Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 130. Operasi Terakhir.


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang Evan pikirkan, kedua orang tuanya murka saat dia membawa Sherly pulang, terutama sang ibu yang merasa tidak terima jika wanita itu tinggal bersama mereka.


"Ibu masih bisa menerima saat kau membawa anak itu. Tapi sekarang, ibu tidak sudi tinggal satu rumah dengan wanita licik dan jahat sepertinya," ucap Mery dengan sarkas.


Evan menghela napas kasar saat mendengar ucapan sang ibu, sementara Sherly terus menundukkan kepalanya dan tidak mengatakan apa-apa.


"Ibu, aku mohon dengarkan aku dulu," pinta Evan dengan lirih, dia harus memberikan pengertian pada ibunya tentang apa yang terjadi.


"Tidak, ibu tidak mau mendengar ucapanmu. Ibu juga tidak mau melihat wanita itu ada di rumah ini," tolak Mery dengan keras. Dia tetap bersikukuh tidak mau menerima keberadaan Sherly.


Evan menghela napas frustasi, harus bagaimana dia menjelaskan pada ibunya jika saat ini dia sedang terdesak? Dia lalu melihat ke arah sang ayah, berharap jika ayahnya memberikan sedikit pengertian.


Endri hanya diam dan tidak peduli dengan apa yang Evan lakukan, tetapi dia tidak mau jika laki-laki itu kembali membuat keluarganya malu.


Bruk.


Semua orang terlonjak kaget saat melihat apa yang Sherly lakukan, terutama Evan yang tidak menyangka jika wanita itu akan bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya.


"Maafkan aku, Ibu. Maafkan semua kesalahan yang telah aku lakukan," ucap Sherly dengan terisak, membuat Mery memundurkan tubuhnya.


"Aku tau jika sudah banyak membuat masalah, dan membuat keluarga ini malu. Sungguh aku sama sekali tidak berniat seperti itu." Lirih Sherly dengan suara parau.


Mery tersenyum sinis dengan apa yang wanita itu lakukan. "Kau pikir aku akan tertipu dengan akting murahanmu ini, hah?" Dia berucap dengan sarkas.


Sherly menggelengkan kepalanya untuk membantah ucapan Mery. "Tidak, Bu. Aku tulus mengatakan semua ini, aku bersimpuh di hadapan ayah dan ibu untuk memohon maaf," lanjut Sherly. Isak tangisnya semakin terdengar kuat.


Mery memalingkan wajahnya karena merasa enggan untuk melihat wanita itu, dia tetap tidak akan membiarkan wanita itu tinggal di rumah ini.


"Tolong beri satu kesempatan padaku untuk memperbaiki semuanya, Bu. Aku janji akan melakukan apapun perintah serta kemauan ayah dan ibu. Aku memohon ampunan pada kalian." Lirih Sherly. Dia terus memohon dan meminta agar orang tua Evan mengizinkannya tinggal.

__ADS_1


Mery menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Aku tidak peduli, pokoknya aku tidak mau-"


"Cukup, Ibu," potong Evan dengan cepat, membuat Mery menatap tajam. "Saat ini aku sedang ditimpa masalah besar, tapi kenapa ibu sama sekali tidak kasihan?" Dia menatap dengan sendu.


"Masalah, masalah apa yang kau maksud, Evan? Bukankah masalah itu berasal dari dirimu sendiri dan juga wanita itu?" tanya Mery dengan sarkas.


Evan terdiam saat mendengar ucapan sang ibu, dia lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan sebelum mengatakan tentang masalah yang dia rasakan.


"Sherly sudah tidak punya rumah lagi, Bu. Aku sudah menjual rumah itu, mobil, dan semua barang-barang berharganya karena aku tidak punya uang untuk modal dan bayar utang," ucap Evan dengan cepat.


Mery dan Endri merasa terkejut saat mendengar ucapan Evan. "Bukankah wanita itu juga yang sudah membuatmu rugi?" Dia ingat betul jika Sherly yang sudah mengambil berkas berharga milik Evan.


Evan menganggukkan kepalanya dengan tatapan sendu. "Lalu aku harus bagaimana lagi, Bu? Mereka akan menyita aset-aset berharga kantor jika aku tidak membayar utang, dan proyekku tidak bisa jalan jika aku tidak punya modal." Dia menjelaskan dengan getir.


