
Fathir yang sejak tadi menguping pembicaraan putra dan juga kedua orang tuanya, langsung buka suara sambil melangkah masuk ke dalam kamar membuat semua orang kaget saat melihatnya.
"Aku yang akan menemaninya, Ma," ucap Fathir lagi sambil melirik ke arah Faiz.
"Benarkah? Apa kau bisa?" tanya Alma dengan senyum lebar, dan dijawab dengan anggukan kepala Fathir.
Alma merasa senang saat mendengar putranya akan menemani sang cucu, begitu juga dengan Farhan. Mereka berdua tentu tahu bagaimana hubungan antara ayah dan anak itu, mungkin dengan pergi bersama bisa membuat hubungan Fathir dan Faiz membaik.
Faiz sendiri menatap sang papa dengan tajam. Apa tadi yang papanya katakan, mau menemaninya? Cih, apa tujuannya melakukan itu?
"Aku bisa pergi sendiri, aku tadi hanya memberitahu Oma dan Opa saja," tukas Faiz dengan tajam. Dia lalu beranjak bangun dari ranjang dan akan pergi keluar.
"Sayang, jangan seperti ini," seru Alma sambil menahan tangan Faiz. "Kau tau 'kan, kalau papa selama ini sibuk? Dan sekarang dia sudah ada waktu, jadi dia bisa-"
"Aku tidak butuh!" bentak Faiz dengan sarkas sambil menghempaskan tangan sang oma.
Semua orang tersentak kaget saat melihat apa yang Faiz lakukan, terutama Alma yang hampir saja terjatuh jika tidak ditangkap oleh Fathir.
Faiz menatap mereka semua dengan tajam dan penuh amarah, apalagi terhadap sang papa yang saat ini juga sedang menatapnya tidak kalah tajam.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri, jadi kalian tidak perlu mempedulikannya," ucap Faiz kembali dengan wajah merah padam dan urat-urat leher yang menonjol ke permukaan.
Alma yang akan kembali bicara di tahan oleh Fathir membuatnya menatap laki-laki itu dengan mata berkaca-kaca, sementara Farhan sendiri juga diam sambil menatap Faiz dengan nanar.
"Aku tahu kalian sibuk, jadi sibuk saja selamanya dan jangan pikirkan aku!"
Kemarahan Faiz pecah gara-gara mendengar papanya menawarkan diri untuk menemaninya berkemah. Kenapa, kenapa sekarang papanya melakukan itu? Padahal selama ini papanya tidak pernah sekali pun peduli, bahkan saat dia sakit sekali pun. Dia hanya akan ditemani oleh pembantu.
Alma terisak pilu saat mendengar ucapan Faiz. Perasaan bersalah menghantamnya karena sadar jika selama ini mereka terlalu sibuk dan tidak pernah memikirkan Faiz.
Profesinya yang menjadi seorang dokter tentu saja menyita hampir semua waktu Alma di rumah sakit, begitu juga suaminya yang merupakan seorang pemimpin dari sebuah perusahaan besar.
Lalu, bagaimana dengan Fathir? Putranya itu juga disibukkan mengurus perusahaan Keanu. Apalagi laki-laki itu hanya fokus pada kesehatan Nindi saja, membuat Fathir harus menyelesaikan semua pekerjaan.
__ADS_1
"Maaf, Sayang. Maafkan oma," ucap Alma dengan lirih.
Selama ini Faizlah yang harus menanggung derita seorang diri, apalagi sejak kejadian kelam yang menewaskan ibunya saat dia berusia 10 tahun silam.
Faiz berdecak kesal saat mendengar permintaan maaf sang oma. Sebenarnya dia tidak membenci oma dan juga opanya, tetapi dia hanya membenci satu orang yaitu papanya.
Namun, sikap mereka semua sebenarnya sama saja, membuatnya hidup bagai sebatang kara. Jika soal harta, maka dia tidak akan kekurangan. Akan tetapi, dia sama sekali tidak merasakan lagi yang namanya kehangatan keluarga.
Jangankan merasakan kehangatannya, untuk melihat wajah mereka saja Faiz merasa sangat susah. Sungguh keluarga yang sangat harmonis sekali.
Tanpa mengatakan apa-apa, Faiz segara berjalan ke arah pintu untuk keluar dari tempat itu. Namun, langkah papanya ternyata jauh lebih cepat hingga dia tidak bisa keluar.
"Minggir!" bentak Faiz dengan kemarahan yang membara.
Fathir tetap diam menerima semua kemarahan yang putranya berikan. Dia harus benar-benar menahan diri, jika tidak maka hubungan mereka benar-benar tidak bisa diperbaiki lagi.
