
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun dan kedua anaknya sudah sampai di halaman rumah Fathir. Terlihat Faiz sudah menunggu kedatangan mereka dengan berdiri di teras rumah.
"Tante!" seru Faiz sambil melambaikan tangannya ke arah Ayun yang sedang turun dari mobil.
Ayun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saat melihat apa yang Faiz lakukan, begitu juga dengan Ezra dan Adel yang juga melihat ke arah laki-laki itu.
"Assalamu'alaikum, Faiz," ucap Ayun saat sudah berdiri di hadapan Faiz.
"Wa'alaikum salam, Tante. Ayo, kita masuk! Semuanya sudah menunggu Tante dan yang lainnya di meja makan," ajak Faiz sambil menyalim tangan Ayun.
Ayun menganggukkan kepalanya dan berlalu masuk ke dalam rumah itu. Begitu juga dengan Ezra dan Adel yang tampak mengikuti langkah ibu mereka sambil berbincang dengan Faiz.
"Assalamu'alaikum."
Fathir yang sedang mengobrol dengan sang papa langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar suara seseorang, begitu juga dengan kedua orang tuanya yang tersenyum senang melihat kedatangan Ayun.
"Wa'alaikum salam," jawab mereka secara bersamaan. Fathir langsung beranjak dari kursi dan berjalan mendekati Ayun yang juga sedang berjalan ke arahnya.
"Kau sudah datang?"
Ayun mengangguk sambil tersenyum cerah. "Iya, Fathir. Kami baru saja sampai."
Fathir langsung mempersilahkan semua orang untuk bergabung dengan kedua orang tuanya dimeja makan. Entah kenapa saat ini dia merasa sangat gugup sekali, sampai-sampai tidak sadar jika dia mempersilahkan putranya sendiri.
"Papa, ini aku Faiz. Aku bisa duduk sendiri," ucap Faiz saat sang papa menarik kursi untuknya.
Fathir tersadar saat mendengar ucapan Faiz, sementara yang lain tampak menahan senyum saat mendengarnya.
"Me-memangnya papa tidak boleh menarik kursi untukmu?" tanya Fathir dengan ketus. Dia lalu membuang muka dan beralih duduk dikursi yang ada di samping Faiz.
Faiz tercengang dengan tatapan heran melihat kemarahan sang papa. Dia 'kan cuma memberitahu, kenapa papanya marah seperti itu? Sangat aneh sekali.
Ayun tampak menahan senyum saat melihat apa yang Fathir lakukan, dia lalu mendekati ibunya Fathir dan tidak duduk dikursi yang sudah disiapkan oleh laki-laki itu.
"Bagaimana kabar Tante?" tanya Ayun dengan ramah sambil menyalim tangan Alma, tidak lupa cepika-cepiki dengan wanita itu.
"Alhamdulillah tante baik, Ayun. Bagaimana denganmu dan semuanya?" tanya Alma kembali sambil tersenyum dengan lembut.
"Alhamdulillah semuanya sehat, Tante," jawab Ayun sambil menganggukkan kepalanya. "Oh iya, saya membawa sesuatu untuk Tante dan yang lainnya." Dia baru ingat tentang buah tangan yang sejak tadi dipegang, membuat semua orang beralih melihat ke arah tangannya. "Tadi saya membuat cookies dan puding, saya harap semua menyukainya." Dia memberikan kotak makanan itu kepada Alma.
__ADS_1
"Masyaallah, kenapa repot-repot seperti ini, Ayun? Tante sudah sangat senang kau dan anak-anak mau datang untuk makan malam di sini," sahut Alma dengan tidak enak hati, tetapi dia juga merasa senang atas pemberian Ayun.
"Tidak apa-apa, Tante. Saya tidak repot kok," balas Ayun dengan sungkan.
Alma lalu mengucapkan terima kasih atas makanan yang telah Ayun berikan padanya, kemudian dia menyuruh wanita itu untuk kembali ke kursi agar bisa menyantap menu makanan pada malam hari ini.
Fathir yang sejak tadi memperhatikan Ayun tampak tersenyum dengan hati berbunga-bunga. Sekeras apapun dia menahan gejolak cinta yang ada dalam hati, nyatanya meluap begitu saja hanya karena melihat interaksi antara Ayun dan juga ibunya.
"Tante Ayun sangat baik 'kan, Pa? Sangat cocok sekali jadi istri Papa," bisik Faiz tepat ke telinga sang papa membuat papanya terlonjak kaget.
Fathir memegangi dadanya karena terkejut saat mendengar bisikan Faiz, sementara Faiz sendiri menutup mulutnya karena menahan geli melihat wajah sang papa.
"Dasar anak ini," gumam Fathir dengan geram. Untung saja dia bisa mengendalikan diri dan tidak berteriak, jika tidak maka dia akan kembali mempermalukan diri sendiri.
"Ayo, makan yang banyak Adel, Ezra!" seru Farhan membuat Adel dan Ezra mengangguk dengan sungkan, dia juga menyuruh Ayun untuk melakukan hal yang sama.
