
Beberapa menit kemudian,ban mobil Cinta sudah berhasil di pompa berkat bantuan dari anak buah laki-laki yang tadi membayarkan tas Cinta.
"Terimakasih,pak. Sudah mau membantu kita." Ucap Ratna.
"Tidak perlu berterimakasih. Saya hanya bantu sebisanya saja. Oh iya jangan panggil saya 'pak' donk. Saya belum menikah." Jawab laki-laki itu ramah.
"Hmm,saya panggil 'mas' ya?"Tanya Ratna malu-malu."
"Boleh. Panggil saja saya mas Angga." Jawab laki-laki itu.
"Baiklah,mas Angga. Saya Ratna. Terimakasih banyak atas bantuannya." Ucap Ratna.
"Sama-sama. Oh iya boleh minta nomor kontaknya?"
"A apa? Nomor kontak saya?" Tanya Ratna tak percaya dengan pendengarannya.
"Iya. Kalau boleh."
"Hmm,i iya boleh kok." Jawab Ratna antara gugup dan senang. Dia lalu memberitahukan nomor kontaknya.
"Terimakasih,mbak Ratna." Ucap Angga.
Ratna tersenyum salah tingkah. "Hmm,saya pulang dulu. Sekali lagi terimakasih ya."
"Iya."
Ratna lalu naik ke mobil dan segera melajukan mobilnya ke arah rumah Cinta. Dia jadi suka tersenyum-senyum sendiri.
"Kakak tadi kok lama ngobrolnya sama om itu?" Tanya Cinta.
"Hmm,oh itu. Kakak tadi hanya ucapin terimakasih saja kok sama nanyain nama." Jawab Ratna salah tingkah.
"Oohh,om tadi ajak kak Ratna kenalan ya?"
Ratna hanya tersenyum.
"Om tadi baik ya kak. Sudah bayarin belanjaan Cinta,eh sekarang bantu benerin ban mobil Cinta."
"Hehee,iya ya Cin. Baik banget."
Satu jam lebih mereka baru sampai di rumah Cinta. Cinta turun dari mobil. Sementara Ratna mengambil sepeda motornya yang terparkir di halaman rumah Cinta.
Kakak langsung pulang ya Cin,sudah mau maghrib ini. Tolong pamitin sama bunda dan oma kamu ya." Pamit Ratna lalu segera naik ke atas motor.
"Iya kak. Kakak hati-hati di jalan ya!"
Setelah Ratna pulang,Cinta langsung masuk ke rumahnya dengan menenteng banyak belanjaan di tangannya.
"Sayang,kamu jadi jalan ke mal?" Tanya bundanya Cinta.
"Iya bun."
"Lain kali jangan kesorean pulangnya ya!"
"Iya bun. Maaf tadi ban mobil Cinta kempis jadi di pompa dulu."
"Loh,kok kamu tidak bilang bunda?" Tanya bundanya kaget.
"Tadi Cinta sudah telpon papa tapi ternyata ada om-om yang bantuin jadi papa tidak usah datang lagi." Terang Cinta.
"Om-om? Om-om siapa nak?"
"Cinta sama kak Ratna juga tidak kenal,bun. Oh iya,om itu baik banget lho bun. Cinta beli tas sekolah di bayarin sama dia."
" Masa sih nak? Kamu yakin tidak kenal? Kok bisa dia bayarin belanjaan kamu juga?" Tanya bundanya curiga.
"Cinta beneran tidak kenal kok,bun."
'Hmm,ya sudah kamu langsung mandi ya."
"Iya bun." Cinta langsung naik ke atas menuju kamarnya.
"Siapa om-om yang Cinta maksud ya? Kok bisa kebetulan begitu." Gumam Cyndia.
Di dalam kamar Cinta. "Hmm,tasku bagus banget." Gumam Cinta dengan wajah berseri.
Dia lalu segera pergi ke kamar mandi.
***
__ADS_1
Besok paginya,Cinta sudah berada di sekolah dengan tas dan sepatu barunya.
"Wah,tas dan sepatunya baru nih." Ucap Vania teman sebangku Cinta.
Cinta hanya tersenyum saja.
"Cin,pulang sekolah kita ke mal yuk!"
"Hmm,hari ini Cinta mau ketemu papa di kantornya."
"Papa kamu kerja apa sih kok sering banget kamu ke kantornya? Apa tidak di marahin sama orang?"
"Papa kerja. Hmm,Cinta kurang tau. Tapi boleh kok Cinta main ke sana."
"Hmm,kalau papaku polisi. Dia sering di jalan daripada di kantor. Aku tidak mau ketemu papa,nanti aku ikut kepanasan bisa hitam kulitku." Ucap Vina dengan gaya centil.
"Hmm. . ."
"Jadi kamu tidak mau nih ikut kita ke mal?"
"Aku juga kemarin sudah ke mal. Jadi pasti tidak boleh lagi ke mal hari ini." Cinta beralasan. Cinta memang tidak mau lagi terlalu dekat dengan teman sekolahnya. Hanya berteman seperlunya saja. Masih merasakan trauma kejadian di sekolahnya yang lama.
"Hmm,ya sudah."
***
Cinta melangkahkan kakinya keluar dari kelasnya. "Cinta,pulang bareng yuk!" Ajak Rido,teman sekelasnya yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya mengiringi langkah kaki Cinta.
