
Mendengar ucapan sang mertua, Sherly terpaksa menelepon Evan untuk menyuruh suaminya itu pulang saat ini juga karena memang Evan harus melihatnya secara langsung.
Dari dalam sebuah mobil, tampak seorang lelaki tersenyum dengan lebar. Sejak tadi dia memperhatikan bagaimana reaksi keluarga Evan saat menerima surat panggilan dari polisi, apalagi dia sengaja memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah tersebut.
"Ini baru permulaan, Evan. Kau lihat saja bagaimana aku menghancurkanmu, dan membuat kau kehilangan apa yang sudah kau bangga-banggakan selama ini," gumam David sambil mencengkram setiur mobilnya.
Tentu saja seseorang yang sejak tadi memperhatikan rumah itu adalah David. Dia mendengar kabar dari seseorang bahwa surat panggilan dari polisi sudah di antar ke rumah Evan, dan bergegas menuju rumah tersebut untuk melihat reaksi keluarga laki-laki itu.
Awalnya David hanya ingin menuntut Evan, dan membuat laki-laki itu malu lalu mengakui kesalahan di depan umum. Namun, semua niatnya itu berubah saat mendapat murka dari sang ayah.
Walau Bram sudah menjelaskan apa yang terjadi pada sang ayah, tetapi David tetap saja mendapat murka dari ayahnya. Apalagi di masa lalu dia termasuk anak yang suka membuat onar dan masalah, itu sebabnya dia kehilangan kepercayaan ayahnya dan dituduh mempermalukan nama baik keluarga mereka.
Tidak mau terlalu lama berada di tempat itu, David memutuskan untuk pergi ke perusahaan Robin. Dia harus segera mengurus segala persiapan untuk merebut proyek Evan yang sedang terkendala, apalagi laki-laki itu masih punya sisa hutang dengan Robin.
Pada saat yang sama, Evan melajukan mobilnya dengan cepat untuk pulang setelah mendapat kabar dari Sherly. Wajahnya memerah penuh emosi, dan merasa kesal karena David sudah berani menggugatnya seperti ini.
"Sia*lan!" umpat Evan sambil memukul setir mobilnya sampai beberapa kali. Niat hati ingin meminta maaf dan kembali membujuk David untuk bekerja dengannya, malah berakhir pelaporan pencemaran nama baik yang pasti melibatkan polisi.
"David," gumam Evan dengan geram. Belum selesai masalahnya dengan Ayun, tetapi laki-laki itu malah menambah masalah yang lain. Apa David tidak tahu terima kasih sampai berani menuntutnya?
Evan sadar bahwa dia telah salah paham dan tidak sengaja menuduh David, tetapi seharusnya semua itu bisa diselesaikan secara kekeluargaan walaupun dia belum sempat meminta maaf.
"Benar. Aku harus menemui David setelah ini, dan membicarakannya," ucap Evan sambil menambah laju mobilnya.
Baiklah, saat ini Evan akan memenuhi panggilan polisi dan mengatakan yang sejujurnya. Setelah itu, dia baru akan menyelesaikan masalah dengan David sebelum masuk ke meja persidangan.
__ADS_1
Tidak berselang lama, Evan sampai di tempat tujuan dan segera masuk ke dalam rumah. Terlihat semua orang sudah menunggunya di ruang tamu, dengan raut wajah yang sulit untuk diungkapkan.
"Kau sudah datang?" ucap Endri yang menyadari kedatangan Evan, membuat Mery dan Sherly langsung menoleh ke arah pintu.
Evan terus melangkahkan kakinya sampai berdiri di hadapan semua orang. Dia lalu melirik ke arah kertas yang terletak di atas meja, dia yakin jika itu adalah surat panggilan untuknya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Evan? Kenapa kau mendapat surat panggilan dari polisi?" tanya Mery dengan tajam, dia bahkan sampai berdiri dari duduknya.
Evan menghela napas kasar, dia menatap Endri dan juga Sherly yang sepertinya punya pertanyaan sama seperti ibunya.
