
Aaron segera melajukan mobilnya ke rumah. Setengah jam kemudian dia sudah sampai rumah dan langsung pergi ke kamar Romi.
Ceklek. Aaron langsung masuk ke kamar abangnya.
"Aaron,bagaimana Ratna?" Tanya Romi saat Aaron baru saja masuk kamarnya.
"Bang,kak Ratna keguguran." Terang Aaron.
Wajah Romi langsung pucat. "A-apa?" Tiba-tiba dadanya terasa nyeri.
"Hhmm,semua salahku,bang." Ucap Aaron penuh penyesalan.
"Kenapa salah kamu?"
Hhh,Aaron menarik nafasnya berat. "Aku sudah membiarkan kak Ratna setiap hari membantu abang bolak balik kursi roda tanpa berpikir kalau itu bahaya untuk kehamilannya. Harusnya dia tidak boleh menganggkat beban berat,bang. Harusnya dia banyak istirahat." Terang Aaron lirih.
Romi terdiam. Dadanya makin sakit. Aku yang salah bukan kamu. Batinnya seraya memegangi dadanya.
"Bang,sudah mandi belum? Kita temui kak Ratna. Dia pasti seneng banget kalau abang datang."
Romi memutar kursi rodanya menjauhi Aaron. "Abang tidak bisa!" Tegas Romi.
Aaron membulatkan matanya. "Apa maksud abang tidak bisa?"
"Abang minta tolong kamu urus dan jagain dia."
"Bang,kak Ratna itu istri abang! Masa aku yang jagain? Aku cukup membantu saja saat abang tidak bisa!"
"Ya sudah suruh bibi saja!"
"Abang gimana sih? Bagaimanapun kak Ratna itu istri abang!"
"Sudahlah Aaron! Kalau kamu tidak mau,biar bibi yang urus dan jagain dia! Kamu cukup siapkan keperluannya saja!" Romi lalu membuka pintu lemari lalu mengambil dompetnya.
"Ini berikan pada Ratna!" Romi mengulurkan tangannya pada Aaron.
Aaron mendekat lalu mengambilnya. Sebuah kartu ATM. "Pinnya tanggal lahir mami."
"Hhh,bang. Kak Ratna tidak hanya butuh uang tapi dia juga butuh abang,suaminya."
"Dia tidak butuh abang. Dia justru susah bersama abang."
"Apa maksud abang?"
"Kalau Ratna ingin berpisah,abang akan melepasnya."
"Abang gila ya?"
"Kamu bilang sendiri kan,kalau dia keguguran karena membantu abang selama ini. Dia tidak bahagia jadi istri abang."
"Tidak,bang! Abang tidak boleh menceraikan kak Ratna!"
"Abang hanya akan menceraikannya kalau dia yang minta!"
"Hhh,kak Ratna tidak akan minta cerai!" Tegas Aaron lalu berjalan ke arah lemari pakaian lalu membukanya.
__ADS_1
"Aku mau ambil pakaian ganti dan juga barang-barang kak Ratna. Kok tidak ada di lemari,bang?"
"Pakaiannya ada di dalam tasnya."
"Apa,bang? Jadi semua pakaian kak Ratna belum di simpan dalam lemari?" Tanya Aaron kaget.
"Hhmm!"
"Abang bener-bener keterlaluan!" Kesal Aaron lalu segera mengambil pakaian Ratna yang ada di dalam tas beberapa potong.
"Dia tidak bertanya ya sudah!" Sahut Romi ketus lalu mengarahkan kursi rodanya ke depan jendela kamar.
"Mungkin dia takut sama abang. Abang kan kerjanya marah-marah terus." Sahut Aaron. "Ayo bang,temui kak Ratna!" Ajak Aaron lagi.
"Kamu saja!"
Aaron langsung mendekati abangnya. "Bang! Abang bener-bener tidak mau ketemu kak Ratna?" Aaron bertanya dengan nada tinggi.
"Abang bilang tidak ya tidak! Sana!"
"Abang bener-bener keterlaluan!" Aaron langsubg mengambil tas dan keluar dari kamar Romi.
Maafkan aku. Kalau kamu tidak sanggup hidup denganku,aku akan melepasmu.
***
Aaron tiba di Rumah Sakit. Dia segera menuju kamar rawat inap Ratna.
Ceklek. Aaron membuka pintu kamar Ratna. Ternyata Ratna sedang tertidur dan bibi duduk di sofa.
"Bi. . ."
"Hhmm,bang Romi belum bisa datang,bi. Kak Ratna sudah lama tidurnya,bi?"
"Oohh,non Ratna baru saja tidurnya. Tadi dia mengeluh perutnya sakit tapi tidak lama." Terang bibi.
"Hhh,kasihan kak Ratna." Ucap Aaron lirih lalu ikut duduk di sofa di sebelah bibi setelah menyimpan barang-barang Ratna di atas nakas.
"Ini nasi buat bibi." Ucap Aaron seraya menyerahkan kotak nasi untuk bibi.
Tak sampai setengah jam Ratna terbangun dari tidurnya.
"Hhh. . . " Ratna mengernyitkan dahinya menahan sakit. Lalu netranya menatap ke arah Aaron dan bibi yang sedang duduk di sofa. Tidak ada Romi di sana.