"Eh,Rido. Bikin kaget."
"Kamu mau kan pulang bareng aku?"
"Maaf,Cinta sudah di jemput sama kak Ratna. Sudah di tunggu di depan." Tolak Cinta halus.
"Hmm,kamu memang di jemput terus sama kakak kamu itu? Memangnya dia tidak punya pekerjaan ya?"
"Hmm,memang maunya kak Ratna kok jemput Cinta terus."
"Tapi aku pernah lihat kalian itu tidak mirip sama sekali deh. Kamu putih sedangkan dia sedikit gelap."
"Oohh,itu karena dia sering berlatik bela diri. Dia jago berkelahi. Lawan sepuluh orang saja sanggup!" Jawab Cinta berapi-api.
Cinta menggelengkan kepalanya.
"Kak Ratna!" Panggil Cinta sambil mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil karena Ratna tidak juga membukakan pintu mobil untuknya.
Setelah berapa kali ketukan,barulah Ratna membukan pintu mobil untuk Cinta. "Maaf Cin,kak Ratna tidak dengar." Ratna beralasan.
"Kak Ratna sedang telpon siapa?"
"Hmm,oh itu Cin. Teman kakak. Oh iya,kakak antar kemana nih? Pulang ke rumah bunda kan?"
"Cinta mau ketemu papa!"
"Papa apa papa?"
" Hmm,ketemu papa,kak. Sudah tiga hari tidak ketemu papa. Cinta kan tidak bisa menginap jadi ketemu di kantor saja."
"Ok deh bos kecil. Kita jalan sekarang."
Ratna melajukan mobilke ke arah kantor Rey. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam,mereka pun sampai.
"Hmm,sudah hampir jam dua ya." Gumam Cinta.
"Memangnya kenapa?"
"Kantin masih buka tidak ya kak? Cinta lapar."
"Lapar apa mau ketemu teman spesial?" Goda Ratna.
"Iihh kakak. Ya lapar lah kan memang jam makan siang sudah lewat."
"Hmm,iya iya. Jadi ketemu papa kamu dulu apa langsung ke kantin?"
"Langsung ke kantin saja kak."
Mereka pun langsung menuju ke kantin,beruntung kantin masih buka walau sudah sepi.
"Ayo di makan,kok cuma di aduk-aduk terus dari tadi?"
__ADS_1
"Cinta tiba-tiba merasa tidak lapar,kak."
"Hmm,pasti karena tidak ketemu si teman spesial."
"iiihh kakak sok tau deh." Cinta cemberut sambil mengotak atik handphonenya.
"Handphonenya kenapa?"
"Hmm,tidak apa-apa." Dengan wajah kesal,Cinta menyimpan lagi handphonenya ke dalam tas.
Setelah Ratna selesai makan,mereka kemudian pergi ke ruangan papanya Cinta di lantai empat.
"Papa." Panggil Cinta saat baru saja masuk. Dia lalu memeluk papanya
"Hey sayang,kok baru datang sekarang? Sudah hampir sore."
"Iya pa,tadi langsung ke kantin."
"Hmm,kamu baik-baik saja kan? Kok wajahnya terlihat sedih? Tidak suka ketemu papa,hmm?"
"Cinta baik kok pa. Masa Cinta tidak suka ketemu papa? Oh iya mungkin sabtu malam Cinta menginap di rumah papa." Terang Cinta.
"Beneran kan? Adek-adek kamu sudah kangen."
"Hmm,iya pa. Cinta mau kerjain tugas sekolah dulu pa." Cinta lalu duduk di sofa sementara Rey melanjutkan pekerjaannya.
Pukul tiga lebih Cinta sudah selesai mengerjakan tugas sekolahnya.
"Pa,mau pulang jam berapa?" Tanya Cinta.
"Papa belum tau nak. Kenapa? Kamu sudah mau pulang?"
"Hmm,iya pa. Cinta pulang sekarang ya?" Cinta mendekati papanya lalu memeluk papanya penuh kasih sayang.
"Iy sayang,pulanglah." Ucap Rey sambil mengusap lembut kepala Cinta.
Cinta dan Ratna pun meninggakan ruangan Rey. Mereka berjalan ke arah parkiran. Tiba-tiba dia mendengar suara yang amat dia kenal.
( "Aku tidak mau pulang! Aku masih mau kerja di sini,om!" )
("Sudah waktunya kamu kembali ke rumah. Kamu yang urus bisnis di kota ini! Kalau tidak mau,kamu akan di kirim ke luar negeri oleh papi kamu!")
("Pokoknya aku masih mau kerja di perusahaan ini. Papi bilang satu tahun kan,sekarang baru enam bulan!")
("Terserah kamu,yang pasti kamu sekarang harus pulang." )
Cinta berjalan ke arah suara. Betapa kagetmya Cinta saat mengetahui siapa di depannya.
"Kamu?" Ucap Cinta keget.
"Cin ta?" Ucap seseorang itu lebih kaget lagi.
Cinta langsung berlari menuju mobilnya yang sudah di hidupkan mesinnya oleh Ratna.
"Cin. . . Tunggu!"
.
.
.
.
.
.
NEXT
.
.
.
.
2000
__ADS_1