
Ungkapan rasa syukur kembali menggema di tempat itu saat mendengar bahwa Hasna dan Yuni sudah diperbolehkan untuk pulang. Tangis bahagia menyelimuti hati semua orang, terutama Hasna yang merasa bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan padanya.
Dokter Arya lalu mengatakan jika Hasna dan Yuni masih tetap harus memeriksakan kondisi mereka secara berkala, sampai benar-benar dinyatakan stabil dan sehat seperti yang lainnya.
"Terima kasih, Dokter. Terima kasih banyak," ucap Hasna dengan lirih. Dia menundukkan kepala di hadapan Dokter Arya sebagai pertanda jika rasa terima kasihnya sangatlah besar.
"Sudah kewajiban saya untuk merawat pasien sampai mereka kembali sehat, Buk. Tapi pesan saya, jangan terlalu banyak melakukan aktivitas berat jika sudah pulang nanti. Boleh melakukan olahraga ringan seperti berjalan selama beberapa menit, tetapi tidak boleh sampai merasa lelah."
Hasna dan Yuni mengangguk paham saat mendengar ucapan Dokter. Kemudian Dokter itu kembali melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi kedua pasiennya.
Ayun mengusap air mata yang masih mengalir bebas diwajahnya. Dia benar-benar merasa senang melihat kondisi ibu dan juga adiknya baik-baik saja, sungguh Tuhan sangat sehingga mengabulkan semua do'a-do'anya.
Ayun lalu beranjak keluar dari ruangan itu untuk mengurus administrasi dan pembayaran rumah sakit, membuat Abbas juga ikut keluar dari tempat itu.
"Ayun!"
Ayun menghentikan langkah kakinya saat mendengar panggilan seseorang, dia lalu menoleh ke arah belakang dan tersenyum pada sang papa. "Iya, Pa. Ada apa?"
Abbas berjalan mendekati Ayun. "Apa kau mau mengurus biaya pengobatan ibumu?"
Ayun menganggukkan kepalanya. "Iya, Pa. Dari lama aku sudah mau membayarnya, tapi kata Dokter tunggu semua selesai." Dia menjawab dengan cepat, sambil memikirkan berapa kira-kira biaya yang harus dia bayar.
"Papa sudah membayar semua biayanya,"
"Ooh, gi- tunggu, apa?" Ayun memekik kaget saat baru menyadari ucapan sang papa. "A-apa yang Papa katakan?" Dia kembali bertanya dengan bingung.
Abbas tersenyum saat melihat raut wajah Ayun, dia lalu mengajak putrinya untuk duduk dikursi yang berada tidak jauh dari mereka.
"Sebanarnya apa yang Papa lakukan, kenapa Papa membayarnya?" tanya Ayun saat mereka sudah duduk dengan bersampingan.
"Memang apa salahnya kalau papa yang membayar biaya rumah sakit ibumu, hem?" Abbas malah bertanya pada Ayun, membuat wanita itu menghela napas kasar. "Papa adalah orang tuamu, Nak. Mana bisa papa diam saja melihatmu kesusahan." Dia berucap dengan tajam.
__ADS_1
"Aku mengerti, Pa. Hanya saja aku tidak mau merepotkan Papa," ucap Ayun dengan lirih. Dia yakin biaya rumah sakit sang ibu sangat mahal, apalagi ditambah dengan operasi.
"Jangan berkata seperti itu, Ayun. Jika bukan orang tua yag direpotkan oleh anak mereka, lalu siapa lagi?" tanya Abbas dengan tajam, membuat Ayun menatap sendu. "Izinkan papa untuk melakukan kewajiban sebagai orang tua, Nak. Papa sama sekali tidak repot, dan papa sendiri yang memang mau membayar semua pengobatan Hasna."
Ayun langsung menyipitkan kedua matanya saat mendengar kata-kata terakhir sang papa. "Oh, jadi Papa ingin membayar pengobatan tante Hasna?"
Wajah Abbas langsung merah padam saat mendengar ucapan Ayun, dengan cepat dia memalingkan wajahnya ke arah samping karena merasa malu.
Ayun tersenyum simpul saat melihat apa yang papanya lakukan. Dia memang belum mendengar tentang kisah mereka di masa lalu, tetapi dia yakin jika papanya menyukai sang ibu.
"Ehem. Kalau gitu papa ke ruangan Nindi dulu," ucap Abbas sambil berbalik dan hendak pergi dari tempat itu.
