Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 94. Terimalah, Ibu.


__ADS_3

Setelah pertengkaran yang terjadi, Evan menjadi bingung harus bagaimana perihal Suci. Dia lalu menatap putrinya dengan sendu.


"Papa, ayo pulang! Mau sama mama," ucap Suci, dia menguap menahan kantuk karena biasanya tidur bersama mamanya di jam segini.


Dada Evan terasa sesak mendengar ucapan Suci, sementara Sella yang ada di tempat itu segera mengambil cucunya dari gendongan Evan membuat laki-laki itu terkesiap.


"Apa yang Mama lakukan?" tanya Evan dengan tajam.


"Kau benar-benar laki-laki yang tidak punya hati. Kau memenjarakan putriku, juga menjauhkan cucuku dari ibunya. Apa sekarang kau sudah puas, hah?" teriak Sella dengan membentak. "Kau lihat saja. Jika kau tidak mengeluarkan Sherly, maka jangan harap kau bisa bertemu lagi dengan Suci."


"Tunggu!"


Sella langsung pergi dari tempat itu dengan membawa Suci, membuat Evan langsung mengejarnya. Namun, langkah kaki Evan terhenti saat melihat sang ibu berdiri dibalik jendela sambil menatapnya dengan tajam.


Tubuh Evan terasa kaku saat mendapat tatapan tajam dari sang ibu, kakinya


Spontan terdiam dan terasa berat untuk digerakkan.


"Papa!" Panggil Suci yang saat ini sedang berada dalam gendongan Sella. Dia melihat ke arah papanya yang mulai menjauh. "Oma, aku mau sama papa." Dia berucap dengan wajah sendu, bahkan sudah akan menangis.


"Tidak ada papa, sekarang Suci sama oma aja," ucap Sella. Hatinya terasa teriris melihat wajah sendu Suci, padahal apa yang gadis kecil itu rasakan belum ada apa-apanya dibandingkan kedua anak Ayun.


"Aargh!"


Evan memekik kesal sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Dadanya terasa sangat sakit dengan apa yang terjadi saat ini. Sekarang apa yang harus dia lakukan?


"Sh*it!"

__ADS_1


Dia mengumpat karena tidak tahu harus melakukan apa. Tubuhnya terduduk di lantai karena merasa sangat ftustasi, dan tidak sanggup untuk menghadapi semua masalah ini sendirian.


Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Ayun sedang menemani sang ibu di rumah sakit. Dia harus segera memberitahu ibunya tentang transplantasi yang akan dilakukan dalam waktu dekat, karena Dokter menyarankan agar pihak keluargalah yang memberitahukannya.


"Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu murung seperti itu, hem?" tanya Hasna, dia mengusap punggung tangan sang putri dengan lembut.


Ayun menatap sang ibu dengan ragu, dia takut ibunya akan menolak apa yang dia katakan nanti. "Ibu, aku ingin membicarakan hal penting dengan Ibu."


"Katakan saja, Nak. Ibu akan mendengarkannya," balas Hasna.


Ayun kembali diam untuk menenangkan diri, dan memilih kata-kata yang tepat untuk bicara. "Sebelumnya Ibu tau 'kan, kalau keadaan Ibu semakin menurun?" Dia bertanya, mencoba untuk memulainya dengan perlahan.


"Kenapa, apa kau mau menyuruh ibu melakukan transplantasi ginjal?" tanya Hasna membuat Ayun terkesiap. Dia lalu tersenyum melihat reaksi yang putrinya berikan. "Sudahlah, jangan melakukan hal seperti itu."


"Kenapa, kenapa Ibu berkata seperti ini?" tanya Ayun dengan tidak setuju.


Ayun menatap ibunya dengan sendu. Matanya sudah berkaca-kaca dan siap untuk mengalir deras. "Jangan katakan itu, Bu. Itu sangat menyakiti hatiku." Lirihnya dengan terisak. "Jika Ibu sangat menyayangi kami, maka kami juga sangat menyayangi Ibu. Ibu rela bertaruh nyawa untuk kami, maka kami juga siap untuk melakukan hal yang sama."


Hati Hasna terharus saat mendengarnya. Dia mengusap air mata yang ada diwajah putri sulungnya itu, sungguh dia merasa sangat bahagia memiliki anak-anak yang seperti Ayun dan Yuni.


"Kalian masih sangat muda, Nak. Perjalanan kalian masih panjang, Ibu tidak mau-"


"Mendonorkan ginjal tidak akan membuat kami kehilangan nyawa atau merusak hidup kami, Bu. Tapi jika terjadi sesuatu pada Ibu dan kami tidak bisa melakukan apa-apa, maka seumur hidup kami akan hidup dalam kehancuran," ucap Ayun dengan lirih, tetapi penuh dengan penekanan.


Ayun lalu mengatakan jika Yuni yang akan mendonorkan ginjal untuk sang ibu, juga menekankan jika ibunya harus menerimanya, jika tidak maka mereka akan terus memaksa.


"Seorang ibu tidak akan tega mengambil organ tubuh anaknya sendiri, Ayun. Walau ibu harus meregang nyawa sekali pun." Lirih Hasna dengan sendu.

__ADS_1


"Aku mengerti Bu, karena aku sendiri juga seorang ibu. Tapi percayalah jika hati seorang anak juga akan sangat terluka saat melihat keadaan ibu mereka, jadi sudah sepantasnya hal seperti ini terjadi."


Hasna menghela napas kasar. Sepertinya dia tidak bisa lagi menolak keinginan Ayun, padahal jika boleh memilih dia ingin hidup tenang saja sampai ajal menjemput.


***


Keesokan harinya, sesuai dengan apa yang Dokter Arya katakan. Abbas bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat hasil pemeriksaan yang Dokter itu lakukan, dadanya terus berdegup kencang sejak semalam karena merasa gugup dan gelisah.


Sesampainya di rumah sakit, Abbas segera melangkahkan kakinya menuju ruangan Dokter Arya. Dia tidak ingin membuang-buang waktu, apalagi tadi pagi dia sudah memberi kabar pada laki-laki itu dan hasil pemeriksaannya sudah keluar.


"Selamat pagi, Tuan. Anda semangat sekali, ya," ucap Arya. Untung pagi ini dia datang cepat, jika tidak mungkin sudah habis terkena amukan laki-laki itu.


"Sejak semalam aku tidak bisa tidur, Arya. Jadi cepat tunjukkan hasil pemeriksaan itu," balas Abba dengan tajam. Dia benar-benar sudah merasa tidak sabar.


Arya menggelengkan kepala lalu membuka laci yang ada dimeja kerjanya. "Ini." Dia memberikan amplop berwarna putih pada Abbas. "Saya juga belum melihatnya, jadi Anda sendiri saja yang langsung melihatnya."


Abbas menelan salivenya dengan kasar sambil membuka amplop putih itu, sangking tegangnya dia sampai menahan napas sekarang.


"Ini ..., tidak mungkin!"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2