
Evan dan Sherly terlonjak kaget dengan kedua mata terbuka lebar saat melihat Suci tersungkur di atas lantai. Bagaimana tidak, gadis kecil itu berada tepat di balik pintu dan dengan tidak sengaja Evan membuka pintunya dengan kuat. Alhasil Suci terpelanting ke lantai.
"Ya Tuhan, Suci!" pekik Evan sambil menghampiri Suci yang tergeletak di atas lantai, begitu juga dengan Sherly yang sangat cemas dan panik saat melihat putrinya.
"Aku enggak mau!" teriak Suci tiba-tiba saat Evan dan Sherly akan menyentuhnya, tentu saja reaksinya itu membuat kedua orang tuanya terkesiap.
"Sayang, ini mama. Lihat, mama datang untuk menjemputmu," ucap Sherly dengan pelan. Akhir-akhir ini Suci memang selalu seperti ini, jadi dia harus tetap tenang dan lembut dalam menghadapinya.
"Aargh!" Suci kembali berteriak dengan kuat sambil menutup kedua telinga, tidak peduli jika saat ini kedua orang tuanya sedang berada tepat di hadapannya.
"Suci, Nak!" panggil Evan sambil berusaha meraih Suci, tetapi tangannya langsung di tepis oleh putrinya itu.
Suci lalu mengambil berbagai barang-barang yang ada di atas meja dan melemparkannya ke arah Evan dan Sherly, membuat mereka yang tadinya bersimpuh terpaksa beranjak bangun.
"Suci, ini mama, Sayang. Ini mama, lihat ke si- aargh!" Sherly memekik sakit saat sebuah vas bunga mengenai bahunya, dan yang melemparnya adalah Suci.
Suci terus melemparkan barang-barang yang ada di dalam kamar itu dengan wajah sangat menyeramkan. Kedua matanya melotot lebar, alisnya menajam, dan pandangan matanya penuh dengan kemarahan dengan seluruh tubuh menegang.
"Hentikan, Suci. Ini papa dan mama," ucap Evan sambil berusaha untuk menenangkan Suci.
Dengan cepat Evan memeluk tubuh Suci saat berhasil mendekati putrinya itu, tetapi Suci tetap memberontak dan berteriak-teriak seperti orang kesetanan.
"Suci," gumam Sherly dengan terisak. Untuk pertama kalinya dia melihat putrinya mengamuk sampai seperti ini.
Mery dan Endri yang sejak tadi ada di tempat itu juga sangat syok saat melihat apa yang terjadi, dengan cepat Endri mengambil ponselnya yang ada di dalam saku untuk menghubungi petugas rumah sakit. Dia merasa ada yang salah dengan Suci saat ini.
"Tenanglah, Nak. Ini papa, Sayang. Ini papa."
Evan tetap berusaha untuk menenangkan Suci, tetapi gadis kecil itu tetap berteriak-teriak dengan tubuh gemetaran dan urat-urat yang menonjol ke seluruh permukaan kulit.
"Aargh. Hah, hah. Arggh!"
"Ya Allah, Suci!" pekik Evan dengan kuat saat Suci mengalami kejang.
Tubuh Sherly langsung terjatuh ke lantai saat melihat apa yang terjadi pada Suci, sementara kedua orang tua Evan bergegas menghampiri mereka.
Mery segera membuka seluruh pakaian Suci dan hanya menyisakan celana saja, dia mencoba memiringkan tubuh gadis kecil itu agar organ pernapasannya tidak terganggu.
__ADS_1
"Suci, apa, apa yang terjadi, Nak?" tanya Evan dengan wajah panik dan tubuh gemataran. Untuk pertama kalinya dia melihat Suci mengalami kejang seperti ini, bahkan Ezra dan Adel dulu tidak pernah mengalaminya.
Mery berusaha untuk menenangkan Evan dan menyuruh agar terus memanggil Suci, begitu juga dengan Sherly yang sudah terisak pilu melihat keadaan putrinya.
Tubuh Suci mulai membiru dengan kedua mata mendelik ke atas, membuat semua orang bertambah panik dan cemas. Mereka bahkan sudah berderai air mata melihat keadaannya, dan kini napasnya juga mulai tersengal-sengal.
Tidak tahan hanya berdiam diri, Evan langsung mengangkat tubuh Suci yang sudah mulai terasa dingin. Air matanya tidak bisa dibendung lagi, dia terus memanggil Suci sambil melangkahkan kakinya untuk membawa Suci ke rumah sakit.
Begitu sampai di teras rumah, bertepatan dengan datangnya ambulance yang langsung membawa tubuh Suci dan membaringkannya di atas banker.
