Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 128. Limpahan Kabar Baik.


__ADS_3

Sella menggeram marah dan langsung membanting semua barang-barang yang ada di dalam rumah itu. Dia meluapkan emosi yang sedang menyelimuti hatinya, dan kenapa dia harus mengalami hal seperti ini?


Suci yang sejak tadi berada di dalam kamar perlahan membuka pintu saat sudah tidak mendengar suara keributan. Dia menatap omanya dengan bingung, apalagi melihat seisi rumah yang berantakan.


"Oma!" panggil Suci dengan lirih, membuat Sella langsung menatapnya dengan tajam.


"Apa, kau mau apa lagi, hah?" bentak Sella membuat Suci tersentak kaget dan langsung mengkerut takut. "Apa kau tau kalau gara-gara orang tuamu nasibku jadi seperti ini, hah?" Dia kembali berteriak sambil melemparkan vas bunga yang ada ditangannya membuat seluruh tubuh Suci gemetar ketakutan.


Suci yang baru saja keluar dari rumah sakit dan masih merasa lemas, benar-benar terguncang dengan apa yang Sella lakukan. Dia memeluk tubuhnya sendiri dengan takut, dan terisak tanpa suara.


"Apa-apaan kau?"


Sella terlonjak kaget saat mendengar suara teriakan seseorang, sontak dia melihat ke arah pintu di mana Evan sedang berdiri di tempat itu.


"Beraninya kau memarahi putriku seperti itu!" teriak Evan lagi dengan wajah merah padam, membuat Sella terdiam takut.


Evan lalu masuk ke dalam rumah itu dan segera menghampiri Suci yang meringkuk di bawah kursi, dengan menggunakan kaos tipis dan celana pendek sepaha.


"Suci, ini papa," ucap Evan dengan lirih, dia menatap putri kecilnya itu dengan sendu.


Suci tidak berani mengangkat kepalanya dan terus menunduk ketakutan. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, dengan tangis tertahan yang menyesakkan dada.


Evan langsung menggendong Suci dan memeluk putrinya itu dengan erat. "Jangan takut, Sayang. Ini papa, papa datang untuk menjemput Suci." Dia bisa merasakan tubuh Suci yang bergetar hebat.


"Pa-papa," ucap Suci dengan lirih.


"Iya Sayang, ini papa. Jangan takut lagi ya, papa ada di sini."


Suci langsung menangis dengan tersedu-sedu dalam pelukan sang papa karena sudah merasa aman dari amukan omanya, membuat Evan langsung menatap Sella dengan tajam.


"Kemasi barang-barangmu dan pergi dari rumah ini,"


"Apa?" Sella memekik kaget saat mendengar ucapan Evan. "Kau, kau mengusirku?" Dia bertanya dengan tidak percaya.

__ADS_1


"Ya, aku mengusirmu," jawab Evan dengan tegas. Dia benar-benar merasa murka dengan apa yang wanita itu lakukan terhadap putrinya. "Aku adalah pemilik rumah ini, jadi pergi sekarang juga dari hadapanku!"


Sella tercengang dengan pengusiran yang Evan lakukan padanya. "A-apa-apaan kau ini, hah? Aku adalah mertuamu, bagaimana mungkin kau mengusirku seperti ini?" Dia merasa tidak terima.


Evan tersenyum sinis saat mendengar ucapan wanita paruh baya itu. "Aku bukan mengusir mertuaku, tapi mengusir wanita jahat yang dengan teganya memarahi anak berumur 3 tahun seperti itu. Aku bahkan bisa melaporkanmu pada polisi atas tuduhan penyiksaan fisik, dan mental pada anakku."


Sella terkesiap saat mendengar ucapan Evan, tubuhnya bergetar takut saat laki-laki itu mengatakan tentang polisi. Lalu, bagaimana jadinya jika Evan tahu kalau dia yang sudah membuat Suci sakit?


"Ma-mama tidak sengaja melakukannya, Evan. Mama hanya-"


"Pergi sekarang juga dari rumah ini!" bentak Evan. Dia tidak bisa mentolerir kesalahan yang telah wanita itu lakukan.


Sella mengepalkan kedua tangannya dengan geram. "Kau jangan seenaknya saja, Evan. Aku jadi seperti ini karena perbuatanmu!"


Sella kembali mengungkit tentang perpisahannya dengan Abbas, membuat Evan benar-benar geram. Dengan cepat dia mengambil uang yang ada di saku jasnya, dan melemparkan uang tersebut tepat ke hadapan wanita itu.


"Ambil uang itu dan pergi sekarang juga, sebelum aku benar-benar melaporkanmu pada polisi," ancam Evan.


