
Abbas langsung mencubit pipi Nindi saat mengatakan hal yang sangat membuatnya malu, sementara Hasna tampak memalingkan wajah ke arah samping karena merasa benar-benar malu dengan apa yang Nindi ucapkan.
Ayun dan Keanu yang mendengar ucapan Nindi tampak menahan tawa. Mereka yang semula merasa sedih, kini jadi ambyar dengan apa yang wanita itu katakan.
Nindi sendiri juga menahan tawa karena ucapannya sendiri. Kemudian dia mengecup kedua pipi sang papa dan kembali membisikkan sesuatu. "Jangan lupa ya Pa, yang lucu."
"Nindi!"
Nindi langsung menjauh dari papanya karena tidak tahan lagi untuk menahan tawa, sementara wajah Abbas berubah merah padam karena merasa geram dengan tingkah laku sang putri.
Ayun juga menundukkan kepalanya sambil tertawa geli dengan kejahilan Nindi, sementara Keanu menatap istrinya itu dengan tidak habis pikir.
"Sayang, ke sini!," pinta Keanu sambil menepuk tempat duduk yang ada di sampingnya, meminta sang istri untuk duduk di sana.
Nindi melihat sekilas ke arah Keanu, lalu menggelengkan kepalanya. "Aku di sini saja, Mas. Pengen duduk di samping Fathir."
Keanu langsung menajamkan pandangannya saat mendengar ucapan sang istri, kini kedua mata itu menyoror ke arah Fathir yang pura-pura tidak mendengar percakapan mereka.
"Kenapa aku dibawa-bawa sih?" Fathir menghela napas kasar. Padahal dia tidak mengatakan apa-apa, tetapi malah dia yang ditatap dengan tajam.
Setelah acara akad selesai, Abbas dan Hasna berjalan menaiki singgah sana mereka yang tampak sangat elegan. Bak raja dan ratu, sepasang suami istri itu terlihat sangat bahagia.
Acara pun dilanjutkan dengan kegiatan adat sesuai dengan daerah asal Hasna dan Abbas. Semua keluarga turut memeriahkan acara itu, bahkan mereka terlihat sangat bersemangat sekali.
Keanu dan Fathir bertugas untuk menyambut para tamu yang hadir di tempat itu, begitu juga dengan Ayun dan Nindi yang tampak sedang mengobrol dengan teman-teman mereka.
"Lihat, Mbak. Ezra membawa pacarnya ke sini," seru Nindi saat melihat kedatangan Ezra dengan seorang gadis.
Ayun tersenyum karena mengenali gadis itu, dia lalu beranjak dari kursi saat Ezra berjalan ke arahnya dengan diikuti oleh gadis itu.
"Kau dari mana saja, Nak?" tanya Ayun saat baru melihat keberadaan Ezra. Putranya itu langsung menghilang begitu selesai akad.
"Aku menjemputnya, Bu. Dia lama sekali dandannya," sahut Ezra sambil melirik ke arah Mayra.
Mayra tampak mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan Ezra, sementara Ayun menggelengkan kepalanya sambil melihat ke arah gadis itu.
Mayra lalu menyalim tangan Ayun sambil tersenyum manis. "Apa kabar, Tante?" Dia bertanya dengan ramah.
"Alhamdulillah sehat, Nak. Ini Mayra 'kan?"
Mayra langsung menganggukkan kepalanya, tidak disangka ibunya Ezra masih mengingatnya.
"Baiklah, Mayra. Tante harus menyambut para tamu, nanti tante akan menemuimu lagi. Nikmati pestanya yah," ucap Ayun sambil menepuk punggung tangan Mayra.
Mayra kembali menganggukkan kepalanya. "Baik, Tante." Dia merasa senang dengan sambutan hangat wanita itu berikan.
__ADS_1
"Ayo, kita cari kursi!" ajak Ezra kemudian sambil menarik tangan Mayra untuk mencari tempat duduk.
Ezra juga mengenalkan Mayra kepada Nindi dan Keanu yang berada tidak jauh dari mereka, begitu juga dengan Adel yang sudah heboh tidak karuan.
"Kak Mayra, kita foto yuk!" ajak Adel sambil mengeluarkan ponselnya.
Mayra mengangguk mau dan langsung bergaya paling cantik, membuat Ezra menghela napas kasar melihat tingkah kedua wanita itu.
"Kalian ini tidak punya-" Ezra tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat kedatangan seseorang. Dia lalu memalingkan wajah saat bersitatap mata dengan orang tersebut.
Evan dan kedua orang tuanya baru saja sampai ke lokasi pesta. Mereka turut hadir untuk mendo'akan pernikahan antara Abbas dan juga Hasna.
"Ayo, Nak!" ajak Mery saat melihat Evan hanya diam di tempat.
Evan tersadar dari lamunannya dan bergegas mengikuti langkah kedua orang tuanya. Dia yang tidak sengaja bersitatap mata dengan Ezra merasa sangat senang, walau akhirnya Ezra memalingkan wajah.
Langkah Evan kembali terhenti saat melihat Ayun sedang berbicara dengan Fathir. Mereka berdua tampak sangat serasi dengan menggunakan pakaian berwarna sama.
Sebenarnya bukan mereka saja, tetapi semua keluarga besar juga memakai pakaian dengan warna senada. Saat malam hari, mereka baru memakai pakaian bebas sesuai dengan kemauan masing-masing.
