
Evan langsung menundukkan kepalanya karena tidak ingin jika Ayun sampai melihatnya menangis, karena saat ini matanya terasa panas dan berkaca-kaca.
Adel yang mendengar ucapan sang ibu merasa kagum dan bangga. Ingin sekali dia punya sifat baik dan pemaaf seperti ibunya, dan dia berjanji akan mulai mengontrol emosinya agar bisa seperti sang ibu.
Dari kejauhan, Fathir terus menatap Ayun dan Evan dengan tajam. Jika saja matanya bisa mengeluarkan laser, sudah dipastikan punggung kedua orang itu akan berlubang.
"Tenangkan dirimu, Fathir," ucap Alma yang tahu ke mana perhatian putranya saat ini, apalagi sejak tadi Fathir terus menatap ke satu tempat.
Fathir mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Andai saja ini tidak dalam acara pesta, dia pasti sudah mendatangi Evan dan menjungkir balikkan tubuh laki-laki itu agar tidak lagi mengganggu Ayun. Namun, saat ini dia harus benar-benar mengendalikan diri.
Alma dan Farhan saling pandang dengan apa yang Fathir lakukan. Kini mereka yakin jika serangan panik Fathir hanya akan kambuh saat berhubungan dengan Fathan, sementara untuk yang lainnya tidak.
"Kalau masalah Ayun dan mantan suaminya sudah selesai, akan lebih baik jika kau langsung melamarnya, Fathir."
Fathir langsung menoleh ke arah sang papa saat mendengar ucapannya. "Semua tidak semudah itu." Dia berucap dengan lirih.
Farhan menghela napas berat. "Tidak mudah jika tidak kau lakukan, Fathir. Tidak ada salahnya jika mencoba. Kalau pun tidak berhasil, kau bisa mencobanya lagi dikesempatan kedua, jadi tidak ada yang salah dengan itu." Dia mencoba untuk meyakinkan Fathir.
Akan lebih baik jika Fathir segera menikah dengan Ayun, karena wanita itu bisa sangat membantu putranya untuk sembuh. Apalagi jika sudah tinggal satu atap, maka Ayun bisa langsung memgawasi perkembangan kesehatan Fathir.
"Om!"
Fathir yang sedang memikirkan ucapan papanya tersentak kaget saat mendengar panggilan Ezra, terlihat laki-laki itu dan temannya sudah bergabung dengan mereka.
"Ada apa, Ezra? Apa kau ingin mengenalkan pacarmu ini pada kami?" tanya Alma sambil melirik ke arah Mayra.
Mayra tampak menundukkan kepalanya dengan malu-malu, sementara Ezra membuang muka sebal saat mendengarnya.
"Dia sahabatku, Oma. Namanya Mayra," sahut Ezra.
Mayra langsung menyalami mereka sambil memperkenalkan diri, kecuali pada Fathir yang memang sudah kenalan pada saat baru datang tadi.
"Om mau makan apa? Biar aku ambilkan," tawar Ezra.
__ADS_1
Sebenarnya dia mendatangi Fathir karena tahu jika laki-laki itu terus memperhatikan ibunya, dia tidak mau Fathir sampai berpikir jika sang ibu ingin kembali pada ayahnya.
"Om tidak lapar, Ezra. Kau dan Mayra saja yang makan," sahut Fathir. Jangankan makan, dia bahkan sudah tidak selera lagi untuk bernapas sekarang.
Ezra menghela napas kasar. Namun, tidak berselang lama datanglah Adel dan juga ibunya ke meja mereka membuatnya tersenyum lega.
"Om!" seru Adel sambil duduk di samping Fathir dan menempelkan kepalanya ke lengan laki-laki itu.
Fathir yang semula merasa emosi, kini langsung luluh saat melihat apa yang Adel lakukan. "Ada apa, Adel? Kau sudah makan?"
Adel langsung menggelengkan kepalanya, sementara yang lain tampak tersenyum saat melihat interaksi antara mereka. Terutama Ayun yang sudah duduk di samping Mayra.