"Maaf, Bu. Ini, ini hanya kesalah-pahaman saja,"
"Salah paham?" tanya Endri dengan cepat, membuat Evan langsung bungkam. Dia beranjak dari sofa sambil menatap Evan dengan tajam. "Apa kasus ini berkaitan dengan kasus hilangnya berkasmu waktu itu?" Dia bertanya dengan penuh penekanan.
Dada Sherly berdegup kencang saat mendengar ucapan sang mertua. Membahas masalah kasus itu, sama saja mengungkit kebod*an yang telah dia lakukan.
"Kau lihat itu?" teriak Mery dengan kuat, membuat mereka semua tersentak kaget. Terutama Sherly, yang saat ini sedang ditunjuk olehnya. "Kau memang wanita tidak tahu malu dan kurang ajar. Gara-gara kau semua masalah ini menimpa keluargaku, dasar wanita murahan!" Dia memaki wanita itu dengan kesal.
Wajah Sherly merah padam saat mendapat hinaan dari sang mertua, dadanya panas membara dengan gejolak emosi yang terasa akan segera meledak. Namun, dia harus tetap menahannya karena keberadaan Evan.
"Kenapa kau diam, hah? Apa kau tidak merasa bersalah atas apa yang sudah kau lakukan? Dasar wanita perusak," sambung Mery dengan sarkas.
Kepala Endri terasa berdenyut sakit saat mendengarnya, begitu juga dengan Evan yang saat ini melirik Sherly dengan tajam.
"Hentikan, Bu. Semua ini sudah terjadi, aku akan berusaha untuk menyelesaikannya," ucap Evan.
__ADS_1
Mery berdecak kesal mendengar ucapan sang putra. "Jadi kau membela wanita ini?" Dia merasa tidak terima.
"Tidak Bu, bukan seperti itu. Aku hanya-"
"Sudahlah, tidak ada untungnya juga aku bicara denganmu," potong Mery dengan cepat. "Kau selalu saja membela wanita tidak tahu diri itu, padahal dia sudah menghancurkanmu sampai seperti ini. Seharusnya kau sadar, buka matamu! Andai saja kau masih bersama dengan Ayun dan tidak tergoda oleh wanita murahan itu, pasti semua ini tidak akan terjadi." Dia langsung berbalik dan pergi ke kamarnya.
Evan menghela napas frustasi melihat kemarahan sang ibu, sementara Sherly merasa sedikit senang karena Evan membelanya di depan sang mertua.
Endri sendiri hanya menatap Evan dengan tajam dan berlalu keluar dari rumah. Lelah sekali rasanya melihat semua masalah menghampiri Evan, yang tentu saja disebabkan oleh laki-laki itu sendiri.
Melihat semua orang pergi, Sherly bergegas menghampiri Evan. "Aku akan menemanimu ke kantor polisi, Evan. Kau-"
"Itu tidak perlu," potong Evan dengan tajam sambil melepaskan pelukan tangan Sherly di lengannya. "Seperti apa yang ibu katakan, semua ini terjadi karnamu. Jadi sadar diri dan pikirkanlah." Dia menyambar kertas yang ada di atas meja dan berlalu keluar.
Evan kembali masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi menuju kantor polisi, sementara Sherly mematung di tempatnya berdiri dengan getir.
Sesampai di tenpat tujuan, Evan segera menghadap polisi untuk memenuhi surat panggilan itu walau seharusnya dia datang besok hari.
"Apa Anda Evan Deandra?" tanya polisi tersebut, yang dijawab dengan anggukan kepala Evan. "Terima kasih karena telah memenuhi panggilan kami. Anda harus menjalani pemeriksaan terkait dengan laporan tuan David, atas tuduhan pencemaran nama baik yang telah Anda lakukan. Silahkan ikut saya ke ruangan."
Evan kembali menganggukkan kepalanya dan berlalu mengikuti langkah polisi itu. "Aku harus menjelaskannya dengan baik, agar kasus ini ditangguhkan."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.