
Abbas tercengang saat mendengar ucapan Hasna. Pikirannya kembali berkelana mencoba untuk mengingat apa yang terjadi puluhan tahun silam, tepatnya di malam dia pulang sampai dini hari dalam keadaan mabuk.
Samar-samar Abbas mulai mengingat tentang malam itu, tetapi dia sama sekali tidak ingat saat sedang bersama Hasna. Dia memang masih bisa ingat saat pulang ke rumah walau harus bersusah payah, tetapi setelahnya ingatannya seperti hilang begitu saja.
Malam itu, Abbas ada pertemuan dengan salah satu temannya, atau bisa disebut saingan selama menempuh pendidikan militer. Mereka ingin membahas tentang program kerja selama setahun ke depan, dan bertemu disalah satu club malam yang ada di kota itu.
Selama pertemuan, tidak ada hal aneh yang terjadi. Walau sejak dulu mereka saingan, tetapi tetap berhubungan baik dan tidak saling membenci.
Abbas banyak meminum minuman yang tersaji di tempat itu, bertepatan dengan kondisinya yang tidak sedang baik-baik saja karena Hasna menolak perasaannya. Dia melampiaskan semuanya pada minuman, dan terus seperti itu sampai merasa benar-benar mabuk dan kepalanya terasa berat.
Abbas ingat jika temannya membawa dia kesuatu tempat. Tidak tahu itu hotel, atau penginapan, yang jelas ada beberapa wanita juga di sana.
Jelas saja Abbas menolak dan bergegas untuk pergi disisa-sisa kesadarannya. Namun, wanita-wanita itu berusaha untuk menggodanya hingga tubuhnya terasa memanas dengan hebat.
Abbas tidak lagi melihat keberadaan laki-laki itu, lalu berusaha untuk melepaskan diri dengan cara terpaksa menghajar wanita-wanita yang ada bersamanya. Lalu, salah satu karyawan yang ada di tempat itu membantunya dan membawanya pergi dari sana.
Abbas segera menaiki taksi untuk pulang ke rumah dengan kesadaran yang benar-benar berada diujung tanduk. Dia bahkan kesusahan hanya untuk menyebutkan alamat rumahnya, hingga akhirnya tiba juga di tempat tujuan.
"Aku memang pulang ke rumah, lalu masuk dan ke kamar. Setelah itu aku ...." Abbas kembali diam. Yah, dia ingat jika Hasna memapahnya dan membawa ke dalam kamar.
Lalu, tiba-tiba dia teringat dengan sesuatu dan langsung menatap Hasna dengan getir. "Aku, aku merasa jika tubuhku seperti terbakar. Aku lalu melihatmu, dan menarik tanganmu. Setelah itu aku-" Dia menjeda ucapannya karena ingatan itu muncul dengan sedikit samar, di mana dia mengecup dan menindih tubuh mungil Hasna dalam kungkungannya.
__ADS_1
Abbas menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk kembali mengingat apa yang terjadi, sementara Hasna yang sejak tadi diam tampak menghela napas kasar.
"Aku, aku benar-benar memperkos*amu?" tanya Abbas dengan lirih. Apa malam itu dia tidak sedang bermimpi? Tetapi apa yang ada dalam bayangnya itu kenyataan?
Hasna tersenyum miris. Mudah sekali laki-laki itu bertanya apakah dia benar-benar diperkos*a atau tidak, sementara puluhan tahun dia harus menahan derita dari orang-orang yang mengetahui tentang kehamilannya. Namun, untung saja almarhum suaminya mau menerima dia apa adanya, bahkan bersedia menikahinya saat mengetahui dia sedang hamil. Walau hanya sebagai penutup malu saja, setelah melahirkan mereka kembali menikah hanya dengan dihadiri keluarga.
Melihat Hasna diam, Abbas kembali dihantam rasa bersalah. Tidak seharusnya dia melupakan tentang semua itu, tetapi mau bagaimana lagi? Dia benar-benar tidak ingat.
"Anda terkena GHB dalam dosis tinggi, itu sebabnya Anda tidak mengingat apa yang terjadi dan menganggap semuanya hanya halusinasi saja."
Abbas terkesiap saat mendengarnya. "G, GHB?" Dia bertanya dengan tatapan tidak percaya, bagaimana mungkin dia bisa terkena obat lak*nat itu?
Abbas mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Wajahnya memerah menahan kemarahan dan kekesalan terhadap diri sendiri, bagaimana mungkin dia bisa sampai tidak tahu?
"Lalu kenapa kalian tidak mengatakannya, hah?" tanya Abbas dengan tatapan nyalang. "Kenapa kalian tidak mengatakan semua yang terjadi padaku malam itu?" Dia berucap dengan tajam. Dasar bajing*an, dia yakin jika Aldo yang memberikan obat itu padanya.
Hasna lalu mengatakan apa yang terjadi setelah mereka melakukan hubungan int*im, di mana Abbas langsung tidak sadar setelah menumpahkan benih ke dalam rahimnya.
Hasna bergegas mengambil pakaiannya dan berlalu keluar dengan perasaan kacau. Begitu dia membuka pintu, ternyata Naira sedang berdiri di tempat itu dan menatapnya dengan tajam.
Semua terjadi begitu cepat, hingga membuat perasaan semua orang menjadi hancur. Baik Hasna, dan juga Naira yang merupakan calon istri Abbas.
__ADS_1
Namun, Naira merasa aneh karena Abbas sanggup melakukan hal seperti itu. Dia lalu menelepon seseorang untuk memeriksa apa yang terjadi pada laki-laki itu, sementara Hasna bersimpuh di kakinya meminta maaf.
Awalnya Naira merasa marah, dan tentu saja sakit hati dengan apa yang terjadi. Namun, dia rela menyerahkan Abbas pada Hasna karena laki-laki itu harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi.
Namun, Hasna langsung menolaknya dan meminta Naira untuk melupakan apa yang terjadi. Apalagi dia sudah mengambil keputusan untuk pulang kampung, bahkan sudah pamit pada kedua orang tua Abbas dan disuruh menunggu sampai mereka kembali.
Naira menjadi bimbang. Dia tidak bisa egois dan membiarkan masa depan gadis lain hancur. Akan tetapi, Hasna terus memaksa sampai akhirnya mereka tahu jika Abbas terkena GHB.
Hasna mengatakan jika semua yang terjadi adalah musibah, dan tidak ada yang bisa disalahkan. Dia tidak ingin menghancurkan cinta Naira yang begitu tulus untuk Abbas, apalagi wanita itu sudah memperlakukannya dengan baik. Juga kedua orang tua Abbas, apa yang akan mereka katakan jika mengatahui tentang hal ini?
Abbas menggelengkan kepalanya dengan terisak. Tubuhnya bergetar saat mengetahui apa yang terjadi, hatinya terasa sangat sakit saat mendengar jika Naira mengetahui apa yang dia lakukan, bahkan wanita itu yang menutup semuanya hingga dia tidak tahu.
"Naira, istriku. Maafkan aku, sungguh maafkan aku."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1