
Ayum tersenyum sendu dengan helaan napas kasar saat mendengar ucapan Nindi, tentu saja dia juga akan membantu orang lain jika berada di posisi yang sama dengannya.
"Jadi lupakan perasaan tidak enakmu itu padaku. Aku sudah menganggapmu sebagai saudariku sendiri, tapi yang benar-benar saudariku malah menghencurkan hidupmu." Lirih Nindi saat mengingat apa yang Sherly lakukan, bahkan sampai saat ini wanita itu tidak menghubunginya atau pun sang papa. Miris sekali bukan?
Mendengar ucapan Nindi, dengan cepat Ayun menggenggam tangan wanita itu dengan erat. Sebenarnya hubungan yang terjalin di antara mereka cukup rumit, dan semuanya menjadi saling berkaitan seperti ini.
"Kita enggak bisa memaksa seseorang untuk menjadi seperti apa yang kita mau, Nin. Kita hanya bisa mengingatkan mereka saja, apalagi sudah sama-sama dewasa dan bisa memutuskan jalan hidupnya sendiri," ucap Ayun dengan lirih. Sekuat apapun kita memaksa orang lain, jika mereka tidak mau maka tetap akan menjadi seperti itu.
"Kau benar. Sekarang berhenti membahas masalah yang tidak penting, lebih baik membahas apa yang akan kau lakukan setelah ini," ujar Nindi.
Ayun menganggukkan kepalanya. Dia lalu mengatakan jika ingin bercerai dan segera keluar dari rumah suaminya bersama dengan anak-anaknya, dia juga akan menuntut hak atas harta selama pernikahannya dan Evan.
Nindi setuju dengan apa yang Ayun katakan. "Kau memang berhak atas semua itu, kau juga berhak menuntut suamimu atas pasal perselingkuhan dan pernikahan yang telah suamimu lakukan di belakangmu. Hukum kita sekarang sudah sangat mendukung para wanita, karena dalam berumah tangga, Selalu saja wanita yang disakiti dan diperlakukan dengan tidak adil. Padahal wanita adalah pondasi bagi kesuksesan suaminya." Lirih Nindi.
Hati Nindi miris melihat banyaknya para wanita yang menjadi korban keegoisan suami mereka, sama seperti Ayun. Banyak yang menjadi korban perselingkuhan, KDRT, dan masih banyak yang lainnya.
Sudah menjadi korban pun, terkadang pihak wanita yang malah di salahkan karena tidak bejus mengurus suami. Lalu, yang menjadi korban dari semua itu adalah anak. Tidak jarang banyak anak-anak yang menjadi luar biasa nakalnya akibat tinggal dalam keluarga yang tidak harmonis, sudah seperti itu pun anak tetap dimarahi dan dihajar tanpa sadar jika penyebab anak menjadi nakal adalah perilaku orang tuanya sendiri.
"Kau benar, Nin. Mungkin di luar sana banyak wanita yang memilih diam atas semua perlakuan suami mereka, dengan alasan anak atau hal yang lainnya. Tapi semua itu bukan membuat suami sadar, tetapi malah semakin gencar menindas," sambung Ayun dengan geram. Dia yakin banyak wanita di luar sana yang tidak berani mengakui perbuatan suami mereka.
"Yah memang seperti itulah yang sering terjadi, tapi kita tidak akan membiarkannya. Kasusmu akan menjadi pelajaran untuk semua orang, supaya tidak saling menyakiti dan saling menghargai. Kita akan tuntut Evan sampai dia terdesak, kita lihat, sampai di mana kesombongan yang selama ini dia banggakan."
__ADS_1
Ayun hanya bisa menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan Nindi. Wanita itu lalu segera menelepon pengacara yang sudah disiapkan suaminya untuk Ayun, dan meminta agar pengacara itu datang ke restoran.
"Jadi, apa kau akan bekerja?" tanya Nindi setelah selesai menelepon.
