
Ayun tercengang dan terpaku saat mendengar ucapan Fathir. Kedua matanya terbuka lebar dengan mulut yang juga menganga, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Penampilan Anda cantik dan juga rapi, sangat cocok sekali menjadi pemimpin di Dhean property," ucap Fathir kemudian.
"Hah?" Ayun terkejut dan tidak mengerti.
Fathir lalu mengatakan jika penampilan seorang pemimpin itu menentukan citra perusahaan, apalagi di hadapan para kolega bisnis dan masyarakat. Bukan hanya sekedar dilihat cantik saja, tetapi lebih kepada kerapian yang enak dipandang mata, dan tentu saja membuat orang lain merasa lebih nyaman untuk mendekat.
Tidak ada yang salah dengan penampilan Ayun dulu, hanya saja masih harus lebih diperhatikan lagi agar membuat setiap orang merasa nyaman.
Ayun langsung memalingkan wajahnya yang bersemu merah membuat Fathir menatap dengan bingung. Dasar gila. Bisa-bisanya dia salah paham dengan apa yang laki-laki itu ucapkan, padahal Fathir memujinya dengan maksud sebagai pemimpin perusahaan, dan bukannya menganggap dia sebagai seorang wanita.
"Sa-saya mengerti, Tuan. Kalau gitu silahkan masuk," ujar Ayun mempersilahkan Fathir untuk masuk dengan kepala tertunduk, dia benar-benar merasa sangat malu.
Fathir menganggukkan kepalanya dan berlalu masuk ke dalam rumah tanpa merasa bersalah sedikit pun, padahal dia sudah membuat Ayun merasa salah paham dan salah tingkah.
Ayun menghela napas kasar dan mencoba untuk menenangkan diri. Setelah merasa lebih baik, dia lalu mengikuti langkah Fathir dan duduk di sofa bersama dengan laki-laki itu.
Setelah mereka duduk saling berhadapan, pembantu datang menyajikan minuman dan makanan ringan ke atas meja. Dengan cepat Ayun mengucapkan terima kasih pada Bik Jum, lalu segera mempersilahkan Fathir untuk menikmatinya.
"Saya datang ke sini untuk menunjukkan sesuatu pada Anda," ucap Fathir setelah menyeruput kopi yang ada di hadapannya. Dia lalu memberikan sebuah berkas ke hadapan Ayun, yang diterima dengan penuh tanda tanya oleh wanita itu.
"Maaf Tuan. Ini, ini apa?" tanya Ayun sambil menerima berkas pemberian Fathir. Tampaknya saat ini laki-laki itu sedang tidak membahas masalah Adel, membuatnya merasa lega.
"Anda bisa membacanya, setelah itu baru akan saja jelaskan."
Ayun mengangguk paham dan segera membuka berkas itu. Beberapa ekspresi tampak jelas diwajahnya saat membaca kata demi kata yang tertulis di berkas tersebut. Kaget, tidak percaya, dan rasa kasihan terlihat dengan jelas diwajahnya membuat Fathir tersenyum tipis.
"Apa, apa ini tidak salah?" tanya Ayun saat sudah selesai membaca berkas itu. Berkas di mana berisi perjanjian antara Dhean property dan Evan, yang menyatakan perihal 30% kepemilikan Dhean property akan berpindah tangan menjadi milik Keanu.
__ADS_1
"Tidak, Nona," jawab Fathir.
"Tapi bagaimana mungkin Evan mau memberikannya dengan imbalan 500 juta?" tanya Ayun dengan tidak mengerti. Dia tidak paham kenapa Keanu sampai mengeluarkan uang sebanyak itu, dan dia lebih tidak paham lagi kenapa surat perjanjian itu dibuat.
Fathir menghela napas kasar. Dia sebenarnya paling malas sekali menjelaskan seperti ini, dan kenapa pula harus dia yang menyelesaikannya? Padahal pekerjaannya saja sudah sangat banyak sekali.
Mau tidak mau, Fathir terpaksa menceritakan tentang apa yang terjadi pada Evan. Mulai dari kasus pencemaran nama baik yang David layangkan, sampai keberadaan laki-laki itu yang sedang dirawat di rumah sakit.
Ayun merasa benar-benar terkejut dengan apa yang Fathir katakan. Kedua matanya terbelalak lebar, dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang terjadi pada mantan suaminya.
