
Air mata kedua kakak dan adik itu kembali mengalir deras. Namun, air mata yang jatuh membasahi wajah itu bukan karena rasa sakit atau penderitaan. Melainkan kebahagiaan yang membuncah, dan rasa syukur atas semua yang telah Tuhan berikan.
Nindi sendiri telah berjanji. Jika Tuhan memang masih memberikannya kesempatan untuk sembuh, maka dia akan melakukan yang terbaik untuk keluarganya. Khususnya untuk ayah dan suami tercinta, tidak lupa sang kakak yang selama ini selalu mendampinginya.
Ayun juga tidak kalah bahagia dari Nindi. Dia berjanji akan hidup lebih baik dan bahagia dari masa lalu, dan akan mencurahkan seluruh cinta dan perhatian untuk keluarga tercinta.
Namun, Ayun tidak ingin lagi diam di rumah dan memutuskan untuk berkarir. Apalagi dia seorang janda dengan dua orang anak, tentu harus mencari nafkah untuk mereka juga dan keluarga yang lain.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Abbas dan Keanu sedang berada di taman rumah sakit. Saat ini mereka sedang membahas masalah serius, yaitu tentang usaha property milik Ayun.
"Menurutmu siapa yang cocok untuk mengurus usaha itu, Ken? Kita tidak bisa melepaskannya pada Ayun begitu saja, apalago bajing*an itu masih berada di sana," ucap Abbas. Dia benar-benar sangat membenci Evan.
Keanu diam sejenak untuk memikirkan apa yang mertuanya katakan. Sebelumnya, dia juga sudah memikirkan hal tersebut dan mencari siapa orang yang tepat untuk mengawasi bisnis itu.
"Bagaimana jika kita serahkan pada Fathir? Dia sangat kompeten untuk membangun bisnis yang sudah berada di ambang kehancuran," saran Abbas. Bukan sembarangan dia mengatakan hal tersebut, tetapi karena memang kemampuan Fathir sudah terbukti.
Keanu menghela napas berat. "Itu tidak mungkin, Pa. Dia sudah sibuk dengan perusahaanku, dan Papa tahu sendiri jika ayahnya setiap hari menerorku. Bagaimana mungkin kita menyerahkannya pada laki-laki keras kepala itu?" Dia berdecak kesal.
Abbas menyetujui apa yang Keanu katakan. Memang benar jika ayahnya Fathir selalu memohon pada menantunya agar bicara pada Fathir, supaya laki-laki itu keluar dari perusahaan Keanu.
"Apa dia tetap tidak mau kembali mengurus perusahaan keluarganya?" tanya Abbas.
Keanu menggelengkan kepalanya. Sudah berulang kali dia bicara dengan Fathir, tetapi laki-laki itu tetap tidak mengindahkan ucapannya. Malahan, mereka akan berakhir dengan pertengkaran.
"Papa mengerti bagaimana perasaan Farhan, dia pasti sudah merasa lelah dan jenuh dengan semua pekerjaannya. Apalagi perusahaan besar, pasti ada banyak sekali yang harus dia pikirkan," ujar Abbas. Bisnis restorannya yang punya 60 cabang saja sudah menguras otak, apalagi bisnis keluarga Fathir yang bergerak di bidang fashion.
__ADS_1
Keanu menganggukkan kepalanya. Dia sendiri juga sudah merasakan bagaimana penderitaan menjadi pemimpin tunggal, tetapi untungnya ada paman serta keluarga lain yang membantu. Juga keberadaan Fathir yang berhasil mengeluarkan perusahaannya dari kebangkrutan.
"Tapi kita tidak bisa juga memaksa Fathir. Apa yang terjadi di masa lalu benar-benar membuat trauma besar dalam hidupnya. Jika aku menjadi dia, bukan hanya akan meninggalkan perusahaan. Tapi aku akan menghancurkannya sampai menjadi debu," tukas Keanu dengan tajam, membuat Abbas menatap sendu.
Kejadian besar dalam keluarga Fathir memang sangat mengguncang dunia bisnis, bahkan menggemparkan seluruh masyarakat hingga membuat Fathir sendiri hampir kehilangan kewarasannya.
