Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 61. Mencari Rumah Baru.


__ADS_3

Ezra semakin menajamkan pandangannya saat melihat seorang wanita berambut coklat, sambil menenteng tas ke arah sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan. Dengan cepat dia segera turun dari motor tanpa melepas helmnya, dan berjalan dengan sembunyi-sembunyi saat melihat wanita itu sangat mencurigakan.


Wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sherly melihat ke sana kemari untuk memastikan jika di tempat ini tidak akan ada yang mengenalinya. Dia segera mengetuk kaca mobil yang ada di sampingnya, dan tidak berselang lama orang yang ada di dalamnya turun dari mobil tersebut.


Deg.


Ezra yang berada tidak jauh dari mereka mengintip dari balik pohon jengkol, entah kenapa Sherly terlihat sangat mencurigakan karena selalu melihat ke kanan dan kiri seperti takut ada orang lain yang melihat perbuatannya.


"Loh, dia kan?" Mata Ezra semakin membulat sempurna saat melihat seseorang yang baru saja keluar dari mobil itu. Wanita yang baru semalam bertemu dengan mereka, yaitu Nia, istrinya Burhan (burung hantu).


"Apa yang mereka lakukan di sini?"


Ezra semakin merasa penasaran, dia lalu memajukan langkahnya untuk berpindah kepohon yang lain. Sebenarnya bukan karena merasa penasaran saja, tetapi karena tidak tahan dengan bau yang menyengat dari pohon tersebut.


"Cepat juga kau yah, seneng rasanya berbisnis denganmu," ucap Nia dengan senyum lebar membuat Sherly membuang muka kesal.


"Tapi kau tidak menipuku kan?" tanya Nia dengan tatapan curiga.


Sherly berdecak kesal saat mendengarnya. "Kau bisa periksa sendiri apa yang ada di dalamnya, tapi jangan coba-coba untuk menggangguku lagi!" Dia berucap dengan penuh penekanan. Dia benar-benar tidak ingin berhubungan lagi dengan wanita sepertinya.


"Baiklah," ucap Nia sambil mengambil sesuatu yang ada di dalam saku jaketnya. "Ambillah." Dia memberikan sebuah amplop berwarna coklat yang diterima dengan penuh tanda tanya oleh Sherly.


"Apa ini? Aku tidak ingin apapun darimu," ucap Sherly dengan ketus. Apa wanita itu berpikir bahwa dia akan luluh hanya karena uang?


"Aku memberimu uang 50 juta, kau tidak mau?"


Sherly terdiam saat me dengar nominal uang yang ada dalam amplop coklat itu. "Ke-kenapa kau memberiku uang?" Dia bertanya dengan curiga dan kedua mata menyipit.


"Karna aku kasihan melihatmu sebagai istri kedua. Kau pasti tidak puas kalau mau pakai uang kan?" tanya Nia, tetapi suaranya di penuhi dengan nada cibiran dan ejekan.


Sherly kembali diam. Gara-gara Ayun memakai kartu kredit Evan semalam, jadi dia yang terkena imbas dengan tidak mendapatkan uang. Pas sekali dia memang ingin membeli sesuatu yang berkilauan, pasti akan sangat cantik dipakai pada saat pesta salah satu temannya.


"Jadi aku benar-benar tidak mau? Padahal aku sudah-"


"Ba-baiklah, aku akan mengambilnya. Tapi setelah ini aku tidak mau lagi berhubungan denganmu, aku tidak peduli apa pun yang kau lakukan," ucap Sherly dengan penuh penekanan yang dijawab dengan anggukan kepala Nia.


Cekrek.

__ADS_1


Cekrek.


Cekrek.


Sudah lebih dari 10 foto yang diambil oleh Ezra dengan berbagai gaya dan dari berbagai sisi, dia sampai merasa seperti seorang fotografer sangking bagusnya foto yang dia ambil.


"Aku tidak tau apa yang Sherly berikan pada wanita itu, dan aku juga tidak terlalu jelas mendengar obrolan mereka. Tapi aku yakin fofo-fofo ini suatu saat nanti akan sangat berguna," gumam Ezra.


Kemudian dia memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu sebelum ada yang melihatnya. Ezra segera naik ke atas motor dan segera berlalu pergi dari sana dengan kecepatan kencang yang membelah keramaian saat ini.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun sedang duduk di taman yang ada di samping rumah sakit bersama dengan Abbas. Dia yang akan pamit pulang karena harus bertemu dengan pengaraca, di tahan oleh Abbas karena laki-laki paruh baya itu ingin membicarakan sesuatu


Akhirnya mereka pergi ke taman yang ada di samping rumah sakit. Terlihat ada beberapa orang pasien yang sedang duduk di atas kursi roda tampak berlalu-lalang, juga ada beberapa orang tua dan anak-anak kecil yang berlarian di tempat itu.


"Jadi, apa yang ingin Tuan katakan pada saya?" tanya Ayun setelah terdiam beberapa saat di tempat itu.


"Nindi, putriku terkena leukimia akut,"


"A-apa?" pekik Ayun dengan tidak percaya. Matanya membulat sempurna, dengan tatapan yang terlihat tidak percaya.


