
Hari menjelang sore. Siti sedang nonton tv di kamar sambil duduk di sofa. Di tangan kirinya satu kotak martabak manis dan di tangan kanannya sepotong martabak yang tinggal setengahnya. Mulutnya sibuk mengunyah. Sambil tersenyum terkadang tertawa melihat acara di tv.
Rey masuk ke dalam kamar lalu menggeleng setelah melihat apa yang sedang di kerjakan istrinya itu. Dia lalu duduk di sofa di sebelah istrinya.
"Yank,siapa yang beliin martabak?" Tanya Rey.
Siti menoleh sebentar lalu kembali menatap layar tv. "Ooh ini tadi aku minta beliin sama pak satpam,mas." Jawab Siti.
"Beli berapa kotak?"
"Beli dua kotak,mas. Satu aku simpan di meja makan,satunya ini." Tunjuknya ke sekotak martabak yang ada di tangannya.
Sekotak di makan sendiri? Batin Rey sambil menggeleng. "Yank,mas minta ya?"
Siti menoleh lalu menatap suaminya. "Hmm,bukannya mas tidak suka martabak manis?" Tanya Siti heran.
"Sepertinya enak deh,mas mau coba,yank." Jawab Rey. Dia mengambil sepotong martabak dan mulai mengunyah. Terpaksa ikut makan daripada kamu yang habisin semua. Batin Rey. Dia menelan paksa makanan yang tidak di sukainya itu. Terlalu manis.
"Suka,mas?" Tanya Siti.
"Ehmm? Suka kok yank! Enak banget. Mas minta lagi ya?" Ucap Rey yang langsung mengambil satu potong lagi.
Hingga empat potong,Rey merasa perutnya tidak enak. Tapi dia mengambil satu potong lagi kerena di lihatnya masih ada dua potong martabak. Lumayan mengurangi lima potong. Batinnya. Setelah habis,Rey buru-buru minum.
"Ternyata mas suka juga ya." Ucap Siti. "Hmm,habis." Siti lalu menaruh kotaknya ke atas meja.
"Sudah kenyang,yank?" Tanya Rey.
"Hmm,biasa saja mas." Jawabnya sambil tersenyum ke arah tv.
"Oh ya,mas sama pak Fadil rencananya mau keluar nanti malam,yank. Kamu di rumah saja ya?"
Siti menatap suaminya itu. "Berdua saja,mas?"
"Iya yank,kita mau cari tempat fitnes biar bisa bareng." Terang Rey.
"Buat apa fitnes,mas?"
"Ya biar sehat donk,yank. Biar perut mas sixpack,seperti dulu." Jawab Rey sambil tersenyum bangga.
"Sixpack? Apa tuh?"
"Itu loh yank,seperti atlit. Perutnya kotak-kotak gitu loh." Terang Rey.
"Hmm,aku tidak pernah lihat perut orang lain selain perut mas dan Seno. Jarang nonton tv juga."
Hhhh. Rey menarik nafasnya. Istriku ternyata lebih lugu dari yang aku duga. Batin Rey. "Pokoknya badannya jadi bagus yank,tidak kurus dan juga tidak gendut. Keren pokoknya deh!" Terang Rey dengan bangga.
"Hmm,buat apa keren-keren sih mas? Biar ada perempuan yang suka ya?" Tanya Siti dengan nada cemburu.
"Iya donk! Biar perempuan mas makin sayang dan lengket terus!" Terang Rey.
"Perempuan mas? Jadi mas punya perempuan ya?" Siti mulai bicara dengan nada tinggi.
Hhhh. Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Perempuan mas itu ya kamu,sayang!"
"Hmm,masa sih? Kenapa juga mesti di keren-kerinin segala."
"Yah kan biar kamu makin sayang dan lengket sama mas!"
__ADS_1
"Ahh bohong! Alasan saja. Memangnya sayang aku kurang ya?" Siti mulai ngambek.
"Iya,memang!"
"Hhaahh? Kata siapa?"
"Kata mas."
"Iiih,suka asal deh. Jujur saja deh biar ada perempuan di luar sana yang suka sama mas. Aku di jadiin alasan." Siti makin ngambek.
"Yah,buktinya kamu sekarang susah banget mas dekati. Alasan capeklah,ngantuklah."
"Iiihh alasan apa lagi tuh? Semalam sudah berapa kali kan." Ucap Siti yang wajahnya mulai memerah mengingat semalam kalau dia yang agresif.
"Yah,kan baru semalam,terus cuek lagi sama mas."
"Iihh mas ini!" Siti memukul-mukul lengan suaminya. "Kalau aku cuek kenapa sampai langsung hamil lagi,coba!"
"Hmm,kan mas bilang akhir-akhir ini kamu tuh selalu cari alasan kalau mas minta."
"Oooh,jadi maksudnya mas mau cari lagi. Iya? Biar kalau mas minta,ada yang bisa kasih. Gitu?" Siti tambah emosi.
"Kok jadi kesana sih ngomongnya?"