Ayun menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, aku harus bekerja agar masa depan anak-anakku terjamin. Tapi, aku tidak tau harus mulai dari mana, dan bekerja apa." Lirihnya dengan frustasi.
Nindi tersenyum saat mendengarnya, jelas Ayun merasa bingung karena selama ini wanita itu hanya berkutat di rumah saja.
"Mulailah dari sesuatu yang kau sukai, atau sesuatu yang biasa kau lakukan," ucap Nindi.
Ayun terdiam sambil memikirkan ucapan Nindi. Dia tidak tau apa yang dia sukai, dia bahkan tidak tau keahlian apa yang ada dalam dirinya.
"Setiap hari aku sibuk di dapur dan tidak pernah memikirkan hal yang lain, mungkin memasak adalah keahlianku, " ucap Ayun. Dia sangat pede dengan keahlian memasaknya, karena sejak kecil dia sudah terbiasa dengan semua itu.
Saat ini, Abbas memang sedang membangun cabang dari restoran miliknya. Dia sudah punya 12 restoran yang merupakan cabang dari restoran ini, dan sudah tersebar ke mana-mana.
"Tapi, makanan restoran itu tidak seperti masakan yang selama ini aku buat, Nin. Bagaimana mungkin aku bisa bergabung dengan para koki hebat seperti mereka?" Lirih Ayun. Dia memang pintar memasak, tetapi mana bisa disandingkan dengan koki di restoran mewah seperti ini.
"Ala bisa karena biasa, Yun. Semua orang tidak akan langsung bisa kalau enggak belajar dulu. Aku akan mengatakannya pada papa, mungkin kau bisa menjadi asisten koki yang ada di restoran ini supaya bisa berlatih sambil menunggu cabang baru disahkan," ucap Nindi. Dia yakin papanya pastikan akan setuju dengan apa yang dia ucapkan.
Sekali lagi Ayun mengucapkan banyak terima kasih pada Nindi, dan hanya bisa membalasnya dengan do'a yamg terbaik untuk wanita itu dan keluarganya.
__ADS_1
Tidak berselang lama, sampailah pengacara yang Nindi telepon tadi dengan di antar oleh salah satu karyawannya. Laki-laki itu tersenyum dengan ramah, lalu bergabung dengan mereka dan saling berkenalan.
Cukup lama mereka membahas tentang gugatan perceraian yang akan Ayun layangkan ke pengadilan agama. Lalu pengacara itu menuliskan poin-poin penting apa saja yang akan kliennya tuntut.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Evan sedang mondar-mandir di ruang kerjanya. Dia merasa kesal karena sejak tadi Ayun tidak mengangkat teleponnya, padahal tamu yang akan menemuinya sudah berada dalam perjalanan.
"Si*al. Wanita itu semakin lama semakin membuatku kesal saja, awas kau nanti," gumam Evan dengan geram. Dia lalu memutuskan untuk menelepon seseorang yang akan menemaninya untuk menyambut para tamu.
Setelah semuanya selesai, pengacara bernama Bram itu beranjak pamit agar bisa langsung mengurus semua berkas-berkas yang diperlukan.
"Anda tidak perlu khawatir, saya sudah bertemu dengan tuan Abbas dan membicarakan masalah perceraian ini. Saya yakin Anda akan mendapatkan hak atas apa yang selama ini tidak Anda rasakan, jadi fokus saja pada hal yang lain dan serahkan semuanya pada saya dan tim," ucap Bram dengan percaya diri, tentu saja dia yakin akan memenangkan kasus ini karena sudah menjadi makanan sehari-harinya.
Ayun menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih pada pengacara itu. Mereka semua lalu keluar dari ruangan sekalian mengantar Bram karena akan segera kembali ke kantor.
"Kau dengar 'kan pesan dari pak Bram tadi?" tanya Nindi yang dijawab dengan anggukan kepala Ayun. "Kau tidak perlu memikirkan apapun, cukup pikirkan tentang pekerjaan. Insyaallah perceraianmu akan berjalan lancar."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.