Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 141. Semuanya Sudah Selesai.


__ADS_3

Fathan langsung melepas pelukannya saat mendengar ucapan Fathir. Dengan cepat dia melayangkan jitakan ke kepala adiknya itu seperti yang dulu selalu dia lakukan.


"Hey, beraninya kau memukul kepalaku!" Pekik Fathir sambil mengusap kepalanya yang berdenyut sakit.


"Kenapa, apa kau akan mengadu pada mama?" tanya Fathan sambil tergelak.


"Tentu saja. Aku akan mengadu pada Mama bahwa kau telah menyakitiku!" ucap Fathir dengan kesal.


Keduanya lalu tertawa bersama karna teringat dengan masa kecil mereka. Walau tertawa, tetapi tatapan kakak beradik itu tidak bisa berbohong jika sedang merasa sangat sedih. Bagaimana tidak, selama bertahun-tahun hubungan mereka hancur hanya karena kesalahpahaman dan perbuatan orang lain. Hingga kini rasanya sangat menyesakkan dada.


Farhan dan Alma yang ternyata sudah membuka pintu ruangan itu tampak menangis haru. Rasa sakit dan penderitaan yang ada dalam hati mereka, seketika berubah dengan kesedihan dan kebahagiaan secara bersamaan.


Namun, perasaan bersalah yang sangat besar menghantam dada Farhan saat mendengar luapan perasaan Fathan. Ternyata dialah sumber dari rasa sakit dan penderitaan yang selama ini dirasakan oleh putra sulungnya itu, hingga berujung pada kehancuran hidup putra bungsunya juga.


"Maaf, maafkan papa, Nak. Maafkan papa kalian yang sangat kejam ini."


Fathan dan Fathir langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar suara sang papa, mereka sama-sama tersenyum pada mama dan papa mereka.


"Maafkan papa, maafkan papa," ucap Farhan lagi sambil menangis tersedu-sedu. Dia adalah orangtua yang paling buruk karena sudah menghancurkan hidup anak-anaknya sendiri.


Alma yang melihat sang suami menangis juga ikut terisak. Dia juga merasa gagal sebagai orang tua. Bukannya membahagiakan anak, tetapi mereka malah memberikan penderitaan dan rasa sakit seperti itu.


Fathan dan Fathir segera menghampiri kedua orangtua mereka yang sedang tertunduk dengan berderai air mata.


"Kenapa Mama dan Papa menangis?" tanya Fathan dengan sendu. "Sudahlah, semua sudah berlalu. Seharusnya akulah yang meminta maaf karena sudah membuat masalah dan mencoreng nama baik keluarga."


Farhan dan Alma langsung menggelengkan kepala mereka secara bersamaan untuk membantah ucapan Farhan. Dengan cepat mereka mengenggam kedua tangan Fathan, tidak lupa dengan Fathir juga.

__ADS_1


"Maaf karena selama ini papa telah membuatmu menderita, Nak. Papa telah menghancurkan hidupmu, papa, papa telah menuntut banyak hal padamu padahal kau telah melakukan semua yang terbaik. Kau adalah anak sulung papa, anak yang papa banggakan. Maafkan papa," ucap Farhan dengan lirih.


Fathan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Aku sudah memaafkan semuanya, Pa. Aku sudah memaafkan semua yang terjadi di masa lalu, jadi aku harap Papa juga bisa memaafkan diri Papa sendiri. Papa adalah panutanku, Papa orang yang hebat dan pekerja keras. Aku masih harus banyak belajar agar bisa menjadi seperti Papa."


Farhan langsung memeluk tubuh putra sulungnya itu dengan erat. Luapan rasa bersalah, penyesalan, dan kebahagiaan berbaur jadi satu membuat air mata tidak dapat lagi dibendung.


Alma juga bergantian memeluk Fathan. Putranya yang selalu tersenyum dan ramah pada setiap orang. Dia berdo'a agar Fathan selalu sehat dan bisa kembali bersama-sama dengan mereka suatu saat nanti.


