
Keanu dan Abbas terdiam kaku saat mendengar ucapan Dokter. Jantung mereka terasa berhenti berdetak karena apa yang terjadi saat ini.
"A-apa maksud Anda?" tanya Keanu dengan tajam. Tampak jelas kemarahan dari sorot matanya saat ini.
Dokter itu lalu menjelaskan jika saat ini Nindi berada dalam kondisi kritis. Wanita itu sudah kehilangan kesadaran, bahkan detak jantungnya pun sangat lemah. Tubuh Nindi banyak terkena infeksi virus akibat kekebalan tubuh yang sudah tidak ada lagi, tetapi mereka berhasil mengobatinya lebih awal agar tidak menjalar ke seluruh tubuh.
"Papa!" Keanu memekik kaget dan langsung menangkap tubuh sang mertua yang terhuyung ke belakang, dia segera membawa mertuanya ke kursi dan mendudukkannya di tempat itu.
Abbas merasa sangat syok saat mendengar kondisi Nindi, tangannya terulur memegangi dada yang terasa sangat sesak.
Dengan cepat Dokter memberikan segelas air untuk Abbas dan membantu meminumkannya, setelah itu dia mencoba untuk menenangkan laki-laki paruh baya itu yang sudah terlihat pucat dengan keringat dingin mengalir di sekitar tubuh.
"Tenangkan diri Papa, aku yakin kalau Nindi pasti akan baik-baik saja," ucap Keanu dengan pelan. Dia mengusap punggung sang mertua dengan lembut, dan mencoba untuk menenangkannya.
Abbas menganggukkan kepalanya tanpa suara. Dia tidak sanggup untuk berkata apa-apa, karena sedang dihantui oleh rasa takut dan juga khawatir.
"Sebelumnya maaf, Tuan. Apa saya boleh bertanya satu hal?" ucap Dokter itu saat melihat Abbas sudah kembali tenang.
Keanu menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan Dokter itu. "Silahkan Dokter." Dia berucap dengan lirih.
Dokter itu diam sejenak untuk meyakinkan diri. "Maaf, apa Nona Nindi benar-benar punya saudara kandung?"
__ADS_1
Abbas langsung memalingkan wajahnya ke arah Dokter itu saat mendengar pertanyaannya, begitu juga dengan Keanu yang menatap dengan heran dan terkejut.
"Kenapa Anda menanyakan tentang itu?" tanya Abbas dengan tajam. Dia merasa tidak suka jika orang lain ikut campur dalam urusan pribadinya.
"Maaf, Tuan. Selama ini kita sudah memeriksa semua sumsum tulang belakang keluarga Anda untuk nona Nindi, agar bisa melakukan transplantasi. Tapi hasilnya, tidak ada satu pun dari mereka yang cocok dengan nona Nindi. Lalu, bagaimana dengan kakak kandungnya?" ucap Dokter itu, membuat Abbas dan Keanu terkesiap.
"Saudara kandung akan jauh memiliki peluang yang tepat untuk pasien. Jika benar Nona Nindi mempunyai saudara kandung, maka kita masih punya harapan untuk melakukan transplantasi sumsum tulang belakang," ucap Dokter itu menjelaskan.
Abbas dan Keanu terdiam saat mendengarnya. Apa yang Dokter itu katakan memang benar, dan besar kemungkinan jika Ayun memiliki sel punca yang sama dengan Nindi karena mereka adalah saudara kandung.
Namun, saat ini keadaannya sedang tidak baik. Bagaimana mungkin mereka meminta Ayun untuk mendonorkan sumsum tulang belakang untuk Nindi, sementara wanita itu tidak bisa menerima kebenaran yang Abbas katakan?
"Ada apa, Tuan? Apa pertanyaan saya salah?" tanya Dokter itu kemudian. Dia merasa bingung karena Keanu dan Abbas hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa.
Abbas sendiri merasa bingung. Dia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sakit. Dia baru saja mengetahui jika Ayun adalah putri kandungnya, dan baru saja membicarakan tentang hal tersebut dengan wanita itu. Lalu, bagaimana mungkin dia meminta Ayun untuk mendonorkan sumsum tulang belakang untuk Nindi? Tidak, dia tidak akan sanggup meminta hal tersebut.
"Baiklah, Tuan. Jika memang nona Nindi tidak punya saudara kandung, maka kita hanya bisa berdo'a agar beliau berhasil melawan penyakit yang sedang menyerangnya. Kalau gitu saya permisi." Dokter itu lalu beranjak pergi dari tempat itu menuju ruangan pasien lain, dan menugaskan perawat untuk berjaga di ruangan Nindi.
Keanu dan Abbas menyandarkan tubuh mereka ke sandaran kursi dengan lemas. Kedua mata mereka sama-sama menatap ke arah ruang ICU di mana Nindi berada.
Keanu lalu menoleh ke arah sang mertua, dia ingin mengatakan sesuatu tetapi masih merasa ragu. "Pa, aku ingin-"
__ADS_1
"Papa tau apa yang akan kau katakan, Ken," potong Abbas dengan cepat, membuat Keanu terdiam. "Papa juga ingin Nindi kembali sehat, dan penyakit yang selama ini dia derita menghilang. Jika bisa, papa siap menggantikannya. Biarlah papa yang sakit." Dia berucap dengan lirih.
"Tapi apa yang harus papa lakukan, Ken?" tanya Abbas dengan bibir bergetar. "Papa baru saja mengatakan pada Ayun bahwa dia adalah anak kandung papa, dan dia tidak bisa menerima semua itu. Lalu, bagaimana mungkin kita memintanya untuk menjadi pendonor?" Dia bertanya sambil menatap Keanu dengan nanar.
Keanu terdiam dengan kedua tangan saling bertautan. Dia paham, bahkan sangat mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Namun, sekarang nyawa istrinya sedang berada dalam bahaya. Dia tidak mau kehilangan sang istri, dan siapa pun pasti tidak akan bisa kehilangan wanita yang sangat mereka cintai.
"Aku, mengerti, Pa. Tapi, tapi bagaimana dengan istriku?" Lirih Keanu, baru kali ini dia terlihat sangat rapuh dan putus asa seperti itu. "Sama halnya dengan papa, aku juga akan melakukan apapun untuk Nindi. Tapi sayangnya aku tidak bisa, dan mungkin hanya Ayun yang bisa melakukannya." Dia terisak dengan menundukkan kepala, membuat Abbas merasa pilu dan langsung memeluk menantunya dengan erat.
Untuk pertamaa kalinya Keanu terisak dalam pelukan Abbas sejak dia mengenal dan menjadi menantu laki-laki paruh baya itu. Saat ini dia benar-benar merasa hancur dan putus asa, dia tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menyelamatkan sang istri.
"Aku mohon, Pa. Aku mohon dengan sangat," ucap Keanu dengan lirih, membuat Abbas melerai pelukannya. "Aku mohon bicaralah dengan Ayun, aku mohon." Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon agar sang mertua mau membicarakan tentang hal ini dengan Ayun.
Air mata Abbas mengalir deras saat melihat apa yang menantunya lakukan. Dia lalu menggenggam kedua tangan Keanu yang berada di depan dada sambil menganggukkan kepalanya.
"Papa akan mengatakannya, Nak. Papa akan berusaha untuk mengatakannya pada Ayun."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.