"Anda tahu hukum tabur tuai bukan?" tanya Fathir, membuat Ayun menganggukkan kepalanya dengan gelagapan. "Apa yang dia tabur, itulah yang dia tuai. Jadi jangan sekali pun Anda merasa kasihan, karena rasa kasihan Anda itu bisa menyakiti hati orang-orang yang sudah berjuang demi kebahagiaan Anda."
Ayun menelan salivenya dengan kasar saat mendengar ultimatum yang Fathir katakan. Laki-laki itu seolah tahu jika dia merasa kasihan dengan apa yang Evan alami saat ini, tetapi dia sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti hati orang-orang yang berada di sisinya.
"Sudah berulang kali Evan mencoba untuk menghubungi Anda, tentu saja Anda sudah tahu apa niatnya melakukan semua itu," sambung Fathir kemudian.
"Saat ini dia sedang berusaha untuk mencari uang ke sana kemari, tapi tidak juga membuahkan hasil. Bahkan saya dengar kedua orang tuanya juga sedang menawarkan rumah mereka pada orang-orang."
"Apa?" pekik Ayun dengan kaget. "Ma-maafkan saya, Tuan." Dia langsung minta maaf karena sudah membuat Fathir terlonjak kaget akibat suaranya. "A-apa, apa mereka menjualnya untuk menebus kasus Evan?"
"Tentu saja, memangnya untuk apa lagi," jawab Fathir.
Ayun mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dia benar-benar merasa kasihan dan tidak tega dengan kedua orang tua Evan, dia tahu seberapa penting rumah itu untuk mereka.
"Sekali lagi saya tekankan, jangan merasa kasihan atau mengulurkan tangan untuk mereka. Jika Anda ingin membantu, maka bantulah dengan membujuk Evan agar menandatangani surat itu. Jika tidak, maka saya sendiri yang akan menghancurkan Dhean property."
Deg.
Ayun tersentak kaget mendengar ancaman dari Fathir. Seketika dia menganggukkan kepalanya dengan dada berdegup kencang.
__ADS_1
Setelah mengatakan semuanya, Fathir beranjak pamit dari tempat itu membuat Ayun ikut mengantar kepergiannya sampai depan rumah.
"Maaf jika saya menekan Anda seperti ini, tapi ingatlah perjuangan semua orang yang menyayangi Anda. Terutama Ezra, Anda pasti bangga mempunyai putra sepertinya," ucap Fathir dengan wajah datar.
Ayun yang semula menunduk kini menatap ke arah Fathir, entah kenapa ucapan laki-laki itu terdengar penuh kegetiran.
"Saya, saya mengerti, Tuan. Terima kasih karena sudah membimbing putra saya," balas Ayun dengan mengulas senyum tipis.
Fathir menganggukkan kepala dan berjalan masuk ke dalam mobil. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu untuk kembali ke perusahaan.
Ayun terus menatap kepergian Fathir sampai mobil laki-laki itu tidak terlihat lagi. Helaan napas kasar terus terdengar, karena dia merasa lelah dengan masalah yang tidak ada habisnya.
"Tapi, kenapa aku malah merasa kasihan dengan tuan Fathir ya?" gumam Ayun. Fathir selalu tegas dan tajam saat mengucapkan kata-kata, tetapi intonasi suara laki-laki itu berubah jika membahas soal anak. Apakah terjadi masalah dengan anaknya Fathir?
Ayun menggelengkan kepalanya. Dia tidak berhak untuk ikut campur, dan memangnya siapa dia sampai memikirkan tentang semua itu? Namun, selama ini Fathir juga sudah banyak membantunya.
"Hais, entahlah." Ayun merasa frustasi sendiri. Dia lalu kembali masuk ke dalam rumah saat mendengar suara dering ponselnya.
Bak pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru saja Ayun dan Fathir membahas tentang Evan, lalu sekarang laki-laki itu malah meneleponnya.
"Baiklah. Aku akan melakukan sesuai dengan apa yang tuan Fathir inginkan, karena semua yang dia katakan adalah benar. Tidak peduli aku merasa kasihan pada mereka atau tidak, tetapi keluargaku sekarang jauh lebih berharga dari mereka."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1