Mery menepuk bahu Evan membuat putranya itu terkesiap. "Ayo, Nak! Jangan melamun terus." Dia menggandeng lengan Evan agar tidak kembali melamun.
"Selamat datang," sambut Keanu yang bertepatan sedang berada tidak jauh dari mereka.
Endri, Mery, dan Evan menganggukkan kepala mereka untuk menerima sambutan dari laki-laki itu. Kemudian Keanu mempersilahkan mereka untuk duduk dan menikmati makanan dan minuman yang telah disiapkan.
Evan langsung menoleh ke arah kanan saat mendengar suara Adel, dan benar saja jika putrinya itu sedang berada di sana bersama dengan Ezra.
"Aku ingin menemui Adel sebentar, Bu," ucap Evan pada ibunya.
Mery mengangguk sambil duduk dikursi yang ada di tempat itu, begitu juga dengan Endri yang sedang melihat ke arah Ayun.
Ayun yang tidak tahu kedatangan Evan dan keluarga laki-laki itu tampak asyik bersenda gurau dengan Fathir dan kedua orang tuanya, sampai akhirnya Fathir memberitahu tentang mereka.
Dengan cepat Ayun menghampiri kedua orang tua Evan yang sedang menikmati makanan di pesta itu. "Ayah, Ibu?"
Mery dan Endri langsung mendongakkan kepala mereka dan tersenyum saat melihat Ayun. "Ayun, duduklah."
Ayun mengangguk sambil duduk dikursi yang ada di tempat itu. "Apa Ayah dan Ibu sudah datang dari tadi?"
Mery dan Endri menggelengkan kepala mereka. "Tidak, Nak. Kami baru saja sampai."
Ayun kembali menganggukkan kepalanya, dia lalu mulai bertanya bagaimana keadaan mereka saat ini.
Pada saat yang sama, Abbas sudah berdiri di hadapan kedua anaknya yang saat ini sedang menatapnya tajam.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Adel? Apa kau baik-baik saja?" tanya Evan.
Adel menghela napas kasar, sesaat kemudian dia menganggukkan kepalanya membuat sang ayah tersenyum lebar.
"Silahkan duduk, Om," ucap Mayra dengan ramahnya membuat Adel dan Ezra langsung menatapnya dengan tajam. "Ke-kenapa kalian menatapku seperti itu?" Dia mengkerut takut.
"Apa ayah boleh duduk di sini Adel, Ezra?" tanya Evan kemudian.
Adel terdiam dengan bimbang, sementara Ezra menatap ayahnya dengan tajam seolah bertanya apa yang sebenarnya ayahnya itu inginkan.
"Ya sudah, kalau gitu ayah akan duduk bersama dengan kakek dan nenek saja. Ayah senang bisa melihat kalian," ucap Evan kemudian. Dia lalu menjauh dari tempat itu dan kembali bergabung dengan orang tuanya.
Mayra menatap Evan dengan sedih, dia merasa kasihan dengan apa yang terjadi saat ini. "Tidak ada salahnya duduk sebentar bersama ayahmu, Ez. Dia pasti sangat merindukan kalian." Dia berucap dengan pelan dan penuh hati-hati.
Ezra menghela napas frustasi. "Sudahlah, aku tidak mau membahasnya." Dia beranjak pergi untuk mengambil makanan dan minuman.
Mayra tidak berani lagi mengatakan sesuatu jika sudah mendapat ultimatum seperti itu, sementara Adel menoleh ke arah sang ayah yang sedang duduk bersama ibunya.
Dengan perlahan dia mendekati sang ibu yang sedang berbincang dengan kakek dan neneknya, membuat Mayra tersenyum tipis saat melihatnya.
"Ibu!"
Ayun mendongakkan kepalanya saat mendengar panggilan Adel. "Iya, Nak. Sini, duduk dengan ibu." Dia menarik kursi yang ada di sampingnya.
Evan tersenyum senang saat Adel mau bergabung dengannya, begitu juga dengan Mery dan Endri yang langsung memberondong gadis itu dengan banyak pertanyaan.
"Bagaimana keadaan Suci, Mas?" tanya Ayun membuat Evan yang sedang memperhatikan Adel menoleh ke arahnya.
"Keadaannya masih tetap sama, kami hanya bisa menunggunya sadar," jawab Evan dengan getir.
Ayun merasa iba. "Insyallah dia akan segera sadar, Suci 'kan anak yang kuat."
Evan mengangguk sambil menatap Ayun dengan hangat. "Terima kasih, Ayun. Dan maaf atas semua yang telah aku lakukan padamu, sungguh aku sangat menyesalinya."
Ayun tertegun saat mendengar permintaan maaf Evan, apalagi kini laki-laki itu menunduk dihadapannya.
"Maaf atas semua perbuatan, tingkah laku, dan segala sesuatu yang telah menyakiti hatimu. Aku tahu ucapan maaf ini tidak bisa menyembuhkan luka atas perbuatanku, tapi hanya ini sajalah yang bisa aku lakukan. Maaf, maafkan aku, Ayun."
Ayun menatap Evan dengan nanar. Tentu saja dadanya masih berdenyut sakit jika mengingat tentang masa lalu, tetapi dia tidak ingin lagi mengingat tentang semua itu.
"Aku sudah memaafkanmu, Mas. Aku juga sudah melupakan semuanya, jadi hiduplah dengan bahagia."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.