
Keanu tersentak kaget saat mendengar ucapan sang mertua, dia menatap papa Abbas dengan tatapan tidak percaya.
"Apa, apa Papa bercanda?" tanya Keanu dengan tajam.
Abbas menggelengkan kepalanya. "Tidak peduli jika kau melanggar hukum atau melakukan sesuatu yang ilegal, yang pasti laki-laki itu bisa kau hancurkan. Lalu semua perbuatannya harus dibongkar di depan publik."
Keanu terdiam. Sungguh dia merasa sangat kaget dengan apa yang papa mertuanya katakan, tidak disangka jika papa Abbas sampai mengatakan hal seperti itu. Selama ini papa Abbas selalu menjunjung tinggi yang namanya kebenaran dan keadilan, bahkan tidak pernah sekali pun melakukan sesuatu yang melanggar hukum.
"Aku bisa saja melakukannya, Pa. Tapi nantinya akan membuat nama Papa menjadi buruk," ucap Keanu.
Abbas tersenyum, dia lalu menepuk bahu sang menantu dengan lembut. "Satu kesalahan tidak akan bisa menggores nama baik yang selama ini papa perjuangkan, dan tidak ada salahnya jika sekali-sekali melanggar hukum. Papa ingin lihat bagaimana reaksi teman-teman papa nanti."
Keanu menghela napas kasar saat mendengar ucapan sang mertua, begitu juga dengan Fathan yang merasa terharu karena Abbas bersedia untuk membantunya, bahkan sampai rela mengorbankan nama naik seorang mantan jenderal yang dihormati oleh semua orang.
Setelah selesai, Keanu dan Abbas beranjak pergi dari tempat itu. Mereka harus segera menyelesaikan semuanya sebelum pesta pernikahan Fathir dan Ayun berlangsung, karena jika semakin lama, maka dikhawatirkan Rian akan mencium rencana mereka.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun dan Fathir sedang menikmati makan siang. Tentu bukan hanya mereka berdua saja, tetapi ada Adel dan Faiz juga.
"Maaf aku terlambat," seru Ezra yang baru sampai ke tempat itu membuat semua orang menatap ke arahnya. Terlihat ada seorang wanita juga yang datang bersamanya.
"Ciye, mentanglah sama pacar!" ejek Adel sambil melirik ke arah Mayra, membuat gadis itu merasa malu.
Ezra langsung memberikan tatapan mautnya pada sang adik, tetapi Adel sama sekali tidak peduli dan malah menjulurkan lidahnya.
"Se-selamat siang Om, Tante. Maaf jika aku ikut ke sini," ucap Mayra dengan sungkan. Dia lalu menyalim tangan Ayun yang tersenyum ramah kepadanya, tidak lupa menyalim Fathir juga.
"Tidak apa-apa, Mayra. Ayo duduk, kita makan-makan sama!" ajak Ayun.
Mayra menganggukkan kepalanya lalu duduk di samping Adel, sementara Ezra duduk di antara Faiz dan juga Mayra.
Ezra segera memesan makanan dan minuman untuknya, tidak lupa untuk Mayra juga yang sedang berbincang dengan Adel.
Mereka lalu menikmati makan siang sambil mengobrol ria, yaitu membahas tentang pengumuman kelulusan beberapa saat yang lalu. Tentu saja Adel langsung pamer pada sang kakak karena sudah mendapat peringkat ketiga, tidak lupa meminta hadiah atas kelulusannya.
"Cih, dasar pembual. Tidak mungkin kau dapat peringkat ketiga," ucap Ezra tidak percaya.
Dengan cepat Adel membuka tasnya untuk mengambil hadiah yang diberi oleh kepala sekolah, tentu saja ada keterangan di hadiah itu bahwa dia peringkat ketiga.
"Lihat, mana mungkin aku bohong," seru Adel sambil menunjukkan hadiahnya. "Pokoknya aku minta hadiah tiket jalan-jalan ke Bali."
"Apa?" Ezra memekik kaget saat mendengar hadiah yang Adel inginkan, membuat Ayun terkejut dan langsung tersedak makanan yang ada dimulutnya.
__ADS_1
"Uhuk uhuk uhuk." Ayun terbatuk-batuk sampai membuat wajahnya memerah.
Dengan cepat Fathir memberikan segelas air pada Ayun dan langsung diminum sampai kandas tak bersisa. Wanita itu lalu memegangi dadanta yang terasa sakit, membuat tiga bocah kematian itu menatap khawatir.
"Maafkan aku, Bu," ucap Ezra, dia merasa bersalah karena sudah teriak dan membuat ibunya tersedak.
Ayun mengangguk sambil kembali mengambil air yang ada di atas meja, tenggorokannya terasa sakit karena tersedak tadi dan terus saja batuk
Fathir menepuk punggung Ayun dengan pelan untuk menghentikan batuk wanita itu, lalu beralih melayangkan tatapan tajam ke arah bocah-bocah itu.
"Habiskan makanan kalian dan jangan lagi ada yang bicara!" ucap Fathir dengan tajam dan penuh penekanan.
Ezra, Adel, dan Faiz mengangguk paham lalu dengan cepat menghabiskan makanan mereka. Begitu juga dengan Mayra yang ikut merasa takut dengan ucapan Fathir, padahal dia hanya diam sambil memperhatikan obrolan mereka.
