Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 109. Hadiah Ulang Tahun.


__ADS_3

Evan tetap bersikukuh tidak menerima hasil dari keputusan hakim tentang pembagian harta, membuat pengacaranya turun tangan untuk mengamankannya.


"Jika pihak tergugat tidak menerima, maka bisa mengajukan banding atas putusan yang telah pihak pengadilan berikan," ucap Hakim dengan tegas dan jelas.


Evan mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Wajahnya merah padam menahan gejolak emosi yang mulai membara, ingin sekali dia menghancurkan semua yang ada disekelilingnya saat ini.


Abbas yang sejak tadi memperhatikan jalannya persidangan tersenyum tipis. Dia bukan seorang pendendam, bukan pula orang yang kejam. Namun, saat ini dia merasa senang dengan apa yang sedang dirasakan oleh Evan.


"Silahkan ajukan banding sebanyak yang kau mau, Evan. Karena aku sendiri yang akan memastikan kalau putri dan cucuku mendapatkan hak mereka, walau aku jauh lebih mampu memberikan semua kekayaan lebih dari apa yang kau miliki." Ingin sekali Abbas mengatakan semua itu secara langsung pada Evan, tetapi keadaan tidak memungkinkan hingga dia hanya bisa menyimpan dalam hati saja.


"Dengan ini, saya selaku ketua hakim pada sidang perceraian antara saudara Evan Deandra dengan saudari Ayundya Nadira. Menyatakan bahwasannya Tuan Evan dinyatakan terbukti telah menikah lagi dengan wanita lain tanpa izin dari pihak istri. Harta yang tertera dalam gugatan sejumlah 70% menjadi hak milik saudari Ayundya, sementara harta lain senilai 30% akan menjadi milik saudara Evan. Kami juga telah mengambil keputusan, bahwasannya sejak hari ini. Saudara Evan Deandra dan saudari Ayundya Nadira sudah resmi bercerai."


Duk.


Duk.


Duk.


Hakim mengetuk palu sebanyak 3 kali sebagai tanda bahwa Evan dan Ayun sudah resmi bercerai, membuat Ayun langsung terisak dengan kepala tertunduk.


Air mata tidak kuasa berhenti dari kedua mata Ayun saat mendengar putusan hakim. Bukan berarti dia tidak bisa menerima perpisahannya, hanya saja ada rasa sesak yang menyeruak dalam dada karena pernikahan yang telah dibina selama 20 tahun harus berakhir seperti ini.


Evan yang masih merasa emosi dan tidak terima dengan keputusan hakim, mendadak jadi diam dan terpaku saat mendengar bahwa dia dan Ayun kini sudah resmi bercerai.


Kedua matanya terasa panas dengan dada berdegup kencang. Dia terpaku sambil menatap hakim dengan nanar, tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan.

__ADS_1


Hakim lalu mengatakan bahwa pihak tergugat dapat mengajukan banding jika merasa tidak terima, tetapi harus menyertakan berkas-berkas yang mendukung. Setelah itu Hakim menutup persidangan pada hari ini, dan meminta maaf pada semua orang yang mengikuti jalannya persidangan.


Hakim dan para jajarannya keluar meninggalkan tempat itu, diikuti oleh para audiens yang mengukuti jalannya persidangan. Tinggalah Ayun dan keluarganya, serta Evan yang masih berada di tempat itu.


"Ibu!" Ezra dan Adel segera menghampiri sang ibu dan memeluk ibu mereka dengan erat.


Ezra berusaha untuk menguatkan hati sang ibu dengan apa yang sedang terjadi saat ini, walau hatinya sendiri terasa sakit saat melihatnya. Kemarahan, dan kebencian yang dia rasakan tetap tidak bisa mengalahkan rasa sakit yang ada dalam dada atas perpisahan ini. Namun, semua ini memang harus terjadi demi masa depan dan kebahagiaan mereka semua.


Bukan hanya Ezra saja yang merasa sakit, tetapi juga Adel yang sejak tadi tidak berhenti menangis. Bohong namanya jika dia tidak merasakan apa-apa, dia bahkan tidak sanggup untuk melihat ke arah sang ayah.


Evan sendiri masih terdiam di tempatnya. Matanya kini menatap dengan kosong, tangannya terulur menyentuh dada yang terasa seperti sedang ditusuk oleh sesuatu, hingga rasa sakitnya membuat napas terasa sesak seakan tercekat di tenggorokan.


"Tuan!" panggil Agung sambil menepuk bahu Evan, membuat laki-laki itu terkesiap. Sudah beberapa kali dia memanggil laki-laki itu, tetapi Evan sama sekali tidak menangapinya.


"Ayah."


Evan tidak jadi melanjutkan ucapannya saat mendengar panggilan seseorang, sontak dia berbalik dan membulatkan matanya saat melihat Adel.


"Adel?" Evan beranjak bangun dari kursi dan langsung memeluk tubuh Adel dengan erat, membuat air matanya mengalir membasahi pipi.


Ayun dan yang lainnya merasa terkejut dengan apa yang Adel lakukan, terutama Ezra yang tidak menyangka jika Adel akan mendatangi ayah mereka seperti itu.


Adel membalas pelukan sang ayah dengan erat. Dia berusaha mengendalikan air matanya tetapi tetap saja berakhir dengan terisak. Dia lalu memejamkan kedua matanya sejenak, untuk meresapi kehangatan yang sudah lama tidak dia rasakan lagi, lalu kembali mengerjapkan kedua matanya setelah merasa tenang.


"Kau baik-baik saja 'kan, Nak? Ayah sangat merindukanmu." Lirih Evan dengan wajah yang sudah basah terkena air mata, bahkan tubuhnya bergetar karena memeluk putrinya itu.

__ADS_1


Adel segera melerai pelukannya tanpa menjawab ucapan sang ayah, membuat Ayahnya tersentak kaget dan terpaksa melerai pelukannya juga.


"Adel, Nak-"


"Ayah, ada sesuatu yang mau aku katakan pada Ayah," potong Adel dengan cepat, membuat ucapan Evan terhenti.


Evan lalu menganggukkan kepalanya, berharap apa yang akan putrinya katakan bisa memberi kebahagiaan di tengah keadaannya saat ini.


"Ayah, apa Ayah tahu jika hari ini adalah hari ulang tahunku?"


Deg.


Evan terkesiap saat mendengar ucapan Adel, begitu juga dengan Ayun dan juga Ezra. Bisa-bisanya mereka melupakan tentang hari ulang tahun putri kecil mereka itu, dan kenapa harus saat seperti ini?


"Adel, maafkan Ayah. Ayah tidak-"


"Tidak apa-apa, aku tidak mengharapkan ucapan apapun hari ini," potong Adel kembali. "Aku hanya ingin mengatakan jika di tahun-tahun berikutnya, aku tidak mau merayakan hari ulang tahunku lagi. Karena di hari ini juga kedua orang tuaku berpisah, sebuah hadiah yang sangat menyedihkan di hari ulang tahunku."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2