini
"Huh, jantungku mau meledak rasanya," ucap Sherly saat sudah berada di dalam mobil. Sejak tadi jantungnya berdegup kencang karena takut ketahuan oleh Evan.
"Memangnya apa sih yang kau ambil?" tanya Sella dengan penasaran, dia lalu melihat apa yang ada di tangan Sherly dan mencoba untuk membacanya. Namun, semakin dibaca kepalanya malah semakin pusing dan dia kembali memberikan berkas itu pada Sherly.
Sherly segera menghubungi Nia untuk menyerahkan apa yang wanita itu inginkan, dia tidakmau menunggu sampai besok karena merasa takut jika nanti ketahuan dengan Evan.
Sementara itu, di rumah sakit terlihat Nindi sudah sadar dan sedang berbincang dengan Ayun. Sejak tadi Ayun sudah memintanya untuk kembali istirahat, tetapi dia tidak merasa ngantuk sama sekali.
"Aku tidak mau istirahat, Ayun. Atau kau saja yang istirahat?"
"Cih." Ayun langsung mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan Nindi, wanita itu yang sedang sakit tetapi malah dia yang disuruh istirahat.
__ADS_1
"Em ... Ayun, boleh aku bertanya sesuatu denganmu?" ucap Nindi dengan ragu-ragu. Sebenarnya tidak pantas dia berkata seperti ini, sementara rumah tangga Ayu masih berantakan seperti itu.
"Silahkan, Nona Nindi yang terhormar. Masak mau nanyak aja pakek nanyak dulu sih Nin? Kayak sama siapa saja," cibir Ayun dengan helaan napas frustasi membuat Nindi langsung tergelak.
"Aku hanya takut kalau kau nanti terkejut, makanya aku bertanya dulu," ucap Nindi membuat Ayun menggelengkan kepalanya. "Ka-kalau gitu ... Apa, apa setelah ini nanti kau punya pikiran untuk menikah lagi?"
Deg.
Ayun terdim saat mendengar ucapan Nindi, bukankah masih sangat panas sekali jika membicarakan masalah pernikahan dengannya? Jangankan memikirkan untuk menikah lagi, memikirkan pernikahan yang belum selesai saja benar-benar menguras emosi jiwa dan raga.
Melihat Ayun diam, Nindi langsung menundukkan kepalanya. "Maaf, Ayun. Seharusnya aku tidak bertanya masalah-" Nindi tidak dapat melanjutkan ucapannya saat tangan Ayun menggenggam kedua tangannya dengan hangat.
"Tidak apa-apa, aku tau kalau kau pasti mengkhawatirkan aku, kan?" ucap Ayun sambil tersenyum membuat Nindi menganggukkan kepalanya. "Mungkin untuk saat ini aku belum memikirkan sampai jauh ke sana. Aku cuma ingin fokus kerja dan bersama dengan anak-anakku. Tapi, kalau suatu saat nanti Allah masih memberi jodoh, insyaallah aku akan menerimanya. Bukankah kita tidak boleh menolak rezeki?"
Nindi menganggukkan kepalanya dengan senyum cerah secerah mentari pagi. Dia benar-benar merasa bahagia saat mendengar jawaban Ayun, dan semoga apa yang dia inginkan dapat dikabulkan oleh Allah.
Keanu dan Abbas yang baru keluar dari ruangan Dokter terpaku di depan pintu saat mendengar apa yang Nindi tanyakan pada Ayun, hingga rasanya kaki mereka tidak bisa lagi untuk di bergerakkan.
Sementara itu, Ezra yang baru saja pulang kuliah singgah sebentar ke rumah temannya untuk meminjam proposal yang akan digunakan sebagai bahan perbandingan. Dia segera memasukkannya ke dalam tas dan bersiap untuk pergi dari tempat itu.
Namun, pada saat Ezra akan melaju pergi. Matanya melihat ke arah seseorang yang sangat dia kenal, lalu matanya semakin membulat sempurna saat melihat seseorang yang baru turun dari mobil.
"Apa yang mereka lakukan di sini?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1