"Alasannya di buat-buat. Bilang saja biar ada perempuan lain yang mau!" Siti bangkit dan berlalu meninggalkan Rey yang bingung.
Siti naik ke kasur dan langsung tidur miring membelakangi suaminya yang berjalan ke arahnya.
"Kamu kenapa sih yank?"
"Yank?"
Rey meraih bahu istrinya lalu hendak membalik badannya. "Fitnes saja sana. Mau cari berapa pun terserah." Ucap Siti seperti sedang menahan tangisnya.
"Aku tau kok,mas bisa dapet yang lebih dari aku. Jauh lebih dari aku. Mau sepuluh juga bisa."
Yah,kalau cemburunya kumat,gini ni. Ucap Rey dalam hati. "Kamu satu saja mas kecapekan apalagi sepuluh,yank." Ucap Rey sambil tersenyum. "Kalau kamu seperti semalam terus,mas tidak akan fitnes deh." Bisik Rey membuat wajah istrinya itu memerah.
"Yank?"
"Yank?" Rey memeluknya dari belakang. " Nanti malam lagi ya? Apa sekarang saja mumpung Putri lagi tidur di bawah sama mama,hmm?" Rayu Rey yang mulai menciumi rambut Siti yang panjang.
Kok diem sih,jangan-jangan tidur lagi. Batin Rey. Dia lalu menghadap ke arah istrinya itu.
"Yank,kirain tidur kok diem?"
Siti malah memejamkan matanya tidak berani menatap mata suaminya.
"Yank,sekarang apa nanti malam?" Bisik Rey lagi.
Siti masih tidak mau menjawab.
"Hmm,sekarang saja ya." Ucap Rey lalu turun dari kasur.
Siti langsung membalik badannya menatap suaminya yang malah meninggalkannya. Katanya sekarang kok malah pergi. Ucap Siti dalam hati.
Ternyata suaminya itu sedang mengunci pintu kamar lalu berbalik lagi ke arahnya dan naik ke kasur.
"Kenapa menatap mas seperti itu yank? Tidak sabar ya?" Goda Rey.
__ADS_1
Siti membalik badannya lagi.
"Loh,yank? Hmm,ya sudah kalau gitu mas mau fitnes saja deh!" Ucap Rey lalu hendak turun dari kasur.
"Hmm,mas!" Panggil Siti lalu memegang tangan suaminya.
"Mas tidak mau maksa loh,yank! Tidur saja tidak apa-apa kok!"
"Iihh mas ini. Ngambek ya?"
"Hmm,masa mas ngambek sih."
"Terus kenapa pergi?"
"Lah kamunya tidak mau masa mas maksa?"
"Hmm,mas ini. Biasanya kan mas yang mulai." Siti protes.
"Mas mau yang seperti semalam,yank!" Bisik Rey membuat wajah Siti memerah.
"Dasar nyebelin!" Gerutu Siti.
Dengan malu-malu Siti mendekat ke suaminya. Mulai mencium dahi,mata,hidung,pipi dan terakhir bibir. Lebih lama dan dalam sampai Siti kehabisan nafas lalu menjauhkan wajahnya. Rey tersenyum. "Nafas dulu,yank!"
Setelah rileks kembali,seperti kemauan suaminya,Siti yang memulai terlebih dahulu. Dengan mengesampingkan rasa malunya dia mulai menggoda suaminya. Tidak apalah toh suamiku sendiri daripada dia cari yang lain. Batin Siti.
Setelah setengah jam,aktivitas mereka terhenti saat ada yang mengetuk kamar.
Tok tok.
Siti menatap suaminya. "Mas?"
Rey menggeleng. Siti pun diam menurut saja.
Tok tok.
"Den,non. . ." Suara bibi memanggil.
Rey merebahkan tubuhnya sedangkan Siti langsung duduk. "Aku bukain pintu ya mas?"
"Hmm. Mas mandi duluan ya yank!" Rey ikutan duduk. "Terimakasih yank." Bisik Rey sambil mengecup pipi istrinya kemudian segera berlalu ke kamar mandi.
Siti tersenyum lalu buru-buru mengenakan lagi pakaiannya dan segera membukakan pintu. "Ada apa bi?"
"Itu non,ada tuan Fadil nyariin den Rey." Jawab bibi.
"Ayahnya Cinta?" Tanya Siti.
"Iya non."
"Hmm,suruh tunggu ya bi. Mas Rey sedang mandi." Ucap Siti.
"Iya non." Bibi segera meninggalkan kamar Siti.
Mas bilang tidak jadi fitnes kok ayahnya Cinta masih kesini? Batin Siti. Wajahnya terlihat kesal.
Siti lalu berjalan ke kamar mandi. Ceklek. Pintu tidak di kunci. Rey yang sedang mandi kaget dan langsung menoleh. "Yank? Bikin kaget saja!" Protesnya. "Mau bareng ya?" Tanyanya dengan senyum semringah. Tapi Siti malah cemberut lalu keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya keras-keras.
"Loh,kenapa ngambek lagi?" Gumam Rey heran.
__ADS_1
NEXT
3006/1455