Keanu lalu memutuskan untuk mengirim salah satu sekretaris kepercayaannya untuk mengambil alih usaha Ayun, sekalian memberikan pengajaran dan bimbingan agar wanita itu bisa meneruskannya.
Setelah bicara panjang lebar, mereka berdua beranjak pergi dari tempat itu menuju ruangan Ayun dan Nindi. Terlihat Hasna dan Yuni juga sudah datang, membuat senyum Abbas mengembang sempurna.
Mereka semua lalu berkumpul dan saling mengobrol dengan hangat. Tawa canda dan kebahagiaan terlihat jelas diwajah semua orang, membuat seorang lelaki yang sedang berdiri di depan pintu tidak jadi masuk ke dalam ruangan tersebut.
Fathir yang baru selesai meninjau lokasi proyek memutuskan untuk singgah ke rumah sakit sekaligus menjemput Keanu, tetapi dia mengurungkan niatnya saat melihat laki-laki itu sedang bercengkrama dengan keluarga.
"Hah," Fathir menghela napas kasar sambil mendudukkan tubuhnya dikursi yang ada di depan ruangan itu. Dia memutuskan untuk menunggu Keanu di tempat itu, sekalian memeriksa beberapa email yang masuk ke dalam ponselnya.
"Kau di sini?" tanya Keanu heran.
Fathir menganggukkan kepalanya. "Benar, Tuan. Saya sudah berada di sini satu jam yang lalu."
"Apa?" pekik Keanu dan Abbas secara bersamaan. "Kenapa kau tidak masuk ke dalam dan malah menunggu di sini?" tanya Keanu dengan geram. Bisa-bisanya laki-laki itu hanya diam dan menunggu di luar ruangan.
"Saya tidak mau mengganggu momen kebersaan Anda. Lagi pula, saya juga sedang memeriksa pekerjaan," jawab Fathir, membuat Keanu dan Abbas menghela napas kasar.
"Dasar kau ini," seru Abbas sambil menepuk bahu Fathir. Laki-laki itu sifatnya memang sebelas dua belas dengan Keanu, bahkan terkadang lebih parah. Itu sebabnya mereka sangat cocok sekali.
__ADS_1
Mereka bertiga lalu pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan menaiki mobil yang berbeda. Keanu dan Fathir kembali ke perusahaan, sementara Abbas ke kantornya untuk mengecek berkas-berkas dari asistennya hari ini.
*
*
Setelah diperiksa oleh polisi dan berseteru dengan David, Evan memutuskan untuk menyewa pengacara dalam kasus yang menyeret namanya. Hari ini, mereka sedang bertemu di salah satu kafe yang dekat dengan kantornya.
"Saya sudah menyiapkan semua berkas-berkasnya, Tuan. Dalam kasus ini, pihak pelapor sudah menyerahkan bukti-bukti mereka pada pihak penyidik. Semua bukti itu jelas memberatkan Anda, apalagi status Anda adalah seorang tersangka," ucap pengacara Evan bernama Rima.
Evan menghela napas kasar. "Untuk itu saya menyewa Anda, kan. Saya memang bersalah dan sudah mengakuinya, tapi saya juga tidak mau menerima hukuman secara cuma-cuma." Dia berkata dengan tajam.
Rima menghela napas kasar. Sebagai pengacara, jelas dia harus membela kliennya dan mencoba untuk meringankan beban hukuman yang akan ditanggung.
"Menurut laporan, Anda dikenakan pasal 317 KUHP tentang pengaduan dan fitnah. Anda bisa dikenakan pidana penjara paling lama 4 tahun, atau pidana denda sebanyak 200 juta."
Evan terkesiap saat mendengar ucapan Rima. "Ti-tidak, aku melakukan semua itu bukan karena sengaja. Tapi karena tidak sengaja dan terbawa suasana, Anda harus melawan tuduhan itu." Dia merasa cemas.
Rima menganggukkan kepalanya. "Saya akan berusaha, Tuan. Tapi kita tidak bisa berharap lebih, karena Anda memang bersalah. Hanya mungkin ada sedikit perbedaan yang bisa kita perjuangkan."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.