Aaron langsung berdiri lalu menghampiri Ratna. "Kak Ratna sudah bangun. Apa yang sakit,kak?" Tanya Aaron khawatir.
Ratna menatap Aaron dengan tatapan sendu lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada."
"Kak,ini aku bawakan nasi. Kakak pasti lapar. Apa mau di suapin sama bibi?"
Ratna menggelengkan kepalanya cepat. "Kakak tidak lapar." Jawabnya lirih.
"Hhmm,kak Ratna sabar ya. Oh iya,bang Romi belum bisa datang. Mungkin nanti atau besok." Ucap Aaron ragu-ragu.
Aku tau abang kamu tidak akan mungkin mau datang. Aku hanya istri yang tidak ada artinya. Batin Ratna. Rasanya dia ingin menangis tapi sekuat tenaga dia tahan. Dia tidak ingin orang tau kesedihannya.
__ADS_1
"Oh iya kak,bang Romi titip ini untuk kakak." Ucap Aaron seraya menyerahkan sebuah kartu pada Ratna. "Pinnya . . . ." Itu tanggal lahir mami kita." Terang Aaron lagi.
Ratna diam saja tidak mau mengambilnya. "Kak,ayo ambil. Kak Romi yang memberikannya untuk kak Ratna. Kalau kak Ratna butuh apa-apa." Tambahnya.
"Kamu simpan saja,kakak belum butuh." Tolak Ratna halus.
"Aku simpan di tas kakak,ya. Aku bawakan tas kecil yang biasa kakak bawa. Ada handphone dan dompet kakak kan di sini." Ucap Aaron seraya menyerahkan tas kecil pada Ratna.
Ratna lalu mengambilnya. "ATMnya kamu saja yang simpan."
"Tidak,kak. Ini amanah dari bang Romi!" Aaron tetap memaksa Ratna mengambilnya.
Dengan terpaksa Ratna mengambil ATMnya dari tangan Aaron lalu memasukkan ke dalam tasnya.
***
Sudah dua hari Ratna di rawat. Bibi setiap hari menemaninya dan hanya pulang beberapa jam saja.
Ratna sedang sendirian di kamar ranapnya.
"Sudah dua hari aku di rawat,tapi bang Romi tidak juga mau menemuiku. Bahkan menelpon untuk sekedar menanyakan kabarku pun tidak. Aku benar-benar tidak ada arti sedikitpun untuknya." Gumam Ratna. Hatinya begitu sakit hingga dia tidak bisa lagi menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Apa mungkin nanti bang Romi akan menceraikan aku,setelah tidak ada lagi yang jadi alasannya untuk tetap bersamaku. Hhh,aku hanya bisa pasrah kalau memang dia akan menceraikan aku."
Kalau bang Romi tidak juga menghubungiku sampai saatnya aku pulang,lebih baik aku pulang ke desa saja. Aku butuh ibu. "Ibu. . ." Gumam Ratna seraya mengusap air matanya yang terus saja mengalir tanpa henti.
Tok tok. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar ranapnya. Ceklek. Aaron muncul di depan pintu sambil menjinjing kantong plastik. Sendirian. Bang Romi benar-benar tidak mau menemuiku. Batin Ratna.
"Kak Ratna,ini aku bawakan nasi dan juga cemilan. Oh iya,bagaimana keadaan kak Rayna? Apa sudah lebih baik?" Tanya Aaron penuh perhatian.
"Terimakasih. Kakak sudah baikan."
"Alhamdulillah. Oh iya,bibi masih di rumah mungkin siang baru bisa ke sini." Terang Aaron yang di beri anggukan oleh Ratna.
"Kakak makan sekarang ya?" Tawar Aaron.
"Nanti saja kakak masih kenyang." Tolak Ratna halus.
"Hhmm,baiklah. Aku taruh di sini saja ya." Ucap Aaron menunjuk ke atas nakas.
"Aaron,mungkin besok kakak sudah boleh pulang. Kakak ingin pulang dulu ke desa ya. Bisa kamu pamitkan kakak pada bang Romi?"
Deg. Aaron kaget,raut wajahnya berubah. Pasti kak Ratna sedih banget bang Romi tidak juga datang. Bang Romi memang menyebalkan. Batin Aaron.
"Kak Ratna kan baru sembuh. Nanti ada apa-apa di jalan. Pulang ke rumah kita dulu ya sampai kak Ratna benar-benar pulih." Bujuk Aaron.
"In sya Allah,besok kakak sudah benar-benar pulih kok. Kamu tidak perlu khawatir." Terang Ratna berusaha meyakinkan Aaron.
"Tapi kak. . .?"
"Tolong kamu pamitkan sama bang Romi,Aaron. Kakak ingin bertemu keluarga kakak. " Pinta Ratna dengan wajah memohon.
Hhh,Aaron menarik nafasnya berat. "Baiklah,kak. Aku yang akan antar kakak!"
"Tidak,biar kakak pulang sendiri saja." Tolak Ratna.
__ADS_1
"Aku antar,kak. Kalau tidak,aku tidak akan ijinkan kak Ratna." Tegas Aaron.
Harusnya bang Romi yang bersikap begitu,bukan Aaron. . . . .