
Sherly tersentak kaget saat mendengar bentakan Evan, sementara para polisi yang ada di sana segera membawanya untuk masuk ke tempat itu.
"Tunggu, berhenti!" teriak Evan sambil menahan tangan salah satu polwan yang memegangi Sherly, agar mereka tidak membawa wanita itu sebelum dia selesai bicara.
"Lepaskan tangan Anda, Tuan. Kami harus segera membawanya untuk di-,"
"Tidak, dia tidak akan pergi ke mana pun sebelum menjawab pertanyaanku!" potong Evan dengan cepat. Matanya menatap Sherly dengan tajam dan penuh kemarahan, membuat Sherly menatap nanar karena tidak menyangka jika Evan akan menatapnya seperti itu.
"Sekarang katakan kenapa kau melakukan ini, Sherly? Kenapa kau mengkhianatiku dan menyerahkan barang berhargaku pada orang lain, hah?" tanya Evan dengan nada bentakan yang terdengar sangat tajam, apalagi sorot matanya terlihat sangat menyeramkan.
Sherly terdiam dengan tubuh gemetaran, bahkan keringat dingin juga mengucur deras diseluruh tubuh. Kedua tangan yang sedang diborgol saling meremmas dengan kuat, merasakan ketakutan dan kegelisahan yang luar biasa.
"Kenapa kau diam? Jawab pertanyaanku!" teriak Evan kembali, dia sudah merasa sangat emosi dan tidak bisa mengendalikan kemarahannya.
"Maaf, maafkan aku. Aku, aku terpaksa melakukannya." Lirih Sherly dengan terisak, kepalanya tertunduk dalam karena takut melihat kemarahan Evan.
"Kau, kau benar-benar-"
"Cukup!" potong salah satu polisi dengan cepat. Dia menatap Evan tajam seakan berkata menyikir dari hadapan mereka.
Sherly lalu kembali dibawa ke dalam tempat itu untuk diperiks, sementara Evan hanya bisa terdiam menatap istri keduanya yang sudah berstatus sebagai tersangka karena mencuri berkas penting miliknya.
"Aargh!" Evan berteriak kesal dengan apa yang terjadi saat ini. "Kenapa, kenapa semua jadi seperti ini?"
__ADS_1
Brak.
Evan menendang tempat sampah dengan kuat hingga terguling ke belakang, dia benar-benar merasa marah, kesal, dan juga bingung dengan apa yang terjadi.
"Tenangkan diri Anda, Tuan. Kita masih harus-"
"Diam!" bentak Evan dengan cepat. "Tinggalkan aku sendiri dan jangan menggangguku!" Dia menatap Hery dengan tajam, lalu berbalik dan berjalan ke arah di mana mobilnya berada.
Hery sendiri juga menjadi kesal. Padahal laki-laki itu yang butuh tetapi malah dia yang kena amukan, tetapi mau bagaimana lagi. Dia sudah terlanjur mengambil kasus ini dan mau tidak mau harus menyelesaikannya.
Evan berjalan gontai menuju mobilnya berada. Kepalanya berdenyut sakit dengan apa yang terjadi saat ini, dia lalu menghampaskan tubuhnya dengan kasar ke dalam mobil.
Brak.
Evan kembali memukul setir mobilnya, bahkan sampai beberapa kali. Rasa kesal, marah, dan tidak percaya berkumpul jadi satu dalam hatinya. Kenapa, kenapa semua ini terjadi? Kenapa Sherly tega melakukan semua ini padanya?
"Aku bahkan sampai, sampai meninggalkan istri dan anak-anakku hanya karenamu. Tapi kenapa, kenapa kau malah menusukku dari belakang?"
Pertahanan Evan runtuh juga. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa Sherly sampai melakukan semua ini, padahal dia sudah mencukupi semua kebutuhan wanita itu bahkan sampai berlebih. Lalu kenapa, kenapa wanita itu masih saja mengusik pekerjaannya?
Evan meremmas rambutnya sendiri dengan kuat. Rasa sesal mulai menjalar dalam hatinya, entah kenapa sejak hubungannya dan Sherly diketahui oleh Ayun, semua masalah datang silih berganti.
Bertahun-tahun bersama dengan Sherly, tidak pernah wanita itu membuat masalah, tetapi kenapa sekarang malah seperti ini?
__ADS_1
Evan mulai menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan, ucapan demi ucapan yang ayahnya lontarkan terngiang-ngiang dalam kepalanya. Benarkah semua ini karma karena dia telah mengusir istri dan anak-anaknya?
"Tidak, aku tidak pernah mengusir mereka. Ayun sendiri yang memilih untuk pergi, padahal aku tidak berniat untuk berpisah darinya."
Evan lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Namun, seketika dia ingat bahwa seseorang yang menerima berkas miliknya adalah Nia dan Burhan. Dia yakin jika mereka sudah merencanakan semua ini sejak awal, lalu Sherly juga ikut dalam rencana mereka.
"Aku harus menemui bajing*an itu, beraninya dia melakukan ini padaku?" Evan menggertakkan giginya dengan geram. Dia lalu mengambil ponselnya dan segera menelepon Burhan, awas saja jika laki-laki itu tidak menjawab panggilannya.
Sementara itu, di rumah sakit terlihat Ayun dan Yuni kembali berhadapan dengan Dokter untuk mengetahui hasil pemeriksaan mereka. Ternyata salah satu dari mereka memiliki ginjal yang cocok dengan sang ibu, sementara yang satunya lagi tidak cocok.
"Hasil pemeriksaan sudah keluar, dan yang bisa mendonorkan ginjal untuk pasien adalah Nona Yuni," ucap Dokter itu membuat Ayun langsung terkesiap.
"Kenapa saya tidak bisa, Dokter? Biar saya saja, jangan adik saya," pintanya dengan lirih.
"Mbak ini apa-apaan sih?" ucap Yuni dengan marah, matanya menatap tajam dengan tidak suka. "Aku juga anak ibu, kenapa aku tidak bisa memberikan ginjalku?" Dia bertanya dengan lirih.
Ayun menatap sang adik dengan sendu. "Kau masih muda, Yuni. Masih banyak pekerjaan yang harus kau lakukan untuk anak-anakmu kelak." Lirihnya. Dia tidak tega jika sang adik yang memberikan ginjal untuk sang ibu.
"Justru harus akulah yang melakukannya, Mbak," bantah Yuni. "Allah tahu kalau saat ini Mbak sedang dalam kesusahan dan ada beban berat yang berada dipundak Mbak, itu sebabnya menyerahkan tanggung jawab ini padaku. Dan aku sama sekali tidak keberatan."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.