Petugas medis segera memberikan pertolongan pertama untuk Suci sebelum terlambat, dan supir bergegas melajukan ambulance itu menuju rumah sakit.
Evan dan Sherly turut ikut bersama dengan Suci. Sepanjang perjalanan, mereka terus menangis dan berdo'a agar tidak terjadi sesuatu dengan putri mereka.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Adel dan Faiz sedang bersiap-siap untuk pulang karena bel terakhir sudah berbunyi.
"Tunggulah di depan, aku mau ambil motor dulu," ucap Faiz sambil berjalan ke meja Adel, jelas saja ucapannya itu membuat semua siswa menjadi heboh.
Adel hanya diam sambil memasang wajah kesal. Kenapa sih, Faiz harus berkata seperti itu di hadapan semua orang? Membuat dia kesal saja.
Adel menghela napas kasar. "Enggak kok. Udah ah, aku pulang dulu." Dia bergegas keluar dari ruangan itu sebelum siswa lain bertanya-tanya padanya.
"Cih, dia benar-benar menyebalkan," gumam Adel dengan geram. Dia terus melangkahkan kakinya walau banyak pasang mata yang memperhatikan, terutama para gadis yang menyukai Faiz.
Faiz sendiri sedang mengambil motornya yang ada di parkiran. Dia segara menaiki kuda besi itu dan melajukannya untuk menemui Adel.
"Ayo, naik!" ajak Faiz saat sudah berhenti di hadapan Adel.
Adel terdiam dengan tatapan tajam. "Aku tidak mau, aku akan pulang dengan taksi!" Tolaknya sambil berjalan ke arah jalan raya.
Tadi Adel sudah menghubungi pak Komar supaya tidak menjemputnya karena berniat untuk pulang bersama Faiz. Akan tetapi, ternyata keputusannya itu salah karena membuat semua perhatian murid terhunus padanya.
"Kenapa naik taksi, aku 'kan mau ke rumahmu juga?" tanya Faiz dengan heran. Dia segera turun dari motor dan menyusul langkah Adel. "Tunggu, Adel. Ada apa denganmu sih?" Dia menarik tangan gadis itu.
"Lepaskan!" Adel mengibaskan tangan Faiz. "Apa kau tidak sadar kalau semua orang memperhatikan kita? Lihat, semua orang sedang menatap kita dengan tajam." Dia menunjuk ke arah orang-orang yang memang sejak tadi memperhatikan mereka.
Faiz menghela napas frustasi. "Aku tidak peduli dengan mereka. Jadi cepat ikut aku sekarang juga atau kau kugendong."
__ADS_1
"Apa?"
Faiz langsung menarik tangan Adel untuk kembali ke tempat di mana motornya berada, membuat gadis itu tidak bisa lagi berkutik.
Adel mencebikkan bibirnya dan terpaksa naik ke atas motor Faiz. Setelah siap, Faiz melajukan motor itu dengan kencang karena geram dengan tingkah Adel tadi.
"Dasar anak-anak, susah kali di atur," gerutu Faiz dalam hati.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah sampai di halaman rumah Ayun dan langsung disambut oleh Ezra yang kebetulan baru saja pulang dari kampus.
Lagi-lagi keributan terjadi karena Faiz terlalu kencang melajukan motornya, membuat hijab Adel berantakan ke mana-mana.
"Dasar pembalap liar! Lihat, jilbabku jadi rusak 'kan gara-gara kau!" ucap Adel dengan ketus.
Faiz mengendikkan bahunya dengan tidak peduli, salah sendiri Adel tidak mau memakai helm padahal dia sudah memberikannya.
Ezra yang melihat keributan itu hanya menghela napas kasar. Tentu saja dia tahu jika Faiz akan datang ke rumahnya, bahkan dia jugalah yang pagi tadi direpotkan oleh bocah itu.
"Tadi pagi sibuk nanya apa aja makanan kesukaan Adel, sekarang ribut gara-gara naik motor. Hah, tidak bisa terbayangkan kalau sampai aku harus tinggal bersama dengan mereka berdua." Ezra menggelengkan kepala, hidupnya pasti tidak akan pernah tenang jika dua bocah berisik itu hidup bersamanya.
"Loh, Faiz, Adel. Kalian sudah pulang?" tanya Ayun membuat keributan mereka berdua terhenti. "Kau juga sudah pulang, Ezra?"
Ketiga orang itu menoleh ke arah Ayun dengan serentak. "Baru aja sampai, Bu." Ezra segera menyalim tangan sang ibu, begitu juga dengan Adel dan Faiz.
Ayun mengangguk paham. "Ya sudah. Sana masuk dan istirahat, ajak Faiz masuk juga. Ibu mau ke rumah sakit sebentar."
"Ikut!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1