Dari kejauhan, seorang wanita terus memperhatikan keluarga Fathir dengan berlinang air mata. Walau tidak tahu apa yang mereka bicarakan, setidaknya dia tahu jika saat ini hubungan mereka semua sudah membaik.


"Alhamdulillah. Terima kasih, ya Allah. Terima kasih," gumam Ayun dengan rasa syukur yang mendalam.


Yah, Ayunlah yang ada di tempat itu dan melihat semuanya. Beberapa saat yang lalu, dia pergi menemui Dokter yang biasa merawat Fathir untuk membicarakan masalah laki-laki itu, karena baru hari inilah dia ada waktu untuk datang.


Jelas saja Dokter menceritakan semua yang terjadi, tidak lupa Dokter juga memberitahu perihal pertemuan Fathir dan Fathan hari ini beserta ruangan yang mereka tempati.


Dengan cepat Ayun pergi ke ruangan yang dimaksud oleh Dokter dengan di antar oleh salah satu perawat, dan saat sampai, dia melihat kedua orangtua Fathir sedang berdiri di depan pintu bersama dengan beberapa polisi.


Setelah semua pembicaraan selesai, Fathan kembali di bawa ke mobil oleh polisi untuk kembali ke penjara. Sama sekali tidak terlihat kesedihan diwajahnya, bahkan wajah Fathan terlihat berbinar-binar dengan senyum lebar yang semakin membuatnya tampak bersinar.


"Jaga dirimu, Kak."


Fathan yang sudah masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang, seketika menoleh ke samping saat mendengar ucapan Fathir.


"Aku akan mengunjungimu nanti," sambung Fathir sambil tersenyum tipis.


Fathan langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Aku akan menunggumu di sana."

__ADS_1


Mobil itu lalu melaju pergi meninggalkan Fathir dan kedua orangtuanya yang terus menatap dengan sendu. Namun, mereka juga merasa lega karena sudah menyelesaikan semua masalah di antara mereka.


"Aku pasti akan membalas Rian, Kak. Kau tunggu saja. Aku akan kembali mengusut kasus itu, tidak peduli walau nanti aku juga akan di penjara." Fathir menggertakkan giginya dengan wajah merah padam.


Sebelum pergi, Fathan sempat memberitahu jika saat ini Keanu sedang berusaha untuk mengungkap semua kejahatan yang telah Rian lakukan. Jelas saja membuat Fathir terkejut dan tidak menyangka jika Kenau akan turun tangan seperti ini.


"Sekarang apa yang akan kau lakukan, Fathir?" tanya Farhan. Dia sudah mendengar semua kebenaran tentang apa yang selama ini Rian lakukan.


"Kapan dia akan diangkat untuk menggantikan Papa?" Fathir balik bertanya.


"Semua proses dan dokumennya sudah siap, kemungkinan lusa dia akan dilantik untuk menggantikan Papa," jawab Farhan.


Kedua tangan Fathir terkepal kuat dengan tatapn tajam. Tentu saja dia tidak akan membiarkan semua itu terjadi, karena dia sendiri akan kembali ke perusahaan dan melindungi apa yang seharusnya menjadi milik sang kakak.


"Aku akan bicara dengan tuan Keanu dulu, setelah itu baru aku bisa mengambil keputusan," ucap Fathir kemudian. Dia tidak boleh bertindak gegabah atau akan menghancurkan rencana Keanu.


Tiba-tiba Fathir mendengar suara notifikasi pesan masuk di ponselnya. Dengan cepat dia mengambil benda pipih itu untuk melihat siapa yang mengirim pesan padanya.


"Ayun?" Senyum tipis tersunggging diwajah Fathir saat melihat nama Ayun tertera dilayar ponselnya. Dengan cepat dia membuka pesan itu untuk melihat apa yang wanita itu katakan.


"Assalamu'alaikum, Fathir. Aku sedang berada di La kafe, kafe yang ada di samping rumah sakit. Bisakah kau menemuiku di sini?"


Fathir mengernyitkan keningnya saat membaca pesan Ayun. "Kenapa dia ada di sini, apa dia sedang mengunjungi seseorang di rumah sakit?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2