"Terima kasih, Papa."
Langkah Abbas terhenti saat mendengar ucapan Ayun. Dia lalu menoleh ke arah belakang dan tersenyum simpul. "Sama-sama, Nak. Istirahatlah." Dia kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju ruangan Nindi.
Ayun menatap punggung sang papa dengan senyum lebar. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika dia akan menjadi anak kandung laki-laki paruh baya itu.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Evan kembali berada di kantor polisi bersama dengan Suci. Dua hari yang lalu, dia sudah mencabut laporan atas kasus yang menyeret istrinya sendiri, dan hari ini Sherly sudah resmi dibebaskan dengan persyaratan-persyaratan yang ada.
Bukan hanya Sherly saja yang bebas, tetapi Nia dan juga Burhan. Sepasang suami istri itu didenda sebesar 50 juta, atas apa yang telah mereka lakukan. Sangat tidak sebanding dengan kerugian Evan, tetapi dia tidak bisa melakukan apapun karena sudah mencabut laporan.
Sebelum mencabut laporan itu, Evan lebih dulu menjual rumah dan mobil yang dia berikan pada Sherly. Dia juga terpaksa menjual mobil yang biasa digunakan oleh Adel untuk sekolah, karena butuh banyak uang saat ini.
"Suci!" Sherly memekik senang saat sudah bebas dari penjara. Dia berlari ke arah Suci dan langsung memeluk putrinya dengan erat.
"Mama!" teriak Suci tidak kalah senang dari mamanya. Dia melingkarkan kedua tangan dileher sang mama, lalu memeluknya dengan erat.
Evan menatap mereka dengan sayu. Sepertinya keputusan membebaskan Sherly adalah yang paling tepat, karena dia bisa melihat kebahagiaan diwajah sang putri.
"Loh, di mana oma, Sayang?" tanya Sherly sambil melihat ke sekeliling tempat itu, tetapi dia tidak menemukan keberadaan mamanya. Dia lalu melihat ke arah Evan. "Mama tidak ikut, Van?" Dia bertanya dengan bingung.
__ADS_1
Evan menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Sherly. "Ibumu tidak ikut, Sherly. Karena aku sudah mengusirnya."
"A-apa?" Sherly memekik kaget saat mendengar ucapan Evan. "Ka-kau mengusir mama?" Dia bertanya dengan tidak percaya.
Evan lalu menganggukkan kepalanya sambil mengambil Suci dari gendongan wanita itu, dan mengajak putrinya untuk masuk ke dalam mobil.
"Tapi kenapa? Kenapa kau mengusir mama, Van?" tanya Sherly dengan tajam. Sebenarnya apa yang sudah terjadi sampai laki-laki itu mengusir mamanya?
"Karena dia sudah menyakiti, dan berperilaku buruk terhadap Suci."
Deg.
Sherly terkesiap saat mendengar jawaban Evan. Dia tercengang sambil menatap laki-laki itu, dan merasa tidak percaya dengan apa yang Evan katakan.
"Itu, itu tidak mungkin, Van. Bagaimana mungkin mama melakukan itu pada Suci?" bantah Sherly dengan tajam.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi seperti itulah kenyataannya," ucap Evan dengan tegas. "Kalau kau merasa tidak terima, maka pergilah bersama ibumu." Dia langsung berbalik dan membawa Suci ke dalam mobil.
Sherly tercengang dengan apa yang Evan katakan, hatinya merasa tidak percaya jika sang mama melakukan hal seperti itu pada putrinya sendiri. "Tu-tunggu aku!" Dia lalu berlari ke arah Evan sebelum laki-laki itu meninggalkannya.
Sepanjang perjalanan pulang, Sherly terus memikirkan apa yang Evan katakan tentang mamanya. Dia yakin jika sang mama tidak pernah menyakiti Suci, dan mungkin Evan hanya salah paham saja pada mamanya. "Nanti aku akan mencari mama." Dia berucap dalam hati.
Evan terpaksa membawa Sherly pulang ke rumah orang tuanya. Saat ini wanita itu sudah tidak punya rumah, dan memang seharusnya dia membawa Sherly tinggal bersamanya. Namun, kedua orangtuanya pasti tidak akan setuju, sedangkan ibunya saja merasa keberatan saat dia membawa Suci pulang ke rumah.
"Aku harap ibu dan ayah mau menerimanya. Jika mereka menolak, maka aku sudah tidak tahu lagi harus membawanya ke mana."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.