"Minggir kataku!" Faiz menabrak tubuh papanya yang berdiri tepat di depan pintu agar bisa keluar, tetapi usahanya tentu sia-sia saja.
"Aargh!"
"Sayang, cucuku," gumam Alma yang baru pertama kali melihat kemarahan Faiz. Apa selama ini Faiz menahan diri di hadapannya?
Farhan segera menarik tubuh sang istri agar mendekat, dan menyuruh istrinya untuk diam dan tidak ikut campur urusan mereka.
"Apa mau Papa, hah? Apa belum puas semalam Papa menamparku?"
Deg.
Farhan dan Alma terkesiap saat mendengarnya, tentu saja mereka merasa terkejut karena selama ini Fathir tidak pernah memukul Faiz.
"Papa mau memukul aku lagi? Pukul, pukul aku! Pukul seluruh tubuhku sampai aku mati!" teriak Faiz dengan napas tersengal-sengal. "Ukh." Dia lalu menekan dadanya yang terasa sangat sesak.
Fathir tetap diam dan dia akan terus diam sampai Faiz mengeluarkan semua amarah yang ada dalam dirinya, agar anak itu merasa lega.
__ADS_1
"Sebenarnya apa maumu? Kenapa kau tiba-tiba datang dan berkata ingin menemaniku, apa kau ingin mempermainkanku?" Kesabaran Faiz benar-benar sudah habis, dia bahkan tidak peduli lagi jika saat ini dia sedang bicara dengan papanya.
"Selama ini kau tidak peduli padaku, kau bahkan tidak peduli walau aku sakit sekali pun. Jadi kenapa sekarang kau sok peduli seperti ini? Benar-benar munafik. Kau bukan hanya munafik, tapi kau juga kejam. Bahkan kau jugalah yang sudah membunuh mamaku."
"Faiz!" teriak Alma dengan nada bentakan membuat Faiz terkesiap, begitu juga dengan Fathir dan juga suaminya. "Sudah cukup, Faiz. Jangan lagi menghardik orang tuamu seperti itu, kau sudah kelewatan!" Dia tidak bisa lagi menahan diri, apalagi jika sudah membahas tentang mendiang menantunya.
"Kenapa? Aku mengatakan yang sejujurnya. Mama mati karena perbuatan papa," ucap Faiz kembali.
Alma melangkahkan kakinya untuk mendekatinya, dia tidak peduli walau pun suaminya melarang. "Kau salah, Faiz. Mamamu mati bukan karena papamu, tapi karena perbuatannya sendiri."
"Mama!" seru Fathir dengan tajam. Dia merasa gusar karena sepertinya sang mama ingin mengatakan sesuatu pada Faiz.
"Jangan halangi mama, Fathir. Anakmu berhak tau apa yang sebenarnya terjadi, karena sepertinya selama ini dia salah paham terhadapmu."
Fathir terdiam dengan tatapan nyalang. Tidak, semua itu terlalu buruk untuk diketahui oleh putranya. Bagaimana jika Faiz merasa terguncang?
"Jangan khawatir, dia sudah cukup dewasa," ucap Alma lagi. Dia lalu beralih melihat ke arah Faiz yang sejak tadi menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Dengarkan oma baik-baik, Sayang. Oma yakin kau sudah cukup dewasa untuk mengerti apa yang sudah ibumu lakukan."
Faiz merasa tegang. Mendadak dia menjadi tidak tenang dan merasa gusar, bahkan dadanya sedang berdegup kencang.
Alma lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara Fathir dan juga Olivia, yaitu mendiang menantunya yang harus meregang nyawa di tangan putra sulungnya sendiri yang saat ini berada di dalam penjara.
Kejadian itu bermula saat para pemegang saham ingin mengangkat Fathir menjadi seorang CEO menggantikan ayahnya, padahal sudah ada Fathan yang merupakan putra sulung keluarga Abidarma yang menjabat sebagai wakil CEO.
Kecerdesan, ketelitian, dan kehebatan Fathir membuat semua dewan direksi juga menginginkan agar laki-laki itu yang memimpin perusahaan. Tentu saja semua itu membuat Fathan murka, walau dia tidak mengatakan apa-apa dan nampak menerima semuanya.
Selama ini Fathan sudah bekerja keras, tetapi kemampuannya memang jauh di bawah sang adik. Sampai akhirnya dia merasa dendam, dan berniat untuk merebut semua yang seharusnya menjadi miliknya, termasuk istri dari adiknya sendiri.
•
•
•
__ADS_1
Tbc.