
Faiz merasa terkejut saat mendengar ucapan Ayun, lebih tepatnya dia merasa tidak percaya jika wanita itu menganggapnya sebagai anak.
Ayun kembali tersenyum. "Kau adalah temannya Adel, dan kalian itu seumuran. Jadi sudah sewajarnya kalau Tante juga menganggapmu sebagai anak." Dia berucap dengan lembut.
Faiz mengangguk paham dengan apa yang Ayun katakan. Namun, entah kenapa jawaban wanita itu membuat hatinya sedikit merasa tidak puas.
"Tapi kan gara-gara aku Tante jadi kayak gini," ucap Faiz. "A-aku juga udah banyak berbuat salah sama Tante." Dia mengingat pertemuan mereka saat di toko perhiasan, dan dia sudah sangat kurang ajar waktu itu.
"Tidak apa-apa, ini tidak parah kok," balas Ayun, padahal dia sama sekali tidak bisa menggerakkan tangan kanannya. "Tidak ada manusia yang tidak berbuat kesalahan, jadi kau tidak perlu memikirkannya lagi."
Faiz menatap Ayun dengan hangat. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk memperlakukan wanita itu dengan baik, apalagi setelah semua yang terjadi hari ini.
"Ayun, Faiz!"
Ayun dan Faiz tersentak kaget dan saling pandang saat mendengar suara panggilan seseorang. Lalu, suara itu kembali terdengar dan semakin kuat seolah jarak mereka tidak terlalu jauh.
"Itu papa, itu papa, Tante!" ucap Faiz dengan senang, begitu juga dengan Ayun yang merasa senang karena ternyata Fathir mencari mereka ke dalam hutan.
"Papa, kami di sini!" teriak Faiz sambil berdiri dan memperhatikan ke sekitaran tempat, dia lalu kembali berteriak agar sang papa bisa mendengar suaranya.
Fathir yang sejak tadi sibuk mencari ke sana kemari terdiam saat mendengar suara sahutan dari Faiz. Dia lalu kembali berteriak dan bertanya di mana keberadaan mereka saat ini.
"Papa, kami ada di sini!"
Fathir mengikuti arah suara Faiz dan meminta agar anaknya itu tetap bersuara, supaya dia bisa tahu di mana keberadaan mereka saat ini.
"Terus maju Pa, aku melihat senter Papa!" teriak Faiz saat melihat cahaya senter papanya yang berada tidak jauh darinya.
Mendengar teriakan Faiz, Fathir segera mempercepat langkah kakinya dan terus berjalan ke depan sesuai dengan arahan sang putra. Sampai akhirnya dia melihat Faiz yang sedang berdiri di samping sebuah pohon besar.
"Papa!" panggil Faiz sambil melambai-lambaikan tangan saat melihat sang papa, membuat papanya segera menghampirinya.
"Kau tidak apa-apa, Faiz? Apa kau terluka?" tanya Fathir dengan khawatir.
Faiz menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja, tante Ayun yang terluka."
"Apa?" pekik Fathir dengan kaget. Dia lalu melihat ke arah bawah mengikuti Faiz yang sudah berjongkok di hadapan Ayun. "Ya Tuhan. Kau, kau tidak apa-apa, Ayun?" Dia segera berjongkok dan bertanya dengan wajah panik. Apalagi sejak tadi dia diselimuti kekhawatiran yang luar biasa.
__ADS_1
Ayun menganggukkan kepalanya sambil mengulas senyum tipis. "Sa- maksudnya aku baik-baik saja, Fathir." Dia menjawab dengan gugup.
"Tapi Faiz bilang kau terluka, di mana lukanya?" tanya Fathir dengan gusar. Matanya lalu melihat ke arah tangan Ayun yang sudah membengkak dan membiru.
"Aku tidak-"
"Ke-kenapa tanganmu bengkak?" pekik Fathir dengan keras membuat Ayun terlonjak kaget. "Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa bisa sampai seperti ini?" Dia menatap tangan Ayun dengan nanar.
Ayun lalu menceritakan kejadian yang menimpa mereka beberapa saat yang lalu, hingga akhirnya membuat mereka tidak bisa kembali ke tenda sampai malam seperti ini.
Fathir terdiam geram mendengar apa yang terjadi pada mereka. Bisa-bisanya para pemburu itu memasang perangkap yang bisa membahayakan manusia, benar-benar harus diberi pelajaran.
