Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 118. Rencana Ayun.


__ADS_3

Semua orang merasa terkejut saat mendengar ucapan Ayun, terutama Fathir yang saat ini menatap wanita itu dengan heran dan penuh tanda tanya.


"Saya ingin mempersiapkan pernikahan dengan tenang dan tidak terburu-buru, jadi saya harap semuanya setuju dengan apa yang saya katakan," ucap Ayun kemudian sambil menundukkan kepalanya.


Semua orang tampak saling menatap dengan diam karena tidak tahu harus berkata apa. Sebenarnya bagi masyarakat umum, mempersiapkan pernikahan dalam waktu seminggu itu sangat cepat dan terlalu terburu-buru. Namun, tidak bagi kalangan atas yang semua bisa diselesaikan dengan uang. Apalagi karena memang tidak ada alasan untuk menunda terlalu lama jika semua sudah siap.


"Baiklah. Kalau gitu pernikahan akan diadakan dua minggu ke depan, jadi segala keperluannya akan disiapkan mulai dari besok hari," sambung Abbas.


Walau merasa aneh, Abbas tetap mengiyakan keinginan Ayun. Biarlah nanti dia sendiri yang akan bertanya langsung pada putrinya itu.


Fathir sendiri juga hanya diam sambil memasang raut wajah seperti biasanya, dia lalu menoleh ke arah sang mama yang sedang menepuk bahunya dengan pelan.


"Tidak apa-apa, pelan-pelan saja," ucap Alma dengan pelan. Dia tahu jika Fathir sudah sangat ingin sekali menikah dengan Ayun, bahkan bila bisa pun hari ini juga.


Fathir tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Aku mengerti, Ma. Aku tidak akan memaksa Ayun, aku sudah senang saat dia bersedia menikah denganku."


Alma menghela napas lega, dia senang jika Fathir bisa menerima keinginan Ayun walau terlihat jelas kekecewaan di kedua mata putranya itu.


Setelah semuanya selesai, Fathir dan keluarganya pamit pulang karena memang waktu sudah larut malam. Semua orang tampak mengantar kepergian mereka sampai ke halaman rumah, begitu juga dengan Ayun yang terus menatap ke arah calon suaminya.


"Maaf, Fathir. Aku tidak bermaksud untuk menunda-nunda pernikahan kita, hanya saja ada sesuatu yang harus kita selesaikan dulu sebelum menikah. Setidaknya aku ingin melihatmu terbebas dari rasa sakit yang sejal dulu kau rasakan." Ayun menatap Fathir dengan sendu. Sesaat kemudian dia mengulas senyum lebar saat laki-laki itu tersenyum kepadanya.


"Hati-hati dijalan," ucap Ayun tanpa mengeluarkan suaranya, memberi kode pada Fathir yang langsung disambut dengan anggukan kepala laki-laki itu.


Setelah Fathir dan keluarganya pergi, Ayun dan yang lainnya kembali masuk ke dalam rumah. Mereka memutuskan untuk langsung istirahat karena memang sudah sangat lelah mempersiapkan sambutan untuk calon besan.


"Kau mau langsung istirahat, Nak?" tanya Hasna pada Ayun sambil menyusun toples-toples berisi kue ke dalam lemari.


Ayun menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu. Aku akan membereskan piring kotor dulu, Ibu tidur duluan saja." Dia berucap dengan lembut.

__ADS_1


Seorang wanita yang merupakan pembantu di rumah itu langsung menanggapi ucapan Ayun. "Biar saya yang membereskannya, Buk. Ibuk istirahat saja." Dia merasa sungkan karena majikannya itu terlalu baik padanya.


Hasna lalu menyuruh Ayun untuk ikut dengannya setelah selesai menyimpan kue-kue itu, dia juga menyuruh pembantu itu untuk segera istirahat dan tinggalkan saja piring kotornya agar dicuci esok hari.


Ayun terpaksa mengikuti ibunya lalu kembali ke ruang keluarga di mana terlihat sang papa sudah menunggu di tempat itu. "Papa belum tidur?"


Abbas menggelengkan kepalanya. "Belum, Nak. Ada yang ingin papa tanya padamu sebentar."


Ayun mengangguk lalu duduk di sofa tepat berada di hadapan sang papa, begitu juga dengan ibunya yang duduk di samping papanya.


Abbas langsung menanyakan perihal keinginan Ayun tadi. Bukannya dia ingin mendesak agar putrinya itu cepat menikah, hanya saja dia merasa seperti ada sesuatu yang sedang Ayun rencanakan.


Ayun menghela napas kasar saat mendengar pertanyaan sang papa, walau dia tahu jika mereka pasti penasaran dengan alasan kenapa dia mengundur rencana pernikahannya.


"Ada sesuatu yang harus kami selesaikan dulu sebelum menikah, Pa. Ini tentang Fathir dan kakaknya," ucap Ayun.


