
Semua orang membulatkan mata mereka dengan terkejut saat melihat keberadaan Ayun, sementara Ayun sendiri terpaku di ambang pintu karena mendengar ucapan Nindi.
"A-Ayun?" ucap Abbas dengan lirih sambil menatap ke arah Ayun.
Ayun terkesiap saat mendengar suara Abbas, dengan cepat dia menunduk untuk mengambil kotak makanannya yang terjatuh ke atas lantai.
"A-assalamu'alaikum," ucap Ayun dengan terbata, dia merasa gugup dan canggung secara bersamaan.
Abbas dan yang lainnya menjawab ucapan salam Ayun membuat wanita itu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan, terlihat Nindi sedang tersenyum sambil menatap Ayun dengan hangat.
"Mbak di sini?" tanya Nindi dengan pelan sambil mengusap air mata yang ada di wajahnya.
Ayun menganggukkan kepalanya dengan bingung dan canggung. Dia bertanya-tanya kenapa Nindi memanggilnya dengan sebutan kakak, dan juga merasa tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan sebelumnya.
Beberapa saat yang lalu, Ayun datang ke ruangan itu dan berdiri di ambang pintu tepat di saat Nindi mengatakan jika akan memanggilnya dengan sebutan kakak atau mbak. Lalu, kenapa Nindi memanggilnya dengan sebutan seperti itu? Dia sama sekali tidak mengerti.
"Kenapa Mbak diam saja, apa Mbak tidak mau bertanya bagaimana kabarku?"
Ayun tersentak kaget saat mendengar ucapan Nindi. "I-iya. Ba-bagaimana kabarmu, Nindi? Kau, kau baik-baik saja 'kan?" Dia bertanya dengan sangat gugup sekali.
Berbagai pertanyaan terasa memenuhi kepala Ayun saat ini. Entah kenapa dia jadi merasa tidak nyaman, tetapi juga penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
"Alhamdulillah aku sehat, Mbak. Kemarilah," ucap Nindi sambil menepuk ranjang kosong yang ada di sampingnya.
Ayun menganggukkan kepala lalu melangkah mendekati ranjang. Raut wajahnya tampak tidak seperti biasanya, bahkan lidahnya juga terasa kaku untuk mengeluarkan kata-kata.
Abbas dan Keanu sendiri saling pandang dan bertanya-tanya apakah Nindi mendengar percakapan mereka tadi atau tidak. Namun, dari raut wajah wanita itu terlihat jelas jika sedang kebingungan.
Nindi melirik ke arah sang papa, lalu kembali melihat ke arah Ayun yang saat ini sedang tersenyum canggung kepadanya. Mungkinkah wanita itu belum tahu jika mereka adalah saudara kandung?
__ADS_1
"Apa, apa kau-"
"Sayang!"
Nindi tidak dapat melanjutkan ucapannya saat mendengar panggilan sang papa, sontak dia dan Ayun langsung menoleh ke arah Abbas yang sedang menatap mereka dengan sendu.
"Dokter bilang kau harus banyak istirahat, 'kan? Jadi berbaringlah, dan jangan mengeluarkan banyak suara yang bisa menguras energimu," ucap Abbas kemudian membuat Dokter yang masih ada di tempat itu menatap dengan heran.
Nindi yang mendengar ucapan sang papa langsung mengernyitkan kening bingung, tetapi sesaat kemudian dia langsung paham dengan apa yang papanya maksud karena melihat sorot mata sang papa yang penuh dengan makna.
"Apa kau benar-benar baik-baik saja, Nindi?" tanya Ayun kembali dengan khawatir, membuat Nindi beralih melihat ke arah wanita itu. "Maaf karena aku baru bisa datang sekarang." Dia merasa bersalah.
Padahal Nindi dan yang lainnya selalu membantunya dan siap siaga saat Ayun tertimpa masalah, tetapi dia sendiri malah tidak peduli saat wanita itu sedang sakit.
Nindi tersenyum saat mendengar pertanyaan Ayun. "Aku baik-baik saja, terima kasih sudah khawatir." Dia menggenggam salah satu tangan Ayun dengan erat, yang langsung dibalas oleh wanita itu.
Ayun lalu teringat dengan makanan yang dia bawa. Dengan cepat dia memberikan makanan itu kepada Abbas dan juga Keanu, lalu mempersilahkan mereka untuk menikmatinya.
Abbas menerima makanan itu dengan penuh suka cita, dia mengucapkan banyak terima kasih pada Ayun karena sudah repot-repot membawakan semua itu untuk mereka.
"Sama sekali tidak repot, Tuan. Silahkan dimakan, maaf kalau rasanya kurang enak," ucap Ayun dengan pelan. Untuk sesaat dia melupakan masalah panggilan Nindi tadi padanya, dan akan menanyakan hal itu pada Abbas nanti.
Setelah memberikan makanan pada Abbas, Ayun lalu beralih pada Nindi dan bertanya tentang kondisi kesehatan wanita itu saat ini. Juga menceritakan tentang hak lainnya yang bisa menghibur Nindi agar tidak merasa jenuh.
Beberapa saat kemudian, Ayun pamit untuk pergi ke ruangan sang ibu karena harus membicarakan masalah transplantasi yang akan dilakukan besok. Dia beranjak dari tempat itu sambil mengucap salam dan berlalu pergi ke ruangan ibunya.
"Kenapa Papa tidak memberitahukan masalah itu pada Ayun? Apa Papa takut dia tidak mau menerimanya?" tanya Nindi setelah Ayun keluar dari tempat itu.
Abbas menghela napas kasar. "Papa belum sempat mengatakannya, Nindi. Papa juga tidak tau bagaimana reaksinya saat mengetahuinya nanti." Dia menjadi gelisah.
__ADS_1
"Sama sepertiku, dia pasti akan merasa senang, Pa. Aku mohon katakan padanya sekarang juga, aku ingin segera memeluknya," pinta Nindi dengan sendu.
Abbas mengusap puncak kepala Nindi sambil menganggukkan kepalanya. Dia lalu beranjak pergi dari ruangan itu untuk menyusul kepergian Ayun.
Ayun yang saat ini sedang berjalan menuju ruangan sang ibu menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Sejak tadi dia terus bertanya-tanya alasan dibalik panggilan Nindi, padahal selama ini wanita itu selalu memanggil nama padanya.
"Kenapa tiba-tiba dia memanggil mbak?" gumam Ayun dengan bingung. "Aku jadi gak enak mau tanya sama tuan Abbas tadi." Dia berdecak kesal.
Sudahlah, Ayun memilih untuk melupakan semuanya. Anggap saja Nindi ingin menjadikannya kakak, itu sebabnya memanggil dengan sebutan seperti itu.
"Ayun!"
Langkah Ayun terhenti saat mendengar panggilan seseorang, dia lalu menoleh ke belakang dan terkejut saat melihat Abbas sedang berjalan ke arahnya.
"Tu-tuan Abbas?" Ayun menatap Abbas dengan heran dan bertanya-tanya.
"Maaf kalau menghalangi jalanmu, Ayun. Tapi, apa kita bisa bicara sebentar?" ucap Abbas dengan lirih, jantungnya sudah berdegup kencang saat ini.
Walau merasa bingung, Ayun menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan ajakan Abbas. Mereka lalu pergi ke kafe yang berada tepat di samping rumah sakit itu.
"Apa yang mau tuan Abbas bicarakan padaku, ya? Kenapa aku jadi merasa cemas?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1