Namun, dia juga merasa terharu dengan apa yang Ayun lakukan membuat hatinya terasa hangat dan sedih saat bersitatap mata dengan wanita itu.
"Maaf, seharusnya aku ikut dengan kalian," ucap Fathir dengan lirih, sungguh dia merasa sangat menyesal.
Ayun dan Faiz terdiam saat mendengar permintaan maaf Fathir. Kenapa malah laki-laki itu yang minta maaf? Padahal merekalah yang sudah merepotkan Fathir seperti ini.
"Kenapa kau minta maaf? Semua ini musibah, dan bukan salah siapa pun," ucap Ayun.
Dengan cepat Fathir membuka kemeja yang sedang dia pakai tanpa menanggapi ucapan Ayun, membuat Ayun dan Faiz menatap dengan heran.
Ayun menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak bisa menggerakkan tangan kanan, apalagi jika tersentuh rasanya berdenyut sakit.
"Aku akan memeganginya pakek tangan kiri, kau bisa membalutnya," ucap Ayun.
Fathir menghela napas kasar, dia yakin sekali jika sudah terjadi sesuatu dengan tulang tangan Ayun hingga membuat wanita itu tidak bisa menggerakkannya.
"Maaf, aku harus memegang tanganmu," ucap Fathir sambil membantangkan kemejanya di atas pangkuan Ayun.
Ayun mengangguk pelan, dia lalu mulai memindahkan tangannya dengan perlahan ke atas kemeja yang sudah Fathir siapkan.
"Ssh, astaghfirullah," gumam Ayun sambil mengernyit sakit saat tangannya berpindah tempat.
Fathir menatap dengan sendu. Dia tidak tega melihat Ayun sangat kesakitan seperti itu, tetapi tangan wanita itu memang harus segera dibalut dengan sesuatu.
Ayun tersentak saat tangan Fathir memegang tangannya, refleks dia menatap ke arah laki-laki itu yang terlihat fokus untuk membalut.
__ADS_1
"Argh!" Ayun memekik sakit sambil tangan kirinya mencengkram tangan Fathir, membuat laki-laki itu juga menatap ke arahnya.
Untuk sesaat, pandangan mereka berdua saling bertemu dan terkunci. Untuk pertama kalinya, mereka berdua saling bertatapan dengan jarak sedekat ini.
Deg, deg, deg.
Jantung Ayun dan Fathir sama-sama berdegup kencang dengan apa yang terjadi saat ini, sementara Faiz yang sejak tadi memperhatikan juga berbedar melihat kedekatan papanya dan juga Ayun.
"Tunggu, apa ini? Kenapa aku berdebar-debar?" Fathir merasa bingung.
"Ssh." Ayun kembali mendesis saat tidak sengaja tangannya tersenggol oleh Fathir, membuat laki-laki itu tersentak.
"Ma-maaf, aku tidak sengaja," ucap Fathir. Dia segera menyelesaikan ikatan kain itu lalu kembali meletakkan tangan Ayun dengan pelan.
Ayun terdiam sambil menundukkan kepala dengan wajah bersemu merah, entah kenapa saat ini dia merasa sangat malu.
Fathir lalu mengajak Ayun untuk segera pergi dari tempat itu, bersamaan dengan terdengarnya suara-suara dari orang-orang yang mencari mereka.
Akibat kejadian yang dialami oleh Ayun, malam itu juga Fathir meminjam mobil dari salah satu panitia di tempat itu untuk kembali ke kota. Dia harus segera membawa Ayun ke rumah sakit sebelum terjadi sesuatu dengan luka yang ada di tangan wanita itu.
Adel dan Faiz juga ikut di bawa pulang karena Fathir tidak mau lagi kejadian serupa terjadi, sementara yang lainnya masih tetap berada di tempat itu.
Sepanjang perjalanan, Adel terus terisak sambil memeluk lengan kiri sang ibu. Dia benar-benar merasa khawatir, apalagi saat melihat keadaan ibunya.
"Papa!"
Fathir yang fokus menyetir menoleh ke arah Faiz saat mendengar panggilannya. "Ada apa, kau baik-baik saja?" Dia bertanya dengan khawatir sambil kembali melihat ke arah jalanan.
Faiz mendekatkan kepalanya ke arah sang papa karena ingin membisikkan sesuatu. "Tadi tante Ayun ngomong sesuatu, dia bilang sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri."
"Apa?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.