
Fathir memekik kaget saat mendengar ucapan Faiz, sontak dia tidak sengaja menginjak rem secara mendadak membuat Ayun dan yang lainnya terjerembab ke depan.
"Astaghfirullah," pekik Ayun dengan kaget saat kepalanya hampir membentur kursi kemudi. Untung saja tangan kirinya refleks memegang kursi tersebut, sehingga tidak sempat menghantam kepalanya.
Bukan hanya Ayun saja yang terkejut, tetapi Adel juga yang langsung berteriak dengan kuat dan bertanya pada Fathir apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Ada apa Om?" tanya Adel dengan panik. Dia bergegas melihat ke depan untuk melihat apa yang sedang terjadi saat ini.
Fathir yang baru sadar kalau tidak sengaja menginjak rem secara mendadak langsung melihat ke arah belakang, dia jadi ikut panik karena merasa khawatir jika terjadi sesuatu dengan Ayun.
"Kau, kau baik-baik saja?" tanya Fathir dengan cemas sambil menatap ke arah Ayun.
Ayun menganggukkan kepalanya. "Aku baik, Fathir. Sebenarnya ada apa?" Dia kembali mengulang pertanyaan Adel.
Fathir menghela napas lega. Untung saja tidak terjadi sesuatu dengan Ayun atau pun dengan yang lainnya. "Tidak ada apa-apa, tadi aku tidak sengaja menginjak rem." Dia menjawab dengan jujur.
Ayun mengangguk paham lalu mengatakan jika harus lebih hati-hati lagi, membuat Fathir ikut mengangguk sambil melirik ke arah Faiz yang sejak tadi memalingkan wajah ke arah samping kiri.
"Dasar anak sia*lan! Kenapa tadi dia ngomong kayak gitu sih?" Fathir benar-benar merasa geram. Entah apa maksud perkataan putranya tadi, yang pasti ucapan itu hampir saja membuat nyawa mereka semua berada dalam bahaya.
Setelah merasa lebih baik, Fathir kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. Biarlah nanti dia bertanya langsung pada Faiz, karena saat ini mereka harus segera memeriksakan keadaan Ayun.
Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah tiba di tempat tujuan. Fathir dan yang lainnya segera membawa Ayun masuk ke dalam rumah sakit, dan kedatangan mereka langsung disambut oleh Dokter yang sedang bertugas.
__ADS_1
Dokter segera membawa Ayun ke dalam ruangan untuk diperiksa, sementara Fathir dan yang lainnya menunggu di depan ruangan tersebut.
"Jangan khawatir, ibumu pasti baik-baik saja," ucap Fathir pada Adel yang sedang menatap pintu ruangan Ayun dengan sendu.
Adel menganggukkan kepalanya. "Aku tau, Om. Tapi kenapa tangan ibu bisa sampai seperti itu?" Dia bertanya dengan sendu.
Tadi Adel sempat bertanya pada ibunya tentang apa yang terjadi, dan sang ibu hanya menjawab bahwa tidak sengaja tertimpa oleh batu besar hingga tangannya terluka. Bukankah sangat aneh sekali jika bisa tertimpa oleh batu?
Fathir terdiam saat mendengar pertanyaan Adel. Dia tadi juga mendengar gadis itu bertanya pada Ayun, dan tentu saja Ayun tidak mengatakan jika wanita itu terluka karena menyelamatkan Faiz.
"Tante terluka karena aku," ucap Faiz tiba-tiba membuat Fathir dan Adel langsung melihat ke arahnya.
"Apa maksudmu?" tanya Adel dengan tajam, dia bahkan sampai beranjak dari kursi.
Fathir yang mendengar ucapan Faiz langsung menatap dengan tajam, dia lalu menggelengkan kepalanya agar putranya itu tidak melanjutkan apa yang ingin dia katakan.
"Kenapa kau diam? Jawab pertanyaanku!" ucap Adel dengan sarkas sambil menarik tangan Faiz.
"Adel." Fathir mendekati Adel membuat gadis itu beralih melihat ke arahnya. "Ibumu sudah menyelamatkan Faiz dari musibah, tapi akhirnya ibumu sendiri yang terkena musibah itu." Dia berucap dengan pelan.
Fathir lalu menjelaskan apa yang sudah terjadi dengan perlahan agar Adel tidak salah paham, dan menyalahkan Faiz atas musibah yang terjadi pada Ayun.
Adela tercengang saat mendengar cerita Fathir. Tidak disangka ternyata ibunya rela terluka demi menolong orang lain, dan itu membuat hatinya merasa sangat terharu.
__ADS_1
"Ibuku baik sekali, dia rela terluka demi menyelamatkan Faiz," ucap Adel dengan lirih.
Fathir menganggukkan kepalanya. "Benar, ibumu memang orang yang sangat baik." Dia merasa lega atas tanggapan yang Adel berikan.
"Maaf, maafkan aku," ucap Faiz dengan penuh sesal.
Adel berdecak kesal saat mendengar permintaan maaf Faiz. Gara-gara laki-laki itu ibunya jadi sakit seperti ini, ya walau pun semua itu bukan karena kesalahannya.
"Makanya, lain kali hati-hati dong!" ucap Adel dengan ketus. "Kau harus berterima kasih sama ibuku, kan kau udah diselamatkan." Dia berucap dengan tajam.
Faiz mengangguk paham. Tentu saja dia sangat berterima kasih tentang apa yang Ayun lakukan, juga akan memperlakukan Ayun dengan baik.
"Aku akan menganggap tante Ayun sebagai ibuku sendiri."
"Apa?" pekik Adel dan Fathir secara bersamaan. "Apa maksudmu?" Adel bertanya dengan tidak terima, sementara Fathir juga menatap dengan tajam.
"Tante sudah sangat baik padaku, bahkan sejak dulu dia memperlakukanku dengan baik. Dia juga sudah menganggap aku sebagai anaknya sendiri, jadi aku juga akan menganggap tante Ayun sebagai ibuku sendiri."
"Apa? Tidak, aku tidak mau. Dia itu ibuku!"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.