Sella menatap Evan dengan tajam dan penuh kemarahan, dia terpaksa menuruti kemauan laki-laki itu atau akan berakhir di kantor polisi seperti Sherly.


"Kau lihat saja, suatu saat nanti kau pasti akan membutuhkan bantuanku!" ucap Sella dengan tajam. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu sambil menyeret kopernya.


Evan menghela napas kasar dengan apa yang terjadi saat ini. Dia lalu menenangkan Suci yang masih merasa takut, dan beranjak pergi untuk membawa putrinya pulang ke rumah.


***


Beberapa hari kemudian, laporan tentang pemeriksaan yang Ayun lakukan sudah keluar. Saat ini, Abbas, Keanu, dan juga Ayun sedang berada di ruang Dokter untuk mengetahui hasilnya.


Dokter itu lalu memberikan beberapa lembar kertas kepada Abbas dan juga yang lainnya, agar mereka membacanya secara langsung.


"Ini, apa ini serius?" tanya Abbas dengan gemetar saat membaca hasil dari pemeriksaan Ayun.


Dokter itu menganggukkan kepala dengan tersenyum. "Semua hasil pemeriksaannya positif, Tuan. Itu artinya, sumsum tulang belakang nona Ayun cocok dengan sumsum tulang belakang nona Nindi."

__ADS_1


Tangis bahagia pecah diwajah Abbas, Keanu, dan juga Ayun saat mendengar ucapan Dokter. Mereka langsung mengucap syukur yang teramat besar kepada Allah atas hasil yang telah mereka terima saat ini.


"Terima kasih, Nak. Terima kasih," ucap Abbas dengan berlinang arti mata. Dia tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Ayun saat ini, karena hanya wanita itu yang bisa membantu Nindi.


Sama halnya dengan Abbas, Keanu juga mengucapkan terima kasih yang teramat besar pada Ayun. Dia berjanji pada dirinya sendiri jika akan selalu melindungi dan menjaga wanita itu layaknya seorang adik, dan juga akan mengganggap Ezra serta Adel sebagai anaknya sendiri.


"Jangan berterima kasih padaku Pa, Ken. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk adikku, dan aku merasa bahagia dengan hasil pemeriksaannya," ucap Ayun dengan lirih. Dia lalu memeluk tubuh sang papa dengan erat dan sama-sama menangis bahagia.


Dokter yang ada di ruangan itu juga tidak kuasa menahan keharuannya. Dia ikut senang dengan hasil pemeriksaan Ayun, karena selama ini dialah yang merawat Nindi dan berusaha keras untuk menyembuhkannya.


"Saya harap nona Ayun bisa menjaga pola makan dan aktivitasnya agar tidak kelelahan. Juga perubahan emosi, jangan sampai Anda merasa stres dan tertekan. Karena semua itu dapat mempengaruhi kesehatan Anda," ucap Dokter itu menjelaskan.


Ayun langsung menganggukkan kepalanya. "Baik, Dokter. Saya akan berusaha keras untuk menjaga kesehatan saya."


Dokter itu tersenyum senang saat mendengarnya. Dia lalu menjelaskan prosedur apa saja yang harus dilalui sebelum transplantasi sumsum tulang belakang dilakukan, agar semua persiapan dan prosesnya nanti berjalan dengan lancar.


Setelah selesai mendengarkan penjelasan Dokter, Ayun dan kedua lelaki itu beranjak keluar dari ruangan. Dia dan Abbas lalu pergi ke ruangan Hasna untuk memberitahu kabar baik itu, sementara Keanu tetap setia menemani sang istri di ruang ICU.


"Alhamdulillah."


Semua orang mengucap syukur saat mendengar kabar baik yang Ayun katakan, mereka turut senang karena Ayun bisa membantu Nindi agar cepat pulih dan sehat kembali.


Tidak berselang lama, Dokter Arya masuk ke dalam ruangan itu untuk melakukan pemeriksaan terhadap Hasna dan juga Yuni. Dia turut bahagia saat mendengar kabar kecocokan sumsum tulang belakang antara Ayun dan juga Nindi.


"Sepertinya kabar baik ini bukan hanya untuk Nona Nindi dan Buk Ayun saja, tapi juga untuk Buk Hasna dan juga Buk Yuni," ucap Dokter Arya membuat semua orang menatap bingung.


"Dari hasil pemeriksan pasca operasi, keadaan Buk Hasna dan juga Buk Yuni membaik dengan cepat. Tidak ada infeksi, pendarahan, atau pun gagal ginjal yang terjadi. Itu sebabnya, Buk Hasna dan juga Buk Yuni sudah diperbolehkan pulang lusa mendatang."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2