
Ayun segera masuk ke dalam ruangan Fathir saat mendengar ucapan Alma. Kedatangannya jelas disambut dengan senyum hangat dari laki-laki itu karena memang sejak tadi mencari keberadaannya.
"Bagaimana keadaanmu, Fathir?" tanya Ayun dengan pelan. Dia duduk di samping ranjang sambil menatap Fathir dengan tatapan khawatir.
Fathir tersenyum. "Maaf sudah membuat kalian semua khawatir, Ayun. Aku baik-baik saja." Dia menganggukkan kepalanya.
Ayun menghela napas lega saat mendengarnya, tetapi dia tetap merasa bersalah karena sudah membuat Fathir menderita seperti itu.
"Apa kau sudah makan?" tanya Fathir kemudian.
Ayun mengangguk. "Sudah. Tadi aku bertemu dengan Keanu dan Nindi, lalu makan bersama dengan mereka."
Fathir mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia yang sebenarnya ingin mengatakan sesuatu pada Ayun mengurungkan niatnya saat melihat raut wajah wanita itu, dia tidak mau menambah beban pikiran Ayun lagi.
"Kata Dokter aku sudah boleh pulang setelah ini."
Ayun terkejut saat mendengarnya. "Benarkah?" Dia bertanya dengan tidak percaya.
Fathir lalu mengatakan jika Dokter sudah memeriksa keadaannya secara menyeluruh, dan dia dalam keadaan baik-baik saja sehingga sudah bisa pulang saat ini juga.
"Syukurlah," ucap Ayun dengan helaan napas lega. Dia senang jika memang saat ini keadaan Fathir sudah baik-baik saja.
Fathir kembali tersenyum sambil menatap Ayun penuh cinta. "Terima kasih karena sudah bicara pada Dokter dan menyarankan untuk melakukan proses hipnoterapi, Ayun. Walau dadaku rasanya seperti terbakar, tapi sekarang aku benar-benar merasa sangat lega." Rasa cintanya semakin membara untuk Ayun.
Wanita itu benar-benar sudah melakukan banyak hal untuknya, bahkan semua itu sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya. Sungguh kehadiran Ayun bagai cahaya yang menerangi kegelapan dalam hidupnya.
Ya, Fathir sudah tahu bahwa semua yang merencakan pengobatan ini adalah Ayun. Dia langsung bertanya pada Dokter walau pada awalnya Dokter itu tidak ingin memberitahunya. Namun, pada akhirnya Dokter itu buka suara saat dia mengatakan jika mengingat semua yang terjadi pada saat menjalani hipnoterapi.
Setelah mengalami kejang, Fathir sempat kehilangan kesadaran selama beberapa saat. Dalam ketidaksadaran itu, semua kenangan baik dan buruk yang terjadi di masa lalu memenuhi kepalanya.
Bukan hanya itu saja, dia bahkan mengingat apa yang terjadi selama melakukan hipnoterapi. Lebih tepatnya ada suatu ingatan di mana dia menceritakan tentang kehidupannya pada orang lain.
Begitu sadar, Fathir langsung menanyakan semua ingatan itu pada Dokter. Tentu saja Dokter harus memeriksa keadaannya dulu sebelum mengatakan apa yang terjadi. Setelah merasa kalau dia baik-baik saja, barulah Dokter itu menceritakan semuanya.
Namun, untuk saat ini Fathir memilih untuk tidak menceritakannya pada Ayun. Dia tidak ingin wanita itu merasa bersalah atau meminta maaf, biarlah nanti dia akan menceritakannya setelah bertemu dengan Fathan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Dokter kembali datang untuk memeriksa keadaan Fathir sebelum laki-laki itu kembali pulang. Begitu juga dengan Alma dan Farhan, sementara Faiz sudah lebih dulu pergi karena ada kegiatan lain yang harus dilakukan.
"Anda sudah boleh pulang, Tuan. Tapi, saya harap Anda tidak banyak beraktivitas terlebih dahulu dan harus lebih banyak istirahat," ucap Dokter setelah selesai memeriksa kondisi Fathir.
Fathir mengangguk paham. "Terima kasih untuk bantuannya, Dokter." Dia mengucapkannya dengan tulus.
Dokter itu tersenyum sambil membalas ucapan terima kasih Fathir. Baru pertama kali dia mendapat pasien seperti laki-laki itu, yang tetap dalam keadaan baik-baik saja padahal baru terkena kejang.
Awalnya Dokter itu merasa terkejut saat Fathir sadar, padahal dia mengira jika pasiennya itu akan sadar beberapa jam ke depan.
Lalu, rasa terkejutnya semakin menjadi-jadi saat Fathir bertanya tentang ingatan yang ada dalam pikiran laki-laki itu. Di mana Fathir mengatakan jika sudah menceritakan tentang Fathan pada seseorang, tetapi dia tidak tahu siapa orang tersebut.
Mau tidak mau Dokter terpaksa menceritakan semuanya karena tanpa diceritakan pun Fathir memang sudah tahu, hanya tidak sadar jika laki-laki itu mengatakannya saat sedang di hipnoterapi.