"Kalau gitu makan dulu, Adel. Sekalian ajak ibumu," ucap Fathir kemudian.
Mendengar ucapan Fathir, Ayun lalu mengajak mereka semua untuk menikmati makan siang bersama. Dia juga memanggil Faiz yang sedang asyik bermain game bersama teman-temannya.
Mereka semua lalu memutuskan untuk makan siang bersama, terlihat para tamu yang lain juga sedang menyantap hidangan mereka dengan lahap.
Evan melirik ke arah Ayun dan anak-anaknya yang saat ini sedang bersenda gurau, bahkan suara gelak tawa Adel terdengar jelas ditelinga.
Evan menggelengkan kepala untuk menghilangkan Ayun dari pikirannya. Dia sudah berjanji untuk memikirkan keluarganya sendiri, dan tidak akan lagi mengganggu kehidupan wanita itu.
Dari atas singgahsana, Abbas dan Hasna juga memperhatikan Ayun. Mereka turut senang melihat kedekatan putri mereka itu dengan Fathir, bahkan saat ini tidak ada lagi kecanggungan yang terlihat diwajah mereka.
"Anak-anak kita memang hebat, Hasna. Lihat, Ayun makan dengan lahap bersama anak-anaknya dan keluarga Fathir. Dan Nindi, dia juga menikmati makan siang bersama suami dan keluarga yang lain. Lalu kita? Kita hanya bisa makan angin saja di sini," ucap Abbas dengan sedikit kesal.
Hasna hampir kelepasan tertawa saat mendengar ucapan sang suami. "Mas lapar?" Dia bertanya sambil menahan senyumannya.
Abbas menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak lapar. Aku sudah merasa kenyang hanya dengan mencintaimu saja, Hasna."
Hasna langsung terkikik geli saat mendengarnya membuat Abbas mencebikkan bibir. Dia lalu memanggil salah satu pelayan yang bertugas untuk untuk memanggilkan anak-anaknya.
*
__ADS_1
*
Tidak terasa, waktu berlalu dengan sangat cepat. Siang sudah berganti malam, dan resepsi pernikahan masih terus berlangsung sampai pukul 11 malam.
Satu persatu para tamu undangan mulai meninggalkan lokasi pesta setelah bersalaman langsung dengan Abbas dan Hasna, para kerabat juga sudah mulai pamit untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.
"Ayo, kita juga harus pulang, Sayang!" ajak Keanu sambil menarik tangan Nindi.
Nindi menarik tangannya yang sedang digenggam oleh Keanu. "Sebentar lagilah Mas, papa dan ibu saja belum masuk." Entah kenapa dia malas untuk pergi dari tempat itu.
Keanu menghela napas kasar sambil kembali duduk di samping sang istri. Entah kenapa akhir-akhir ini sifat istrinya sangat berbeda dari biasanya, seperti orang yang berkepribadian ganda.
Nindi yang biasa bersikap kalem dan lemah lembut, kini sering berubah menjadi sangat menyebalkan. Bukan hanya itu saja, wanita itu bahkan kerap menjailinya sampai dia merasa benar-benar kesal. Sungguh sangat aneh sekali.
"Aduh, kepala pusing sekali," gumam Nindi membuat Keanu langsung memeganginya. Beberapa hari ini dia selalu merasa pusing dan berkunang-kunang, bahkan sering juga merasa mual.
"Kau pasti kelelahan, Sayang. Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar Adel supaya bisa istirahat!"
Nindi menganggukkan kepalanya. Perlahan dia bangun dari kursi sambil menahan sakit dikepala serta perut yang terasa mual.
"Pelan-pelan aja, Sayang. Atau kau mau ku gendong?" ucap Keanu.
Nindi menggelengkan kepalanya dan tetap berusaha untuk berjalan seperti biasa, sampai membuat Ayun yang melihatnya langsung datang menghampiri.
"Ada apa dengan istrimu, Ken?" tanya Ayun dengan khawatir.
"Dia pasti kelelahan, Mbak. Aku akan membawa-"
"Astaghfirullah, Nindi!"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.