Abbas menghela napas kasar, keriput yang ada diwajahnya semakin terlihat jelas jika sedang menekuk wajah seperti ini. "Mamanya Nindi meninggal pada saat dia masih berumur 10 tahun, dan meninggal karena terkenal Leukimia akut, dan Nindi mendapatkan penyakit itu karena turunan dari mamanya." Lirihnya. Terlihat jelas gurat kesedihan dan suaranya yang bergetar.


"Aku tidak pernah berharap apapun dalam hidupku, aku hanya berharap semoga Nindi selalu bahagia sampai diakhir napasnya. Hanya itu," ucap Abbas. Matanya sudah basah, diiringi dengan helaa napas yang terasa bergetar.


"Insyaallah, insyaallah Nindi akan selau bahagia dalam hidupnya. Dia punya ayah yang sangat hangat dan penuh kasih sayang, juga suami yang sangat mencintai dan perhatian padanya. Aku bahkan selalu melihat kebahagiaan disetiap pancaran matanya," ucap Ayun dengan pelan, tetapi penuh dengan penekanan yang mengartikan bahwa apa yang dia ucapkan adalah benar.


"Syukurlah, syukurlah jika dia merasa bahagia." Lirih Abbas. Dia lalu mengusap wajahnya yang basah terkena air mata, dia harus menghilangkannya atau Nindi akan memarahinya kareta menangis.


Ayun tersenyum saat melihat apa yang Abbas lakukan. Walau laki-laki paruh baya itu terlihat, keras, tegas, dan juga kaku. Namun, perhatian dan kasih syaangnya terhadap orang-orang yang ada disekitarnya benar-benar sangat luar biasa, bahkan Ayun yang bukan siapa-siapa saja merasakan betapa baik dan hangatnya hati Abbas.


Setelah itu, Ayun pamit untuk bertemu dengan pengacara di salah satu kafe yang berada tidak jauh dari rumah sakit itu. Mereka harus membahas apa-apa saja yang harus dilakukan atau katakan saat persidangan nanti.


Ayun melangkah cepat untuk masuk ke dalam kafe tersebut. Terlingat Bram duduk di sudut tempat itu membuat dia langsung menghampirinya.


"Selamat sore, Tuan," sapa Ayun membuat Bram langsung menganggukkan kepalanya.


"Selamat sore juga, Buk Ayun," balas Bram dengan senyum manis diwajahnya.

__ADS_1


Kemudian mereka langsung membahas apa-apa saja yang akan dibahas dalam persidangan nanti. Juga tuntutan tuntutan yang akan dibacakan secara langsung.


"Hari ini pihak tergugat sudah menerima surat panggilan dari pengadilan, kemungkinan besok dia akan memenuhi panggilan mereka. Jadi kita harus bersiap," ucap Bram memberitahu.


Setelah pertemuan itu selesai, Ayun segera melangkah kakinya untuk pulang ke rumah Nayla. Namun, dia memilih untuk singgah sebentar ke salah satu rumah yang katanya sedang disewakan.


"Permisi, Pak, Buk," ucap Ayun untuk memanggil sang penghuni rumah. Matanya memperhatikanan sekekitar rumah yang tampak bersih dan nyamana.


Tidak berselang lama, keluarlah pemilik dari rumah yang akan disewakan itu membuat Ayun langsung tersenyum padanya.


"Silahkan masuk, Buk. Anda bisa melihat-lihat dulu isi dari rumah ini," ucap wanita itu.


Ayun mengucapkan terima kasih lalu masuk ke dalam rumah tersebut untuk melihat bagaimana bagian dalamnya. Rumah itu terdiri dari 2 kamar, 1 ruang ramu, 1 ruang telvisi yang me tersambung dengan dapur. Juga ada 2 kamar mandi, lalu ada teras juga di bagian depan dan bagian belakangnya.


Ayun mengangukkan-anggukkan kepalanya karena merasa cocok dengan rumah ini. Lokasinya yang dekat dari restoran dan sekolah Adel memudahkan mereka untuk ke sana kemari.


Setelah merasa cocok dengan rumah dan juga harganya, Ayun segera menguarkan sejumlah uang untuk menyewa rumah itu sampai 3 bulan ke depan.


Ayun lalu beranjak pulang setelah menyelesaikan semua urusan rumah, agar malam nanti atau pun besok mereka sudah menempati rumah tersebut.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Evan baru saja pulang dari kantor. Dia melangkah gontai untuk masuk ke dalam rumah. Namun, langkahnya terhenti saat melihat ada sebuah amplop berwarna putih yang tergeletak di bawah pintu rumahnya.


Dia segera mengambil amplop itu lalu membaliknya untuk melihat siapa yang sudah mengirimkan.


Deg.


Mata Evan membulat sempurna saat melihat tulisan nama yang tertera di amplop itu, juga ada logo yang sangat jelas bahwa amplop itu berasal dari pangadilan agama.


Evan segera membukanya dengan dada berdegup kencang dan tangan yang gemetaran. Lalu dia membaca semua yang ada di dalam surat itu sampai tiba-tiba ada rasa sakit yang menjalar dihatinya.


"Kau benar-benar mau menceraikanku, Ayun."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2