
Hasna menghentikan langkah kakinya saat mendengar ucapan Faiz, dengan cepat dia menoleh ke arah laki-laki itu yang sedang berdiri tepat di belakangnya.
"Kenapa Faiz yang merawat tante Ayun?" tanya Hasna dengan heran. "Di sini kan ada nenek dan juga Adel, tante Yuni dan kak Ezra juga ada. Kami semua bisa menjaga dan merawat tante Ayun." Dia kembali menambahkan.
Faiz mengangguk paham. "Aku tahu, Nek. Tapi tante Ayun terluka karena aku, jadi aku yang-"
"Faiz!"
Faiz tidak bisa melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba mendengar suara panggilan sang papa, membuat semua orang langsung menoleh ke arah laki-laki itu.
"Ayo, kita pulang!" ajak Fathir kemudian. Dia menatap Faiz dengan tajam membuat putranya itu tidak berani lagi membuka suara. Dia benar-benar tidak bisa lagi menahan diri, karena dia yakin jika Faiz pasti akan mengatakan hal aneh lagi pada orang tua Ayun.
"Kenapa buru-buru?" tanya Hasna dengan heran. "Ayo duduk dulu, biar tante siapkan teh!" Dia memberikan penawaran. Lagi pula baru lima menit saja laki-laki itu datang.
Fathir terdiam saat mendengarnya. Dia yang tadinya akan langsung menolak ajakan orang tua Ayun, mendadak jadi diam karena tidak sengaja bersitatap mata dengan wanita itu.
"Tunggu, kenapa aku merasa berat untuk pergi?" Fathir menggelengkan kepalanya saat merasa ada hal aneh yang terjadi. Entah kenapa dia jadi merasa tidak rela untuk pergi saat bersitatap mata dengan Ayun, dan semua ini pasti karena ulah Faiz yang terus saja mengatakan sesuatu yang tidak benar.
"Maaf, Tante. Saya harus segera pulang," ucap Fathir akhirnya. Dia harus benar-benar pergi agar pikirannya kembali ke jalan yang benar, atau nantinya malah akan semakin tidak terkendali.
Hasna menghela napas kasar. Dia sudah tidak bisa menahan Fathir lagi jika laki-laki itu memang ingin pergi, sementara Ayun sendiri hanya diam sambil menatap ke arah Fathir yang sedang bicara dengan ibunya.
__ADS_1
Fathir lalu bergegas pamit pada Ayun dan semua orang yang ada di rumah itu, tidak lupa sambil membawa Faiz yang menatapnya dengan tajam dan cemberut.
"Tunggu!"
Fathir yang sudah hampir sampai ke tempat di mana mobilnya berada menghentikan langkah kakinya, dia lalu menoleh ke arah belakang di mana sumber suara panggilan berasal.
"Tante Ayun?" ucap Faiz dengan senyum cerah. Dia juga ikut berbalik saar mendengar suara panggilan dari seseorang.
Ayun berjalan cepat ke arah Fathir dan Faiz sambil memegangi tangannya. "Maaf, apa aku bisa bicara sebentar denganmu?" Dia menatap Fathir denhan penuh harap.
Fathir hanya diam sambil mengernyitkan kening, mencoba untuk menerka-nerka apa yang kira-kira ingin Ayun katakan padanya.
"Tante tidak mau bicara sesuatu denganku?" tanya Faiz tiba-tiba membuat Fathir dan Ayun langsung menoleh ke arahnya.
"Belajarlah yang giat dan rajin, Faiz. Papamu sangat menyayangimu, jadi jangan lagi membuatnya marah atau pun khawatir," ucap Ayun sambil tetap mengusap puncak kepala Faiz, membuat laki-laki itu menunduk dengan mata berkaca-kaca.
Dengan cepat Faiz mengusap kedua matanya agar air mata tidak jatuh membasahi wajah, sungguh ucapan Ayun terasa menusuk hatinya hingga membuat kedua matanya memanas.
"A-aku tahu," sahut Faiz dengan pelan dan tergagap.
"Kau memang anak yang baik, Faiz. Tante bangga padamu," ucap Ayun dengan hangat, seolah sedang membanggakan putra kandungnya sendiri.
__ADS_1
Fathir tertegun saat melihat apa yang Ayun lakukan. Sungguh hatinya terasa bergetar dengan sikap dan perkataan yang wanita itu katakan pada putranya, dia bahkan bisa melihat dengan jelas jika Faiz sampai meneteskan air mata.
"Dia tidak pernah menangis saat mama dan papa menasehatinya, dia bahkan tidak menundukkan kepala di hadapanku. Tapi sekarang, dia menangis saat mendengar nasehat dan pujian yang dikatakan oleh orang lain." Fathir menghela napas kasar. Jangankan Faiz, dia sendiri saja merasa bergetar saat mendengarnya.
"Tunggulah di mobil, Faiz. Papa ingin bicara dengan tantemu sebentar," ucap Fathir kemudian.
Faiz mengangguk paham dan segera meminta kunci mobil sang papa, dia lalu bergegas masuk ke dalam mobil tersebut untuk menunggu papanya bicara dan Ayun.
Setelah kepergian Faiz, Fathir langsung bertanya pada Ayun apa yang sebenarnya ingin wanita itu katakan.
"Maaf kalau aku lancang, Fathir. Aku hanya ingin mengatakan jika aku benar-benar menganggap Faiz sebagai anakku sendiri, aku harap kau tidak merasa tersinggung," ucap Ayun dengan pelan.
Ayun tahu jika Faiz adalah anak yang baik, selama ini remaja itu selalu membuat masalah hanya karena ingin mendapat perhatian. Buktinya, Faiz langsung menerima kehadirannya dengan baik walau awalnya sangat keras.
"Aku tidak merasa tersinggung, Ayun. Terima kasih, terima kasih banya."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.