"Belum lagi semua hartaku jatuh ke tangan Ayun, dan hanya sisa 30% saja yang menjadi bagianku. Lalu aku harus bagaimana lagi, Bu? Aku harus membawa dia ke mana?" tanya Evan dengan suara parau karena menahan tangis.


Tubuh Evan ikut terduduk di lantai karena merasa lelah dan frustasi dengan semua masalah yang terjadi, hingga membuatnya ingin menyerah dan pergi menghilang.


"Aku mohon, Bu. Sekali ini saja, aku mohon," pinta Evan kembali.


Mery mengepalkan kedua tangannya dengan bingung, dia lalu melirik ke arah sang suami yang malah asyik membaca koran. "Sudahlah, terserah kau saja!" Dia lalu berbalik dan beranjak masuk ke dalam kamar.


Evan menghela napas lega saat mendengar jawaban sang ibu, sementara Sherly juga tampak tersenyum tipis karena berhasil meyakinkan kedua orangtua Evan dengan ucapannya.


***


Setelah menjalani berbagai prosedur sebelum tranplantasi sumsum tulang belakang dilakukan, akhirnya hari ini Ayun dan Nindi akan menjalani operasi besar.


Kedua keluarga mereka menunggu dengan perasaan cemas dan gelisah. Tampak Hasna dan Yuni juga ada di depan ruang operasi, begitu juga dengan Ezra dan Adel yang merasa cemas dengan keadaan sang ibu.

__ADS_1


Sementara itu, Abbas dan Keanu juga berada di tempat itu dengan perasaan gelisah. Mereka terus berdo'a agar transplantasi sumsum tulang belakang itu berjalan dengan lancar.


Ayun yang sudah berada di ruang operasi bersama dengan Nindi terus menatap adiknya itu dengan sendu, beberapa tetes air mata tampak keluar dari sudut matanya.


"Ya Allah, aku serahkan hidup dan mati ini hanya kepada-Mu. Engkaulah yang maha pemilik atas semua kehidupan hamba. Jika Engkau masih memberikan umur yang panjang, maka lancarkan operasi kami ini, ya Allah. Tapi jika umur kami hanya sampai di sini, maka jangan biarkan kami merasakan bagaimana sakitnya sakaratul maut." Ayun memejamkan kedua matanya sambil mengucap basmalah sebelum operasi itu dilakukan.


Waktu terus berjalan dengan sangat cepat, tanpa terasa sudah 2 jam lamanya proses tranplantasi itu berlangsung. Semua orang tampak menundukkan kepala dengan terus berdo'a untuk keselamatan Ayun dan Nindi, sementara Adel yang merasa sangat cemas terisak dalam pelukan sang kakak.


"Jangan menangis, Del. Nanti ibu juga merasa lemah di dalam sana," ucap Ezra dengan lirih. Dia berusaha menenangkan sang adik walau hatinya sendiri merasa sangat cemas.


Abbas yang melihat Adel menangis segera menghampiri mereka berdua, membuat Angga yang duduk di samping mereka berpindah ke tempat lain.


"Jangan menangis, Sayang," ucap Abbas sambil mengusap air mata yang membasahi wajah Adel.


Adel menatap sang kakek dengan sendu. "Ibu, ibu akan baik-baik saja 'kan, Kek? Ibu akan kembali bersama kita 'kan?" Dia bertanya dengan suara parau.


Abbas menganggukkan kepalanya sambil berusaha mengulas senyum tipis. "Tentu saja, Sayang. Ibunya Adel 'kan wanita yang sangat kuat. Dia pasti akan berhasil dan kembali pada kita."


Adel langsung memeluk tubuh Abbas dengan erat, dan kembali berdo'a agar ibunya baik-baik saja.


Beberapa jam kemudian, lampu yang ada di atas pintu ruang operasi mati dan menandakan jika operasi sudah selesai dilaksanakan. Semua orang beranjak dari kursi dan mendekati pintu ruangan itu, begitu juga dengan Hasna dan Yuni yang duduk di atas kursi roda.


"Bagaimana keadaan mereka, Dokter?" tanya semua orang secara bersamaan pada saat Dokter keluar dari ruangan itu.


Dokter itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Operasi berjalan dengan baik dan lancar Tuan, Nyonya, dan Nona. Saat ini keadaan nona Ayun sangat stabil, dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Begitu juga dengan Nona Nindi. Walau detak jantungnya sangat lemah, tetapi sel-sel dalam tubuhnya merespon dengan baik, sehingga keadaan beliau juga sangat stabil."



__ADS_1



Selesai.


__ADS_2