Makan malam itu berjalan dengan baik dan terasa sangat hangat. Tidak ingat kapan terakhir kali suasana rumah ramai seperti ini, apalagi semua orang tampak sangat bahagia dengan saling bersenda gurau. Apalagi Faiz dan Adel yang tentu saja kembali bertengkar membuat suasana bertambah ramai.
Suasana di rumah Fathir sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi di rumah Ayun. Tampak Abbas dan Hasna menikmati makan malam dalam keheningan, apalagi Yuni dan Angga sengaja keluar bersama anak-anak mereka karena tidak mau mengganggu momen sakral itu.
Abbas terlihat bingung ingin membicarakan masalah apa dengan Hasna, begitu juga dengan Hasna yang malah merasa tegang dan gelisah dalam situasi seperti ini.
Abbas langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Masakanmu sangat enak, Hasna. Aku sudah tidak sabar untuk memakannya setiap hari."
Deg.
Hasna terkesiap mendengar ucapan Abbas, sementara Abbas sendiri menatap Hasna dengan tatapan yang syarat akan makna.
"A-apa maksudnya, Mas?" tanya Hasna dengan dada berdegup kencang.
Abbas tersenyum. Dia meletakkan sendoknya di atas piring, lalu menarik selembar tisu dan mengusapkannya kebibir.
"Apa kau sudah selesai makan? Kalau sudah, aku ingin membicarakan sesuatu hal yang sedikit penting," ucap Abbas dengan pelan.
Hasna mengangguk, dia lalu mengambil gelas berisi air untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.
"Ka-kalau gitu ayo, kita pindah ke ruang tamu, Mas!" ajak Hasna sambil beranjak dari kursi.
Abbas mengangguk lalu beranjak mengikuti langkah Hasna menuju ruang tamu. Dia lalu duduk di sofa, sementara Hasna kembali ke dapur untuk membuatkan minuman dan makanan ringan.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Hasna kembali ke ruang tamu dengan membawa makanan dan minuman, tidak lupa dia membawa puding buatan Ayun sore tadi.
"Silahkan dimakan, Mas. Puding ini buatan putrimu," ucap Hasna sambil meletakkan puding ke hadapan Abbas.
"Benarkah?" tanya Abbas dengan tatapan tidak percaya sambil mengambil puding pemberian Hasna.
Hasna menganggukkan kepalanya sambil menceritakan tentang apa yang dia lakukan bersama dengan Ayun sore tadi, sekaligus memberitahukan tentang kedekatan antara putri mereka itu dengan Fathir.
"Aku merasa kalau Fathir menaruh perasaan pada Ayun, Mas. Bagaimana menurutmu?" tanya Hasna. Tentu saja dia harus memberitahukan tentang hal ini pada ayah kandung putrinya.
Abbas menganggukkan kepalanya sambil menikmati puding buatan Ayun yang rasanya sangat lezat. Setelah habis, dia meletakkan bekas makannya ke atas meja dan beralih melihat ke arah Hasna.
"Aku sudah tahu tentang itu, Hasna. Dan masalah itu jugalah yang akan aku katakan padamu," sahut Abbas.
Hasna mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendengar ucapan Abbas. Ternyata laki-laki itu datang karena ingin membahas masalah Ayun dan Fathir.
"Tapi sebelum itu, ada hal penting yang harus kita bahas dulu, Hasna. Ini tentang hubungan kita," ucap Abbas kemudian membuat Hasna menatap dengan kening berkerut.
"Hu-hubungan kita?" tanya Hasna dengan lirih.
Abbas mengangguk. Sudah berulang kali dia memikirkan tentang hubungan di antara mereka, dan dia mengambil keputusan untuk segera menghalalkannya. Apalagi semua orang sudah memberikan dukungan, terutama Nindi dan juga Keanu yang terus mendorongnya untuk maju.
"Saat ini keluarga kita sudah sama-sama bahagia, Hasna. Hubungan kita baik, begitu juga dengan hubungan anak-anak kita. Tapi, apakah kita akan selamanya seperti ini?" tanya Abbas dengan pelan dan tatapan yang sangat dalam. "Sejak dulu perasaanku tidak berubah untukmu, Hasna. Bahkan sekarang rasanya semakin dalam sampai kerelung hatiku, tidakkah kau merasakan itu?"
Hasna terdiam dengan kedua tangan saling bertautan. Dadanya berdegup kencang mendengar kata demi kata yang Abbas ucapkan, hingga membuat darahnya berdesir hebat.
"Aku ingin menyatukan keluarga kita, Hasna. Aku ingin menjalani hari-hariku bersamamu dan juga anak-anak kita. Tidakkah kau juga ingin seperti itu?" tanya Abbas kembali.
Hasna menundukkan kepalanya dengan wajah merah padam. Kedua matanya tampak menggantung mendung karena merasa terharu dengan ucapan Abbas.
"Aku mencintaimu, Hasna. Dan aku yakin kalau kau juga merasakan betapa besar cintaku ini. Maukah kau menerimanya dan menikah denganku?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1