Abbas terkesiap saat mendengar ucapan Ayun, sementara Hasna hanya diam karena sudah tahu bagaimana keadaan Fathir selama ini.


Hasna terkejut saat mendengar ucapan sang suami. Kenapa Ayun tidak boleh ikut campur, sedangkan putrinya itu akan menjadi menantu di keluarga mereka?


"Aku mengerti kekhawatiran Papa, tapi aku pun tidak bisa hanya diam melihat calon suamiku menderita, Pa. Aku tidak tega," sahut Ayun dengan lirih.


Teringat jelas dalam ingatannya bagaimana keadaan Fathir saat datang ke rumahnya pada malam itu, juga saat laki-laki itu terkena serangan panik ketika sedang konsultasi dengan Dokter. Lalu, sampai kapan semua itu akan berakhir? Sampai kapan dia sanggup melihat Fathir menderita seperti itu?


"Papa mengerti, Nak. Tapi kau tidak boleh ikut campur sembarangan, itu adalah masalah yang sangat sensitif," balas Abbas lagi dengan cemas. Dia memang tidak diberitahu masalah penyakit yang diderita oleh Fathir.


Ayun terpaksa menceritakan bagaimana kondisi Fathir yang sesungguhnya pada sang papa, tanpa sadar jika saat ini Nindi dan Keanu mendengar ceritanya dari balik pintu kamar yang mereka tempati.


Deg.

__ADS_1


Jantung Keanu dan Nindi terasa seperti dihantam oleh balok besar saat mengetahui kebenaran tentang kondisi Fathir, begitu juga dengan Abbas yang tercengang dengan tatapan tidak percaya.


"Ba-bagaimana mungkin dia, dia bisa- ya Allah." Abbas mengusap wajahnya dengan kasar karena benar-benar tidak menyangka dengan apa yang baru saja dia dengar. Bagaimana mungkin selama ini dia tidak tahu tentang semua itu?


Keanu yang mendengar semuanya langsung membuka pintu kamarnya dengan kuat membuat semua orang tersentak kaget. "Apa semua itu benar?"


Ayun membulatkan kedua matanya saat melihat Keanu dan Nindi, dia pikir tadi mereka berdua sudah istirahat dan tidak mendengar pembicaraannya.


"Katakan padaku, Mbak. Apa semua itu benar?" tanya Keanu kembali. Dia benar-benar merasa kaget sekaligus marah karena selama ini tidak tahu tentang kondisi Fathir, padahal dialah orang yang paling dekat dengan laki-laki itu.


Ayun menganggukkan kepalanya. "Benar, Ken. Maaf, selama ini Mbak tidak memberitahu kalian, karena Fathir tidak mau kalian mengkhawatirkannya.


Keanu juga mengusap wajahnya yang merah padam dengan kasar. Pantas saja Fathir sering pergi ke rumah sakit dengan alasan menemui Alma, atau laki-laki itu akan mengurung diri di dalam ruangan jika dia membahas tentang perusahaan keluarga Fathir. Ternyata selama ini laki-laki itu menyembunyikan serangan panik yang sedang diderita, bahkan darinya juga.


"Kau benar-benar hebat, Fathir. Kau pandai sekali menyembunyikan semuanya," gumam Keanu dengan kesal. Dia merasa benar-benar tidak berguna dan merasa bersalah karena tidak tahu tentang apapun.


Ayun menggelengkan kepalanya. Dia lalu membantah ucapan Keanu dan memohon agar mereka tidak mengatakan apapun tentang hal ini pada Fathir, karena dia tidak mau membuat laki-laki itu semakin tertekan.


"Aku sudah bicara dengan Dokter dan membuat janji temu sebelum jadwal konsultasi mereka, aku akan menceritakan bagaimana keadaan Fathan saat ini. Aku harap Dokter bisa mencari jalan keluar yang terbaik untuk Fathir maupun Fathan, aku tidak tega melihat mereka terus seperti itu. Terlepas siapa yang salah di masa lalu," ucap Ayun dengan sendu.


Ayun yakin jika keadaan Fathir pasti bisa membaik, begitu juga dengan Fathan yang saat ini masih berada di ruang ICU.


Walaupun dulu Fathan melakukan kejahatan yang sangat kejam, tetapi sekarang keadaan laki-laki itu patut dikasihani. Terlebih-lebih keadaan Fathir yang harus menderita akibat ulah Fathan. Karena itulah, Ayun yakin jika kakak beradik itu bisa saling menyembuhkan penyakit masing-masing.


"Baiklah, Mbak tidak perlu khawatir. Mbak lakukan saja apa yang menurut Mbak baik, dan tetaplah berada di samping Fathir. Biar aku yang menyelesaikan masalah lainnya, aku akan menumpas tikus-tikus bej*at yang ada di perusahaan keluarganya. Aku akan menyiapkan lingkungan yang bersih untuk Fathir saat dia kembali ke perusahaannya nanti."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2