Ayun yang sudah merasa lebih baik tampak melirik ke arah Ezra dan yang lainnya sambil menahan senyum. Raut wajah ke empat anak nakal itu sangat lucu, terlihat jelas jika mereka takut mendengar perintah dari Fathir.
"Ya Allah, mereka lucu sekali." Ingin sekali Ayun tertawa, tetapi dia tidak boleh melakukannya karena dalam situasi yang serius dan menegangkan. Dia lalu beralih melihat ke arah Fathir yang juga sedang melanjutkan makan siangnya, terlihat jelas gurat kemarahan diwajah laki-laki itu. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kita semua nanti tinggal serumah. Aku yakin jika rumah kita akan selalu ramai, dan aku tidak sabar melihat Fathir selalu marah karena tingkah anak-anak nakal itu." Wajahnya bersemu merah membayangkan momen itu.
Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah selesai menikmati makan siang dan suasana masih sama tegangnya seperti tadi.
"Apa setelah ini kau masih ada kegiatan, Ezra?" tanya Ayun.
Ezra menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu. Setelah ini aku akan mengantar Mayra pulang."
"Apa setelah ini kita juga langsung pulang, Pa?" tanya Faiz pada sang papa. Dia yang sudah biasa dimarahi oleh papanya tentu sudah kebal, berbeda dengan Adel yang merasa takut untuk kembali bicara.
"Tidak," jawab Fathir sambil menggelengkan kepalanya. "Papa ingin membawa kalian ke suatu tempat, ayo!"
Semua orang menatap Fathir dengan bingung, terutama Ayun yang tidak tahu ke mana laki-laki itu akan membawa mereka.
"Memangnya kita mau ke mana, Om?" tanya Adel. Dia yang sejak tadi diam merasa tidak tahan untuk bicara.
"Kau akan tahu nanti, Sayang. Ayo, kita ke mobil!" sahut Fathir sambil beranjak bangun dari kursi.
Walau merasa bingung dan terheran-heran, mereka tetap mengikuti apa yang Fathir ucapkan. Setelah semuanya naik ke mobil, mereka lalu melaju pergi dari tempat itu.
Sebelumnya Fathir sudah menyuruh supirnya Ayun untuk pulang duluan setelah selesai makan siang, jadilah mereka berada di satu mobil kecuali Ezra yang menaiki motor bersama dengan Mayra.
"Sebenarnya kita mau ke mana, Ez?" tanya Mayra sambil melingkarkan kedua tangannya dipinggang Ezra.
Ezra menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, 'kan Om Fathir tidak memberitahu kita tadi."
__ADS_1
Ah, benar juga. Mayra ikut menganggukkan kepalanya. "Tapi Om Fathir sangat keren sekali loh. Lihat tadi, dia sangat khawatir saat Tante tersedak makanan. Lalu tatapannnya itu seperti akan menelan kita hidup-hidup." Dia tergelak mengingat saat-saat menegangkan tadi.
Ezra berdecih. "Cih, tentu saja dia sangat bucin pada Ibu." Dia menghela napas kasar, lalu teringat akan satu hal. "Jadi, tipe laki-laki yang kau sukai seperti om Fathir?"
Mayra mengernyitkan kening bingung. "Hah, apa maksudmu?" Dia sama sekali tidak mengerti.
"Tadi kau bilang om Fathir sangat keren. Itu artinya kau suka dengan laki-laki sepertinya," jawab Ezra dengan ketus.
Mayra terdiam. Memang sih, dia berkata jika Fathir keren. Lalu memangnya ada wanita yang tidak suka dengan laki-laki modelan seperti Fathir?
"Kenapa, kau cemburu?"
"Tidak!" bantah Ezra dengan cepat, membuat Mayra tersenyum simpul. "Aku hanya bertanya saja."
"Kalau cemburu juga gak papa kok, aku kan suka dicemburui," seru Mayra. Dia lalu mengeratkan pelukannya membuat Ezra ikut tersenyum.
Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah sampai di tempat tujuan. Ayun dan yang lainnya terbebelak kaget saat melihat tempat yang mereka kunjungi.
"Wah, sudah lama sekali aku tidak ke sini," seru Adel dengan senyum merekah saat melihat wahana bermain, begitu juga dengan Faiz.
"Ayo turun, kita harus pulang sebelum maghrib, jadi waktu bermain kalian hanya sebentar!" ucap Fathir.
Adel dan Faiz mengangguk paham, mereka bergegas keluar dari mobil lalu menghampiri Ezra dan Mayra yang juga sudah sampai di tempat itu.
"Kenapa kita ke sini, Fathir?" tanya Ayun, dia tidak menyangka jika Fathir membawa mereka ke wahana permainan.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengajak anak-anak bermain,"
"Apa kau merasa bersalah karena sudah memarahi mereka?" tanya Ayun dengan tepat sasaran.
Fathir terdiam, dia memang merasa bersalah karena sudah membuat anak-anak Ayun merasa takut padanya.
"Tidak apa-apa. Tidak salah jika sesekali memarahi atau mengingatkan mereka, karena semua itu juga demi kebaikan."
Fathir menganguk paham, dia senang mendengar ucapan Ayun, dan perasaan bersalahnya sedikit berkurang.
"Tapi jangan sering marah-marah, nanti cepat tua loh."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.