Dokter juga menjelaskan maksud dari Ayun melakukan semua itu, dia tidak ingin Fathir salah paham dan berpikir buruk tentang Ayun, karena semua yang wanita itu lakukan demi kebaikan Fathir dan Fathan.
Setelah semuanya selesai, Fathir dan yang lainnya beranjak pergi dari rumah sakit. Mereka lebih dulu mengantar Ayun, padahal wanita itu tidak ingin merepotkan.
"Apanya yang repot, tadi kan kau datang bersama Fathir. Jadi pulangnya pun harus bersama dengannya juga," bantah Alma. Dia duduk di samping Ayun, sementara Fathir duduk di samping Farhan yang sedang menyetir.
Ayun mengangguk. Mereka lalu mulai membahas masalah persiapan pernikahan yang akan diadakan dua minggu ke depan, apalagi masih banyak hal yang belum diselesaikan.
"Dokter?" Ayun mengernyitkan kening saat melihat nama yang tertera dilayar ponselnya. Dia lalu membuka aplikasi hijau untuk melihat pesan yang baru saja di kirim oleh Dokter yang merawat Fathir.
"Maaf mengganggu Anda, Nyonya. Tadi saya tidak bisa mengatakan sesuatu pada Anda tentang keadaan tuan Fathir, jadi bisakah Anda datang ke rumah sakit? Saya ingin mengatakan perihal ingatan tuan Fathir, karena beliau mengingat semua yang dikatakan saat sedang dihipnoterapi, dan maaf, saya juga terpaksa mengatakan bahwa Andalah yang meminta pengobatan lanjutan untuknya. Saya harap kita bisa bertemu kembali sebelum pengobatan terakhir tuan Fathir minggu depan."
Ayun terdiam saat membaca pesan dari Dokter tersebut. Tidak disangka jika Fathir sudah mengetahui semuanya. Lalu, kenapa laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa padanya? Kenapa Fathir tetap diam seolah-olah tidak tahu apapun?
"Apa dia kecewa padaku, sehingga tidak ingin membahas atau bahkan bertanya tentang semua itu?" Ayun mencengkram ponselnya dengan kuat. Dia merasa bingung kenapa Fathir tetap diam seperti tidak terjadi apa-apa, padahal semua yang terjadi karena perbuatannya.
"Ada apa, Sayang? Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat?"
Ayun tersentak kaget saat tangan Alma menepuk punggung tangannya, padahal tepukan wanita itu sangat pelan sekali.
"Maaf sudah membuatmu terkejut," ucap Alma dengan perasaan bersalah karena sudah membuat Ayun tersentak kaget, sementara Fathir yang sejak tadi memperhatikan jalanan langsung melihat ke belakang.
__ADS_1
"Tidak, Tante. Saya yang salah karena melamun," bantah Ayun sambil mengibas-ngibaskan tangannya dengan panik.
Alma menghela napas lega sambil menganggukkan kepalanya, sementara Fathir menatap Ayun dengan tajam saat melihat wajah wanita itu memucat.
"Apa kau sakit?" tanya Fathir.
Ayun beralih melihat ke arah Fathir. "Aku baik-baik saja."
"Tapi wajahmu pucat sekali," ucap Fathir kembali.
Ayun langsung mengusap wajahnya dengan kasar. "A-aku baik-baik saja, Fathir. Mungkin hanya kelelahan."
Fathir yang akan kembali mengatakan sesuatu terpaksa mengurungkan niatnya karena sudah sampai di tempat tujuan, terlihat Ayun langsung keluar dari mobil begitu juga dengan kedua orang tuanya.
Ayun langsung mengajak mereka untuk mampir ke rumahnya, tetapi Alma menolak karena waktu sudah sangat sore, dan Fathir juga harus segera istirahat.
Fathir dan keluarganya lalu beranjak pergi setelah mengantar Ayun, sementara Ayun sendiri terus melihat mereka sampai keluar dari pekarangan rumahnya.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" gumam Ayun dengan sendu. Dia lalu masuk ke dalam rumah sambil melangkah gontai, merasa bingung apakah harus bertanya langsung dengan Fathir perihal masalah itu atau tidak.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Keanu sedang bertemu dengan seseorang. Setelah menerima kerja sama dengan Fathan, dia langsung bergerak cepat untuk melancarkan aksinya.
"Kenapa saya harus memberitahu Anda?" ucap seorang lelaki bernama Nico sambil tersenyum sinis. Dia merasa kaget saat mengetahui kedatangan Keanu.
"Tentu saja kau harus memberitahuku, jika tidak maka aku sendiri yang akan menghancurkanmu," ancam Keanu.
Nico langsung tergelak saat mendengarnya. "Sesuai dengan rumor yang beredar, Anda sangat tidak suka berbasa-basi. Sangat menarik."
Keanu mendengus kesal. "Jawab saja pertanyaanku, Nico. Ada hubungan apa kau dengan laki-laki dalam foto itu?" Dia menunjuk ke arah foto yang ada di atas meja.
Tawa yang ada dibibir Nico langsung lenyap saat mendengar pertanyaan Keanu untuk yang kedua kalinya. "Tidak ada. Dia hanya salah satu pelanggan royalku, dia banyak membeli barang yang aku jual."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.